Lebih Dekat tentang Penyair

Ahmad Fatoni *
Sinarharapan.co.id

Banyak pembicaraan atau gunjingan mengenai penulis yang biasa melahirkan puisi-puisi yang dikenal dengan penyair. Pembicaraan itu, antara lain, menyangkut keganjilan sifat-sifat penyair secara fisik, seperti rambut yang acak-acakan, jarang mandi, perokok berat atau bahkan mabuk-mabukan. Maka tak heran bila ada sebagian orang yang sengaja menjauhkan diri dari ‘makhluk’ yang bernama penyair atau puisi yang dihasilkannya. Setidaknya, hal ini pernah diungkap Zarinah Hasan, seorang penyair wanita Malaysia, dalam ‘Sesekali Aku Menjauhkan Diri dari Puisi’:

Sesekali bila aku mendekati puisi
kutemui seorang pemuda membiarkan rambut yang tergerai
dan tubuh tak berbaju
pada angin dan debu

Sesekali bila aku mendekati puisi
kutemui pelaut yang bercinta dengan ombak
melupai alamat pertama
dan perempuan yang setia menanti

Sesekali bila aku mendekati puisi
aku jadi ngeri
lalu menjauhkan diri dari puisi

Ada pula yang menilai penyair sebagai plagiator alam semesta, suka bermain dengan kata-kata, atau istilahnya: sekadar ‘bersyair’. Tidak jarang juga ia dicemooh karena sering tidak memahami kata-katanya sendiri. Sehingga T.S. Eliot pernah mengolok-olok, ‘the poet knows everything and doesn’t know everything’ (seorang penyair itu mengetahui segala sesuatu sekaligus tidak mengetahui segala sesuatu).

Apa pun label yang dilekatkan pada penyair, pendapat umum menyimpulkan bahwa penyair adalah seniman dari golongan sastrawan. Sebagai sastrawan, penyair mencipta menurut kemampuan daya cipta, daya pikir dan imajinasinya. Sebagai manusia, dia sangat peka, halus pandangannya atas suatu peristiwa serta memiliki jangkauan yang tajam terhadap keadaan di sekelilingnya. Sangat boleh jadi, ia juga merangkap sebagai seorang sosiolog, filosof, sejarawan atau pengamen jalanan.

Penyair biasanya menolak anggapan bahwa ia sebagai manusia luar biasa. Penyair justru menyadari sebagai warga masyarakat biasa yang barangkali lebih kreatif dalam keterampilan berbahasa, pembentukan ide dan penggunaan daya sensitivitasnya. Misalnya, orang awam akan melihat bunga mawar dari sisi warnanya saja. Sementara penyair akan mengilustrasikannya sebagai simbol cinta dan suka cita atau sebagai lambang benci maupun duka lara.

Ungkapan puitis yang kadang berhamburan dari jari-jari penyair tentu tidak melulu mewakili kegelisahan atau keceriaan si penyair, tapi bisa jadi ia sedang mengakomodasi aspirasi siapa saja yang memiliki kemiripan perasaan melalui kata-kata yang kadangkala tak mampu diungkap oleh orang yang bukan penyair. Puisi-puisi yang bertemakan cinta, misalnya, setiap orang dapat merasakan kehebatan getarannya sekalipun amat sulit memaknainya.

Di hadapan seorang penyair, ruh cinta bisa menjadi amunisi yang cukup ampuh untuk menggali potensinya lewat karya-karya monumental. Kita ingat pada Dante dengan magnum opus-nya ‘Devine Comedy’, tercipta gara-gara cintanya yang tidak kesampaian pada Beatrix, tokoh yang ia idam-idamkan dalam trilogi puisi yang amat menakjubkan. Atau karya Umar Khayam (Iran) dalam ‘Rubaiyat’, yang dengan semangat ia membongkar tabir cinta lewat bait-baitnya yang sangat mengagumkan. Karya mereka tersebut lahir sebagai bukti konkret atas penghargaan mereka terhadap cinta yang begitu mendalam. Ini tidak berarti, setiap cinta harus diuntai dengan kata-kata. Sebab tatkala cinta terus-menerus diumbar, maka sakralitas cinta akan meleleh dan melumer.

Dalam konteks Indonesia, kegigihan seorang penyair untuk mengaktualisasikan diri melalui karya puisi sesungguhnya watak kesatria yang harus dibayar mahal. Sebab karya sastra di Indonesia, apalagi yang berbetuk puisi, kerap tidak diminati mengingat ia bukan barang tambang yang menjanjikan sekeranjang uang. Tidak aneh bila profesi kepenyairan tidak menjadi pilihan banyak orang.

Kendati demikian, kita dilahirkan ke dunia dengan bakat masing-masing untuk terus berkarya melalui jalur yang berbeda-beda. Karena itu, kita menilai setiap karya ‘apa pun bentuknya’ hendaknya dengan nurani bening: bahwa manusia akan senantiasa merangkak menuju puncak bakatnya melalui pelbagai karya yang digelutinya. Dan, puisi yang dihasilkan seorang penyair tidak secara niscaya muncul begitu saja, namun ia melalui perenungan mendalam setelah melakukan ‘pergumulan intim’ dan pergulatan batin dengan kondisi kejiwaan dan lingkungannya.

*) Penulis adalah penyair, editor buku, dan staf pengajar AIK UMM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *