Pokoknya? Tragis!

Agustinus Wahyono
http://www.sinarharapan.co.id/

Seorang pemuda menyeruak dari pekatnya kelambu kelam, melintasi jalanan remang-remang menuju warna-warni pelangi pertokoan. Matanya nyalang. Bibirnya tersungging senyuman. Gerakan tubuhnya begitu ringan.
?Siapa dia?? tanyamu.
Kamu pasti terkejut atas kemunculannya yang tiba-tiba begitu. Tak ada tanda-tanda atau aba-aba dari suara-suara atau pantulan cahaya pada tubuhnya. Sekonyong-konyong dia nongol. Tampangnya pun berbeda dengan gelandangan yang malas mandi.
?Luckyson.?
?Luckyson?? Mungkin telingamu menangkap kata ?lukisan?.
?Ya, Luckyson, si putera malam, asuhan rembulan.?
Luckyson memang putera malam. Ayahnya adalah iblis bernama Lucifer, dan ibunya adalah Fullmoon. Ia selalu berkeliaran tatkala senja telah menyingkir. Ia suka mengembara di antara belantara beton kota hanya ketika sang induk malam telah bertakhta di atas menara-menara kota. Ia membenci matahari. Ia membenci fajar sampai senja. Ia tidak pernah mau hidup normal dengan berkegiatan selagi terang alam benderang.
?Tampaknya ia telah dihasut ayahnya, sang putera fajar yang terbuang.?
?Benar sekali. Lucifer alias putera fajar memang bapa para penghasut. Ia congkak. Kecongkakannya telah mengenyahkan dirinya sendiri dari pergaulan. Ia pemberontak.?
Luckyson mewarisi jiwa pemberontak dan penghasut itu. Ia suka menghabiskan malam dengan aneka kegiatan. Ia akan mengajak kawan-kawannya dalam kegiatannya. Mereka senantiasa tampak bergairah membedah malam. Bisa dengan bersastra, berseni, belajar atau begadang. Tapi ketika jiwanya meradang, sebilah belati senantiasa terselip di pinggangnya. Belati adalah sahabat karibnya. Luckyson seperti ayahnya: bermuka dua! Kok bermuka dua? Ya tahu sendirilah!

***
Malam kian menganga. Kabut gulita kian merata. Sosok gemulai merobek selaput kelam. Wajahnya cerah, gerakannya riang. Mungkin malam telah serta selalu menyenangkan hatinya.
?Siapa pula gadis itu?? tanyamu lagi.
?Ooo? gadis itu.?
?Iya, gadis itu. Siapa dia??
?Namanya?? aku bertanya balik sembari memandang gadis yang sedang kegirangan menyalami malam itu. Dia lincah sekali. Memukau siapa pun.
?Iya, namanya. Siapa??
?Nama gadis itu??
?Iya! Serius nih!?
Ah, kamu memang belum berubah. Selalu tidak sabar jika melihat seorang gadis manis melenggak-lenggok percaya diri. Terlebih? penampilannya. Dandanannya yang menggebukan. Busananya yang melelapkan. Sorot matanya yang melenakan. Bibirnya yang menggemaskan. Bentuk tubuhnya yang menghanyutkan. Aroma tubuhnya? langsung membiuskan! Pantas saja bikin kamu tidak sabar untuk mengetahui namanya.
?Aku tahu kamu serius.?
?Lantas, siapa n-a-m-a-nya?? tanyamu seraya mengeja huruf disertai matamu melotot. Menurutku, ekspresimu itu justru lucu. Lucu untuk usia kita yang bandot ini. Bisa kubayangkan mimik mukamu jadi mirip Hitler yang sadis dengan kumis cuma di tengah.
?Sebegitu pentingkah namanya bagimu??
?Sebegitu bahayakah, sampai-sampai kamu ingin menyembunyikan namanya??
Sialan. Sepertinya kamu merasa aku terlalu mencurigaimu, padahal aku sengaja hendak membuatmu ngambek kayak keponakanku merengek minta es bon-bon. Bagiku sih jelas tidak ada bahaya apa-apa kalau kusebutkan atau pun kusembunyikan namanya.
?Ayolah, siapa nama gadis itu? Jangan suka mempermainkan aku begitu.?
Baiklah, aku beri tahu. Toh tidak ada faedahnya juga bila kusimpan.
?Namanya Lucyson.?
?Lho, kok mirip Luckyson?? tanyamu seraya melirik kembali ke arah Luckyson, sang putera malam yang saat itu tengah asik bermain gitar diselingi menenggak air api dalam botol. Di sana juga tampak alat suntik tergeletak. Mungkin obat-obat laknat lainnya pun ada.
?Karena mereka memang saudara kembar.?
?Ooo??
?Ssssssst, lihat.?
Lucyson melangkah gemulai. Mau ke manakah? Entahlah. Dibiarkannya angin malam menggeraikan rambut panjangnya. Pakaiannya sangat ketat melekat di tubuhnya. Tas kulit mungil menggelayuti pundak telanjangnya. Isi tasnya hanya perkakas kosmetika dan sebotol air putih. Ia menjaga kesegarannya dengan sering minum air putih.
Gadis malam itu melangkah mantap. Ia terbiasa dengan dunia malam. Tapi, kuberi tahu, malam ini Lucyson cukup berbedak tipis. Tidak menor. Sungguh! Tidak kayak solekan pelacur kampungan yang cuma lulusan sekolah menengah pertama atau menengah umum. Artinya, dia punya kelas tersendiri.
?Alangkah aduhainya dia!? pujimu dengan bola matamu mencuat seakan hendak keluar dari sarangnya. Jakunmu bergerak laksana lift di gedung jangkung sana.
?Padahal malam-malam kemarin penampilannya tidak begini. Pernah juga satu kali dia berdandan super menor, sengaja meniru gaya genit kawan-kawannya.?
?Oh iya??
Betapa lucunya air mukamu. Aku hampir pula tertawa.
?Tapi ingat, Lucyson ini juga mewarisi jiwa iblis. Pemberontak!?
?Oh ya??
?Kelihatan sekilas dia selayaknya perempuan kebanyakan. Lemah lembut, santun, rajin dan lain-lain. Sekilas begitu. Sekali lagi, sekilas. Buktinya, dia membiarkan tubuhnya berlumuran peluh laki-laki. Setiap malam tubuhnya menjadi bulan-bulanan berahi. Setiap malam dia berkelana memunguti zinah di mana pun dia suka. Atau cuma pamer ukiran auratnya. Dia paling mudah terlena oleh puji-pujian. Dia haus popularitas, dahaga pujian dan silau pada sanjungan orang-orang. Dia ingin sekali tersohor seperti ibunya, sang rembulan. Ingat itu!?

***
Aku nyaris saja terbahak-bahak melihat penampilanmu sore ini. Hari-hari kemarin kamu tampak parlente sekali. Pakaian rapi, penampilan trendi dan air muka selalu memancarkan kesegaran. Handphone-mu juga biasanya menggelayut mesra pada leher berlemakmu Kali ini, di perpustakaan kota tempat kita biasa berdiskusi pada waktu-waktu senggang, kelihatannya ada yang berubah pada dirimu..
?Aku dirampok habis-habisan oleh begundal kembar itu tadi malam!? katamu.
?Astaga! Kapan? Di mana??
?Pokoknya? tragis!?
?Tragis??
?Ya, tragis pokoknya!?
Rupanya kamu belum mau mengaku. Boleh aku tebak? Ehm. Aku akan mencoba menganalisis. Menurutku, kamu pasti malu atas sesuatu. Taruhlah kamu sempat berbincang atau nekat memeluknya, lalu adegan itu direkam, diafdruk, dan dicetak. Terus, fotonya mereka pakai untuk memerasmu. Itu analisis pertamaku.
Analisis kedua, kamu terjebak suatu skenario mereka. Entah mungkin semalam kamu di kafe mana, makanan, minuman atau bahkan parfum atau asap rokok mereka telah membius akal sehatmu. Lalu kamu melakukan sedikit adegan mesra, dipotret mereka, dan seterusnya, dan seterusnya.
Analisis ketiga, celakanya, kamu sempat mereguk anggur zinah bersama gadis malam itu. Entah di sudut taman kota, di hotel, vila di luar kota atau malah di kantormu. Nah, waktu itu kamu lengah lantaran mabuk syahwat. Kamu tidak tahu ada kamera yang merekam adegan mesum itu. Mungkin kakaknya menggrebek perbuatan kalian, lantas menodongmu dengan ancaman psikologi massa.
Atau, kalau kejadian itu di taman kota, kamu lengah, mendadak kakak kembarnya keluar dari kegelapan taman. Sang putera malam itu menempelkan ujung belati di kulit lehermu. Kamu tidak berkutik mirip kura-kura kehilangan rumahnya. Lantas uangmu dikuras, aksesori keparlenteanmu ludes bahkan kamu nyaris ditelanjangi habis-habisan oleh serigala-serigala malam, komplotan anak iblis itu.
Benarkah demikian kisah kemalanganmu? Ayo, mengaku sajalah, Bung!
Ironisnya, kamu tidak melaporkan kejadian itu kepada polisi, kamu seolah-olah sengaja menyimpan perkara itu. Hayo, kenapa? Pasti kamu malu.
Aku berani bertaruh: paling-paling karena alasan moral, bukan masalah tindak kekerasan, kriminalitas atau berapa harga barang yang tercerabut dari dirimu. Bagimu, menurutku, uang terbuang berapa juta pun tidak jadi masalah, sebab toh sesudah itu kamu sanggup meraup beberapa puluh juta dalam sekejap. Tapi kalau sudah menyangkut masalah moralitas yang niscaya berimbas pada kredibilitas dan identitas dirimu, masalahnya jelas tidak main-main.
Ya, masalah moralitasmu. Dalam moralitas itu kamu masukkan pula gengsi serta harga diri. Tentu saja hal ini berpengaruh sekali terhadap reputasimu. Reputasimu sebagai pejabat, public figure, berstatus sosial sangat mengkristal di lingkungan kota kita, di samping statusmu sebagai seorang kepala rumah tangga dengan tiga anak yang sudah remaja. Kamu juga kaya. Kamu bisa dapatkan apa saja dengan jabatan dan hartamu. Namun, ternyata harga dirimu lebih segala-galanya bagimu. Apalagi orang-orang mengenalmu sebagai manusia yang taat beribadah. Perselingkuhan jelas terkutuk sekali di mata masyarakat kita yang agamis.
Ah, terserahlah. Hak asasimu. Hanya saja aku penasaran, bagaimana kamu bisa ketemu mereka, padahal aku sudah memberi tahu bahwa siapa dalam diri mereka. Mustahil amat kamu mau sembarang berdekatan dengan gadis itu bahkan sampai nekat tersesat di taman kota atau di sela bangunan yang gelap-gulita sana. Makanya aku tadi mencoba dengan beberapa analisis.
?Pokoknya? tragis!?
?Hanya ?pokoknya tragis? begitu??
?Ya!?
Aku mendiamkan dulu setelah kamu mengulang kata ?pokoknya? tragis?. Kamu masih bertahan menyimpan aib paling memalukan dalam sisa-sisa usia senjamu, berkaitan dengan kedua anak kembar iblis itu. Aku tidak tahu kenapa. Soal zinah dan naasmu tadi semata-mata terkaanku kok. Pasalnya, jawabanmu cenderung melahirkan pertanyaan.
?Pokoknya tragis!? tandasmu, menegaskan jawabanmu sendiri.
Susah nian membujukmu! Tampaknya cuma manusia semacam Lucyson itu yang bisa merayumu, seperti Samson ditekuk Delila, seperti Adam dibujuk Hawa.******

babarsariyogya, juni 2002

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *