Lesung

Iggoy el Fitra
http://suaramerdeka.com/

KAU mencintainya seolah-olah ia adalah Tuhan. Bunyi roda-roda yang digeraki air sungai tiada berhenti, berbaur dengan suara tetumbuk kayu di atas lesung, dan batuk orang tua. Kau mengenalnya di depan gubuk itu, sebagai seorang anak gadis penumbuk beras. Kulitnya bersih, serupa tepung saat membaluti kujur tubuh laki-laki tua yang kerap membeli rokok di kedaimu. Betapa, kau menginginkannya menjadi pendamping hidupmu.
Kincir air itu tetap berputar.
Sebelum mencintainya, kau sering menjaring ikan di sungai yang airnya mengaliri kincir itu. Tubuhmu terbenam sampai pinggang. Di tangan kananmu kaupegang sebatang jaring, tangan kiri?mu menggenggam kantong plastik yang berisi dua ekor Ikan Raya. Kedua tangan?mu itu tiba-tiba diam sambil terangkat, dan matamu beku menatap seorang gadis membungkuk mencuci piring.
Kancing bajunya terbuka, buah dadanya yang hampir sempurna tampak setengahnya. Kau ketahuan. Ia menyiram air bekas cucian ke wajahmu. Tampangmu iba dan malu, ia tertawa. Kau ikut pun tertawa.
?Kamu dari mana? Anak sini?? ia bertanya kepadamu.
Kau mengangguk. ?Oo, yang dari kota, ya?? tanyanya kembali.
Kau hanya dapat terus mengangguk. Ia tersenyum kepadamu. Dua belas tahun kemudian, senyumnya masih dapat kausimpan sebelum bibir itu tidak lagi dapat tersenyum, sebelum rambut itu tidak lagi wangi, sebelum kulitnya tidak lagi putih bersih.
Di kepalamu, ingatan-ingatan itu selalu terjatuh ke dalam lesung pipinya, juga ke sebuah lesung yang menghancurkan kepalanya.
Tapi kenapa, kau lari ketika ia datang kepadamu setelah kematiannya?
***
INGATKAH kau, saat menunggunya sepulang wirid malam?
Sebenarnya kau tidak ada jadwal mengaji. Karena itu, ibumu menyuruhmu menjaga kedai sampai usai wiridan. Di kedai, kau juga harus mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan guru di sekolah. Saat itu kau masih remaja, tapi gairahmu kepada perempuan sudah terlihat membara.
Bayangkan, kau berani meninggalkan kedaimu hanya karena ia menunggumu di WC mesjid. Setelah itu, bukan main marah ibumu. Besoknya kau harus mengambil risiko tidak diberi uang jajan.
Flania, gadis itu benar-benar membuatmu tak berdaya.
Betapa tidak, senyum dengan lesung pipi itu mampu menjerat hatimu tanpa umpan seekor pun. Kau tergila-gila, saban hari dirundung asmara. Sampai saatnya tiba, kau coba katakan kepadanya bahwa kau mencintainya.
Kau tetap mencintainya, meski ia bilang tak ada waktu untuk cinta saat itu. Dengan semangat demikian, kau menjuarai lomba didikan subuh. Kau hapal seluruh ayat-ayat pendek di depannya. Setiap minggu kau berkesempatan menjadi protokol, membuktikan kau mampu di hadapannya. Setiap tiba waktu salat, kauusahakan mengambil mikrofon lebih cepat agar dapat mengumandangkan azan pada waktu yang tepat.
Dan kau tidak pernah lupa kenangan asmara subuh di Bukit Karamuntiang.
Kala itu, sengaja kautarik Flania dari rombongan didikan subuh. Daun-daun kering terserak di rumput, namun embun membasahinya sehingga ketika kauinjak tidak berbunyi sama sekali. Kautarik tangannya ke balik rumpun bambu. Di bawah yang curam, tampak sungai kecil berkelok. Pohon-pohon jati menghalangi sinar fajar. Kau bergetar. Pecimu miring dan basah oleh peluh.
Wajahnya pucat. Di atas bibirnya timbul bulir-bulir keringat. Kau meng?usap kepalanya yang ditutupi jilbab sorong. Lalu tiba-tiba kaucium kening?nya. Bibirmu dingin, menempel di dahinya yang juga dingin.
Mulai saat itulah, kau tidak dapat melupakannya sedetik pun. Begitu pula ia. Di dalam hati kecilmu, timbul kedewasaan. Kau ingin menjadikannya istri, sedangkan kau tidak pernah tahu bagaimana ia dapat menjadi istrimu.
?Abak melarangku main sore-sore. Aku disuruh membantunya di lasuang,? katanya sambil menutupi pipinya.
?Kenapa kau murung begitu?? kau coba menggeser tangannya. Ada lebam di situ. Barulah kau tahu, bapaknya sering main tangan kepadanya. Kabar dari tetangga, seekor anjing pernah ditumbuk bapaknya dengan batang kayu sampai kepalanya pecah. Ah, kau hanya dapat menghibur hatinya.
Begitulah, kau mengenalnya sejak lama. Terkadang kau merasa ia lebih lama ada di dalam hidupmu, lebih panjang dari usiamu. Tetapi perasaan demikian hanya ada ketika kau baru dapat mencium keningnya. Ketika kau bisa mencium bibirnya ?usiamu sudah dewasa? barulah kau sadar betapa hidup ini berliku, tajam, dan kerap menghantam-hantam.
Saat itu kau harus terima bahwa ia dilamar seorang duda.
?Aku bisa mati, Ayah! Aku tak bisa hidup tanpanya…? kau merengek di ruang tamu beralaskan lapik. Ayah dan ibumu sudah menggaruk-garuk kelapa melihat perangaimu yang menggila. Usiamu sekitar duapuluh lima.
Duda yang melamarnya sudah kepala lima usianya. Kau merasakan duka di hati Flania, bahwa ia tidak bersedia dijodohkan. Tetapi orangtua?nya yang hanya bekerja sebagai penumbuk beras sangat membutuhkan uang jutaan rupiah yang ditawarkan si duda.
Maka, kau harus memberikan orangtuanya lebih daripada yang diberikan si duda. Ayahmu terpaksa menjual sawah dan mobil kijang komandonya. Ibumu harus menggadaikan surat tanah. Kerabatmu membantu semampunya, hingga keluarga perempuan berkulit tepung itu mau menerimamu sebagai menantunya. Meskipun apa yang kaupunya hampir menipis, keluargamu dan keluarganya tetap bersikeras mengadakan helatan, pesta perkawinan diiringi senandung saluang.
Oi ,Mak oi. Kau senantiasa mencintainya seolah-olah ia adalah Tuhan.
Malam bainai, kauselami juga lesungnya yang landai.
***
ANGIN basah menerpa, tetapi di sini hujan tak turun kecuali di atas bukit. Air bandar yang keruh coklat menandakan hujan telah turun begitu lebat. Mungkin saja tengah malam nanti ia akan tiba, atau besok pagi, atau besoknya sekalipun, hujan akan senantiasa jatuh menerpa atap-atap rumbia, pucuk ambacang, mengguyur orang-orang yang berbincang, dan sekian lama kelak menumbuhkan rerumput di pematang.
Ia berjalan kepadamu di sela rimbun padi.
Diletakkannya sebuah rantang di lantai gubuk. Tangannya gemulai membetulkan letak baju orang-orangan sawah. Kau membayangkan tangan itu merapikan kerah kemejamu dan membetulkan dasi yang terlalu kendur. Ah, fantasi bodoh, pikirmu. Menjadi petani tidak pernah kaubayangkan dan kauidamkan sama sekali. Tapi memilikinya, sungguh tadinya kau mengira hanya mimpi belaka.
?Tak mau kau berikan istrimu itu kepadaku?? canda seorang teman kepadamu di tepi sungai.
?Tidak!?
?Dia sudah pernah kutiduri…?
?Sial kau. Aku tak peduli dia pernah ditiduri oleh siapa pun!?
?Kalau dia hendak dilamar orang lain??
?Dia istriku. Kalau dia mau, biarlah aku jadi suami pertama.?
?Kenapa tak kauceraikan saja??
?Tidak!?
Kau menghentakan pantat gelas ke atas meja. Ampas kopi terserak. Ah, kau hanya bisa pasrah mendengar celoteh-celoteh orang lain mengenai istrimu. Celoteh yang beradu dengan batu-batu domino, kemudian memantul ke dalam gelas anggur dan kau menenggaknya tak bersisa. Begitulah kau melupakan kata orang-orang.
Sampai di rumah, memang tiada ketentraman yang kaurasakan dengan istrimu. Ya, memang karena lelaki lain. Tapi bukan karena lelaki lain yang meniduri istrimu, melainkan bapaknya yang mulai terlihat aneh di matamu.
Sebenarnya, belum pernah kautanyakan berapa usia bapaknya. Kau memperkirakan, sekitar enampuluhan. Usia segitu bagimu agaknya rawan untuk dijangkiti penyakit aneh-aneh macam skizofrenia. Terkadang, kau lihat bapaknya melempar gelas ke tembok rumah pada suatu malam. Terkadang, kau temui bapaknya di lasuang pada tengah malam atau pagi buta.
Dan di suatu malam yang ganjil, tidak hanya bapaknya yang tak berada di dalam rumah, tetapi juga Flania.
Kincir air berputar kencang seiring derasnya arus.
Di atas bukit hujan tengah turun, air sungai coklat dan deras.
Bunyi tetumbuk kayu di atas lesung, keras, menghantam-hantam. Hujan ikut pula menimpa atap seng. Saat kepalanya diletakkan di atas lesung, bunyinya tak lagi beraturan. Batang kayu naik, kemudian turun menghunjam kepalanya. Darah muncrat ke atas serakan tepung-tepung yang mulai berubah jadi kental.
Tepung jadi merah muda.
Dan teriakan itu tenggelam dalam gerakan lasuang.
Bergederam.
Adakah kau ingat lagi lesung pipinya?
***
EMPAT puluh hari kematiannya.
Kau pernah mencintainya seolah-olah ia adalah Tuhan.
Bunyi roda-roda yang digeraki air sungai tiada berhenti, berbaur dengan suara tetumbuk kayu di atas lesung, dan batuk orang tua. Kau mengenalnya di depan gubuk itu, sebagai seorang anak gadis penumbuk beras. Kulitnya bersih, serupa tepung saat membaluti kujur tubuh laki-laki tua yang kerap membeli rokok di kedaimu. Betapa, kau pernah menjadikannya pendamping hidupmu.
Namun mengapa kau murung ketika ia datang kembali kepadamu dengan ulat yang merubung?

Pariaman, 2009

Catatan:
Lapik: Tikar
Lasuang: Tempat penumbuk beras tradisional yang mesinnya menggunakan pengairan sungai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *