Puisi-Puisi Helga Worotitjan

http://www.suarakarya-online.com/
Kremes

Aku duduk menikmati lelautan dan matahari tak datang Kremes setengah bulat di tangan kiri.Kremes cokelat emas.Manis, sedikit gurih dan berair?Kremes diantara telunjuk dan ibu jari. Ubi parut, gula jawa dan air mata.

29 November 2008

Respect of Indonesia

Padamu kurebahkan lelah Dari deru jaman yang mengguru Padamu kugayutkan nelangsa Dari luruh air mata yang mengeruh Di tanah yang aku pernah mati Di udara yang aku pernah mendebu Dengan hanya satu bias retak Saat waktu jatuh terhentak Di lara yang begitu dalam Serta suara masa yang diam Cintaku tak diam

Jakarta, 20 Oktober 2008

Aku Mencintaimu
Sederhana Saja

Aku mencintaimu sederhana saja Penjual dan pembeli Menawar dan belanja Aku mencintaimu sederhana saja Satu sapa dari hari kita Lalu berlalu dan aku kelu Aku mencintaimu sederhana saja Demi telingamu agar mendengar Sebuah harga aku lacurkan

Jakarta, 3 Desember 2008

Misa

Untuk Yudi
Kau adikku kau keluhanku kala kau mengaku kau cinta aku maka pertalian ini tak lagi baku namun aku jadi kaku karna kau misanku

Jakarta, 10 Desember 2008

Tuanku

tuanku,bagaimana bisa kau hidangkan stelan busana mahal
dengan sulaman darah
dari anak-anak yang nyawanya
kau tikam berkali-kali,yang seratnya adalah air mata
segala masa yang kau rajam
dengan alas kata-kata politis
yang terdengar miris,yang lapis dalamnya adalah benakmu
yang tak tersentuh cinta Ilahi lagi,melainkan rasa gagah
yang memahkotaimu dengan judul barutuhan bagi nyawa dan luka

Jakarta, 6 Januari 2009

Dentum

Dentum Pertama,
Kuasmakan keterkejutanku pada bumiPada rumah paman dan
bibiku yang terhentak
Di dentum kedua,
Kuasmakan keherananku pada udarapada rumah-rumah suci
yang bergetarDi dentum ketiga,
Kuasmakan kebesaranMuPada RumahmMu,yang kuketuk dengan lolon pilu para manulapara orang tua remaja-remajaanak-anak balita-balita bayi-bayi
Di dentum ke-empat Adalah suara debam gerbangMU, yang Kau tutup bagi mereka
yang telah mengirim kami kemari

Karang Sanur, 01-2009

Persamaan

Adalah sebuah siang,kau dan aku berbincang malas, bicara tentang beda, pemahaman keyakinan warna kulit warna musik warna baju
Dan kau ajakku mematut diri dalam cermin
mempermalahkan perbedaan kita,
seluruh perbedaan kau kupas
hingga kelelahan dan kepayahan
Dan akhirnya di ujung lelahmu,
kau hanya menemukan kita
berada dalam satu cermin,sama-sama bercermin. Persamaan.

29 Desember 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *