Sastra Sunda dan Kegundahan Kang Ajip

Cornelius Helmy
http://cetak.kompas.com/

Pada hari ulang tahunnya yang ke-72, sastrawan Ajip Rosidi mengaku gundah dengan penerbitan buku berbahasa Sunda. Meski tahun ini 30 buku berbahasa Sunda diterbitkan, putra Majalengka kelahiran 31 Januari 1938 ini mengatakan, mayoritas buku merupakan terbitan ulang yang sudah muncul sebelum perang.

Hal itu menandakan, pembaca buku bahasa Sunda adalah orang-orang yang ingin membaca buku yang pernah dibaca sebelumnya. Ajip memperkirakan, generasi muda kurang berminat dengan inovasi yang ditawarkan buku berbahasa Sunda saat ini.

Namun, ia tidak terlalu khawatir dengan keadaan ini. Ajip yakin, suatu saat buku itu akan dibaca juga oleh anak-anak muda. Dengan demikian, mereka mampu mengikuti perkembangan sastra bahasa daerah. “Kemunculan banyak karya sastra Sunda harus terus didukung sehingga penulis sastra Sunda terus tertantang dan termotivasi menghasilkan banyak hal baru sesuai dengan perkembangan zaman,” kata redaktur PN Balai Pustaka tahun 1955-1956 ini.

Dukungan

Usaha penerbitan juga mutlak mendapatkan dukungan. Meski masih menjadi kegiatan rumahan atau belum menjadi industri, penerbitan buku bahasa Sunda, Jawa, Lampung, dan Bali setiap tahun masih berjalan. Hal itu menjadi salah satu pendorong pelestarian sastra daerah.

Ajip tak sekadar bicara. Salah satu bentuk dukungannya adalah dengan konsisten menghadirkan penghargaan sastra Rancage. Tahun ini Rancage untuk sastra Sunda hadir untuk yang ke-22, sastra Jawa ke-17, sastra Bali ke-14, dan sastra Lampung merupakan kesempatan kedua. “Kami memberikan penghargaan pada buku sastra daerah terbaik dan tokoh Sunda, Jawa, Bali, dan Lampung yang berkontribusi mengangkat bahasa daerahnya,” ujar pendiri Pusat Studi Sunda ini.

Tahun ini karya sastra Sunda terbaik jatuh pada Saenggeus Umur Tunggang Gunung karya Usep Romli. Tokoh Sunda yang dianggap berdedikasi adalah Karno Kartadibrata. Untuk sastra Jawa, karya terbaik adalah Layang Panantang (Sumono Sandi Asmoro) dan penghargaan tokoh berdedikasi diberikan kepada sastrawan Bonari Nabobenar. Untuk sastra Bali, karya juara adalah Leak Pamoroan (Agung Ardi) dan sastra Lampung diraih Bandar Negeri Samuong (Asarpin Aslami).

Khusus karya fiksi, Direktur CV Geger Sunten Taufik Faturohman mengatakan, dalam lima tahun terakhir jumlah terbitan fiksi berbahasa Sunda semakin berkurang, dari 20 judul menjadi lima judul per tahun.

Menurut Taufik, minat pengarang menulis kisah fiksi berbahasa Sunda memang menurun karena pembacanya minim. Akibatnya, royalti didapat dalam waktu lama. Dari satu buku berbahasa Sunda yang dicetak 2.000 eksemplar, royalti yang didapat hanya Rp 1 juta-Rp 2 juta dalam waktu tiga tahun. Ia berharap pemberian penghargaan dapat memicu pengarang menghasilkan karya berbahasa daerah hingga akhirnya mampu menjaga kelestarian bahasa ibu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *