Keturunan Cindaku

Zelfeni Wimra
http://jurnalnasional.com/

Periksalah keadaan keluarga kita dengan lebih sabar, Bang Yas. Memang tidak bagus bila terus-menerus tersinggung ketika kita dikatakan berasal dari keluarga Cindaku. Dan sungguh tak perlu lagi marah mendengar tudingan bahwa kita lahir dari kakek-nenek yang pengecut. Tidak berani memeluk kebenaran. Takut berperang melawan kejahatan.

Ketika perang saudara sudah meletus di kampung-kampung, kakek-nenek kita mengangkut isi rumah mereka ke puncak-puncak bukit terpencil. Meneruka sawah-ladang baru dan beranak-pinak lagi di sana.

Akan tetapi, Bang. Terlalu yakin, bahwa kita hidup di sebuah planet terbaik yang mungkin pernah ada, pun agak keliru kupikir. Apa tidak sebaiknya, pikiran seperti itu kita periksa pula. Kalau pengelolaan planet ini dikendalikan oleh Tuhan Yang Maha Baik, mungkin sulit membantahnya.

Paling jauh, bila kau, termasuk juga aku ingin memeriksa lebih dalam lagi, hanya membuat kita tercengang. Mengapa kebaikan yang dicita-citakan nenek moyang kita sejak zaman antah-barantah itu tak kunjung jua tercapai hingga kini? Kebaikan itu selalu mendapat perlawanan. Tentu tak perlu pula aku ulang-ulang cerita kuno tentang musabab Adam dan Hawa terlempar ke bumi ini.

Ketercengangan yang kumaksud itu, kalau Tuhan memang Maha Baik, kenapa ia biarkan iblis mengusili kebaikan dengan tipu daya yang merugikan? Seterusnya, kenapa dari sebanyak ini kita, belum pernah hidup seiya-sekata dalam satu pilihan yang kita anggap baik?

Selain pakar merakit barang-barang elektronik dan memperbaiki mesin, kau kan juga pandai berbahasa Inggris. Kenapa masih menghening di puncak Bukitbatu itu? Turunlah, Bang. Di luar sana, peperangan dalam bentuk lain tengah berkecamuk. Buktikan kalau kita bukan dari keluarga cindaku yang takut berperang.
***

Dasar sudah bebal. Setiap mengunjunginya, aku tak henti menceramahinya. Bahkan mengutuki cara hidup yang dipilihnya. Dia tetap tidak berubah.

Pernah, sebuah perusahaan otomotif mengontraknya, menjadi seorang mekanik dengan gaji lima kali lipat gaji PNS. Setelah kami bersama-sama membujuk dan meyakinkannya, ia baru mau menerima tawaran pekerjaan itu. Tapi, cuma berjalan empat bulan, lebih kurang. Ia sudah tiba lagi di puncak Bukitbatu itu. Kembali menggarap kebun kopi dan dan berladang cabai di sana. Itu pun, menurutku tak pernah sungguh-sungguh.

Kalau saja setiap panen ia menabung dan mengembangkan usaha sesuai keterampilannya memperbaiki aneka mesin dan alat-alat elektronik, ia tentu sudah kaya sekarang. Ia malah menghabiskan uangnya untuk membeli alat-alat yang katanya untuk merakit pemancar radio. Aneh. Jalan pikirannya sungguh aneh.

Untuk menikah saja, juga dibujuk-bujuk. Kalau urusan tanggung jawab dalam berumah tangga, mengurus istri dan anak-beranak, aku salut padanya. Empat orang anaknya sekarang. Jarak usia masing-masing dua tahun. Paling tua sudah setahun tamat SMA. Semua terbelanjai olehnya. Meski hanya menjadi petani sambil membuka bengkel, ia belum pernah kami dengar kesulitan dalam membiayai hidup.

Barangkali karena melihat keadaan itu, Ibu kami punya niat yang lain terhadapnya. Ibu kami berharap, ia berubah ketika anak-anaknya sudah harus kuliah.

?Biar dia tanggung sendiri nanti, apa rasanya membiayai anak kuliah. Mudah-mudahan dia sadar pada waktu itu, bahwa duit memang harus banyak,? ucap ibu. Waktu itu, aku meminta abangku yang di Bali membawa ibu ke Jakarta. Buat acara semacam reuni keluarga begitu. Bapak, kami sudah tidak punya. Tinggal ibu yang terus kami gilir.

Adikku yang di Jogja dan yang di Makasar juga diminta datang membawa anak istri masing-masing. Di Jakarta, kami semua berkumpul. Sebelum-sebelumnya, baik pada pembicaraan kami melalui SMS, email, atau telepon, tak pernah yang tidak menyinggung perangai abang sulung kami itu. Selalu terselip komentar atau sekedar pertanyaan tentang keadaan terkininya.

?Bagaimana kalau selera hidupnya juga turun kepada anaknya? Cerdas. Memiliki banyak kemampuan. Tapi, konyol,? tanggap abangku yang sekarang menetap di Bali.

Seisi ruang tengah riuh karena tawa kami. Kadang-kadang, keadaannya jadi lelucon yang sebenarnya tak pantas kami lakukan. Tapi, bagaimana lagi. Memang begitu adanya. Tidak menaruh perhatian sedikit pun pada saudara sendiri rasanya lebih tak pantas lagi. Sulit bagi kami untuk menahan tawa bila mencoba memperhatikannya. Tawa yang bermuatan kesedihan. Kasihan.

Tahun lalu, kami diributkan berita di Internet. Gubernur daerah asal kami yang baru terpilih memberi penghargaan kepada seorang mekanik unik yang memilih tinggal di puncak Bukitbatu. Dalam berita itu dipaparkan riwayat hidup singkat si mekanik unik, bernama Yasmin yang berhasil menciptakan aneka mesin pengelola pertanian, berupa mesin bajak mini, mesin penumbuk biji kopi, pemanas gabah, dan juga pandai merakit pemancar radio.

Tanpa beban, ia mengatakan dirinya berasal dari keluarga cindaku yang memilih memisahkan diri dari dua kelompok yang selalu berperang. Satu kelompok yang menganggap diri mereka benar dan memerangi kelompok yang menurut mereka memelihara kejahatan. Kebenaran yang mereka bawa berasal dari nab-nabi pilihan.

Kelompok satu lagi justru menganggap merekalah yang benar. Mereka bersikukuh pada paham yang mengatakan kebenaran itu ada di mana-mana. Kebenaran bukan pesanan dari langit atau dari bangsa lain yang merasa dipilih Tuhan mengirim nabi-nabi.

Tak berhenti sampai di situ. Setelah peperangan yang terjadi karena upaya-upaya menegakkan kebenaran dan diperkeruh oleh bangsa penjajah berakhir, peperangan lain menyusul. Peperangan itu bersebab pemahaman bagaimana cara mencintai bangsa. Satu kelompok menganggap mereka mampu memajukan bangsa lalu memulai pembangunan.

Kelompok yang lain justru menganggap penguasa itu salah jalan. Terlalu tamak dengan kekuasaan. Tak pandai meratakan kesejahteraan. Mereka yang tinggal jauh dari pusat kekuasaan merasa telah tertipu oleh penguasa yang itu. Lalu mereka memberontak.

Nenek-moyangnya yang sejak perang pertama berakhir sudah kembali turun dari Bukitbatu itu dan bertebaran dalam hidup yang wajar, terpaksa kembali mengasingkan diri. Tapi tidak semuanya yang bisa kembali.

Banyak di antara mereka yang lari dan tersesat ke tempat lain. Tak tahu lagi jalan kembali.

?Tidak jauh-jauh mengambil contoh. Dalam keluarga saya sendiri. Saudara kandung saya, banyak yang sudah tak tahu jalan pulang,? begitu kata bang Yasmin.

Bang Yasmin, seperti kata berita itu, mengaku bangga terhadap pilihan nenek moyangnya menjauh dari konflik berdarah. Nenek moyangnya cinta damai. Sekalipun dengan resiko dikatakan keluarga cindaku. Inilah di antara alasan yang dipertahankannya selama menetap di Bukitbatu yang terpencil itu.

Tapi cindaku tetap cindaku. Bila benar hantu yang suka menakut-nakuti orang di tempat-tempat terpencil itu telah merasuki bang Yasmin, kami juga tak bisa berbuat banyak. Sebab kami sekeluarga telah lama hidup berpencar di negara ini.

Sekarang kami tinggal bersiap-siap, menunggu bang Yasmin disadarkan keadaan. Kami dengar, dealer dan jasa servis kendaraan bermotor sudah masuk ke kampung di bawah Buktibatu itu. Stasiun radio dan televisi, bahkan juga warung-warung internet sudah masuk hingga ke kecamatan paling terisolir seperti Bukitbatu.

Seperti pernah diperkirakan ibu kami, selama bang Yasmin masih bersikukuh dengan prinsip cindaku itu, ia akan sadar sendiri. Bayangkan, untuk memiliki telepon genggam saja ia tidak mau. Ibu pernah meminta kami membelikannya. Tapi, ia kembalikan lagi.

Perkiraan ibu benar benar. Anak sulung bang Yasmin bersikeras ingin kuliah di jurusan teknik mesin. Sementara ia melarang dengan alasan, dirinya tak pernah kuliah, hanya tamat STM, tetapi juga pandai bahkan lebih pakar soal mesin dibanding mereka yang tamat kuliah teknik mesin.

Anaknya itu kabur ke Jakarta dan menemui suamiku yang kebetulan bekerja sebagai pengajar di sebuah sekolah tinggi teknik. Aku hanya geleng-geleng kepala ketika suamiku pulang bersamanya. Apalagi, setelah anak sulung bang Yasmin bercerita soal adiknya yang tahun depan tamat SMA juga akan kuliah, karena ia bercita-cita jadi dokter.

Aku sengaja pulang ke Bukitbatu untuk menemui bang Yasmin, menjernihkan persoalan ini. Dasar sudah bebal. Kepulanganku ia sambut dengan sikap yang dingin.

?Kalau kau mau memelihara anak itu, peliharalah. Tapi, ingat. Ia keturunan cindaku. Suatu saat ia akan pergi meninggalkanmu, mencari tempat-tempat terpencil, dan menakuti-nakuti orang dari situ!? ucapnya dengan nada suara yang acuh. Aku menggigil. Bukan karena tersinggung mendengar ucapannya. Bukan. Sekujur tubuhku gemetaran karena seketika aku teringat diriku yang sudah belasan tahun menikah, tapi belum juga punya anak.
***

Payakumbuh, 2008

Leave a Reply

Bahasa ยป