Ikhtiar “Mengekalkan” Rendra

Judul: Rendra Berpulang (1935-2009)
Editor: Edi Haryono
Penerbit: Burung Merak Press
Cetakan: Pertama, 2009
Tebal: xiv+381 halaman
Peresensi: Bandung Mawardi
http://suaramerdeka.com/

RENDRA masih menebar sihir atas nama nostalgia dan pewarisan sekian pemikiran kebudayaan. Puisi-puisi Rendra masih jadi medium intim untuk mengenangkan dan mungkin mengekalkan kerja keras penyair dalam membaca dan menulis dunia dengan kata dan makna. Rendra memang telah tamat tapi energi menulis puisi masih dimiliki menjelang masa akhir. Puisi testimoni didiktekan Rendra dan dituliskan di kertas karton bekas kue tart. Puisi terakhir dalam muatan kesadaran religisoitas. Inilah penggalan puisi Rendra dengana titi mangsa 31 Juli 2009: Aku pingin membersihkan tubuhku/ dari racun kimiawi// Aku ingin kembali ke jalan alam/ Aku ingin meningkatkan pengabdian kepada Allah// Tuhan, aku cinta padamu.

Penghormatan Rendra sebagai penyair dan tokoh teater terus dilakukan secara produktif. Buku-buku puisi Rendra menjadi warisan besar untuk kesusastraan Indonesia. Buku cerpen, esai, dan naskah teater juga ikut memberi bentuk untuk pertumbuhan wacana sastra, teater, dan kebudayaan. Puisi memang kentara melekat pada sosok Rendra. Puisi adalah Rendra dan Rendra adalah puisi: ?manunggaling penyair dan puisi?. Pengenalan publik terhadap Rendra memang bisa dari pelbagai pintu tapi puisi sanggup mengantarkan pengenalan intim secara biografis dan kosmologis.

Obituari dn esai-esai pun sejak 6 Agustus 2009 dipersembahkan untuk ?mengekalkan? Rendra di pelbagai media massa cetak di dalam dan luar negeri. Antusiasme memberitakan, mengenangkan, dan memerkarakan Rendra seperti perayaan kehilangan dalam percampuran haru dan heroisme. Para sahabat, seniman, pemikir, wartawan, atau budayawan menata kata untuk sampai pada lingkarang inti memosisikan Rendra sebagai pokok dan tokoh. Pelbagai tulisan tampil menyapa dan mengundang pembaca untuk mengenal (kembali) dan menghormati lakon Rendra dalam jalan seni, politik, ekologi, HAM, agama, dan kebudayaan. Tulisan-tulisan tersebar tentang Rendra menjadi bukti ketokohan Rendra.

Menyelamatkan Antusiasme

Pendokumentasian lekas dilakukan untuk menyelamatkan antusiasme publik atas Rendra. Ikhtiar itu direalisasikan dengan penerbitan buku Rendra Berpulang (1935-2009). Buku tebal ini menjadi museum kata tapi mengandung sihir untuk diinterpretasikan secara produktif dan konstruktif. Berita, esai, reportase, dan surat di koran, tabloid, dan majalah dikum?pul?kan menjadi satu untuk menjadi dokumen sejarah. Penerbitan ini telah menjadi bukti dari petuah Rendra mengenai gairah mengurusi kebudayaan.

Esai-esai ampuh dalam buku merupakan tanda kata dan makna dari Radhar Panca Dahana, Ignas Kleden, Goenawan Mohamad, Jakob Sumardjo, Ajip Rosidi, Agus R Sardjono, Emha Ainun Nadjib, Arswendo Atmowiloto, Bakdi Soemanto, Putu Wijaya, Butet Kertaredjasa, Yudi Latif, Eep Saefulloh Fattah, Ahmad Syafii Ma?arif, dan lain-lain. Pelbagai memori dan perspektif diajukan pada pembaca untuk memiliki arah mendekatkan diri pada sosok Rendra dengan sekian puncak-puncak kreatif dan keterlibatan Rendra dalam memikirkan Indonesia.

Sisi manusiawi Rendra dikisahkan tanpa harus mengkultuskan karena Rendra pun memiliki sejenis kesalahan dan sisi gelap manusia. Rendra justru tampil sebagai manusia kompleks karena pelbagai sisi kehidupan pantas jadi pembicaraan dan perdebatan publik. Kehidupan rumah tangga Rendra dengan tiga istri, keputusan menjadi muslim, heroisme dalam gerakan kebudayaan, keberanian menelanjangi politik kotor, pemimpin kaum urakan, atau arogansi individual hadir dalam keutuhan manusia. Rendra tak hendak menjadi manusia setengah dewa tapi ingin menjadi manusia sadar daulat.

Goenawan Mohamad dalam esai “Rendra (1935-…)” menulis: “Rendra tak pernah mati: ia telah memberi kita puisi.” Pernyataan ini seperti hendak menjadi penampikan fakta kematian jasad. Pemberian judul memang telah eksplisit bahwa tahun kematian tak dicantumkan sebagai bentuk “mengekalkan” warisan puisi Rendra untuk dinikmati dan disemaikan pembaca pada zaman berbeda. Goenawan Mohamad pun melantunkan kembali kearifan Rendra: “Kreativitas saya adalah kreativitas orang yang bertanya pada kehidupan.”

Radhar Panca Dahana dalam buku ini mempersembahkan empat esai yang tampil di pelbagai media: “Tuhan Permisi, Mas Willy Pergi”, “Rendra Pahlawan Kebudayaan Itu”, “Willy yang Mencari Wahyu”, dan “Seniman Terbesar Indonesia Abad XX”. Empat esai ini juga tak sanggup menuntaskan narasi terhadap sosok dan pemikiran Rendra. Radhar mengakui bahwa Rendra telah memberi banyak untuk negeri ini tapi tanpa balasan setimpal. Rendra sebagai pahlawan kebudayaan pergi tanpa upacara kehormatan dan tabik dari mereka yang berkuasa. Rendra telah memberi arti pada kehidupan tanpa harus tunduk dengan kekuasaan dan menghamba pada godaan dunia.

Pengakuan dan sanjungan dari sekian orang tampak menjadi penguat legitimasi ketokohan Rendra dalam jagat kebudayaan di Indonesia. Rendra sejak mula memang tampil sebagai orang besar dengan kerja keras dan etos keindonesiaan. Rendra tidak meminta atas nama keserakahan tapi memberi atas nama nurani kebudayaan untuk menjadi kehidupan menjadi cerah dan pantas dihidupi dengan gairah. Esai-esai telah mengekalkan Rendra dan diimbuhi dengan pelbagai berita dan reportase sebagai bentuk kepekaan media untuk memberi hormat dan mengajak pembaca untuk mengolah warisan-warisan Rendra.

Perhatian terhadap Rendra juag tampak dari publikasi di media luar negeri. A Teeuw menulis: “Mungkin saya termasuk orang Belanda paling lama kenal Rendra pribadi dan puisinya.” Kritikus sastra ini mengenal puisi Rendra sejak 1955 dan memberi perhatian besar pada Rendra dalam sekian publikasi tulisan dan buku sastra. Rendra di mata A Teeuw merupakan penyair unik dan terhebat di Indonesia. Rendra memang telah mati tapi tak bisa jadi alasan untuk publik berhenti membaca dan menilai sekian warisan dan kenangan.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*