Guru yang Tak Tergantung

Judul : Tergantung Guru
Penulis : I Nyoman Tingkat
Tebal : i-viii, 270 halaman
Penerbit : Arti Foundation
Tahun : November 2009
Peresensi: I Made Sujaya
http://www.balipost.com/

JUDUL buku “Tergantung Guru” (TG) ini mengingatkan kepada buku karya A Teeuw yang menjadi salah satu “buku suci” dalam studi sastra yakni “Tergantung pada Kata” (TpK). Buku terbitan Pustaka Jaya tahun 1980 itu berisi kumpulan kajian mendalam Teeuw atas sajak-sajak sejumlah penyair terkemuka Indonesia. Barangkali judul buku Teeuw itulah menginspirasi Nyoman Tingkat untuk menggunakan TG sebagai judul bukunya.

TG merupakan buku kedua Nyoman Tingkat setelah buku pertamanya, “Berguru dalam Jejak Sastra” (BDJS). Seperti halnya buku pertama, TG juga sebuah buku kumpulan tulisan. Ada 50 tulisan yang dimuat dalam TG yang sebagian di antaranya telah dimuat di Bali Post dalam kurun waktu 2002-2008. Ke-50 tulisan dalam buku ini dibagi dalam tiga tema: pendidikan (20 tulisan), budaya (16) dan sastra (14).

Agen Perubahan

Dalam TG, Tingkat mengemukakan pandangannya bahwa guru sebagai faktor penting dalam pembangunan bangsa. Guru merupakan agen perubahan. Mengutip wejangan Kepala SPG Negeri Denpasar di era 1980-an, W.D. Duarsa, masa depan bangsa berada di tangan guru. (hal.6)

Tulisan-tulisan Tingkat dalam TG lebih mengedepankan spirit tiada putus berguru, kapan saja, di mana saja. Ketika berkunjung ke Yogyakarta, Tingkat tak lupa memanfaatkan kesempatan itu untuk berguru (“Berguru ke Yogyakarta Soal Pendidikan”, “Yang Tercecer dari Perjalanan ke Yogyakarta” serta “Vibrasi Inspirasi Kawasan Malioboro”). Ketika Kota Singaraja berulang tahun, Tingkat juga melihat momentum untuk berguru (“Berguru ke Singaraja”).

Tingkat juga menyediakan ruang dalam dirinya untuk berguru kepada tradisi (“Cerita Pengalu dari Bukit Badung”, “Tradisi Munuh yang Hilang”, “Memaknai Tradisi Ngulur di Kaki Pulau Bali”). Tingkat juga berendah hati untuk berguru pada alam (“Menangkap Sasmita Alam”). Terlebih lagi kepada sastra (karya sastra maupun sastrawan) yang dijadikan Tingkat sebagai sahabat paling dekat. Yang paling puncak tentu saja berguru kepada diri sendiri, berguru dari kedalaman hati.

Seorang guru tidak hanya dituntut rendah hati untuk tiada henti berguru, tetapi juga seorang guru yang “mudah terangsang”. “Rangsangan” itu kemudian menjelma menjadi kegelisahan kreatif. Dikatakan sebagai kegelisahan kreatif karena kegelisahan itu ditumpahkan ke dalam tulisan.

Dengan menulis, seorang guru menjadi guru di ruang kelas yang terbatas, tidak pula menjadi guru hanya selama hayat dikandung badan. Dengan menulis, seorang guru memberi jalan bagi dirinya untuk menjadi guru pada ruang kelas yang tak terbatas yakni masyarakat. Tulisan-tulisannya yang dipublikasikan secara meluas menyebabkan seorang guru menjadi guru masyarakat, guru loka, guru masyarakat.

Tak hanya itu, dengan menulis, seorang guru akan dikenang sebagai guru sepanjang masa, melampaui batas usianya. Tulisan-tulisannya akan menjadi dokumen sejarah yang akan disimak generasi masa mendatang, bertahun-tahun, belasan tahun, berpuluh-puluh tahun bahkan beratus-ratus tahun kemudian. Dengan menulis, guru telah membuat berumah dalam sejarah. Seperti diungkapkan Pramudya Ananta Toer, “Menulislah. Selama engkau tidak menulis, engkau akan hilang dari dalam masyarakat dan dari pusaran sejarah”.

Guru Menulis

Budaya menulis dinilai Tingkat sebagai salah satu jalan agar guru bisa mewujudkan gagasan sebagai agen perubahan. Seperti dikatakan Scholes, scribo ergo sum yang artinya “aku menghasilkan tulisan, karena itu aku ada”. Ini merupakan analogi atas aksioma Descartes, cagito ergo sum (aku berpikir, karena itu aku ada) (hal.3). Walaupun, diakui Tingkat, melakoni budaya menulis harus dijemput dengan kesediaan diri untuk bergelut dengan jalan sunyi.

Terlebih lagi kini, kompetensi dalam bidang penulisan bagi seorang guru menjadi persyaratan pokok. Seorang guru yang hendak tersertifikasi atau naik pangkat mestilah memiliki karya tulis. Namun, menulis hendaknya tidak dilakukan karena semata-mata dan pertama-tama untuk kepentingan sertifikasi atau kenaikan pangkat seperti yang kini menggejala di kalangan guru-guru. Menulis merupakan sebuah proses belajar, proses berguru. Artinya, seorang yang ingin memiliki kemampuan menulis yang baik mestilah bersedia untuk berproses, penuh dedikasi dan disiplin.

Tulisan-tulisan Tingkat dalam TG juga memperlihatkan daya kritis yang tinggi terhadap lingkungannya. Hal ini yang menyebabkan Tingkat sebagai guru yang tak tergantung. Tingkat menjadi guru yang mandiri dan merayakan kebebasan dalam memaknai segala hal yang dialami dan diamatinya.

Simak saja tulisan-tulisannya yang mengritisi sistem dan fenomena dunia pendidikan, kesemarakan ritual dan kepunahan tradisi masyarakat Bali serta hajatan tahunan Pesta Kesenian Bali (PKB) yang menjadi ikon Bali. Menariknya, kritik Tingkat itu terelaborasi dengan baik dan tersampaikan secara etis sehingga tidak berpretensi menyakiti perasaan orang lain. Tingkat benar-benar menyadari kekuatan bahasa dan sastra lalu memanfaatkannya dengan efektif untuk menyampaikan gagasan kritisnya.

Sampaikan Pesan

Melalui TG, Tingkat memang sedang menyampaikan pesan agar guru tak selalu tergantung dalam melakoni jalan pilihan sebagai guru. Sebagai misal, tatkala mengajar, guru semestinya tak semata-mata tergantung kepada kurikulum tetapi mencoba membuka ruang bagi inovasi dan kreativitas.

Begitu juga melakoni kegiatan menulis, seyogyanya guru tak tergantung pada waktu adanya sertifikasi atau kebutuhan kenaikan pangkat. Menulis mestilah dilakoni sepenuh hati sebagai sebuah panggilan hati. Guru mesti memaknai menulis sebagai bagian tradisi keilmuan yang patut dijalaninya. Yang paling puncak tentu saja pemaknaan bahwa guru mengajar dan mendidik tak tergantung batas-batas ruang kelas. Guru seyogyanya tidak hanya menjadi guru di dalam kelas, tetapi juga ribuan warga di tengah-tengah masyarakat.

Guru yang tak tergantung juga berkaitan dengan kemandirian atau kebebasan dalam memaknai apa yang tersaji dalam hidup dan kehidupan ini, termasuk dunia pendidikan yang dilakoni sang guru. Dengan daya kritis melalui budaya menulis, guru tidak mesti menjadi pengonsumsi pemikiran dan kemampuan orang saja, tetapi juga mampu secara cerdas mengonstruksi pemikiran sendiri melalui tradisi olah pikir yang tak pernah berhenti.

Sebagai sebuah kumpulan tulisan, agak sulit untuk mendapatkan pembahasan yang utuh dalam buku ini. Seperti lazimnya buku kumpulan tulisan atau bunga rampai, pembaca diajak bertamasya pemikiran serba sedikit. Namun, sebagai sebuah produk pikiran, sebuah buku, betapa pun sebagai kumpulan tulisan, merupakan sebuah monumen yang pantas untuk diapresiasi.

Kontribusinya dalam pembentukan karakter bangsa tidaklah bisa dibilang kecil. Buku TG malah layak direkomendasikan untuk dibaca, tidak saja oleh para guru, pelajar dan mereka yang bergelut di bidang pendidikan, tetapi juga para pengambil kebijakan. Suara-suara kritis dari sudut pandang seorang guru semacam Nyoman Tingkat penting untuk diperhatikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *