GERAKAN SASTRAWAN “YOGYA”

Maman S. Mahayana
mahayana-mahadewa.com

Hery Mardianto, dkk. (editor), Pagelaran: Antologi 17 Cerpen
(Bentang Intervisi Utama, Yogyakarta: 1993) xxxiv + 152 halaman.

Ada kecenderungan baru dalam perkembangan cerpen Indonessia belakangan ini: munculnya antologi cerpen karya beberapa pengarang yang terbit di luar Jakarta. Surabaya menerbitkan Cerita Pendek dari Surabaya (1991) dan Limau Walikota (1992), Riau, Teh Hangat Sumirah (1992), dan kini Yogyakarta, Pagelaran (1993). Keadaan tersebut tentu saja menyemarakkan antologi cerpen terbitan Jakarta, antara lain Kado Istimewa dan Pelajaran Mengarang (Redaksi Kompas, 1992, 1993).

Pagelaran berisi 17 cerpen karya para pengarang yang konon dilahirkan dan dibesarkan di Yogya. Lewat usaha Panitia Festival Kesenian Yogya yang secara serius memilih ke-17 cerpen itu, terhampar semacam lanskap kiprah sastrawan yang lahir dan dibesarkan di kota itu dalam rentang waktu tahun 1950-an hingga 1990-an.

Kemudian, melalui seleksi yang cukup ketat dengan berbagai kriteria, terjaringlah 17 cerpen dari 17 sastrawan yang dipandang mewakili ‘dinamika kehidupan sastra’ dalam lima dekade itu. Maka, muncullah nama-nama sastrawan mapan seperti Umar Kayam, Mohammad Diponegoro, Nasyah Djamin, Kuntowijoyo, Bakdi Sumanto, Emha A. Nadjib, Ragi Pragolapati, dan sederet nama lain yang karyanya banyak tersebar di berbagai media Ibu Kota. dari ke-17 cerpenis itu, hanya Nasyah Djamin satu-satunya yang tidak mewakili akar budaya Jawa.

Dalam konteks pendokumentasian, terbitnya Pagelaran merupakan langkah amat penting, betapapun itu belum dilakukan secara maksimal. Cerpen Mohammad Diponegoro, ‘Istri Sang Medium’ misalnya, mengapa mesti dicomot dari Odah (Shalahudin Press, 1986), padahal cerpen lain karya Diponegoro yang muncul tahun 1950-an?di luar Odah?cukup tersebar. Cerpen ‘Kedatangan'(Indonesia, 8 Agustus 1952) atau ‘Kebohongannya yang Nyata’ (Kisah, 4 Oktober 1953), misalnya, tidak kalah kualitasnya daripada ‘Istri Sang Medium’

Sungguhpun demikian, secara kualitatif, cerpen-cerpen dalam antologi ini cukup meyakinkan. Yang patut dicermati justru karya cerpenis kelahiran pasca-1960-an. Kecuali Dorothea Rosa Herliany yang sudah mapan, Indra Tranggono, Ida Bani Kadir, dan Agus Noor adalah generasi baru yang karyanya ternyata amat menjanjikan dan cukup matang. Indra mampu menyajikan ilusi tokohnya, hingga terjalin konflik yang hadir secara sambung-menyambung; Ida berhasil menampilkan nuansa peristiwa dalam greget yang dibangun oleh tokoh-tokoh ‘dunia’, macam Javid Namah-nya Iqbal; sementara Agus, betapapun Rachmat Djoko Pradopo dalam ulasannya menyebut cerpen itu ?cuma mempertontonkan sensasi?, namun keberpihakan Agus terhadap wong cilik, dapat menjadi modal baginya untuk menampilkan kritik sosial asalkan disampaikan dengan nada lebih halus.

Secara keseluruhan, ke-17 cerpen yang termuat dalam antologi ini menampilkan tema dan latar yang beragam. Cerpen Mohammad Diponegoro sarat bernafaskan dunia mistis, semacam novelnya, Siklus (1975). Umar Kayam dengan ‘Secangkir Kopi dan Sepotong Donat’ menampilkan sisi lain sebuah percintaan yang terjadi di New York ‘mengingatkan kita pada cerpen ‘Seribu Kunang-Kunang di Manhattan’. Kuntowijoyo, seperti juga cerpen-cerpennya dalam Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (1992), mengalir panjang dalam nuansa penuh misteri. Emha secara simbolis menampilkan kritik atas kehidupan pemerintahan ‘desa’, sejenis dengan cerpen Bakdi Sumanto yang memakai baju dunia pewayangan.

Sementara itu, cerpen Nasyah Djamin, Ziarah menampilkan keterasingan tokoh ?Aku? yang barangkali merupakan cikal bakal Hilanglah Si Anak Hilang (1963). Cerpen lainnya dalam antologi ini, cukup mengesankan. Ada cerita tentang wong picek yang punya kearifan sufistik (Ahmadun Y. HErfanda); ada yang bergaya surealis (Kuswahyo S. S. Rahardjo); ada pula kisah dukun lepus (Darwis Khudori). Yang lainnya tentang kehidupan rumah tangga dengan aneka masalahnya yang amat khas (Ahmad Munif, ragil Pragolapati, Arwan Tuti Artha, Dorothea Rosa Heraliany), dan tergusurnya kehidupan wong cilik (Agnes Yani Sardjono).
***

Di luar itu, ‘Catatan Kaki Tim Editor’ (hlm. vii-xii) yang mewartakan proses pemilihan dan pemilihan cerpen yang hendak dimuat dalam antologi ini, mengisyaratkan betapa sesungguhnya sastrawan ‘Yogyakarta’ tidak dapat diabaikan dalam peta kesusastraan Indonesai. Oleh karena itu, usaha pendataan dan pendokumentasian karya mereka secara keseluruhan, perlu ditangani serius; satu langkah yang masih belum terlambat.

Sekedar catatan kecil menyangkut ulasan yang dipaparkan Rachmat Djoko Pradopo. Uraiannya yang tidak terlalu mendalam dan ditempatkan di halaman awal (hlm. xv?xxxi), justru malah dapat mengganggu penikmatan kita (: pembaca) pada ke-17 cerpen itu. Masalahnya akan menjadi lain jika ulasannya lebih analitis dan ditempatkan di bagian akhir semacam ‘Kata Penutup’. Begitu juga mengenai gambar jilid yang menampilkan Punakawan dengan latar belakang wayang kurang mewakili isi keseluruhan cerpen yang termuat dalam antologi itu.

Antologi ini pantas disebut ‘Gerakan Sastrawan Yogya’, walaupun isinya tidak begitu menjawa, malah cenderung lebih mengindonesia. Kita tunggu ‘gerakan’ sastrawan daerah lainnya yang tentu tidak apat diabaikan kontribusinya bagi perkembangan kesusastraan Indonesia modern.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*