Namaku Rupiah

Maria Magdalena Bhoernomo
http://www.sinarharapan.co.id/

JANGAN bilang aku tak bisa bicara. Kalau selama ini aku diam, semata-mata karena titahku memang hanya sekadar sebagai alat tukar saja. Sama dengan serdadu-serdadu yang dititahkan sebagai mesin perang, mereka tak mau bicara karena bicara bisa membuatnya dianggap melanggar disiplin prajurit!

Orang menyebutku uang. Ya, itulah jati diri asliku. Aku diciptakan sebagai alat tukar dengan nilai yang telah ditentukan. Meskipun begitu, aku sesekali kehilangan nilai, atau sebaliknya sangat bernilai dibanding dengan nilaiku yang sebenarnya.

Sebagai alat tukar yang dilahirkan di negeri ini, aku diberi nama: Rupiah. Namaku ini mirip dengan nama-nama perempuan Jawa, selalu membuatku rendah diri di depan sesama uang yang dilahirkan di negara-negara lain, dan juga sering membuatku sangat kecewa, malu dan marah.

Betapa tidak? Sering aku dianggap menjadi biang segala kebobrokan moral di kalangan pejabat, juga dianggap sebagai sumber kerunyaman dalam banyak urusan hidup manusia.

Dan aku paling marah jika diberi sebutan lain yang sangat menjijikkan, misalnya aku disebut-sebut sebagai ?Politik Uang?. Sungguh, sebutan ini membuatku seperti barang najis yang menjijikkan, dan hanya tokoh-tokoh bejat dan licik yang saja menyukaiku.

Begitu juga aku sangat marah karena diberi sebutan lain yang sangat membuatku seperti barang haram, misalnya sebutan sebagai ?Uang Suap?.

Tapi, kemarahanku selalu bisa kuredam dengan sikap pasrah, karena sebutan-sebutan yang sering diberikan kepadaku tidak membuatku kehilangan harga diri. Ya, harga diriku tetap saja tidak berubah meski aku diberi sebutan macam apa pun.

Dan beberapa tahun ini, aku sering diberi sebutan yang benar-benar sangat menjengkelkan: Uang Korupsi. Uhh! Benar-benar membuatku keki. Betapa tidak? Gara-gara sebutan ini, aku sering disimpan atau dirahasiakan oleh koruptor yang menguasaiku dengan cara-cara licik. Misalnya, aku disimpan di bank-bank luar negeri untuk ditempatkan bersama uang dari negara-negara lain yang membuatku minder dan malu. Pernah aku diejek oleh Yen, betapa diriku terlalu kecil dibanding dirinya padahal kami sama-sama dari benua Asia.

Suatu ketika, Yen mengejekku dengan kata-kata yang menyakitkan hati: ?Kamu bisa lebih kecil bahkan tinggal di museum kalau negaraku tega mencaplok negaramu pada perang dunia kedua dulu!
***

Jangan bilang aku tak bisa bicara. Sebab, aku diam saja memang karena tidak mau bicara. Sudah terlalu gaduh dunia ini oleh pembicaraan-pembicaran manusia yang berkaitan dengan diriku. Dan kalau aku ikut-ikutan bicara, pasti akan tambah runyam.

Padahal, sebenarnya aku sudah tidak tahan untuk diam saja melihat banyak orang bernasib malang gara-gara jauh dariku. Misalnya, ada anak sekolah yang mencoba bunuh diri hanya karena orangtuanya jauh dariku ketika sedang sangat membutuhkan diriku. Kasus ini benar-benar sangat menyedihkan, karena terjadi di era reformasi.

Ada juga gadis-gadis yang menjual dirinya hanya karena ingin memilikiku, sehingga aku seolah-olah menjadi biang kebobrokan susila, padahal sebenarnya gadis itu ingin memiliki diriku agar bisa membeli busana dan perhiasaan serta telepon genggam yang mahal.

Dan ada juga gadis-gadis yang bersedia menjadi gundik pejabat tinggi, karena ingin memilikiku tanpa susah payah, bahkan dengan bersenang-senang di rumah megah atau di dalam mobil mewah tanpa peduli apakah pejabat yang menyimpannya melakukan korupsi besar-besaran yang merugikan bangsa dan negara.

Dan aku pun sangat sedih jika melihat gadis-gadis yang menjual dirinya seharga sepotong ayam goreng dan segelas cocacola. Padahal, risiko yang dihadapinya benar-benar berat dan berbahaya. Betapa tidak? Pernah ada seorang gadis yang menjual dirinya seharga sepotong ayam goreng kemudian tertular penyakit AIDS dan harus menderita berbulan-bulan sebelum kemudian wafat.

Aku juga selalu berduka jika melihat anak yang disiksa orangtuanya gara-gara anak itu mencuri diriku yang disimpan orangtuanya di dompet atau laci lemari. Sebab, seolah-olah, diriku lebih berharga dibanding anak itu.

Sungguh, menjadi uang di negeri ini sering membuatku serba sedih, malu, marah dan dendam. Sering aku ingin memberontak kepada koruptor kelas kakap yang sangat rakus ingin menguasai diriku. Itulah sebabnya, aku sering bersorak-sorak setiap melihat koruptor sakit-sakitan gara-gara kerakusannya.

Misalnya, aku selalu tergelak setiap kali melihat koruptor yang menderita komplikasi berbagai macam penyakit, sehingga membuatnya tidak berani lagi menikmati makanan yang lezat-lezat seperti sate kambing, soto ayam, bestik daging sapi, pepesan ikan tenggiri dan lain sebagainya. Juga tidak berani bermesraan dengan istrinya yang glamour.

Amboi! betapa banyak orang kaya yang rakus di negeri ini yang kemudian sakit-sakitan sehingga tidak berani lagi menikmati berbagai kenikmatan dunia! Mereka bagaikan anjing-anjing lapar yang dikurung, sementara di luar kurungan ada berbagai hidangan yang sangat lezat tapi tak bisa dinikmatinya. Mungkinkah mereka sedang disiksa di dunia ini, sebagai latihan untuk menjalani siksa yang lebih menyiksa di akhirat?

Dan meski sering sedih, malu, marah dan dendam, aku juga sering tersenyum gembira melihat seorang tukang becak yang pulang dengan membawaku untuk kemudian diserahkan kepada istrinya. Semula wajah istrinya cemberut, tapi begitu melihatku langsung berubah sikap menjadi sangat manis. Lalu, diajaknya suaminya itu masuk ke dalam bilik dan, ah, tak usah kulanjutkan ceritaku ini, biar siapa pun bisa melanjutkannya sesuai dengan selera masing-masing. Bukankah tidak akan ada habis-habisnya cerita tentang manusia yang berkaitan dengan diriku?***

Griya Pena Kudus, 2005.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *