Sajak-Sajak Dwi S. Wibowo

http://sastrasaya.blogspot.com/
senja galeria

Senja di galeria,
Aku memandang barikade warna
Yang berjajar menyusun spektrum-spektrum
Dalam lembaran banner
Serta pemandangan yang kutangkap di setiap etalase
Yang memajang berjuta pesona.

Sudah berapa lama mereka begitu.

Kesempatan itu
Kali pertamaku mengunjungi pusat perbelanjaan
Yang mulai ditinggalkan pengunjungnya.
Dulu ia begitu dipuja,
Semua mata tertuju ke arahnya
Puluhan bahkan ratusan gadis-gadis
Setia memamerkan tubuhnya dalam etalase
Untuk mempertontonkan kemolekan yang yang mereka miliki
Demi menawarkan selembar kain
Yang harganya seketika naik saat memasukinya.
Atau demi menarik mata pengunjung
Yang mungkin seusai belanja ingin mengajaknya pulang.
Galeria tinggal galeria,
Di selatan perempatan sagan.

Galeria tinggal galeria,
Ku terlelap sepi di halaman bethesda.

Jogja, 31 Mei 2009

merangkai bunga

Di puncak:
Ratusan bunga bermekaran
Menghias sepanjang perjalanan
Dan di kebun
Bunga tumbuh
Menghias halaman
Mewarnai kehidupan
Si empunya rumah
Aku ingin merangkai bunga
Membingkai kehidupan yang polos
Putih lugu
Dan tanpa arah tujuan.

Di langit:
Bungabunga berwarna putih
Mengalir lewat angin
Terbawa ke senja
Yang merah,
Jingga. Dan semburat
Mengikat bertangkai awan
Merangkai panorama senja
Di langit barat
Di timur,
Lanskap hilang oleh tatapan
Beling yang berkilap

Perempuanperempuan muda
Pulang kerumah
Meninggalkan aroma surga
Yang luluh terpercik air
Di sungai
Tempat mereka mandi
Aku ingin berenang bersama mereka
Tapi di kolam
Yang dipenuhi bungabunga
Melati serta mawar mewangi
Sebelum akhirnya
Sampai ke pelaminan

sementara, di wajah:
bungabunga mekar
menghiasi rona muka
di bawah terang rembulan purnama
dengan diiringi tembang bocah

?lir ilir lir ilir, tandure wong sumilir
tak ijo royoroyo, tak sengguk penganten anyar
cah angon cah angon, penekna blimbing kuwi
lunyulunyu penekna, kanggo mbasuh dodot ira?

Hingga sampai ke laras
Yang tak sempat berujud
Oleh serangkai bunga
Yang hanyut
Di alam malam

Dan kamboja
Menjadi hidup yang kekal
Bila nanti mencium
Aroma surga
Yang luluh di sungai
Di langit.
Pujapuja langit senja
Bungabunga ramai jiwa
Tumbuh memekar
Dirangkai kata
Dan semua mata
Sama.

Yogya, 2009

Dongeng Sajak

Bersandar kata mengatas makna
Diikatnya pada sebait sajak
Tak ada hanya rayuan kini
Di pohon rimbun berbalut rindu

Akan tiba pada waktunya
Ketika lagu dituhankan para dewa

Surya begitu cepat menghilang hari ini
Tiba saatnya kembali mendongeng
Kisah jenaka pengantar lelap
Buat si buyung di pintu malam

Serahkan jiwa sejenak bersama mimpi
Esok pagi, hari baru menanti
Dilukis warna sejuta kisah

Anak manusia bercerita diri sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *