Demi Cinta kepada Sastra Sunda

Eriyanti
http://www.pikiran-rakyat.com/

Akhir pekan lalu, Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PPSS) mengeluarkan album musikalisasi puisi berjudul “Lalaki Langit”. CD dengan lagu beraliran pop dibagikan begitu saja kepada 300 lebih undangan yang hadir. Sebelumnya, komunitas ini juga menerbitkan kumpulan drama Sunda berjudul “Jeblog”. Hasilnya, buku antologi para pemenang lomba penulisan naskah drama Sunda itu pun habis dibagikan kepada perorangan, lembaga, dan pihak-pihak yang terkait dengan sastra Sunda.

Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PPSS) memang hadir sebagai bagian dari upaya memperluas para pencinta sastra. Di bawah komando Etti R.S. selaku pupuhu (ketua), PPSS tidak saja menerbitkan buku, mengadakan berbagai lomba dan pasanggiri untuk menggairahkan kehidupan sastra dan bahasa Sunda, tetapi juga menggelar banyak kegiatan lain yang bertujuan menyebarluaskan karya sastra Sunda kepada masyarakat.

“Lamun teu wanoh moal wawuh. Lamun teu wawuh moal mikaresep, komo deui mikanyaah,” ujar Etti saat menerima “PR” di Gedung Rumentang Siang, Bandung didampingi Dian Hendrayana (Ketua I), Dadan Sutisna (Sekretaris I), Heni Syafei (Bendahara), dan Lin R.N. (anggota). Etti mengatakan, bahasa dan sastra Sunda akan disukai dan dicintai bila dikenal. “Proses mengenalkan dan mendekatkan itulah yang menjadi garapan PPSS,” tuturnya.

Kegiatan PPSS memang cukup banyak dan beragam. Mulai dari diskusi, seminar, menerbitkan buku dan antologi, apresiasi seni tradisi, pembacaan sajak atau carpon, mengenalkan sastra melalui musikalisasi puisi, mengeluarkan album kaset dan CD, sampai mengadakan pameran lukisan dan aksara Sunda.

PPSS juga termasuk satu-satunya komunitas yang berhasil memprakarsai peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional. Padahal, pemerintah sendiri belum “ngeuh” meskipun Hari Bahasa Ibu sudah ditetapkan Unesco. Yang unik, sebelumnya PPSS kerap mengadakan peringatan 40 hari para pengarang yang sudah wafat. Kegiatan 40 harian ini diisi dengan membedah karya-karya pengarang yang sudah wafat tersebut.

Namun, karena muncul kritikan yang mengatakan bahwa pengarang harus meninggal dulu bila karyanya ingin dibahas oleh PPSS maka PPSS mengubah kegiatan tersebut dengan merayakan HUT para pengarang. Beberapa pengarang yang pernah dirayakan hari ulang tahunnya oleh PPSS adalah Tini Kartini, Ajip Rosidi, dan Duduh Durahman. Tradisi PPSS ini ternyata menjadi semacam cita-cita yang diidamkan para pengarang. “Kira-kira saha nya pangarang anu rek diulangtaunkeun ku PPSS. Itulah seloroh yang sering muncul ke PPSS dari para pengarang,” ujar Etti.

Menghargai, memajukan, dan memupuk semangat para pengarang untuk terus menulis dan berkarya, memang termasuk fokus kegiatan PPSS. Semacam dorongan agar karya sastra Sunda tetap eksis dan dapat dikenali serta dinikmati oleh masyarakat.

Dorongan seperti ini, dirasakan betul Dian Hendrayana. Pengarang yang lama eksis di penulisan sajak, carpon, dan novel ini, mengaku mendapat stimulus untuk terus berkarya setelah bergabung dengan PPSS. Dian yang kini tercatat sebagai pengurus, merasakan adanya upaya pendokumentasian karya yang dilakukan PPSS.

“Jika sebelumnya saya hanya membuat lalu membaca sendiri karya saya, setelah bergabung dengan PPSS karya-karya tersebut tidak hanya dibaca tetapi juga dibukukan dan dibahas sehingga terjadi proses pembelajaran terus-menerus,” ujarnya.

“Sawala Sastra PPSS”

Kegiatan PPSS lain adalah “Sawala Sastra PPSS” ke sekolah-sekolah. Tujuannya mengenalkan dan mendekatkan karya-karya sastra dan fenomena terbaru sastra Sunda kepada guru dan siswa. Pameungpeuk, Majalengka, dan Sukabumi termasuk kota-kota yang pernah dikunjungi PPSS dalam program “Sawala Sastra PPSS”.

Sayang, program ini terkendala dana. Maklumlah, hampir semua program-program PPSS diselenggarakan tanpa mengandalkan proposal. “Semuanya hanya dapat terlaksana karena pertemanan. PPSS bukan organisasi yang terbiasa harus ngasong-ngasong (menyodorkan) proposal,” ujar Etti R.S.

Yang terbaru, PPSS sudah merilis website. Menurut pengelolanya, Dadan Sutisna, website: //www.ppss.or.id tidak hanya ingin mengenalkan PPSS ke seantero jagat, tetapi juga sebuah pendokumentasi karya, pendataan para pengarang, dan ruang berlatih bagi para pengarang pemula yang ingin menyebarluaskan karyanya lewat internet.

Di ruang tak berbatas inilah, kata Dadan, PPSS ingin menghidupkan wacana berkarya dan kritik sastra Sunda. Terutama dari kalangan muda sebagai pemakai terbesar dunia maya. “Harapannya sih, akan tumbuh tunas-tunas pengarang dan kritikus sastra Sunda yang baru, yang nantinya akan melanjutkan kehidupan sastra Sunda,” ujarnya.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *