Ben Okri Dan Penyair Tulen

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=340

Penyair dipertentangkan dengan dunia, karena ia tak dapat menerima segala yang tampak sebagaimana apa adanya (Ben Okri).

Penyair hadir dari kegelisahan menggila atas beban lingkungannya; ladang di mana dirinya menemukan benturan hebat, di hadapannya rumusan hidup tiada yang becus, wewarna sengkarut. Namun tatkala melihat langit biru peroleh rongga pernafasannya lega, awan beterbangan sewujud pergerakan sosial, peradaban bertumpuk-tumpuk. Dan saat angin menghampiri didapati abad silam-semilam memberi kabar, lantas turun balik peroleh kekacauan yang sedikit jinak.

Maka diteruskan kembara memasuki gelombang hayati mengendarai ombak perasaan sesama, bertemu tebing curam mata-mata di tengah laluan pun jurang terjal pandangan sinis antar manusia. Ia melangkah seolah tak berjejak juga tiada bayangan, dalam keadaan itulah mengenal kata-kata.

Ia bayang-bayang berlarian dari awan tubuhnya, menggembol kesedihan teramat sangat akan nasib bermakhluk yang hilang di rimba belantara kebisingan. Kala kepedihan memuncak bertambah air mata tumpah membeningkan pandangan. Kerutan dahi bekerja berkumpulnya awan-gemawan menghitam hujan deras turun, bumi bathinnya disegarkan menyerupai keajaiban. Sisi tertentu sama kusut rambunya terkenai rintikan hujan semerah besi karatan.

Di sini penyair tengah mengimbangi ruang-waktu memadukan jarak nilai tatapan, direntangkan kemungkinan sejauh-jauhnya sewaktu anak panah cahaya matahari sampai ke telatah kelahiran. Ia setubuhi pelbagai kodrat benda menyelisik lembut melewati cela-cela fikiran, meramu perihal berpeluk utuh mengaduk relung kemanusiaan, menghampiri bibir molek analisa melumat tandas sebelum mengeja cumbui kata-kata.

Malam-siang bukan jadi soal baginya sebab menghidupi alam antara, sejenis terselubungi tabir hawa singkupnya senja mekaran fajar; bumi langit berbahasa. Tetumbuhan tebarkan petuah, bunga-bunga menginspirasi harapan manusia. Kelak gilirannya dianggap setengah gila sampai derajat tak waras oleh kerap memenggal jalan-jalan dianggap penting kebanyakan orang, yaitu aturan pemerataan yang membunuh. Maka kadang ia seolah terlihat menelikungi realitas demi peroleh jawaban purna, semisal menggeser tempat duduk.

Karena perenungannya begitu khas, mereka terpesona tetapi penuh kebencian, lantaran yang hadir mendongkolkan faham sudah berlaku. Namun mereka membutuhkan dukungan sebab segala permasalahan jatuh di linggiran penciumannya. Yang tentu kalimahnya tak berasal anganan tampak pun tidak dari lecutan mimpi berakar kepercayaan sempit menunggu pulung. Keyakinannya telah tanak membumi hingga gayuhannya menjelma gelegar suara bathin bersama. Atau spiritualitasnya bermeditasi sosial mengikuti pusaran hayati terjaga, makanya kita sulit memahami darinya kata-kata.

Ia bukan terbangun atas definisi para ahli kritik, kritikus sastra sekadar meraba berusaha mendekati seolah-olah mengenyam penghidupan penyair dan kerap terbentur persilangan teori dipegangnya. Sedang jika penyair menghasilkan kritik ialah yang selama ini dialami, kritik diri jalan dilewati membetot ingatan pada geliat kreatif, andai mengutip kata-kata penyair lain sekadar senggol menyapa.

Renungan di masa kanak merupakan sketsa mahal tatkala menuju remaja sampai jenjang dewasa, detikan hari-hari tertancap mawas terjaga kehati-hatian. Umpama pembawa gelas berair penuh diharapkan tak tumpah, atau menyunggi tampa di mana keseimbangan nomor pertama antara nalar-perasaan dalam tungku perapian malam. Juga membaca tidak silap berkedip kantuk menghilang, kekantuknya menyerupai ruh kekasih meninggal dunia yang mendatangi dengan pengertian. Maka kesadarannya memperlus wilayah menganyam panjang jejaring untuk tangkapan tidak luput sedari sergapan makna kata-kata.

Lelangkahnya pemburu hujan lebat batu-batu runcing pada wajah spekulan politik mengancam ambruknya nilai saham kemanusiaan. Seperti takdirnya titisan kembang segar diperbaharui kelopak-kelopak, andai gugur menjelma emas pertukaran kasih. Lihatlah dirinya memukul ketebalan bayu keadaan atas perubahan tak tampak, tapi tekanan udara dari jantungnya dipompa kesungguhan menetralisir wacana berseliweran. Maka semakin mantab memilah peristiwa dijadikan cermin pandangan terang yang membalikkan pantulan panorama.

Ia bukan makluk seperti peramal atau pesulap, tapi atas rasa nggigil menyaksikan pembantaian diejawantah dalam kehalusan. Tiupan syairnya menandaskan hati membuai hormon dibangkitkan tubuh kata-kata tak sekali saji. Kala melenyapkan rasa dingin berbaju basah kehujanan pulas tidur di lantai tanpa alas, kecuali matanya masih tajam mengamati genangan air kericuan di selokan sampah kebendaan. Ia membersihkan hingga para pendengarnya tercukupi perbendaharaan niscaya dalam kehidupan berbeda, yang seyogyanya dimaknai ulang puitika.

Suatu kali melihat penyair berbisik sesama penyair dengan jarak terdekat padahal bersuara keras. Ini ketulian pendengaran kita oleh telah disibukkan suara sumbang benturan benda, atau kegiatan sehari-hari mementingkan masa depan sendiri saling jegal mengejar mimpi. Sudah jauh kita tinggalkan bahasa hati hingga apa saja dikatakannya tidak faham, lantas menganggap ia hanya mengucapkan kata-kata kosong.

Penyair tulen berjalan seolah lenyap memasuki gelap malam dan kita sulit menyimak jejak-jejaknya karena ditumbuhi kesombongan, menganggap hidup penyair tak lebih berguna dari gelandangan. Kala itu ia masuk menafsirkan watak-watak manusia yang seolah bermain catur sendiri menata kata-kata. Kita semakin pekat hanya menikmati keindahan ucapannya sampai merasakan terkurung, lantas melepaskan hati pada kebiasaan membuta.

Dunia penyair berada dalam naungan jaman-jaman jauh dilupakan manusia pun kerap mengunjungi masa belum terfikirkan. Melintasi sekat-sekat waktu keluar-masuk reingkarnasi dengan karcis rangkap, atau di sisi tertentu menggunakan paspor perenungan dalam, sedang visanya ajek menguliti realitas kehidupan.

Ia insan paling ganjil seperti keunikan tradisi yang mengerami bentukan puisi tidak terganti wujud lain. Penampakan alam raya teman sejati, dirinya peroleh dialog yang tak terdengar kita akan masa-masa. Dan para informan paling obyektifnya ialah orang-orang yang kita anggap gila, padahal mereka menggembol kegilaan dunia, tapi karena tidak pernah menempati keluasaan kesadaran, maka tak sanggup mengutarakan. Olehnya penyair mengambil saripati kegelisahannya dalam percakapan membisu; ini betapa saling menyenangkan dan ia mendapatkan lebih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*