Puisi-Puisi Inez Dikara

http://jurnalnasional.com/
Setelah Menonton Pichet dan Jerome

kita saling berhadapan
saling mengirimkan sinyal
rasa ingin tahu. tanda tanya
dan lipatan-lipatan yang sesekali
minta diluruskan

lalu kaupun menari
menghentakkan kaki. melentikkan jemari
beginilah timur, katamu
energi kerap berbalik ke dalam diri
?sambil membentuk gambar sebuah candi
dengan kedua tangan
: relief kisah-kisah yang tertanam dalam
kembara mencari bijak
dunia samsara, juga kisah cinta

aku adalah candi
terpahat waktu kadaluarsa
kau matahari. semesta energi. mencoba mengisi
tapi mungkin tak pernah benar-benar bisa memahami
sebab kau ingin mengerti dengan keseluruhan dirimu
seolah lupa (atau justru karena terlalu cinta?)
bahwa malam adalah separuhmu yang lain
letupan-letupan tertahan
sumbu yang padam sebelum terbakar.
sedang pagi, aku kerap ragu untuk membuka jendela
karena kutahu setiap saat hujan mengancamku
: menenggelamkanmu di muka pintu.

2008

Sejarah Kemarau di Pintumu

musim kemarau tak lagi setia. dibuang-buangnya cahaya hingga pohon-pohon mengering dan terbakar. tanah tak lagi menyisakan air bagi sekelompok akar: benih bagi sepasang pintu yang kelak akan membingkai batas antara kau dan aku. begitulah mereka berasal dari kehidupan lain; penuh semak belukar dan satwa liar. kini dibawanya sejarah ke muka pintu.

jarak tak hanya bicara soal metrikal atau waktu tempuh. ia bicara tentang pagar yang menjaga ketat rindu yang sengit beradu takut. yang bising serupa serendeng gelang jatuh di ruang yang begitu lengang. dan kau berharap seseorang akan mengumpulkannya lalu memasangkannya kembali satu demi satu di tanganmu. merapikan sambil meletakkan jemarinya di bibirmu. mengeringkan butiran-butiran kecil yang jatuh di pangkuan.

2008

Sesuatu yang Terlepas dari Tangannya

bola kaca menyala ketika ujung telunjuk menyentuh permukaannya
seperti bohlam yang mendadak menerangi kepalanya
yang penuh gambar, wajah-wajah tak dikenal
: ia drosera yang ingin melumat habis serangga-serangga
yang licin, dandy, dan modis!

(ia tidak lagi bisa bicara. matanya terpaku-diam, tanpa aksara
: tumpukan air hujan tertahan dam yang siap pecah kapan saja)

menjajakan boneka-boneka kayu murahan
?serupa dongeng masa kecilnya yang muram
jari-jari mungil milik bunga-bunga jalanan yang lusuh
bermain ikat rambut sambil tertawa-tawa di trotoar jalan
gigi-giginya adalah putih susu yang terlalu cepat dewasa
lalu ketika lelah, mereka bersandar pada graffiti durjana
?dengan taring berkilat yang siap menerkam

(benih-benih pemilik warisan terkulai ditelan malam
ada yang terlepas dari telapak tangannya. bergulir jauh
menembus hitam awan)

2009

Sepasang Kunang-Kunang di dalam Tasku

aku menyimpan diam-diam waktu
yang kubekukan di sepanjang rel itu
sebuah rel menuju kota yang kubawa
ke mana-mana
di dalam tasku

kadang ia beradu dengan pengukur
yang tak lagi pandai menghitung jarak
atau penghapus
yang tak lagi lentur melenyapkan kenangan

tapi
kau tahu
ada sepasang kunang-kunang saling berkejaran
di situ. di dalam tasku

2009

Episode Perjalanan

kau menanam pohon randu
yang terus saja berbuah
seyba berkepala payung, berlengan panjang
dan berjari-jari banyak
tumbuh subur dalam rentang tahun-tahun
di tubuhnya burung-burung kecil lahir
anak-anak katak berenang dalam lingkar air

tapi, mengapa ada jejak-jejak tangan
pada patah dahan-dahan
pecah bola lampu taman, dan coretan di bangku-bangku
mengapa jalan tak pernah lurus?lengang
dalam panjang waktu?
menyisakan sesuatu yang ingin kau pungut kembali
tapi seseorang telah mencuri
dan membawanya pergi

di atas lintasan tak berbatas
kau berdiri dengan sepasang mata
menatap tajam jauh ke depan
mungkin dalam perjalanan, ada saatnya kita diam
ada saatnya?berjalan?dan berpaling
dari yang menyeru-nyeru di kejauhan

2009

Tempus
: jarum jam dan tiga kelahiran

mengingat kelahirannya, ia terduduk sesaat.
tiga kelahiran yang ia tinggalkan
serupa lingkaran-lingkaran per yang sepertinya
meluncur?melesatkan.

tapi kiranya semua berpaut
cerita baru adalah sederetan kisah lawas
yang terbangun dari tidur?dan bertingkah
seolah-olah bayi merah yang baru lahir

lalu jarum jam berputar melawan arah
serpihan-serpihan gambar bersebaran dan
melekat. kembali ke tempat semula.
rapi dan rata seperti dinding putih yang gagah
memasang dada bagi segala yang harus dituliskan.

jarum jam memutar haluan dinding kembali berhamburan
berputar?menyerpih dalam lingkar angin taufan
yang lampau terlepas sudah. jauh di depan adalah bayangan.
kini, cengkeramlah ia sekuat tangan!

2009

Monolog Pagi

ramainya kesunyian malam
kerap membuatku terjaga
angka-angka tumpah melampaui
batas-batas almanakmu
makin sempit tempatku fana
sedang tak banyak yang kubawa
di saku baju
lubang yang kujahit
acap kali melonggarkan ikatannya
hingga tercecer yang sudah
remah-remah itu

tetapi pagi mengoleskan rasa yang berbeda
wanginya menghambur di ruang tamu
mengendap di secangkir kopi
dan bising koran pagi
jarum jam dan sikat gigi kembali berpesta
meski tak sepenuhnya, kurasa tubuh
seperti berjalan sia-sia.

2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *