Meluruskan Distorsi Sejarah Bangsa

Judul buku: Api Sejarah
Penulis: Ahmad Mansyur Suryanegara
Penerbit: Salamadani
Cetakan: Pertama, Juli 2009
Tebal: 584 halaman
Harga: Rp125 ribu
Peresensi: Habiah*
http://www.lampungpost.com/

INTISARI buku yang diketengahkan kepada khalayak pembaca ini ialah pelurusan sejarah, baik sejarah yang berkenaan dengan bangsa Indonesia secara global maupun sejarah Islam di negeri ini. Penulis buku ini, Ahmad Mansyur Suryanegara, memang pakar di bidangnya. Era 90-an, saat tumbuh kesadaran berislam di kalangan kampus dan sekolah, ia sudah menghentak jagat persejarahan Indonesia. Waktu itu, di saat sejarah tak lagi lekat dengan agama, khususnya Islam, Ahmad Mansyur tampil beda. Ia kemukakan–tentu berdasar riset yang berkedalaman–bahwa masuknya Islam ke Indonesia sejak abad ke-7 Masehi.

Mansyur mengemukakan ini merujuk pada teori Mekah yang dikemukakan ulama besar Islam kita, Buya HAMKA. HAMKA berkeyakinan Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh wiraniaga asal Arab di pantai barat Sumatera. Berita Dinasti Tang juga menguatkan prediksi ini, bahwa Islam bukan masuk pada abad ke-13, melainkan pada abad ke-7. Teori ini jarang disampaikan guru sejarah kita di masa sekolah. Yang banyak dipahami siswa ialah masuknya Islam sejak abad ke-13 dan dibawa pedagang Gujarat. Padahal, hingga kini jejak Islam di Gujarat, India, tidak ditemukan.

Kekuasaan Islam yang sedang berkembang, bahkan masuk ke wilayah benua biru Eropa, juga menjadi bukti agama yang risalahnya diemban Muhammad saw. ini menyebar ke mana-mana. Tidak terkecuali ke Indonesia sebagai pusat produksi sumber daya alam, semisal rempah, yang terkenal itu.

Yang juga menarik tentu saja peran pedagang Arab dalam dakwah Islam di Tanah Air. Selain berdagang, mereka juga dai yang menjalankan kiprah amar makruf nahi mungkar. Dengan kejujuran mereka dalam berdagang, sudah pasti mendapat tempat tersendiri di hati orang Indonesia waktu itu. Mereka juga memiliki pemahaman ballighu anni walau ayah-sampaikan dariku meski hanya satu ayat. Maka, sambil berdagang para wiraniaga itu menyampaikan inti ajaran Islam.

Mansyur meluaskan pandangannya tentang pedagang dan pasar ini. Mansyur menilai sejarawan kita tidak banyak yang mengungkapkan betapa peran nabi sebagai pedagang juga punya andil luar biasa penting dalam sebaran Islam di tanah Mekah dan Madinah. Sejak berada dalam asuhan sang paman, Abu Thalib, Muhammad sudah memiliki jiwa dagang yang tinggi. Kejujuran dan kepiawaiannya dalam menjajakan barang dagangan menjadi modal paling penting dalam sejarah perluasan Islam. Kelak, ketika hijrah dan berdiam di Madinah, nabi dan para sahabat menjadikan medan jihad yang lain, termasuk mengurangi determinasi kaum Yahudi dalam penguasaan pasar.

Jika menilik soal pasar dan pedagang ini, sangat masuk akal jika hal serupa terjadi di Indonesia. Teori Mekah dalam hal menjawab pertanyaan kapan pertama kali Islam datang, memang satu di antara teori lain, semisal teori Gujarat yang dikemukakan Dr. Snouck Hurgronje. Asal tahu saja, profesor yang sempat mukim di Mekah ini adalah bikinan Belanda untuk menginfiltrasi pemahaman keislaman masyarakat Indonesia.

Mansyur juga menghentak sewaktu menguraikan bahwa Pattimura dan Si Singamangaraja beragama Islam. Kapitan Pattimura dengan nama lengkap Ahmad Lussy ialah pejuang Islam yang tidak menginginkan tanah tumpah darahnya dikuasai Belanda. Berparadigma bahwa sebagian besar orang Maluku bukan muslim, juga tidak tepat. Sebab, dari asal kata saja, Maluku berasal dari jazirah al mulk, atau jazirah para raja.

Ahmad Mansyur memang punya paradigma kemerdekaan yang diraih Indonesia ini juga saham besar dan mayoritas milik umat Islam, yang terwakili dari peran ulama dan santri. Tidak mengherankan jika hampir semua pembahasan dalam buku ini merujuk ke peran ulama dan santri. Sebuah peran yang juga diakui sejarawan dan tokoh bangsa yang notabene bukan muslim E.F.E Douwes Dekker Danudirjo Setiabudi mengatakan jika tidak karena sikap dan semangat perjuangan para ulama, sudah lama patriotisme di kalangan bangsa kita mengalami kemusnahan. Jika merujuk pada skop lokal Lampung saja, kita mengenal K.H. Gholib yang angkat senjata melawan kompeni Belanda. Sampai pentingnya peran Gholib, Lampung Post memasukkan namanya dalam buku 100 Tokoh Terkemuka Lampung.

Buku ini pantas dibaca siapa saja. Meski fokus pada peran ulama dan santri, sejarah pada masa khulafaur rasyidin dan khalifah juga dibahasakan secara mendetail sebagai cantelan sejarah Indonesia. Walaupun kental nuansa Islam, objektivitas buku Mansyur ini bisa dipertanggungjawabkan. Bahkan, ia juga menulis tiada pertentangan dari pemeluk Hindu dan Buddha tatkala Islam datang. Tak ada darah tertumpah ketika risalah ini bertamu untuk pertama kali di bumi Indonesia. Bahkan, penerimaan pemeluk Hindu dan Buddha teramat baik. Ini sekaligus menyanggah argumentasi Islam datang dengan kekerasan dan membumihanguskan kerajaan berideologi Hindu dan Buddha di Tanah Air.

Namun, tiada gading yang tak retak. Kelemahan buku ini ada pada dua titik. Pertama, soal ejaan. Di buku ini, terutama pada bab-bab awal, kita akan menemukan frasa Keradjaan Katolik Portoegis, Samoedra Pasai, dan sejenisnya. Mansyur menulis begitu berdasar pada kata atau istilah sebelum atau setelah munculnya ejaan yang disempurnakan. Padahal, ini sangat mengganggu. Hiperbolanya, jika bukan karena buku ini sarat ilmu berharga, malas membacanya. Semestinya sederhanakan saja dan sesuaikan dengan kaidah yang kini berlaku.

Titik rawan kedua, buku ini tak ada indeks. Padahal, buku “babon” semacam ini sebaiknya diberi halaman khusus indeks. Jadi, saat ingin mencari kata atau tokoh yang penting, kita punya rujukan dalam indeks.

*) Pensiunan PNS, tinggal di Lampung Selatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *