Siapa Takut Risalah Filsafat

Judul: Filsafat Bahasa, Semiotika, dan Hermeneutika
Penulis: Prof Dr Kaelan MS
Cetakan: Pertama, 2009
Penerbit: Paradigma, Yogyakarta
Tebal: viii+364 halaman
Peresensi: Dr Saifur Rohman MHum
http://suaramerdeka.com/

?PERKEMBANGAN pemikiran filsafat abad XX memiliki ciri yang sangat menonjol, yaitu meletakkan bahasa sebagai pusat perhatian para filsuf (Kaelan, 2009: 263).?

Kutipan itu merupakan identifikasi terhadap permasalahan aktual sekarang ini. Perkembangan teknologi memproduksi bahasanya sendiri. Permasalahan aktual masa kini adalah bagaimana orang atau institusi mempergunakan bahasa. Bahasa di dalam SMS (short message service) berbeda dari bahasa dalam jejaring sosial, berbeda dengan bahasa email, blog, dan seterusnya. Dalam banyak kasus yang terjadi, tuduhan teror oleh Amerika kepada negara lain adalah bentuk permainan bahasa. Kampanye yang baru usai lalu juga tidak lebih sebagai pertarungan kata-kata, benturan istilah, dan berakhir pada retorika.

Karena itulah, buku ini memiliki relevansi yang kuat dengan keadaan kita sekarang ini. Paparannya berusaha menyusun peta konseptual tentang bahasa selama hampir 200 tahun terakhir. Dimulai dari deskripsi murni tentang bahasa, penafsiran, hingga penggunaan dalam konteks-konteks khusus sehingga melahirkan perangkat-perangkat metodologis yang menempatkan bahasa sebagai objek material dan objek formal.

Secara umum, buku ini terdiri atas enam bab. Bab Pertama adalah pendahuluan yang disambung Bab Kedua tentang penjelasan bahasa sebagai objek material filsafat. Bab Ketiga memfokuskan pada filsafat analitika bahasa, Bab Keempat tentang semiotika, Bab Kelima tentang hermeneutika, Bab Keenam memfokuskan pada peranan bahasa dalam perdebatan posmodernisme.

Jajaran Filsuf
Secara khusus, buku ini memaparkan lebih dari 30 filsuf berikut pemikirannya dengan sangat jernih. Semacam review pokok dan tokoh. Bedanya, tokoh-tokoh ini kemudian digolongkan menjadi tiga kategori, yakni filsafat bahasa, semiotika, dan hermeneutika.

Pembahasan tentang analitika bahasa diawali dengan pengertian dan dilanjutkan dengan tokoh-tokoh filsafat bahasa, mulai dari Edward Moore, Bertrand Russel, Wittgenstein, AJ Ayer, dan filsuf madzab Oxford.

Pembahasan tentang semiotika juga diawali demam dengan pengertian dan diakhiri dengan uraian tentang tokoh-tokohnya. Sebutlah Ferdinand de Saussure, Charles Sanders Peirce, Roland Barthes, Roman Jakobson, Louis Hjelmslev, Julia Kristeva, Michael Riffatere, dan Jacques Derrida. Dalam penggolongan hermeneutika tersebutlah Friedrich Schleiermacher, Wilhelm Dilthey, Martin Heidegger, Hans Geor Gadamer, Jurgen Gabermas, Paul Ricouer, dan Jacques Derrida.

Penggolongan dalam perdebatan posmodern bukan berdasarkan tokoh-tokoh, tetapi berdasarkan pada pokok-pokok. Dimulai dari titik pijak strukturalisme yang dikembangkan Saussure kemudian dilanjutkan pengaruh fenomenologi Edmund Husserl dalam memandang bahasa, dan lahirkan dekonstruksi. Dalam perdebatan dekonstruksi, muncullah kata-kata kunci yang belum diperkenalkan sebelumnya. Misalnya pemahaman posmodernisme sebagai kondisi pragmatis menurut Lyotard. Juga muncul cerita tentang runtuhnya metafisika oleh Richard Rorty yang memiliki koherensi teoretis dengan Heidegger. Seru pokoknya.

Tokoh-tokoh yang muncul dalam perdebatan posmodernisme itu bisa saja diambil dari tokoh-tokoh yang sudah ada sebelumnya, tetapi juga muncul tokoh baru dan sekaligus kata kunci baru. Ada beberapa tokoh muncul dalam beberapa kategori sekaligus. Misalnya Jacques Derrida muncul dalam kategori semiotika, hermeneutika, posmodernisme. Demikian pula Habermas dimasukkan ke dalam hermeneutika dan posmodern. Saussure dan Peirce juga masuk dalam semiotika dan perdebatan posmodern.

Hal yang mungkin mengganggu adalah konsistensi isi bab. Bab Kedua dan Keenam konsisten di satu sisi, tetapi tidak konsisten dengan bab lain. Maksudnya, Bab Ketiga, Keempat, dan Kelima bersifat konsisten dalam sisi lain karena membahas tokoh-tokoh berdasarkan kategori. Hal itu dimaksudkan sebagai pemetaan terhadap rimbun pemikiran dan tokoh-tokoh filsuf yang berdesak-desakan untuk tampil. Hal itu baik, tetapi sebagai sebuah hasil karya filsafat, langkah utama adalah memutuskan ketetapan locus inteligendi kepada sidang pembaca.

Tetapi, kalau ditimang-timbang, buku ini lebih banyak bagusnya karena memberikan pengantar yang menyeluruh kepada pemula di bidang sastra, filsafat, kajian sosial dan budaya. Bagi para pemerhati lanjut, buku ini dapat dijadikan sebagai pegangan teoretis yang dapat diandalkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *