Plagiator

Masyithah Maghfirah Rizam*
http://www.surya.co.id/

PLAGIAT adalah tindakan mengambil karangan, pendapat, ide, dan sebagainya milik orang lain dan diklaim sebagai miliknya. Ini tindakan tidak terpuji, tidak bermoral, dan tentunya miskin kreativitas.

Seseorang yang telah melakukan plagiat (plagiator) tidak akan memiliki satupun pembenaran atas pencuriannya. Cap plagiator akan diberikan masyarakat secara otomatis padanya dan sangat mungkin akan terus berlanjut seumur hidup.

Belantika musik Indonesia diramaikan oleh pekerja musik baru baik itu band, grup vocal, ataupun solo artis, yang tiba-tiba melejit dengan single perdana mereka. Bak kacang goreng, lagu-lagu mereka didownload jutaan orang sebagai RBT (Ring Back Tone), tawaran manggung mengalir.

Tapi, siapa yang tak terkejut sekaligus kecewa ketika selebritis baru yang diterima masyarakat penikmat musik ini ternyata mengandalkan lagu milik orang lain dengan modifikasi sedemikian rupa dan diakui murni karyanya.

Benar-benar mencengangkan dan membuat geleng-geleng kepala karenanya. Lagu andalan yang memikat penikmatnya, ternyata milik lagu orang lain, dari negeri orang pula.

Sangat disayangkan ketika mental plagiator mulai tumbuh dan berkembang seperti ini, meskipun media massa semudah membalikkan telapak tangan menyiarkan kebobrokan moral plagiator yang tadinya terselubung itu.

Masih adakah rasa malu pada diri mereka? Apakah akan melakukan introspeksi ataukah justru melakukan modifikasi supercanggih untuk mengelabuhi masyarakat agar tidak dapat menangkap basah lagi di lain hari?

Mental plagiator yang miskin kreativitas ini seperti penyakit yang terus mewabah dan menulari banyak orang. Bukan hanya di negeri sendiri. Seringkali kita dibuat terkejut dengan kenyataan mencengangkan tentang pencurian karya ala plagiator ini.

Apa karena tak percaya diri lantas lebih memilih jadi maling? Mulai detik ini, harus segera ditinggalkan. Kita harus memupuk rasa percaya diri dan keyakinan pada kemampuan diri kita agar tidak tergiur untuk memiliki karya orisinal orang lain dan melakukan tindakan plagiat.

Sepandai-pandainya tupai melompat akan jatuh juga. Kita harus sadar, kebohongan tak akan pernah aman. Kita hanya akan menutupi kebohongan pertama dengan kebohongan lainnya, dan membuat kebohongan itu terus menumpuk. Akhirnya, kita harus bersiap dengan kebencian masyarakat yang menumpuk pula.

*) Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *