Yang Mekar di Tengah Kungkungan Adat

Angela Dewi
http://www.ruangbaca.com/

Novelis India Selatan merajai dunia. Budaya berkisah dan kekangan hidup menyuburkan keahlian menulis.
Pada hari-hari tertentu dalam hidupnya, Anju kecil benci semua orang. Benci Bibi Nalini karena terus-menerus mengatakan pada Sudha dan dia tentang bagaimana seharusnya tingkah laku gadis baik-baik, yang pasti selalu bertentangan sama sekali dengan apa yang sedang mereka lakukan. Bibinya ?yang bertubuh gemuk dan tidak berpinggang serta rambut diikat jadi sanggul berminyak? itu selalu mengulangulang cerita tentang masa kanak- kanaknya.

Bibi Nalini juga suka mengajak teman-temannya berkumpul setiap siang di ruang duduk untuk minum berliter-liter teh, makan terlalu banyak manisan, dan merajut dengan pola rumit yang jelek. Anju kecil, lalu tumbuh menjadi remaja perempuan yang doyan menggugat, lantas menjelma perempuan yang tidak merasakan cinta, adalah tokoh dalam Sister of My Heart?kemudian diterjemahkan menjadi Saudara Sehati oleh Gramedia Pustaka Utama.

Novel ini ditulis Chitra Banerjee Divakaruni. Ketika pertama kali diluncurkan pada 1999, novel Divakaruni langsung menyita perhatian banyak peminat sastra Asia Selatan. Selain karena tema yang tidak lekang oleh waktu?cinta dan persahabatan?Divakaruni memikat pembacanya dengan kalimat-kalimat yang detail, kemampuan yang lihai untuk menampilkan dialog yang segar, dan memotret dengan baik bagaimana nilai-nilai hidup ditanamkan turun-temurun.

Tinggal di California, Divakaruni memotret kehidupan perempuan India yang mengalami benturan budaya dan nilai-nilai. Tidak heran jika sebagian besar novelnya berlatar India dan Amerika. Itu juga tampak pada novel sebelumnya yang lebih dulu terkenal, Mistress of Spices. Novel ini juga memotret perjalanan hidup perempuan India, anak pedagang rempah-rempah dari kasta terhormat.

Ia bermigrasi ke Amerika dan hidup dengan banyak benturan nilai-nilai. Kumpulan cerpennya Arranged Marriage juga mengupas masalah yang sama. Dua perempuan bersaudara yang dipisahkan nasib. Seorang menikah dengan pria kulit putih dan hidup di luar negeri, seorang lagi berhadapan dengan keluarganya yang kolot. Ia dipaksa menggugurkan kandungan setelah sang sepupu mengajaknya ke dokter untuk mengintip jenis kelamin sang bayi?yang ternyata perempuan ? di mesin USG.

Bagaimana sebuah kemajuan teknologi kemudian bertentangan dan mengancam ideologi yang dianut sejak lama? Membaca novel Asia Selatan? India, Pakistan, dan sedikit Bangladesh?tidak ubahnya menguliti nasib perempuan di wilayah itu. Terpinggir, tidak berpendidikan, berhadapan dengan takdir kasta, dan tidak punya posisi tawar yang tinggi.

?Karya sastra Asia Selatan masa kini kaya dengan teks-teks mendidik, inovatif dan brilian bahasanya, prosanya memikat, dan penuh pertanyaan tentang nilainilai,? kata Ambreen Hai, Profesor Sastra Inggris di jurusan Sastra Pascakolonial Asia Selatan, di Yale University, dalam surat elektroniknya kepada Koran Tempo.

Suburnya budaya menulis novel di Asia Selatan, menurut Hai karena pengaruh budaya lisan yang mereka bawa sejak kecil. ?Orang India dan akar bangsanya tumbuh bersama cerita, legenda, dan kisah-kisah klasik yang disampaikan orangtua dan keluarga mereka yang lebih tua,? kata Hai. Kisah-kisah ini mengendap dan hidup hingga mereka tumbuh dewasa.

?Ada semacam dorongan untuk menyampaikannya,? kata Hai. Tidak heran jika latar belakang budaya dalam cerita mereka amat kental. Ini berbeda dengan budaya wilayah lain yang tidak mengenal kebiasaan bercerita pada keturunan mereka. Novel-novel Asia Selatan ini menemukan masanya sendiri pada tiga dasawarsa belakangan ini.

Bahkan Hai menyebut sastra ini sudah menciptakan genrenya sendiri karena demikian banyak penulis yang lahir di masa itu. ?Sastra pascakolonial ini lebih kental gagasan nasionalismenya, dipenuhi gugatan terhadap bias gender, serta nilai-nilai konservatif,? kata Hai. Hai melihat ada tiga tahapan dalam perkembangan novel Asia Selatan dalam 30-an tahun belakangan ini.

Tahapan pertama, katanya, didominasi penulis pria. Mereka yang besar di periode ini antara lain R. K Narayan, Mulk Raj Anand, Nirad Chaudhuri, lalu ada Salman Rushdie. Di antara mereka terdapat segelintir penulis perempuan. Ada taslima Nasrin, Anita Desai, Amrita Pritam, dan Attia Hosain. Taslima Nasrin termasuk yang mencorong.

