Sajak-Sajak Achfa Ibrahim

http://www.lampungpost.com/
Seorang Anggota Parlemen

seorang anggota parlemen
telah mengalungkan mimbar
kemudian diarak keliling kota
mukanya penuh cat berwarna-warni
terguyur hujan meleleh luntur
akhirnya kelabu
setelah itu
orang-orang yang mengaraknya menghilang
kemudian anggota parlemen itu
kembali bersidang

jakarta, 30 Mei 1971

Indonesiaku Hari ini

indonesiaku hari ini
adalah segunung pengkhianatan cita-cita kemerdekaan 1945
karena perlindungan terhadap rakyat
sudah dimusnahkan oleh para pemilik uang
yang memperkuda pengasa
indonesiaku hari ini
adalah pengingkaran dari suara kerasulan
karena semua kelembutan dari sang rasul sudah tidak pernah diingat lagi
kitab suci hanya dipajang untuk menolak tuyul dan dijadikan sibul
bahwa pemiliknya beriman
ternyata kelakuan mereka adalah sebaliknya
indonesiaku hari ini
adalah republik para pelacur yang pelacur-pelacur jakarta
kini telah bersatu dan bergerak membentuk barisan, mengibarkan bendera yang berupa
pakaian dalam perempuan dan laki-laki
indonesiaku hari ini
kemilaunya sinar surga yang menciptakan fatamorgana
dikejar semakin jauh di seberang mana
akibatnya yang paling menderita adalah rakyat jelata di desa-desa
pajak semakin tinggi, harga beras tidak terjangkau
sedang pembuatan utang rakyat tetap dijalankan
yang harus dibayar, menjadikan inflasi semakin tinggi, karena orang-orang jakarta,
telah berbuat makar terhadap konstitusi dan undang-undang yang mereka ciptakan sendiri.
rakyat hanya dijadikan alat untuk mencapai kekuasaan dan penjamin utang.
indonesiaku hari ini
adalah neraka bagi pejabat yang beriman dan surga bagi pejabat yang selalu tidur di hotel-hotel yang
berkerumun lonte-lonte, yang dibayar dengan uang negara sebagai hasil korupsi
indonesiaku hari ini,
adalah azan yang berkumandang setiap waktu sholat
tetapi yang sholat hanya sedikit sekali
sedang pencurian, penipuan dan lain-lainnya tetap berjalan seperti suara azan
indonesiaku hari ini,
dua ratus juta manusia yang hilang kepercayaan kepada mereka yang merasa pemimpin,
karena semua perilakunya yang tidak ikhlas dan bahkan menjadi penindas

Kampung Kuning, 1975

———-
*) Pernah menjadi wartawan harian umum Lampung Post (1977–1982).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *