Penjara Kebebasan

Nugroho Sukmanto
http://suaramerdeka.com/

DI Stasiun Senen mereka bukan menunggu godot, tetapi menanti kedatangan orang-orang yang pernah terbuang. Terbuang jauh sebagai narapidana di Pulau Buru. Mereka, kau tahu, adalah orang-orang yang dianggap sebagai terdakwa, pentolan, dan gembong pemberontak G30S PKI.

Setelah lebih 12 tahun mendekam di penjara, sekarang mereka beramai-ramai akan mengenyam kebebasan. Menikmati udara segar beraroma napas kerabat dan keluarga. Tidak lagi berbau lenguh sesama tahanan dan dengus para sipir hotel prodeo. Menggunakan kereta api dari Surabaya, sebentar lagi mereka memasuki Jakarta.

Kulihat ada yang menangis membayangkan rupa dan perawakan yang pasti telah berubah ditempa kekejaman penjara. Ada yang berloncatan kecil-kecil seakan tak sabar ingin segera bertemu sanak saudara. Ada yang melamun, menerawangkan mata, jauh sekali memandang. Mungkin mereka tak lagi mampu mengenali dan tak dapat menggambarkan wajah yang akan dijumpa. Ada juga yang geram, tentu para tentara penjaga, dan bertanya-tanya, “Mengapa mereka tidak dihukum mati saja. Bukankah mereka telah melakukan kekejaman yang tak terhingga kepada para jenderal???

Tetapi mungkin ada juga yang seperti aku. Hanya diam. Hanya datang karena didorong oleh keisengan: ingin mengetahui segala yang akan terjadi dan melihat suasana sebuah pertemuan tidak biasa dan jarang sekali terjadi dalam kehidupan manusia.

Sesaat setelah penumpang kereta api berhamburan keluar, tangis-tangis yang semula hanya berupa isakan berubah mejadi histeris. Apalagi ketika pelukan-pelukan semakin erat mendekap, kepala beradu merapat dan kata-kata tak lagi dapat lepas terucap. Keharuan. Hanya itu yang mereka rasakan. Hanya itu yang diharapkan sebagai awal melepas penderitaan yang bertahun-tahun dirasakan.

Mereka yang tak sabar menunggu dari kejauhan telah memanggil-manggil nama. Nama yang bertahun-tahun diketahui masih ada, tetapi hanya lewat cerita. Mengapa? Karena surat sulit atau mungkin tak pernah mereka terima.

Ada juga orang-orang yang ternganga-nganga menyodorkan mata. Siapa tahu tertangkap pandang oleh orang-orang yang sedang dinantikan. Tetapi banyak yang hanya bisa kecewa karena yang dirindukan tak muncul juga.

Pramoedya telah bertemu istrinya. Hasyim Rachman berangkulan dengan anak- anaknya. Mertuaku perempuan telah bergandengan tangan dengan kedua kakaknya. Tetapi Syafrudin, Nurdin, Alex dan Suryadi tidak dijemput siapa-siapa. Artinya, mereka harus diamankan lagi di Lembaga Pemasyarakatan, karena tak diperbolehkan berkeliaran tanpa seseorang memberikan tumpangan.

“Ini menantu saya,” mertua perempuan memperkenalkan aku kepada kedua kakaknya, “Panggil dia Wak.”

“Syaf, Syaf,sini! Kamu ingat kan Dara yang dulu genit. Katanya kau pernah jatuh cinta. Ini dia orangnya,” Wak Umar memanggil Syafrudin dan kawan-kawannya sambil menunjuk ke arah adiknya.

“Pukimak kau!” mertuaku memaki dengan gaya Medan.

“Bukan dia yang genit, Maryam adiknya,” Syafrudin memberikan klarifikasi.

Kemudian kami bersalam-salaman.

Setelah beberapa saat putus asa dan terharu melihat kemeriahan suasana, Oom Syafrudin dan ketiga kawan senasib merasa sedikit lega. Itu karena aku menyatakan kesediaan untuk sementara menampungnya. Kuselesaikan administrasi yang disyaratkan dan kemudian beramai-ramai menuju ke tempat tinggal mertua. Di sanalah mereka akan tinggal sementara hingga mampu mandiri atau telah menemukan sanak keluarga.

***

RUMAH Paseban semakin sesak, tetapi bertambah hangat, dan meriah, karena diwarnai oleh cerita-cerita dari penjara. Om Syaf dan kawan-kawan lebih senang menceritakan segala sesuatu yang lucu-lucu daripada yang seram-seram, yang ingin seterusnya dilupakan. Tetapi punggung Om Nurdin tidak dapat menyembunyikan sebuah cerita untuk dipertanyakan atau diketahui ihwalnya. Kulitnya keras berwarna hitam. Tebal seperti kapalan. Merata dari ujung ke ujung. Tetapi saaat ditanya, Oom Nurdin bungkam saja. Paling-paling tersenyum dan kadang tertawa kecil sambil memperlihatkan gigi yang banyak tanggal. Akhirnya Om Suryadi yang menceritakan.

“Saat itu dia sedang diinterogasi. Disiksa bagaimana pun dia tidak mau menjawab, sehingga mungkin interogrator kehilangan akal dan kesabaran. Tangan-tangan dan kakinya, kau tahu, kemudian ditindas oleh empat kaki meja yang diduduki empat orang.

“Kemudian saat dia mengerang kesakitan dan masih tetap bungkam, dimasukkanlah seorang tahanan wanita yang sedang hamil. Lalu tahanan wanita itu ditelanjangi dan diancam disobek perutnya dengan sebuah bayonet. Membayangkan darah mengalir dari perut wanita itu,dia seakan mendapat kekuatan yang luar biasa, sehingga meja yang menindihnya terangkat ke atas bersama orang-orang yang mendudukinya,”

kata Om Suryadi sambil menarik napas, “Setelah menjalani isolasi selama 30 hari, tiga bulan berikutnya, menu sehari-hari yang harus diterima adalah tetesan panas ban sepeda yang dibakar ujungnya.”

***

SERING Om Syafrudin kuundang ke rumahku hanya untuk makan malam. Tetapi kemudian terpaksa kuminta untuk tinggal di rumahku kerena ibu mertua merasakan suaminya agak cemburu.

Saat larut malam dan hanya berdua, dia menumpahkan perasaannya.

“Kalau mereka mati, aku tak akan meratapi. Mungkin Tuhan menghendaki,” Om Syafrudin mengatakan hal itu dengan terbata-bata, “Tetapi kalau mereka masih hidup dan menganggapku mati, itu yang tidak dapat aku terima.”

Kudengarkan dengan seksama semua keluhannya.

“Aku tidak mengharap istriku kembali. Karena, itu pilihannya. Tetapi anakku adalah anakku karena aku bapaknya. Aku harus mendapatkannya walaupun telah berganti nama dan dengan akta kelahiran yang berbeda.”

Ia tampak begitu tersiksa.

“Aku salah apa? Dijebloskan ke penjara pun aku tak tahu apa sebabnya.”

Aku terdiam. Aku ingin Om Syaf menumpahkan segala derita.

“Tiba- tiba pulang dari Kairo, turun dari pesawat aku langsung diangkut.”

“Tetapi kan melalui sebuah proses pengadilan?” aku mengatakan setengah mempertanyakan.

“Yah, pengadilan luar biasa yang direkayasa.”

“Siapa yang tak mau menandatangani berita acara, kalau konsekuensinya cacat atau mati?”

Ia lantas mengisap kreteknya dalam-dalam. Air matanya bergulir. Pandangannya ke atas seperti setengah berdoa. Buah lehernya yang menonjol naik turun ketika berkali-kali menyeruput kopi yang baru kusajikan. Saat meletakkan cangkir, tangannya bergetar.

“Aku sudah tahu di mana mereka berada.”

“Di mana?”

“Banjarmasin.”

“Dari mana Om tahu?”

“Kakaknya masih tinggal di sini. Setelah kuancam akan kubunuh kalau dia berbohong, baru dia menceritakan. Lengkap.”

Tak kusela omongan Om Syaf. Aku tahu dia pasti ingin lebih membuncahkan segala yang tersimpan di dada.

“Tetapi aku bisa memaklumi alasannya. Mungkin benar juga. Kalau tidak dengan identitas baru barangkali hidup mereka terus-menerus dalam kesulitan. Atau bisa-bisa menderita depresi karena ditekan pihak-pihak tertentu.”

Aku jadi teringat Zaldy, temanku di ITB. Setelah bapaknya diketahui sebagai anggota PKI, kemudian ia dikeluarkan dan mengalami tekanan jiwa yang berat. Urat- urat lehernya tegang dan tertarik ke belakang, sehingga tidak mampu memutar kepalanya. Akhirnya kepalanya terpaku. Hanya menghadap ke kanan.

“Lalu apa rencana Om selanjutnya?”

“Akan kuminta anakku dari ibunya. Paling tidak akan kuusahakan bisa bertemu dulu.”

“Pelan – pelan dan hati-hati, Om, nanti jiwanya terguncang.”

“Tentu. Tentu. Aku tidak akan sembarangan.”

“Seandainya Om biarkan seperti sekarang dan memandang dari kejauhan saja bagaimana?” aku memancing pendapatnya, “Bukankah orang tua lebih senang melihat anak bahagia daripada mungkin tindakannya nanti justru membuat hidup anak dalam kebimbangan terus-menerus.”

“Aku tak sanggup. Aku tak sanggup.”

“Mengapa?”

“Aku sudah terlalu tua untuk mencari kesenangan. Kesenangan bercumbu dengan kekasih atau istri. Aku berusaha bertahan hidup hanya untuk bisa melampiaskan kasih sayang. Kepada siapa lagi kalau bukan kepada anakku sendiri. Darah dagingku. Baru kemudian memikirkan berbuat kebajikan buat yang lain. Itu pun kalau aku mampu.”

Kau tahu, Om Syafrudin adalah orang yang percaya bahwa dipenjarakan yang melahirkan penderitaan tak terkira bukan merupakan jalan yang digelar Tuhan menuju surga. Dia juga tidak percaya bahwa ritual agama saja akan mengantarkan ke haribaaan Tuhan. Sembahyang, menurut pendapat dia, hanyalah menyiapkan ‘sawah’. Menumbuhkan kebaikan dan kasih sayang ibarat menanam padi. Padi tidak akan tumbuh dan bertahan hingga menghasilkan sesuatu yang dapat dinikmati kalau tidak dirawat dan disiram penyubur ; pupuk pasrah dan kesabaran . “Itulah Islam,” kata dia.

Dia sudah sembahyang dan telah membuktikan kepasrahan dan kesabaran yang luar biasa. Kini tinggal memenuhi apa yang diyakini. Dan itu perlu dilakukan untuk melengkapi tuntutan hidupnya, yakni berbuat kebaikan dan melimpahkan kasih sayang.

***

KAMIS, pukul 08.00, Om Syafrudin keluar dari kamar membawa catatan kecil.

“Boleh aku pakai teleponmu?”

“Silakan.”

“Ke Banjarmasin, boleh?”

Aku sedikit terkejut, kemudian kujawab, “Boleh. Boleh.”

Kuambil koran. Pura-pura aku membaca. Padahal otak dan telinga kuarahkan ke pesawat telepon. Aku betul-betul ingin tahu apa yang akan dibicarakan. Sebuah awal pendekatan untuk mengambil anaknyakah? Tak lama kemudian kudengar dia berkata- kata, ” Aku… Syafrudin.”

“Kau baik – baik bukan ?”

“Aku tahu. Jangan merasa bersalah. Kurasa itu sudah yang terbaik buat kau dan Nur Aini.”

“Siapa namanya sekarang?”

“Fitria Hariansyah?”

“Sudah kawin dia ? Kok ada nama laki-laki di belakangnya?”

“Oh itu nama suamimu?”

“Kau tahu kan, aku sangat mencintai Nur. Boleh kan aku melihatnya. Maksudku jumpa dengan dia?”

“Janganlah menangis. Percayalah aku tak akan merusak hubungan kalian.”

“Bilang saja kalau begitu, Waknya ingin ketemu.”

“Aku berjanji tak akan mengaku sebagai bapaknya, kalau dia belum bisa menerima.”

”Tentukan saja di mana dan kapan. ”

“Kau tak usah ke Jawa, aku yang ke sana.”

Kemudian kulihat Oom Syafrudin menengok ke arahku. Ia memberi isyarat meminta fulpen. Langsung saja kuberikan.

“Restaurant Barito. Jalan Mahakam. Seberang pasar kota. Baiklah.”

Selesai menelepon, Om Syafrudin menghampiriku.

“Kelihatannya aku harus ke Banjarmasin hari Sabtu. Minggu pagi aku akan berjumpa istriku dan mungkin juga dengan anakku. Mantan isteriku maksudnya. Oh tidak, dia masih istriku. Aku belum pernah cerai kok.”

***

PULANG kantor, istriku memberi tahu, Om Syafrudin sudah kembali dari Banjarmasin. Langsung kutengok kamarnya. Kosong. Istriku bilang mau pergi sebentar. Cari koper katanya.

Setumpuk pakaian yang sudah tertata terlihat berada di atas kasur. Sepasang sepatu terselip kaus kaki berada di depan kolong. Rupanya dia akan pergi lagi. Mungkin agak lama atau tak akan pulang kembali ke rumahku.

Dalam hati, aku pun bertanya-tanya. Dia akan menjumpai istrinya? Dia hanya ingin ketemu anaknya? Dia tak akan mengaku sebagai bapaknya? Bagaimana bila pada saat bertemu, dia tak dapat menahan perasaan dan kemudian memeluk anaknya dan menangis sekencang-kencangnya? Apakah rahasia tidak akan terungkap dengan sendirinya?! Aku hanya dapat berharap, bila hal itu terjadi, istrinya lalu akan berkata, “Dia adalah bapakmu!”

Tiba-tiba lamunanku buyar waktu aku terkejut dan tersentuh melihat foto seorang gadis menginjak remaja. Foto itu dibingkai sederhana berdiri di atas meja samping tempat tidur. Saat kuangkat dan kupandang lebih dekat, aku tak dapat menahan tetes air mata. Kuamati berkali-kali, hampir tak berkedip. Kuperhatikan kata-kata bertuliskan tangan di bawahnya: “Buat Ayah tercinta, Love Fitria Hariansyah.”

Aku menangis. Dan kau tentu tahu aku menangis untuk apa.

Bintaro Jaya, 8 November 2005

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *