Rumput Belukar Barack Obama

J. Sumardianta *
jawapos.co.id

”Bila engkau tidak bisa jadi pohon cemara di bukit, jadilah belukar yang indah di parit. Bila tidak bisa jadi belukar indah di parit, jadilah rumput yang membuat jalan-jalan semarak. Bukan kemasyhuran yang menentukan seseorang jadi pemenang, melainkan kewajaran.”

Aforisme Douglash Malloch itu sengaja dipilih untuk mengapresiasi masa lalu Barack Obama. Obama, cemara di puncak bukit itu, di masa mudanya tak ubahnya belukar parit dan rumput jalanan.

Suatu saat Obama berziarah ke makam kakek dan ayahnya di Kenya. Sambil mengusap nisan ayah, Obama menangis. ”Oh, ayah. Tak perlu malu atas kebimbanganmu. Juga tak ada yang memalukan bagi ayahmu. Tak ada rasa malu dalam rasa takutmu atau dalam rasa takut ayahmu. Hanya ada perasaan malu di keheningan yang diciptakan oleh rasa takut.” Saat air matanya terkuras, dia merasakan ketenangan membasuhnya. Dia merasakan lingkaran hidupnya sempurna.

Old Man, ayahnya, mengunjungi Obama untuk kali pertama sekaligus terakhir saat berumur 10 tahun. Old Man pelajar yang cerdas, teman yang hangat, flamboyan beristri empat, beranak enam. Pemimpin hebat yang bangkrut dan menjadi pengemis karena tersesat dalam gelimang pesta kemabukan. Suami getir, ayah penyiksa, birokrat yang kalah dan kesepian. Old Man mati dalam kondisi memelas, meninggalkan keluarga besar berebut warisan. Ketika belalang berkelahi, selalu gagak yang berpesta. Perkelahian keluarga berebut tanah leluhur hanya menguntungkan para pengacara.

Inilah masalah paling serius yang didapat Obama hasil dua kali mengunjungi keluarga besarnya di Afrika: relasi lelaki dengan perempuan. Lelaki berusaha menjadi kuat, tetapi sering salah kamar karena memiliki banyak istri. Kakek dan ayah punya banyak istri. Anak lelaki mengikuti jejak. Risiko keluarga broken home tak pernah diantisipasi. Istri menjadi cemburu. Anak-anak tidak pernah bisa dekat dengan ayah mereka.

Khayalan tentang ayah membuat Obama tidak mudah patah arang. Fantasi ayah yang membawa seluruh istri dan anak-anak mereka kembali ke Kenya. Muncul harapan bahwa ayah, ibu, kakak, dan adik semua tinggal di rumah besar yang dikelilingi pohon-pohon rindang yang ditanam kakek.

Barack Obama Sr memang orang Kenya, Afrika, suku Luo, dilahirkan di desa miskin Alego, tepi danau Victoria. Hussein Onyango Obama, kakeknya, seorang muslim, petani terkemuka, tetua adat, dan ahli penyembuhan herbal. Pada 1959, pada usia 23 tahun, Obama Sr tiba di AS sebagai mahasiswa Afrika pertama di Universitas Hawaii. Dia lulus tiga tahun sesudahnya dalam bidang ekonometri dengan nilai tertinggi. Dia mendapat kekuatan dari namanya, barakah, berkah Tuhan.

Di universitas itu, dia bertemu dengan seorang gadis berusia 18 tahun, Ann Dunham. Hati orang tua si gadis semula khawatir. Kendati demikian, pesona dan kecerdasan Barack Obama Sr meluluhkan hati. Mereka keluarga Amerika liberal. Saat Ann Dunham menceritakan tentang seorang mahasiswa Afrika, reaksi pertama keluarganya mengundang teman putrinya itu untuk makan malam.

Pasangan muda itu lalu menikah dan dikarunia anak lelaki yang diberi nama Barack Obama Jr. Pernikahan tersebut ditentang keras orang tua Obama di Kenya. Sang ayah tidak ingin Obama dicemari darah orang kulit putih (wazungu). Bagaimana Obama bisa bertanggung jawab terhadap Ann Dunham, sementara di Kenya dia punya tanggungan seorang istri dan dua anak?

Obama Sr melanjutkan studi untuk meraih PhD di Harvard. Bukan masalah uang yang memisahkan dia dari keluarga barunya. Dia kembali ke Kenya karena panggilan membetulkan negerinya yang luluh lantak didera gerakan separatisme. Sang ibu dan anak tetap tinggal. Ikatan cinta tetap bertahan, meski samudera dan benua memisahkan mereka.

Afrika adalah jamban dunia. Orang-orang kulit hitam barbar. Kontak apa pun dengan mereka hanya akan menghasilkan infeksi. Itulah pandangan umum rasisme orang Amerika. Pada 1960, tahun ketika Obama Sr dan Ann Dunham menikah, perkawinan antar-ras masih dianggap sebagai skandal di hampir separo wilayah selatan AS. Seorang lelaki kulit hitam bisa digantung di atas pohon hanya karena memandangi perempuan kulit putih dengan penuh hasrat. Di wilayah utara, seorang perempuan kulit putih yang digosipkan mengandung anak dari suami berkulit hitam bisa melakukan aborsi atau mengunjungi biara untuk mengatur adopsi anak.

Bagaimana bisa Amerika mengirim orangnya ke ruang angkasa, namun masih memegang teguh pandangan rasis dan membuat batasan bagi warganya yang berkulit hitam. Obama Sr suatu malam bergabung dengan mertua di sebuah bar Waikiki. Semua orang sedang bergembira, makan, dan minum sembari menikmati alunan musik syahdu. Tiba-tiba seorang lelaki kulit putih dengan kasar berteriak kepada bartender bahwa dia seharusnya tidak minum bersebelahan dengan seorang negro.

Semua pengunjung terenyak dan menduga yang dilecehkan bakal melawan. Obama Sr tersenyum dan menegur lelaki itu dengan pelajaran betapa bodohnya bersikap fanatik. Orang tersebut menjadi sungkan dan memberi Obama seratus dolar. Mentraktir semua minuman mertua dan kawan-kawan serta sewa apartemen Obama selama sebulan. Keutamaan moralitas cerita mengenai seorang kulit putih yang membeli maaf itu sungguh brkesan bagi Obama Jr.

Setelah bercerai dengan Barack Sr, Ann Dunham menikah dengan Lolo Sutoro, mahasiswa Universitas Hawaii berkebangsaan Indonesia. Obama bersama ibu dan ayah tirinya (Lolo Sutoro) tinggal di Indonesia selama tiga tahun. Kurang dari enam bulan tinggal di Jakarta, Obama sudah dapat mempelajari bahasa, kebiasaan, dan legenda-legenda Indonesia. Dia sangat gemar makan buah berambut merah yang rasanya sangat manis hingga hanya sakit perut yang dapat menghentikan melahapnya. Obama belajar makan masakan pedas, nasi goreng, daging ular, ayam goreng, sengsu (tongseng asu), dan keripik belalang. Itulah sekuel kehidupannya di Indonesia.

”Lebih baik tabung uangmu dan pastikan bahwa kau sendiri tidak berakhir di jalanan,” nasihat Lolo saat Obama terlalu bermurah hati kepada setiap pengemis. ”Lebih baik menjadi orang yang kuat. Bila tidak menjadi orang kuat, kau harus pandai dan bersahabat dengan orang kuat.”

”Bila ingin tumbuh sebagai manusia, kau harus bermakna,” itu nasihat lain Lolo yang selalu diingat Obama.

Dari Lolo, Obama memperoleh adik tiri perempuan, Maya Sutoro. Ann memutuskan, dirinya dan Obama tidak jauh-jauh pergi hanya untuk menjadi beban. Gaji Lolo untuk hidup sendiri saja susah, apalagi ditambah dengan satu istri dan dua anak. Lolo dan Ann pun berpisah.

Obama melanjutkan sekolah di Punahou, sekolah persiapan bergengsi yang berdiri sejak 1841, sebuah inkubator bagi kaum elite Pulau Hawaii. Ann tinggal bersama dua anaknya di sebuah kamar apartemen kecil. Orang tua tunggal itu menghidupi keluarganya dengan beasiswa sebagai mahasiswa master antropologi Universitas Hawaii. Obama membantu ibunya belanja ke pasar, mencuci pakaian, dan menjaga Maya. Obama menolak ajakan untuk kembali ke Indonesia saat ibunya hendak mengerjakan penelitian lapangan. Dia meragukan apa yang bisa ditawarkan Indonesia dan enggan kembali ke AS menjadi orang baru dari awal lagi.

Obama pernah diteriaki teman-temannya dengan menirukan suara monyet tatkala guru memintanya memperkenalkan diri sebagai anak suku Luo. Obama acap cemburu terhadap teman-teman sekelas saat mereka mengundangnya bermain di halaman rumah luas berkolam renang. Dia mengalami sensasi keputusasaan di dalam rumah besar yang indah.

Kenya, negeri moyang Obama, murid bangsa Barat yang tidak kunjung bebas dari budaya penjajah. Auma, kakak perempuan tirinya, menyebut negerinya sebagai pelacur Afrika yang akan mengangkangkan kaki kepada siapa pun yang mau membayar. Obama dan Auma pernah dicuekin pelayan restoran berkulit hitam di Nairobi. Para pelayan lebih sibuk melayani keluarga turis dari Amerika ketimbang dua tamu berkulit hitam.

Barack Hussein Obama hari-hari ini sedang napak tilas parit dan jalanan di Jakarta dan Jogjakarta. Lidahnya tentu terlalu cerdas untuk melupakan rambutan merah, nasi goreng, sengsu, baceman walang Wonosari, ayam goreng Kalasan, dan sayur pedas lombok ijo. Menu keseharian saat Tuan Presiden menjalani sekuel sebagai belukar dan rumput semarak di Indonesia. (*)

*) Guru SMA Kolese de Britto Jogjakarta, penulis buku Simply Amazing (2009).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *