Sihir Pasir

Miftah Fadhli
http://www.hariansumutpos.com/

Di pantai itu aku melihat sepucuk awan membentuk perlambang. Sebuah awan menggumpal dengan dua pucuk menggembung, dimana lembahnya membentuk lengkung ganjil yang tajam: hati.

Apakah itu lambang bahwa di sini, di Pantai Putra Deli ini aku bisa menemukan cinta sejati? Tidak. Aku tidak berharap bisa menemukan siapapun. Sebab di sini aku hanya bisa melihat sebaris gelombang berderai-derai berlomba menuju bibir pantai. Sisa-sisa cangkang kerang yang terdampar membentuk segaris berlengkung-lengkung. Tak ada siapapun (kekasih) yang bisa kutemukan di sini. Hanya tetiang dari kayu yang panjang yang ditancapkan di tengah pantai sebagai tanda kedalaman serta batas berupa balon putih yang menggembung bak diisi dengan keanehan pantai yang sunyi ini.

Di Pantai Putra Deli yang kepitingpun bersembunyi demi menjaga sunyi, aku hanya dapat mendengar deru mesin penghisap pasir yang dialirkan ke area lahan pembangunan airport. Aku tak bisa melihat apapun kecuali julang langit yang bersinar di pucuk-pucuk memberitakan air akan segera pasang.

Aku bergegas ke pondok. Duduk di anak tangganya sembari menikmati semilir angin yang harum baunya. Kapal boat yang dilabuhkan dan diikat dengan rantai adalah kelengangan yang absurd. Tak ada calon pengemudi atau siapapun. Sekali lagi, hanya aku yang menikmati kelengangan yang sebentar lagi padam akibat gelombang ombak yang terus mencapai bibir pantai teratas.
Aku berlari ke bibir pantai ketika kulihat seekor ular mencoba membebaskan diri dari ombak namun segera kembali ke lautan karena melihatku datang. Tak begitu jelas tapi matanya adalah mata paling mencurigakan. Seakan aku bisa melihat segala kesunyian yang seenaknya saja mendamparkan diri di pantai ini.

Perasaan kecewa membentang di dadaku. Aku kembali saja ke pondok beratap rumbia itu. Kurebahkan tubuhku berharap rasa sakit akan segera sirna. Tiba-tiba seorang nelayan datang menghampiriku sambil menawarkan seikat ikan tongkol kepadaku.
?Tolong beli ikan saya?

?Maaf, Pak. Saya tidak membawa uang. Saya hanya sebentar di pantai ini.?
?Tolonglah. Beli ikan ini dan kamu akan menemukan sihir.?
Aku terpelanga. Sihir apa? Pantai apa ini? Kenapa ada seseorang yang menjanjikan sihir kepadaku? Aku tersenyum (geli atau takut). Kupersilahkan nelayan itu duduk sembari menikmati pasang laut yang berdebur.

Sebuah broti kecil terhuyung-huyung dihempas ombak. Aku melihat jejak kepiting kecil yang berlarian miring menuju sebuah lubang. Naas, lubang itu segera dihantam gelombang yang besar.
?Entah saya percaya atau tidak, saya benar-benar tidak membawa uang, Bapak. Saya di sini hanya mencari??.? Aku terhenti. Nelayan itu tersenyum dan meletakkan ikannya di tikar.
Ia memalingkan pandangannya ke hamparan debur. Tapi aku tahu ia sedang memperhatikan kapal nelayan yang berseliweran di ufuk. Seorang nelayan menebar jalanya kemudian menariknya. Ia berteriak memanggil teman-temannya sesaat ketika jalanya menjebak banyak ikan.
?Nelayan-nelayan itu sungguh tak mempercayai sihir seperti dirimu.? Ucap nelayan itu.
?Mereka juga tahu soal sihir??

Dia mengangguk.
Ditudingnya sepasang burung yang bertengger di sebuah batang pohon besar yang dihempas-hempas ombak. Batang itu tak bergeming karena memang sangat besar. Sepasang burung itulah yang kemudian kusaksikan meleleh ketika ombak menerjangnya. Seperti terbuat dari gumpalan pasir yang lembut. Kedua burung tersebut hilang dan hanya menyisakan butiran-butiran pasir.
?Tak ada lagi harapan ketika ombak sudah membuat keputusan. Burung itu harus mengambil tempat yang benar, dan aman.? Ucapnya.

Aku terkejut bukan buatan melihat semua hal yang ada di pantai ini ternyata terbuat dari segumpal pasir. Pohon kelapanya, kapal boat itu, pondok ini, dan, dan nelayan itu juga terbuat dari pasir. Aku tersentak hingga berdiri. Sungguh replika yang mengagumkan. Jadi selama ini aku terkecoh?
Gedebyar ombak memecah keheningan membuatku tersungkur melihat pemandangan yang menakjubkan. Nelayan itu bangkit dan berjalan ke bibir pantai. Aku mengikutinya dari belakang dengan langkah hati-hati.

Apakah yang kusaksikan ini adalah kenyataan atau hanya tipuan optik yang menjengkelkan? Tapi semuanya terlihat begitu nyata. Sangat sempurna!

?Apa yang kau lakukan, Pak? Kau akan bernasib seperti burung itu.? Teriakku getir saat melihat nelayan itu semakin dekat dengan lidah ombak yang panjang. Langkahnya seakan berlomba dengan kelomang-kelomang yang berlarian dan terlebih dulu dihempas ombak.

Semuanya mendekat ke bibir pantai. Burung-burung, pepohonan, gubuk itu! Hanya aku tertinggal di belakang dan menyaksikan kejadian aneh yang tak masuk akal ini. Semua hal seperti menyeret dirinya ke dalam bahaya yang menakutkan. Ngeri membayangkan tubuh hewan-hewan itu ambruk diterjang ombak yang tak terlalu besar. Perlahan mulai dari kaki-kaki mereka, lalu tangan mereka hingga seluruh tubuh mereka luber diseret ombak ke tengah laut.

?Kemarilah, Anak Muda. Kau harus berani menaklukkan takdir!? teriak nelayan itu. Hanya dia makhluk (pasir) satu-satunya yang masih utuh. Itupun sisa gelombang yang masih ada menyapu sebagian jari kakinya. Dia berdiri tegak bagai menara mercu. Bersitatap denganku seperti lampu suar yang menyorot dan tak mau pindah. Tiba-tiba aku dilanda kecemasan yang luar biasa. Seakan seluruh hal terpusat kepadaku. Seakan teriakan nelayan itu telah membangkitkan sesuatu yang lain dari dalam keentahan dan aku tak berdaya menghadapinya.

?Hadapilah. Ini takdirmu!? teriaknya sekali lagi. Bersamaan dengan itu datang gelombang besar yang menimbulkan bunyi gedebur yang mengganggu. Setelah itu tubuhnya menghilang dari tempatnya berdiri. Sejak itu gelombang laut tak pernah berhenti menimbulkan bunyi gedebur yang menyebalkan. Sangat menganggu. Sejak itu pula satu per satu makhluk hidup di pantai itu membiarkan tubuhnya luber dihantam gelombang.
***

Aku baru saja melewatkan sunset di pantai itu ketika terbangun dan sadar seseorang telah ada di sampingku. Wajahnya tampak biasa, perempuan, mungkin penduduk sini. Aku gelagapan membetulkan posisiku saat perempuan itu mendekat.
?Mas ditunggu teman-temannya di warung saya.? Katanya.

Oh iya, aku baru ingat kalau aku datang dengan teman-teman. Aku tidak melihat mereka dari tadi. Perempuan itu mengantarku ke warungnya yang juga rumahnya. Di sana teman-temanku sudah terlebih dahulu menyantap mie gelas yang asapnya mengepul.
?Kukira kita akan pulang sore tadi.?

?Awalnya memang begitu. Setelah dipikir-pikir, kenapa kita tidak menghabiskan malam ini di sini?? sambut Ade, temanku.

?Tidurmu seperti orang mati. Jadi kami biarkan saja sampai kau bangun sendiri. Sayang sekali, kau melewatkan sunset yang indah tadi.? Sambung Linda.
Malam itu kami hanya menyantap mie dan kudapan yang kami beli dari warung yang sama. Setelah beberapa menit beristirahat, ternyata aku tertidur lagi. Perempuan yang sama membangunkanku dengan senyum yang sama.

?Teman Mas menunggu di pinggir pantai.? Katanya setelah itu masuk ke dalam.
Kulihat mereka memang sedang bermain-main di pinggir pantai. Debur ombak masih deras. Mereka berkumpul di dekat kapal boat. Mungkin mereka memang menungguku. Tanpa berpikir panjang aku bangkit dari kursi dan segera menyusul.

Sepintas memang tak ada keganjilan seperti yang terjadi dalam mimpiku tadi. Semakin mendekati bibir pantai tiba-tiba angin berhembus agak kencang. Teman-temanku bergerak mendekat ke debur ombak. Mereka berdiri berbaris menghadap laut lepas yang gelap. Aku merasa lengang.

Udara di sekitar pantai berubah hangat. Saat kusaksikan gelombang menyapu tubuh Winda, perlahan telapak kakinya meleleh seperti pasir. Kemudian menyusul tumitnya, pahanya, perutnya, hingga kepalanya meleleh terseret ombak. Begitu pula ketika kusaksikan teman-teman yang lain, tubuh mereka ambruk dari telapak kaki hingga kepala.

Aku berteriak agar mereka menjauhi bibir pantai namun mereka tak mendengar. Sampai di bibir pantai, tak kutemukan lagi mereka. Hanya tinggal butiran pasir dan tubuhku yang ternyata ikut luntur dihantam sisa-sisa gelombang. Seperti pasir.

Tumpatan, April 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *