Bila airmata bersajak: Apakah ini sebuah “keputusan”

Imron Tohari

rumput selalu hijau sepanjang masa
kuda yang terlepas di sabana
tak lagi terpasang pelana dan sangurdi
4 musim dingin telah kita lewati
air tetap mengalir di sungai
namun
mata air di sumur halaman rumah kita
masih juga tetap kering
saat pendatang merampok segalanya
meninggalkan kisah penghianatan
yang tertulis abadi diatas batu batu
meninggalkan genangan air di sudut mata
kelu lidah berucap selamat tinggal
kaki melangkah membawa kepedihan hati
luka hati yang dalam
jangan lagi kita bertemu
bila tak ada keiklasan hati dalam dirimu
biarlah langit menutup pintu selamanya

(Resa Pundarika – 31 Desember 2009)

Menerjemahkan sunyi pada sajak atau puisi, terlebih dulu kita harus menyelam secara total pada ruh bahasa sajak atau puisi yang ingin kita telisik segala pesan yang ada di dalamnya. Melebur tanpa sarat, dengan cara memberi kebebasan imaji rasa dan baca sebagai penghayat dalam upayanya menangkap sinyal-sinyal bahasa yang tetuang secara tekstual pada puisi atau sajak. Dan yang paling penting bagaimana penghayat rela melepas bayang-bayang penyair agar nantinya semua kekuatan rasa dan imaji penghayat bisa jujur dalam mengumpulkan pecahan-pecahan makna yang tersembunyi sebagai suatu misteri bahasa syimbol dalam sajak/puisi. Dalam arti kata harus rela berbenturan dengan benda-benda bahasa atau symbol-symbol bahasa yang senatiasa berayun kesana-kemari untuk mencari pemaknaannya sendiri.

Hidup adalah kesunyian, kesunyian itu bagian dari kehidupan, kehidupan yang menjadikan kita men-sunyi-kan rasa dan indera-indera yang melekat pada diri dalam suatu perenungan-perenungan untuk pencapaian tahapan hidup. Dan tentunya tahapan hidup yang nantinya bisa mencerahkan arti hidup itu sendiri.

Dan kesunyian seperti itu saya rasakan pada sajak suasana hati? Apakah ini sebuah “keputusan” karya apik Resa Pundarika, yang berhasil menghisap indera baca dan rasa saya selaku penghayat.

Hidup bukan suatu pilihan, dalam arti, kenapa kita bisa hidup di dunia ini dari rahim si A, si B, si C dsb, kecuali atas KehendakNya. Baru setelah kita ada, akan dihadapkan dengan yang namanya kehidupan, dan kehidupan itulah suatu keputusan!.

Tidak ada sesuatu apapun di dunia ini yang tidak ingin hidupnya bahagia. Namun dalam kehidupan ini, semua insan juga akan senantiasa dihadapkan dengan yang namanya kesedihan. Dan memang begitu adanya Allah dalam menguji sebagaimana besar kesabaran serta ketawakalan umatnya dalam menyikapi daya tarik bahagia dan sedih tersebut.

Kehidupan adalah suatu proses, dan kita semua dalam kehidupan ini akan melalui proses tersebut. Seperti halnya apa yang digambarkan penyair Resa Pundarika melalui bahasa-bahasa symbol metaphor, menterjemahkan kebimbangan, realita, dan harapan, yang harus dia hadapi. Penggambaran asa yang tak akan pernah sirna, suatu pengharapan keutuhan yang abadi (bisa cinta kasih, bahtera rumah tangga, dsb), yang tiba-tiba dikejutkan oleh sesuatu hal yang selama ini begitu tenang/normal, lepas dari sendi kehidupannya, yang sontak membuat diri seakan tidak mempunyai pegangan dan pinjakan hidup. Ibarat berlabuh di samudra luas yang tadinya tenang, tiba-tiba datang gelombang dengan secara tiba-tiba tanpa ada tanda-tanda cuaca sebelumnya “//kuda yang terlepas di sabana/tak lagi terpasang pelana dan sangurdi//”, pilihan “kuda”, “pelana”, “sangurdi”, menurut saya adalah metaphor yang tepat untuk menggambarkan suasana tersebut. “kuda” yang bisa kita makna sebagai pengganti orang kedua, atau bisa kita makna sebagai bagian yang utuh dalam diri penyair, di kolaborasikan dengan “pelana” yang mempunyai arti harafiah tempat untuk duduk, dan “sangurdi” yang mempunyai arti harafiah tempat menginjakkan kaki yang terbuat dari besi. Sontak menghisap imaji penghayat pada suatu keadaan yang begitu menyentuh perasaan. Perasaan yang dibawa symbol penyair melalui “sangurdi”, yang biasanya dalam menjalani keseharian dia bisa berpijak pada “sangurdi” yang begitu kuat karena terbuat dari besi, tiba-tiba “sangurdi” itu tiada. Namun begitu, kesakitan-kesakitan bahasa dalam sajak ini (samsara bahasa), coba ditepis penyair melalui baris “//4 musim dingin telah kita lewati/air tetap mengalir di sungai//”, pengambaran “4 musim dingin telah kita lewati”, menandakan, betapa sudah 4 tahun berjalan dia mencoba dalam kesabaran cinta, walau terasa senyap, kesenyapan yang diperlambangkan dengan musim dingin. Namun dia tetap yakin adanya hidup “air” yang akan senatiasa mengalir pada detak-detak kehidupan “tetap mengalir di sungai”, dan sudah seharusnya sabar,iklas dan tawakal dalam menjalani realita yang ada,

“rumput selalu hijau sepanjang masa
kuda yang terlepas di sabana
tak lagi terpasang pelana dan sangurdi
4 musim dingin telah kita lewati
air tetap mengalir di sungai”

Betapa suatu keadaan yang dilematik, telah digambarkan dengan baik di larik ini. Larik yang menyedot imaji penghayat untuk terus menjelajahi larik-larik selanjutnya, kenapa bisa terjadi seperti itu?

Telah lama kita mendengar adanya teori sebab akibat. Pun begitu dalam kehidupan, apapun itu, hukum sebab akibat akan selalu menyerta. Dalam arti, aku begini karena begitu, aku begitu karena begini, dsb.

Seperti itulah yang digambarkan penyair melalui bahasa-bahasa symbol/metaphor pada larik-larik sajak di bawah ini:

“namun
mata air di sumur halaman rumah kita
masih juga tetap kering
saat pendatang merampok segalanya
meninggalkan kisah penghianatan
yang tertulis abadi diatas batu batu
meninggalkan genangan air di sudut mata”

Suatu rasa gundah dalam ketidak pastian yang muncul akibat adanya pihak ketiga, yang mengoyak-ngoyak keyakinannya akan hidup yang tenang dan damai, seperti yang disiratkan pada baris “air tetap mengalir di sungai”, yang tiba-tiba karena suatu keadaan, menggugurkan arti kesetiaan itu sendiri, digambarkan dengan jelas //saat pendatang merampok segalanya/meninggalkan kisah penghianatan//, “pendatang” bukan “pendatang-pendatang” bisa saya maknai tunggal, sebagai orang ketiga yang menyebabkan sayatan-sayatan luka, dan “meninggalkan kisah penghianatan”, mengacu kata “kisah”, sepertinya penyair di sini ingin menceritakan suatu keadaan yang di dalamnya ada individu-individu lain, selain dirinya, dan orang ketiga tersebut (bisa sahabat, adik kakak, ayah ibu, anak, dan siapa saja) yang sengaja dijadikan artefak bahasa (benda-benda atau symbol-simbol bahasa yang menunjukan kecakapan manusia melalui penggalian-penggalian piker) yang disembunyikan.

Dan betapa luka sayatan tersebut, pastinya akan sangat sulit untuk dilupakan; “// yang tertulis abadi di atas batu batu//meninggalkan genangan air di sudut mata//”, “batu-batu” suatu metaphor yang tepat untuk untuk mewakili “banyak hati” bila kita tarik benang merah dengan “kisah”, dalam hal ini penyair memilih “batu” dan di tulis “batu-batu” sebagai metaphor hati, (banyak hati), berkaitan dengan sifat batu yang keras bila di pakai menulis (membutuhkan alat yang tentunya juga tajam dan keras), dan tulisan tertoreh pada “batu” akan sulit untuk dihapus.

Dramatikal sunyi benar-benar telah berhasil di visualisasikan pada larik-larik sajak berakar sastra china klasik; dengan seting alam,musim, dan benda-benda yang menjadi ciri khas indahnya sastra china klasik. Pencitraan melalui symbol-simbol bahasa alam tersebut berhasil dieksplore dengan baik pada sajak Resa, Pundarika? Apakah Ini Sebuah “Keputusan”? Dan Resa Pundarika secara manusiawi menutupnya dengan larik-larik yang membuat hati bergetar, :

“kelu lidah berucap selamat tinggal
kaki melangkah membawa kepedihan hati
luka hati yang dalam
jangan lagi kita bertemu
bila tak ada keiklasan hati dalam dirimu
biarlah langit menutup pintu selamanya”

Kesunyian hati yang begitu menyayat yang datangnya dari sulingan cinta, yang mengajak mengucapkan “selamat tinggal” karena ketidak berdayaan. Luka yang begitu dalam, luka yang mengiris airmata cinta, yang menghantar jiwanya pergi membawa luka, jiwanya bukan wadaq raganya, karena sejatinya dia masih berharap bisa menjaga sisa-sisa cinta yang berserak di puing-puing cinta; “//jangan lagi kita bertemu/bila tak ada keiklasan hati dalam dirimu//”, dan disebagian padang sabana, hati kecilnya mengabadikan bait-bait doa: Ya Allah, bila ini takdirku dan dia memang kau peruntukkan untukku, dekatkanlah. Namun bila dia memang sudah tak lagi bisa menjadi bagian hidupku, berilah kami petunjuk dan kekuatan untuk mengakhirnya?

Salam lifespirit!
2 March 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *