Sajak-Sajak Budhi Setyawan

http://www.suarakarya-online.com/
Siluet Silam

tahukah kemana sembunyi serpih mozaik masa yang memuat aneka warna kata. aku perlu tak seberapa banyak, hanya semangkuk serbuknya untuk menelisik silsilah jejak debu yang kian berpinak. karena wajahku telah geronggang diterkam tanya yang mengangkut muatan tafsiran, gamang dan keremangan, radang dan kepengapan. apakah ada yang pergi melintas di halaman sajakmu? atau terjala pukau hingga singgah dan betah di sebuah biliknya yang perdu? telah kuhubungi melalui ribuan utas malam yang rimbun dengan rintik pesan, namun masih senyap isyarat jawaban. lorong dan perjalanan. lolong dan pengharapan. di sini kutunggu sambil duduk di sisi kerlip doa yang terliuk ditiup angin beranda.

Jakarta, 2008

Sepotong Bandung
pada Kecup Pagi

kabut masih selimut ada yang menyeru menderu lewat kotamu mengangkut bayang nyalang dan tergesa memecah diam yang masih kedinginan pohon pohon tepian jalan masih mengantuk peluk mimpi yang kerdil setiap hari yang datang tak punya kartu nama selalu ada yang ketinggalan ketika semua rencana dan bawaan telah disiapkan juga catatan tentang tuhan yang muncul belakangan seperti memaksa sebuah nomor edisi majalah terbit ada kabar kobar nyali kemarin yang terbirit dan ngiang kedustaan terselip pada pintu tua yang berderit membaca peta kotamu dengan jalan kecil dan gang sempit adalah mengeja kerumitan kepala mengatur kata kata serta kegamangan mengalungi makna pada leher mereka kaset lama masih sering terputar di kusam ruangan pada ruas tertentu lagu mengalun tersendat ada potongan syair yang hilang di sebuah tikungan perjumpaan jerit dan teriakan menyusur panggilan mampat dalam riuh desakan urban waktu yang mencoba punguti sisa kesenyapan tertutup pengap kemacetan akhir pekan sebuah memo malam lusuh tergantung pada karat perjanjian

Bandung, 2008

Sirkus Saja

malam baru saja pulang dari meminjam kata pada segenggam ensiklopedia. namun tak banyak kata yang didapat. hanya detak jarak yang berserak. juga ada dendam yang bersorak. beberapa kata suka menempel di perbatasan kamar, mengingat hujan yang tak sepenuhnya menyimpan sorot matahari. yang begitu aktif kata kata menjelma pemain teater yang genit gelinjang dalam panggung sajak. apakah semacam sirkus atau akrobat? rasanya telah lama sekali tak ada pasar malam, yang selalu memainkan tong stan. gemuruh dan rindu, semua akan menuju gulali. jangan mencoba membuat ayat kesetiaan di sini. di dadaku ada lapangan udara. banyak jet dengan peluru kendali berseliweran, kadang naik ke mataku. namun tak kunjung datang pesawat pesiarmu. memang tak sempat kuiklankan sebuah tawaran yang bernama tahun kunjungan wisata. seperti yang membanjir di televisi swasta. membanjir pula keringat para petani namun hidup tetaplah duri. ke mana? tak kudengar lagi suaramu dengan menara pengawas. aku kehilangan kendali pada sebuah malam yang benar benar bertaji. jangan bicara cinta di kamar gelap ini, banyak toko toko tutup sebelum malam meninggi. udara terus menggetah, dan aku kian kehilangan darah.

Makasar, 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *