Lelaki Pendongeng dan Gadis Senja

Adi Toha *
oase.kompas.com

Bertahun-tahun ia telah berjalan dari kota ke kota, singgah di banyak tempat, bertemu dengan bermacam orang, namun tak pernah sekalipun terbersit keinginan untuk tinggal di salah satunya dan hidup bersama orang-orang baik hati yang ia temui. Namun pada suatu senja yang remang, ketika ia tengah berdiri sejenak di bawah lampu jalan yang mulai menyala dan matanya tak sengaja menangkap sosok seorang gadis yang tengah menikmati sisa cahaya lembayung dari jendela kamarnya, mendadak ia merasa bahwa perjalanannya telah sampai di kota terakhir tempat ia akan menghabiskan sisa hidupnya.

Orang-orang mengenalnya sebagai lelaki pendongeng. Ia sering terlihat di depan sebuah sekolah dasar atau taman kanak-kanak, di tengah kerumunan bocah-bocah yang dengan khidmat mendengarkan dongeng-dongengnya. Di waktu lain, ia terlihat di depan barisan bocah-bocah yang mengikuti langkahnya seperti tikus-tikus kota Hamelin mengikuti sang peniup seruling. Dengan sabar mereka menunggu lelaki pendongeng itu berhenti dan duduk istirahat, karena di saat itulah ia akan menceritakan satu dua dongeng kepada bocah-bocah itu.

Di kota-kota tempat singgahnya, ia hidup dari pemberian para orang tua yang mengantar anak-anak mereka ke sekolah. Selesai mendongeng, orang tua bocah-bocah itu meletakkan sekeping dua keping uang receh di topi jeraminya. Kadang, mereka juga ikut mendengarkan dongeng lelaki itu, duduk menemani anak-anak mereka. Dalam hati mungkin mereka berterima kasih atau mungkin iri, mereka tidak pernah mendongeng kepada anak-anak mereka.

Tidak diketahui dengan pasti siapakah sebenarnya lelaki pendongeng itu, siapakah keluarganya, dari kota mana ia memulai perjalanannya. Sosoknya tak begitu jauh dengan lelaki kebanyakan, di tengah puncak masa mudanya. Menurut mereka yang sempat berbicara dengannya, lelaki itu terlihat tak lebih tua dari usia tiga puluhan. Hanya saja, pakaian pejalannya lah yang membuat lelaki itu terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. Bahkan, dari penampilannya, ia terlihat seperti sosok dari masa lalu yang tersesat di masa kini.

Entah berapa kota yang pernah ia singgahi, ia sendiri tidak bisa mengingatnya dengan pasti. Berapa sekolah yang pernah ia kunjungi, ia tidak bisa menghitungnya. Kabar tentang lelaki pendongeng yang berjalan dari kota ke kota menyebar dengan cepat dari satu kota ke kota lain, terutama di kalangan anak-anak. Anak-anak akan dengan sabar menunggu kedatangan lelaki pendongeng di kota mereka. Jika mereka mendengar selentingan kabar bahwa lelaki pendongeng tengah singgah di kota tetangga mereka, maka keesokan harinya, seusai pulang sekolah, mereka akan menunggu di batas kota, berharap menjadi yang pertama yang mendengarkan dongeng lelaki itu di antara anak-anak lain di kota. Saat dari kejauhan terlihat sosok lelaki itu, mereka akan bersorak, saling bergenggaman tangan dan berjingkrak gembira.

Pengaruh lelaki pendongeng dan dongeng-dongengnya bagi anak-anak tidak jarang membuat khawatir para orang tua. Anak-anak lebih mempercayai apa kata dongeng lelaki itu daripada perkataan orang tua mereka. Mereka percaya tentang peri-peri, tentang malaikat, tentang semua benda yang hidup dan bernyawa, tentang sebuah dunia yang hanya dihuni oleh anak-anak dan orang-orang baik, sebuah dunia tanpa peperangan dan kejahatan, dunia di mana cinta dan kebaikan selalu menang, dunia tanpa kebohongan dan kesombongan. “Dengarkan kata hatimu, ikuti mimpimu dan menarilah bersama jiwa buana.” Kalimat itulah yang selalu diingat oleh anak-anak, yang tidak jarang membuat para orang tua kerepotan dalam mengikuti keinginan anak-anaknya.

Khawatir dengan pengaruh lelaki pendongeng kepada anak-anak mereka, di sebuah kota para orang tua berjaga-jaga di perbatasan, dan bersiap menolak kedatangan lelaki itu. Tidak ingin membuat keributan, lelaki pendongeng memilih untuk berbelok dan menuju ke kota lain. Tak ingin dikenali oleh orang-orang, ia mengganti pakaian perjalanannya dengan pakaian sewajarnya penduduk kota dan mulai mencukur rapi rambutnya yang telah dibiarkannya memanjang. Di kota itu sosoknya terlihat lebih seperti seorang pelajar daripada pengelana.

Pada suatu senja di kota itulah ketika ia tengah berhenti sejenak di bawah tiang lampu kota, tanpa sengaja ia memandang sosok seorang gadis yang tengah menikmati sisa lembayung senja dari jendela kamarnya di lantai dua rumah di depan tempatnya berdiri. Matahari perlahan tenggelam jauh di belakang punggungnya. Gadis itu membalas tatapannya dan tersenyum. Ada sesuatu yang merekah di kedalaman hatinya, fajar telah terbit di langit malam jiwanya. “Gadis senja,” bisiknya. Ia berdiri mematung sampai malam menjelang dan gadis itu hilang dari pandangan.
***

Rumah tempat tinggal Allea hanya beberapa ratus meter dari garis pantai. Tidak heran jika aroma asin laut sudah tercium dari sana. Di hari biasa, Allea seringkali duduk menyendiri di tepi pantai, menyaksikan detik-detik bibir piringan jingga matahari mencium bibir laut. Ia tidak menghiraukan para lelaki pengunjung pantai yang menggodanya dengan tatapan dan siulan. Beberapa memberanikan diri mengajaknya berbincang-bincang, namun ia hanya menanggapinya sewajarnya. Ia lebih senang berbicara dengan para nelayan dan istri-istri mereka.

Senja itu ia tidak pergi ke pantai. Tubuhnya dilanda demam beberapa hari sebelumnya, setelah ia bermimpi melihat piringan jingga matahari tidak tenggelam di saat senja. Alih-alih tenggelam, matahari hanya diam satu jengkal dari garis cakrawala dan kota menjadi kota senja. Ia membuka jendela kamarnya melihat garis-garis cahaya senja kerlap-kerlip di antara celah dedaunan yang tertiup angin laut. Ia menghirup nafas panjang dan membayangkan matahari perlahan tenggelam di garis pandangnya. Saat ia menurunkan pandangannya, ia melihat seorang lelaki berdiri di bawah tiang lampu tengah memandanginya. Allea tersenyum membalas pandangan lelaki itu.

Peristiwanya terjadi beberapa hari kemudian. Setelah merasa cukup sehat, Allea kembali mengunjungi pantai dan menghabiskan senja duduk di tepian pasirnya. Pantai itu bukan pantai wisata, sehingga tidak banyak orang yang berada di sana, hanya sekumpulan nelayan yang tengah mempersiapkan kapal untuk perjalanan melaut pada malam harinya. Allea melambaikan tangan kepada nelayan-nelayan yang dikenalnya.

Sebuah rumah kerang yang dibawa lidah ombak dan terdampar di tepi basah pasir menarik perhatiannya. Ia melangkah mendekat dan mengambil rumah kerang sebesar genggaman tangannya itu lalu mengelap dan mengeringkannya dengan ujung bajunya. Sambil kembali duduk di tempatnya semula, ia meniup kerang itu untuk membersihkan butir-butir pasir yang masih menempel padanya.

“Di dalam rumah kerang terdapat suara laut, suara yang telah diabadikan selama kehidupannya di kedalaman samudera.” Tiba-tiba terdengar suara seseorang. Allea menoleh. Ia melihat seorang lelaki yang entah darimana datangnya tiba-tiba telah duduk di sampingnya. “Dekatkan rumah kerang itu di telingamu, maka kau akan mendengarnya. Kau juga akan mendengar suara lonceng yang berdentang dari kedalaman samudera,” lanjut lelaki itu.

Seperti tersihir oleh kata-katanya, Allea mendekatkan rumah kerang itu ke telinganya. Perlahan dan samar ia mendengar getaran-getaran halus dari dalam rongga kerang itu. Ia tersenyum setengah tak percaya, lalu kembali ia mendengarkannya dengan lebih seksama. Allea mendengar desahan ombak yang pelan, getaran-getaran halus rumput laut yang bergoyang pelan seiring arus. Ia juga mendengar suara pelan dan lemah lonceng yang berdentang entah dari mana.

“Dahulu kala, ada sebuah kuil yang didirikan begitu dekat dengan laut. Sebegitu dekatnya, sehingga angin laut mampu menggoyangkan lonceng dan membunyikannya. Para nelayan menggunakan kuil itu untuk berdoa kepada dewa laut, meminta keselamatan dan keberuntungan dalam pelayaran. Bunyi lonceng dari kuil itu adalah pertanda apakah laut tengah ramah ataukah laut tengah marah. Seiring waktu, air laut semakin meninggi hingga ketika kuil itu mulai tergenang, para nelayan tidak lagi mengunjunginya, namun mereka masih menggunakan suara loncengnya sebagai pertanda. Air laut semakin naik menuju daratan sehingga beberapa ratus tahun lalu, kuil itu telah sepenuhnya tenggelam. Menurut cerita para nelayan tua, mereka masih mendengar suara lonceng yang sesekali berdentang dari kedalaman laut,” dongeng lelaki itu.

Allea tersenyum dan memandangi lelaki itu yang tengah memandang jauh ke cakrawala senja. Ia merasakan kehangatan yang tiba-tiba di sekujur tubuhnya, menyusup ke dalam hatinya.

“Apakah aku pernah melihatmu?” tanyanya sopan.
“Beberapa hari lalu, tapi mungkin kau tidak mengingatku.”
“Aku ingat. Kau lelaki yang waktu itu kulihat berdiri di bawah lampu jalan di depan rumahku ya?” Allea mengingatnya. Lelaki itu mengangguk dan tersenyum. “Apakah kau tinggal di sekitar sini?” tanyanya.
“Tidak. Aku berasal dari kota jauh telah menempuh perjalanan panjang sampai ke kota ini. Kupikir, di kota inilah pemberhentianku,” jawab lelaki itu.
“Apa yang kau lakukan di kota-kota itu, sepanjang perjalananmu” Sepertinya menyenangkan.
“Mencari dan menceritakan dongeng.”
“Dongengkan aku sesuatu.”
“Pernahkah kau mendengar tentang negeri dua matahari?”
“Apakah negeri itu benar-benar ada?”
“Ada. Aku pernah singgah di sana.”
“Ceritaka kepadaku.”

Maka senja pun berlalu dalam kalimat demi kalimat yang keluar dari cerita lelaki itu. Allea mendengarkannya dengan senang hati. Ia membayangkan, senja-senja berikutnya ia akan bertemu kembali dengan lelaki itu dan mendengarkan dongeng-dongengnya. Mereka berpisah di depan pintu rumah Allea ketika malam mulai beranjak. Dari jendela kamarnya di lantai dua, Allea memandangi langkah lelaki itu yang bayangannya semakin memanjang dan menghilang di ujung jalan.
***

Cukup lama lelaki pendongeng berdiri mematung di bawah tiang lampu jalan setelah gadis senja menutup jendela kamarnya. Dari tempatnya berdiri ia bisa mencium bau laut. Tidak butuh waktu lama untuk memikirkan kemana ia akan melangkah selanjutnya. Dengan langkah pasti, ia mengikuti penciumannya menuju ke arah pantai. Dari kejauhan, suara ombak sayup terdengar di antara suara-suara dari deretan rumah di sepanjang jalan dan mobil-mobil yang sesekali melintas.

Ia tiba di pantai tepat ketika sebuah kapal nelayan kecil hendak melaut. Ia berseru memanggil para nelayan di kapal itu dan meminta agar mereka mengijinkannya ikut serta. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menjadi bagian dari nelayan-nelayan itu. Perjalanan-perjalanan yang telah dilaluinya dan pengalamannya bertemu dengan bermacam orang, telah memberinya pelajaran yang lebih dari cukup untuk dapat dengan mudah diterima oleh para nelayan itu. Untuk menghibur mereka, lelaki itu menceritakan dongeng-dongeng tentang laut. Ia bercerita tentang sekumpulan nelayan yang selamat dari amukan badai, namun ketika pulang ke rumah, mereka mendapati istri-istri mereka telah berubah menjadi sangat tua, padahal mereka merasa hanya meninggalkannya dalam semalam saja; cerita tentang seorang nakhoda yang berlayar ke tujuh samudera demi mencari mutiara langka untuk istrinya; dongeng tentang seorang bocah yang terlahir dengan insang di belakang telinganya, sehingga ayah bocah itu mengira bahwa istrinya telah berselingkuh dengan mahluk laut; dongeng tentang paus bermahkota yang barang siapa mampu mengambil mahkota itu akan menjadi penguasa samudera.

Mereka merapat di dermaga keesokan paginya dengan membawa tangkapan yang cukup banyak. Lelaki pendongeng dipersilahkan menginap di rumah salah satu keluarga nelayan. Mereka menerima lelaki itu dengan senang hati dan mempersilahkannya menempati sebuah ruangan kecil yang biasanya dipakai untuk menyimpan peralatan melaut. Di ruangan itu ia berbaring beralaskan tikar jerami sambil terus membayangkan tentang gadis senja yang baru saja ditemuinya. Ia telah memutuskan untuk tinggal di perkampungan nelayan itu yang letaknya cukup dekat dengan rumah gadis senja. Dari orang-orang di keluarga itu, lelaki pendongeng mengetahui lebih banyak tentang gadis senja.
***

Senja berikutnya Allea kembali ke pantai. Kali ini ia melihat lelaki itu berada di antara para nelayan yang tengah mempersiapkan kapalnya untuk melaut. Lelaki itu tidak menyadari keberadaan Allea karena pikirannya tertuju pada persiapan peralatan dan perbekalan. Setelah beberapa saat, barulah ia menyadari Allea tengah duduk begitu saja di atas pasir memperhatikan mereka kesibukannya dan para nelayan yang lain. Lelaki itu melangkah mendekati Allea dan duduk di sampingnya.

“Mereka mengatakan kalau namamu adalah Allea,” kata lelaki itu. Allea mengangguk sembari tersenyum.
“Mereka juga mengatakan, ayahmu lah pemilik sebagian besar kapal nelayan di tempat ini,” kata lelaki itu lagi.
“Apakah itu penting?” Allea balik bertanya.
“Aku tidak tahu.”
“Ada dongeng apa senja ini?”
“Dongeng tentang lelaki pendongeng dan gadis senja.”
“Ceritakan kepadaku.”
“Bertahun-tahun lelaki pendongeng berjalan dari kota ke kota, singgah di banyak tempat, bertemu dengan bermacam orang, namun tak pernah sekalipun terbersit keinginan untuk tinggal di salah satunya dan hidup bersama orang-orang baik hati yang ia temui. Namun pada suatu senja yang remang, ketika ia tengah berdiri sejenak di bawah lampu jalan yang mulai menyala dan matanya tak sengaja menangkap sosok seorang gadis yang tengah menikmati sisa cahaya lembayung dari jendela kamarnya, mendadak ia merasa bahwa perjalanannya telah sampai di kota terakhir tempat ia akan menghabiskan sisa hidupnya, karena ia telah bertemu dengan gadis senja yang selalu muncul di mimpi-mimpinya.” Lelaki itu mulai bercerita.

“Apakah kau lelaki pendongeng itu? Apakah memang benar kau adalah lelaki pendongeng yang sering dikabarkan oleh orang-orang itu? Aku sungguh beruntung bisa bertemu dan berkawan denganmu.” Wajah Allea berseri.
“Apakah itu penting?” lelaki itu balik bertanya.
“Aku tidak tahu.”
“Aku bukan lelaki pendongeng. Aku seorang nelayan. Kau lihat sendiri kan, kau menemuiku di tengah para nelayan ini, bukan di tengah kerumunan anak-anak yang tengah mendengarkan dongeng?” gurau lelaki itu.
“Jangan bergurau. Aku juga bukan gadis senja.” Lalu keduanya tertawa.
***

Tidak butuh waktu lama bagi semua orang di tempat itu untuk tahu tentang kedekatan Allea dengan lelaki pendongeng. Keduanya sering terlihat di waktu senja, berjalan bersisian menyusuri tepian pantai. Kadang lelaki pendongeng terlihat di tengah kerumunan bocah-bocah nelayan yang khidmat mendengarkan dongengnya, sementara Allea duduk tak jauh dari kerumunan, ikut mendengarkan. Tak jarang, di waktu malam, keduanya terlihat di atas sebuah sampan kecil yang terapung pelan di perairan teluk yang berair tenang, di bawah taburan bintang.

“Ikut denganku, akan aku tunjukkan sesuatu.” Lelaki pendongeng menggenggam lengan Allea dan menuntunnya untuk mengikuti langkahnya. Mereka masuk ke kawasan hutan, melangkah di antara pohon-pohon bakau yang lebat, lalu mendaki bukit karang yang cukup tinggi. Langkah mereka seolah semakin menjauhi pantai. Atap hutan semakin rimbun dan pilar-pilarnya semakin merapat. Lalu sampailah mereka di sebuah bukaan hutan di atas bukit. Jauh di bawah, garis putih pantai dengan ombak-ombaknya yang berkejaran terlihat lebih indah. Sebatas mata memandang, hamparan biru laut dan garis cakrawala. Riuh suara camar meningkahi desah desau ombak.

“Aku telah hidup lama di tempat ini, namun aku tidak pernah menemukan tempat di mana aku bisa melihat laut seindah aku melihatnya dari tempat ini,” ucap Allea bahagia. Ia memandang jauh ke bentang samudera di depannya. Angin laut menerbangkan helaian rambutnya. “Terima kasih,” ucapnya lirih. Setitik air mata meluncur dari sudut matanya.

“Besok aku akan pergi jauh. Lebih jauh dari kota terjauh di negeri ini. Ayahku menyuruhku untuk belajar di negeri seberang. Entah kapan aku akan kembali. Entah apakah kita bisa bersama lagi seperti ini.” Allea terisak. Lelaki pendongeng menyusupkan kedua lengannya dari belakang tubuh Allea dan memeluknya erat.

“Maka aku akan menunggumu di tempat ini. Atau aku akan menyusulmu suatu saat nanti. Ingatlah, aku adalah lelaki pendongeng yang berjalan dari kota ke kota. Suatu saat aku akan sampai di kota manapun tempatmu akan berada,” ucap lelaki pendongeng menenangkan.

“Maukah kau menceritakan satu dongeng terakhir untukku?”
“Dongeng tentang lelaki pendongeng dan gadis senja.”
“Ceritakan kepadaku.”
“Bertahun-tahun lelaki pendongeng berjalan dari kota ke kota, dari satu negeri ke negeri lain, singgah di banyak tempat, bertemu dengan bermacam orang, namun tak pernah sekalipun terbersit keinginan untuk tinggal di salah satunya dan hidup bersama orang-orang baik hati yang ia temui. Karena ia tahu, seindah apapun tempat yang telah dan akan disinggahinya, sebaik apapun orang-orang yang pernah dan akan ditemuinya, semuanya tak akan pernah berarti sampai ia tiba di kota di mana gadis senja berada dan hidup bersamanya.”

“Jangan bergurau, aku bukan gadis senja,” canda Allea.
“Dan aku bukan lelaki pendongeng,” balas lelaki itu.
“Apakah itu penting?” keduanya berucap hampir bersamaan. Lalu mereka tertawa.

Di kejauhan, gegaris buih berkejaran menuju tepian.

Jatinangor, 13032010

*) Adi Toha, lahir di Pekalongan, 22 September 1982, bergiat di Rumah Baca Jalapustaka, Pekalongan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *