Catatan Akhir Tahun — Trio Kampiun Sastra 2008

Mulyo Sunyoto
http://www.antara.co.id/

Sepanjang 2008, berpuluh karya sastra lahir, namun hanya ada tiga karya sastra dari tiga cabang yang agaknya bisa dikategorikan sebagai sang kampiun: “Cinta di Atas Perahu Cadik”, “Bilangan Fu” dan “Jantung Lebah Ratu”.

Secara berurutan, masing-masing karya sastra tersebut adalah dalam bentuk cerita pendek oleh Seno Gumira Ajidarma, novel oleh Ayu Utami dan kumpulan puisi oleh Nirwan Dewanto.

“Cinta di Atas Perahu Cadik” terpilih sebagai cerita pendek terbaik di lingkungan harian “Kompas”. “Bilangan Fu” dan “Jantung Lebah Ratu” terpilih sebagai pemenang Hadiah Sastra Khatulistiwa.

Meski kemenangan Seno sebatas selingkungan sebuah koran nasional, dewan juri pemilihnya yang antara lain menyertakan sastrawan yang juga ilmuwan sastra Dr. Sapardi Djoko Damono memberi bobot kemenangan itu.

Bagi Seno, memenangi perhargaan untuk cerita pendek bukanlah hal yang luar biasa. Pengajar Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia ini sudah berkali-kali dinobatkan sebagai peraih penghargaan sastra.

Bakat kepengarangan Seno sekitar dua dekade silam sempat dipuji master sastra Indonesia Pramoedya Ananta Toer. “Dia pengarang Indonesia yang sangat berbakat,” kata Pram pada wartawan majalah yang dikekola mahasiswa Univeritas Gajah Mada, “Balairung”.

Kisah “Cinta di Atas Perahu Cadik” , menurut Sapardi, merupakan dongeng percintaan yang mengisyaratkan bahwa ada sesuatu dalam konvensi nilai-nilai dalam hidup yang harus dipertimbangkan kembali. Seno tidak mengulang kisah cinta Sampek-Ingthay, cerita cinta klasik

yang bertepuk sebelah tangan. Seno juga tak menuliskan kembali kisah Roro Mendut-Pronocitro dan Sang Bupati, cinta segi tiga yang membawa malapetaka itu. Seno menulis cinta segi empat, kata Sapardi.

Pencapaian yang diraih Ayu Utami dan Nirwan Dewanto pada 2008 lewat Hadiah Sastra Khatulistiwa agaknya semakin mengukuhkan keduanya sebagai sastrawan Indonesia mutakhir.

Hadiah Sastra Khatulistiwa, yang dipelopori penulis Richard Oh, termasuk cukup bergengsi dengan hadiah yang untuk ukuran Indonesia cukup lumayan, setiap pemenang mengantongi Rp100 juta. Penyair Goenawan Mohamad juga pernah meraih anugerah sastra ini.

Menurut salah satu anggota dewan juri yang juga sastrawan Hamsad Rangkuti, “Bilangan Fu” dan “Jantung Lebah Ratu” mewakili semangat sastra yang serius dan matang.

“Di tengah kemunculan banyak penulis sastra muda yang cenderung gemar bermain akrobat kata-kata, dua karya itu menunjukkan bahwa yang terpenting dalam sastra itu tetaplah gagasan yang bernas, selain juga sublimasi bahasa,” kata Hamsad, yang sebelumnya juga menjadi peraih penghargaan serupa.

Bagi Ayu Utami, penghargaan ini menambah daftar pencapaian yang pernah diraih sebelumnya. Novel debutannya, “Saman” yang mendapat penghargaan sebagai novel terbaik Dewan Kesenian Jakarta, juga diganjar hadiah Prince Claus dari Belanda.

Dalam “Bilangan Fu”, lewat sang protagonis, Ayu mencibir laki-laki yang meninggalkan petualangannya sebagai pemanjat tebing ulung dan memilih menjadi suami. Laki-laki yang memilih berkeluarga merosot dari satria menjadi sudra, tulis Ayu.

Kredo kepengarangan Ayu bertolak belakang dari nilai yang digaungkan kebanyakan novelis pendahulunya. Bagi Ayu, novel tidak perlu berkotbah dan menawarkan hikmah cerita.

“Jantung Lebah Ratu” agaknya kian mengukuhkan kehadiran Nirwan di blantika sastra Tanah Air. Selain menulis puisi, Nirwan rajin menulis esai sastra. “Senjakala Kebudayaan” merupakan kumpulan esai-esainya yang menegaskan sikapnya sebagai pemikir kebudayaan yang tak terbatas pada soal-soal sastra dalam negeri tapi juga sastra dunia, terutama yang belumbanyak disentuh pengamat sastra Indonesia.

Itu sebabnya Nirwan banyak mengupas sastra dunia ketiga di Amerika Latin yang baginya tak kalah bergelora dibanding sastra dunia pertama yang sudah sering ditelaah kaum akademisi bidang sastra dan budaya.

Tampaknya, ketiga kampiun bidang sastra sepanjang 2008 itu masih akan memperlihatkan keunggulan mereka di tahun-tahun mendatang, mengingat usia mereka yang relatif lebih muda, dibanding para sastrawan tenar Indonesia yang merupakan senior mereka seperti Goenawan Mohamad, Soetardji Calzoum Bachri dan Hamsad Rangkuti yang menginjak di atas 60 tahun. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *