DOKTOR BIOLOGI YANG JADI SASTRAWAN

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Profesi sastrawan di Indonesia, barangkali termasuk profesi yang unik. Taufik Ismail dan Asrul Sani, misalnya, adalah dokter hewan yang kiprahnya justru menonjol lantaran profesi kesastrawanannya. Putu Wijaya adalah sarjana hukum yang selain tak pernah menempelkan gelar di belakang namanya, juga popularitas dan aktivitasnya lebih banyak berurusan dengan kesusastraan. Demikian juga, sastrawan Pujangga Baru, Amir Hamzah dan Sutan Takdir Alisjahbana adalah guru yang kemudian lebih banyak menekuni bidang sastra.

Sesungguhnya masih banyak kasus sejenis yang dapat kita kemukakan dengan menyebut sejumlah nama lain dari para sastrawan kita. Hal ini juga menunjukkan bahwa profesi sastrawan dapat dimasuki siapa saja dengan latar belakang pendidikan apa pun. Yang penting, sejauh mana pengabdiannya di bidang sastra memberi sumbangan berarti bagi pemerkayaan batin para pembacanya dan bagi perkembangan kesusastraan itu sendiri. Dalam kesusastraan di negara mana pun, tidak sedikit sastrawan yang pendidikannya seolah-olah tidak ada hubungannya dengan sastra. Padahal, justru dengan bekal pendidikan itu, apa pun bidang ilmunya, seseorang punya bekal yang baik untuk menjadi sastrawan yang berhasil.

Di antara sastrawan Indonesia yang profesinya seperti tersebut di atas itu, di dalamnya termasuklah nama Wildam Yatim. Sastrawan kelahiran Padangsidempuan, 11 Juli 1933 ini adalah sarjana biologi. Barangkali, awalnya ia tidak bercita-cita menjadi sastrawan. Oleh karena itu, selepas SMA ia melanjutkan ke Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan Biologi dan lulus tahun 1961. Mula-mula ia bekerja sebagai asisten dosen Zoologi ITB (1956?1960). Setelah lulus, ia menjadi dosen biologi di Fakultas Kedokteran dan beberapa fakultas di lingkungan Universitas Andalas, Padang yang menyelenggarakan kuliah biologi (1961?1965). Pada tahun 1966, ia pindah ke Bandung dan menjabat Kepala Bagian Biologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) (1966?1974). Pada tahun 1981, ia berhasil menyelesaikan pendidikan lanjutannya (Post-Graduate Studies on Medical Sciences) di Hongkong University dan kemudian kembali lagi mengajar di Unpad. Dari Unpad pula, tahun 1988, Wildam memperoleh gelar doktor untuk bidang biologi. Sampai sekarang ia tercatat sebagai dosen biologi di Unpad.

Bagaimana asal mulanya sarjana biologi ini bisa menjadi salah seorang sastrawan penting Indonesia? Rupanya, sejak lulus SMP Lubuk Sikaping (1951) ia sudah mulai gemar menulis dan itu dilanjutkannya sewaktu ia bersekolah di SMA Widyasana Jakarta (1954). Dan yang mendorong kegemarannya menulis itu tidak lain adalah kebiasaannya membaca, termasuk di dalamnya membaca karya-karya asing. Sudah sejak SMA pula, Wildam menerjemahkan cerpen-cerpen sastrawan Amerika, Inggris, Perancis dan Rusia yang kemudian dipublikasikan di berbagai media massa. Pada tahun 1952, sebuah cerpen karyanya sendiri dimuat di majalah Sunday Courier. Suratkabar lainnya yang pernah memuat cerpennya, di antaranya Pedoman Minggu dan Pikiran Rakyat.

Ketika menjadi mahasiswa, Wildam menyalurkan kegemarannya menulis itu lewat majalah yang ada di kampusnya. Pada tahun 1958, ia ikut mengelola majalah Scientia dan menjadi pemimpin redaksi majalah itu. Ia juga tercatat sebagai salah seorang redaktur mingguan Mahasiswa Indonesia (edisi Jawa Barat). Seperti kebanyakan mahasiswa, ia pun pernah aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Selain pernah tercatat sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), ia juga pernah menjabat Wakil Ketua KASI, Bandung, ketika aksi-aksi mahasiswa sedang marak (1966?1968).

Kegiatan Wildam Yatim sebagai dosen, ternyata tidak mengurangi kegemarannya menulis, membaca, dan tentu saja penelitian yang berkaitan dengan biologi, bidang yang menjadi pekerjaannya. Karyanya yang berupa artikel ilmiah populer yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan biologi atau kedokteran, dipublikasikannya di sejumlah harian dan majalah, seperti Pikiran Rakyat, Intisari, Selecta atau di jurnal-jurnal ilmiah. Adapun buku-buku ilmiah yang pernah dihasilkannya, antara lain, Biologi (1974), Embryologi (1978), dan Genetika (1980).

Sementara karya-karya fiksinya, terutama cerpen dan novel, juga terus mengalir dari tangannya dengan prestasi yang cukup membanggakan. Cerpennya. ?Surau Baru? berhasil memperoleh hadiah penghargaan dari majalah Horison (1969). Cerpennya yang lain, ?Perburuan Penghabisan? juga memperoleh hadiah hiburan Sayembara Cerpen Majalah Horison (1977?1978).

Kedudukan dan popularitas Wildan Yatim makin mendapat sorotan selepas ia menghasilkan sebuah novel berjudul Pergolakan (Pustaka Jaya, 1974; Cet. II, 1977; Grasindo, 1992). Sebelum diterbitkan, novel ini berhasil meraih hadiah ketiga Sayembara mengarang roman yang diselenggarakan Panitia Tahun Buku Internasional, DKI Jakarta, tahun 1972. Pada tahun 1975, novel ini meraih hadiah Yayasan Buku Utama Depdikbud.

Bahwa novel ini memperoleh penghargaan seperti itu, niscaya di dalamnya ada sesuatu yang menonjol. Paling tidak, ia mempunyai kelebihan yang mungkin tak dimiliki novel lain yang terbit pada tahun itu. Memang, secara tematis, novel itu menyodorkan persoalan yang cukup kompleks. Ada trauma akibat pemberontakan PRRI/Permesta, ada pula teror dan intrik politik PKI, dan dalam suasana konflik ideologis seperti itu, muncul pula Guru Salam, tokoh utama novel itu, yang ingin mengembalikan ajaran Islam yang murni. Ia harus berhadapan dengan para ulama ortodoks yang berusaha mempertahankan kemapanannya dengan berlindung di belakang nama agama.
***

Di dalam buku Bibliografi Karya Sastra Indonesia dalam Majalah (1988) yang disusun Ernst Ulrich Kratz, tercatat nama Wildam Yatim telah menghasilkan 18 buah prosa yang dimuat majalah Horison (13 cerpen), Budaja Djaja (tiga cerpen), Mahasiswa Indonesia (satu cerpen), dan majalah Femina (satu cerita bersambung). Sesungguhnya, buah tangan Wildam Yatim jauh lebih banyak dari yang dicatat Kratz. Buktinya, Wildam telah menghasilkan beberapa antologi cerpen. Di antaranya, Jalur Membenam (Jakarta: Litera, 1974), Saat Orang Berterus Terang (Jakarta: Pustaka Jaya, 1974), Di Muka Pintu (Bandung: Terate, 1975), Pertengkaran (Jakarta: Pustaka Jaya, 1976), dan Selandang (Jakarta: Balai Pustaka, 1988).

Selain antologi cerpen, Wildam Yatim juga menghasilkan beberapa novel. Novel pertamanya, Pergolakan, telah menempatkannya sebagai sastrawan penting. Novel lainnya, Galau Meredam (1977), Petualangan Tam (Jakarta: Gaya Favorit Press, 1979), Pondok di Balik Bukit (Jakarta: Pustaka Jaya, 1979), Meniti Sinar Senja (1981), Tak Ada Lagi Bayang-Bayang (Jakarta: Gaya Favorit Press, 1981) dan novelet Hati Bernyanyi (1980) dan Mengarung Badai Hati (Jakarta: Gaya Favorit Press, 1981).

Jika ada pertanyaan: Apa yang menonjol dan menjadi salah satu kekuatan dari karya-karya Wildam Yatim? Inilah komentar A. Teeuw atas novel Pergolakan karya Wildam Yatim. ?Gayanya lebih bersifat deskripsi ketimbang erokasi, dan hal ini menampak juga dari kekayaannya dalam kosa kata ketimbang daya kreasi yang terungkap. Bagi para pembaca yang hanya paham terhadap bahasa Indonesia kewartawanan dan kantoran dari Jawa, bahasa Indonesia Wildam Yatim mungkin penuh dengan perbendaharaan kata yang aneh: bahasa Melayu Minangkabau sebelum perang masih tetap segar bugar di dalam karyanya itu.?

Pendapat Teeuw itu tentu saja tidak mesti secara serta-merta kita terima begitu saja. Sebab, jika karya-karya Wildam Yatim ini ditempatkan di dalam konteks warna lokal, maka justru dalam hal warna lokal itulah karya-karya Wildam Yatim menjadi sangat menonjol dan menempati kedudukannya yang khas. Bagaimanapun juga, dapat dipastikan bahwa sebagian besar sastrawan Indonesia dilahirkan dan dibesarkan di dalam lingkungan kultur etnik. Oleh karena itu, latar belakang kultural ini yang sebenarnya menjadi salah satu ciri khas khazanah sastra Indonesia.

Sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di Sumatera dengan lingkungan kulturalnya yang didominasi suku Batak dan Minangkabau, tentu saja Wildam Yatim merasa lebih dekat dengan kultur itu dibandingkan dengan kultur Sunda atau Jawa. Oleh karena itu, jika karya-karya Wildam Yatim terasa begitu kuat mengangkat warna lokal Minangkabau dengan kosa kata Melayunya yang juga khas Minangkabau, justru dalam hal itulah karya-karya Wildam Yatim memperlihatkan kekuatannya.

Sayangnya, Wildam Yatim yang menulis disertasi doktornya berjudul ?Efek Antifertilitas Gosipol dan Gula Berklor terhadap Tikus Wistar dan Implikasi Prospeknya sebagai Kontraseptif Pria? sampai kini belum juga memanfaatkan kepakarannya di biologi untuk kepentingan sastra. Jika saja, suatu saat ia menulis sebuah novel yang sarat dengan deskripsi biologis, sangat mungkin karyanya itu bakal menjadi science fiction yang mungkin juga bakal lebih dahsyat dari novel science fiction lainnya.
Barangkali memang begitu jika doktor biologi jadi sastrawan. Kita tunggu saja nanti!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *