Puisi-Puisi Imamuddin SA

SAMUDRO MOLO

tak bisakah aku
sedikit menyisir nyanyian ombak
sekedar berdiri
memaknai jejak

laut itu
yang sejenak lalu
menunjukkan taringnya
membiarkan nafas habis termangsa

namun kini
keganasan singgah kembali
membuyarkan mimpi
lewat riak sungai tak terkendali

tuhan ….
adakah ini batu ujian
ataukah sebatas peringatan
akan pengingkaran;
tentang rapuh zaman

sungguh, segalanya kau hadirkan
untuk menyambut keberadaan
tahun kesembilan
dalam wujud luka bersahut-sahutan;
entah darah yang bagaimana
esok kan balik menyapa
dan aku masih enggan berkata

2009, Lamongan.

TENTANG KEPUTUSASAAN

kudengar suaramu dari tepi laut
melantunkan lagu nelayan
tentang perahu dan ikan
tentang gemuruh ombak
yang menghempas tepian

aku menyisihkan waktu
sekedar menyelami nyanyianmu
sejenak mengusik batinku;

dari jauh
kau seolah menyapaku
mengisahkan yunus
dalam selimut ikan paus

sungguh aku semakin mengerti
bahwa keputusasaan
bukanlah suatu jalan
kala melangkah di hadapan tuhan

dan kini aku harus kembali
menghampiri saudara-saudaraku yang lalai
mencoba membata hati
mengokohkan kaki
biar rapuh iman tak menghampiri

2009, Lamongan.

PAYUNG SAKSI

batu ini menjadi payung suci
dalam lambaian nadi
saksi
keperkasaan tirta membasahi

sungguh, kembara batin
yang telah mengepak mimpi
menembus tabir ilusi
kini singgah di pelayaran hari
menafsir misi
sendiri

namun, adakah hasrat kan kembali
bertasbih selaksa ibnu hajar
di pesisir jalan ini?

batu ini menjadi payung suci
dalam lambaian nadi
saksi
keperkasaan tirta membasahi

Oktober 2007 Lamongan.

===============
Imamuddin SA, lahir di desa Kendal-Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan, JaTim. 13 Maret 1986, nama aslinya Imam Syaiful Aziz. Aktif mengikuti diskusi di Forum Sastra Lamongan [FSL], Candrakirana Kostela, Sanggar Seni Simurg. Sempat sebagai sekretaris redaksi pada Jurnal Sastra Timur Jauh, serta Jurnal Kebudayaan The Sandour. Karya-karyanya terpublikasi di Majalah Gelanggang, Gerbang Masa, Tabloid Telunjuk, Jurnal Kebudayaan The Sandour, dll. Karyanya terantologi di Lanskap Telunjuk, Absurditas Rindu, Khianat Waktu, dan Memori Biru. Antologi tunggalnya: Esensi Bayang-Bayang (PUstaka puJAngga), Sembah Rindu Sang Kekasih (PUstaka puJAngga).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *