Sajak-Sajak Ilham Wahyudi

http://www.lampungpost.com/
Perempuan Kebaya Putih Berselendang Pelangi

entahlah, sulit sekali rasanya aku
mengingat namamu setiap kali membayangkan kau
berjalan mengenakan kebaya putih sore itu
selepas gerimis berselendangkan pelangi
dan bukan hanya karena sebuah nama
aku tekad mencuri minyak rambut ayah
juga parfum milik ibu?berjam-jam berdiri
menunggumu lewat pekarangan rumahku
sambil sesekali mencuri pandang; bahkan
harum bedak yang selalu kau pakai masih
melekat di kerah leher kemejaku.
?ternyata lebih mudah mengucap janji dari pada
mengingat sebuah nama,? suatu kali kau berucap
sambil tertawa setelah aku bertanya namamu
untuk kesekian kali?tentunya. tapi namamu
serupa malam; begitu gelap.
entahlah, selalu saja aku membayangkan diriku berjalan
di sebelah bahumu sambil terus bercerita tentang kedunguanku
yang tak juga dapat mengingat namamu; perempuan
kebaya putih berselendangkan pelangi.
“aku rindumu
kusaja yang rindumu!”

Medan, 2008

Di Pinggir Danau

di pinggir danau ini
dulu kau mengajariku berbicara dengan gerimis
mengartikan indahnya kesunyian, mewarnai pelangi
dan melukiskan matahari di air
serupa ibu yang dulu mengajariku kata demi kata
di pinggir danau ini
dulu sama sama kita membaca bahasa angin
bergelut dengan kupu kupu, menghitung butir air
yang berkejaran kesana-kemari
lalu terbaring dengan nafas yang terengah-engah
di pinggir danau ini
kini kau tertidur dengan sepotong senyum, dan
segenggam mimpi yang mengabut di udara
kemudian jatuh berantakan di tanah
di pinggir danau ini
kutaburi bunga bunga untukmu
sekedar menyapamu yang asik bermain
dengan kurcaci kurcaci langit

Jakarta, 2008

Kepada Hujan

Kepada hujan saya bicara
tentang banjir yang ia lahirkan:
atap rumah basah; hanyutnya bocah
dan bantuan yang sering terlambat
ia tertawa cekikikan;
teror di telinga saya
yang penuh isak ketakutan
lapar mewabah diare
tawanya makin kuat
saat saya makin keras bicara
padahal perut hitamnya
sudah kosong air hujan
kepada hujan saya menjerit
tentang banjir yang ia muntahkan:
tenda pengungsi yang sesak;
mie instant yang kadaluarsa
dan bapak saya yang belum pulang.

Medan, 2009

Akhirnya

akhir dari semuanya akan berakhir di sini
tempat yang dulu biasa kita singgahi bila birahi
ingin bermain dengan lidah; menukar ludah
dengan ludah. lalu malu malu melepaskan pakaian.
di sini; orang orang telanjang lalu lalang.
sebenarnya tak pernah aku berharap akan berakhir di sini
sebab selalu akan membuatku merasa memilki cinta
padahal dari setiap desahan dan eranganmu
kau terus menyuntikkan racun ke tubuhku. dan kini;
racun itu menjadi nafas dan air liurku.

Medan, 2009

*) Lahir di Medan, Sumatera Utara, 22 November 1983. Alumnus Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara ini aktif menulis puisi, cerpen, esai, dan skenario. Saat ini bergabung dengan D’lick Theatre Team di Taman Budaya Sumatera Utara, dan aktif di salah satu komunitas film di Medan (Lt2 Art Community).

Leave a Reply

Bahasa ยป