Dokter berkebangsaan Bengali, Bangladesh kelahiran 1962 ini gemar menyerang lembaga keagamaan lewat tulisannya. Apalagi kalau bukan posisi perempuan yang sangat terpojok berdasarkan pemahaman sempit kalangan konservatif. Tulisannya yang berjudul Lajja meraih banyak simpati dari seluruh dunia dan sudah difilmkan. Tidak heran jika kemudian Nasrinharus hidup di pengasingan dan berpindah-pindah karena pemerintahnya gerah akan karyanya.

Ledakan penulis terjadi pada era 80-an. Di masa itu rata-rata penulis muda India mampu berbahasa Inggris dengan baik, mengenyam pendidikan tinggi? karena berasal dari keluarga kaya ?dan menawarkan tema yang lebih beragam. Di era ini pula ada dua kubu yang tumbuh bersamaan.

Mereka yang tergolong ke dalam ?penulis pribumi?, karena menulis dari kampung halaman mereka di India, Pakistan, dan Sri Lanka ?serta sedikit di Bangladesh, dan mereka yang tumbuh di perantauan. Penulis pribumi ini amat terbatas aksesnya karena kondisi lingkungan yang tidak menunjang. Tidak mudah bagi mereka untuk menulis melintasi batas tabu yang ditetapkan adat dan agama mereka. Mereka yang berasal dari kasta rendah ini, baik yang menulis dalam bahasa Hindi maupun Inggris, sulit menembus lapisan penerbit.

Tidak heran jika pada era 80-an tumbuh gerakan untuk memajukan mereka yang menulis dari kampung halamannya. Apa yang dilakukan Ritu Menon dan Urvashi Boutalia mungkin layak dihargai. Mereka membentuk Kali for Women, sebuah lembaga penerbitan khusus untuk perempuan. Jika pada tahun pertama mereka hanya mampu mencetak dua-tiga buku pertahun, kini tidak kurang satu buku mereka hasilkan dalam sebulan.

Sebagian besar fiksi, biografi, dan memoar. Salah satu karya fenomenal yang mereka terbitkan adalah Staying Alive karya Vandana Siva yang sudah diterjemahkan ke dalam 6 bahasa dan cetak ulang belasan kali di Inggris dan Amerika. Ada pula Sobha De, yang karya perdananya Socialite Evening (1989) terbit di New Delhi. De memilih gaya yang lebih berani. Ia dengan gamblang memasukkan unsur seks ke dalam novelnya.

Belakangan, muncul pula nama yang lebih muda, Manjula Padmanabhan dengan kumpulan cerpennya Hot Death Cold Soup (2005). Di India, hari-hari ini karya Padmanabhan dibaca sama seringnya dengan orang membaca epik karya Vikram Seth. Pertumbuhan penulis di perantauan lebih meriah. Amardeep Singh, penulis dan pengamat karya sastra terkenal, mengatakan para perantauan ini tumbuh membentuk fenomena tersendiri.

Mereka acap disebut dengan istilah desi. Ini bahasa Hindi untuk menyebut diasfora. Ke dalam kelompok inilah Divakaruni, Bharati Mukerjee, dan deretan nama?yang puluhan jumlahnya?bergabung. Sebagian besar perempuan.

Mudahnya akses menulis bagi perempuan India ini antara lain karena tingkat pendidikan yang mereka capai. Sebagian besar lulus kuliah atau mengenyam pendidikan di kampus-kampus terkenal di Eropa dan Amerika. Mukherjee, yang melejit lewat The Tiger?s Daughter (cerita tentang perempuan bernama Tara yang hidup di perantauan dan pulang kampung hanya untuk mendapati kerusuhan dan kemiskinan), misalnya lahir di tengah keluarga kaya-raya dan melek pendidikan.

Sejak usia tiga tahun ayah dan ibunya sudah mengajarinya membaca dan menulis. Di Iowa University, ia bertemu Clark Blaise, mahasiswa Harvard, dan menikah dengannya. Di era ini, karya yang lahir dari tangan penulis perempuan ini banyak bercerita tentang perbedaan nilai-nilai yang mereka peroleh di masa kecil dengan apa yang mereka lihat di perantauan.

Hal ini tidak terasa, misalnya, pada karya-karya Rushdie, meski mereka sama-sama berkisah tentang tanah leluhur. Kawin paksa, kasta rendah, nasib malang, menjadi tema utama pada novel karya perempuan India. ?Mungkin karena perempuan India lebih kompleks masalahnya,? kata Hai. Tema lain yang lebih berani juga muncul di masa ini. Ada Mira Nair dan Deepa Mehta yang tanpa sungkan berkisah tentang seks di tengah dominasi patrilineal.

Perempuan tidak berhak mengendalikan naluri seksnya sendiri. Inilah yang kemudian menumbuhsuburkan tema lesbian dalam karya mereka. Pada era setelah itu, muncul nama-nama yang lebih beragam. Tema yang mereka tawarkan juga lebih banyak. Meski masih mengusung nilai-nilai leluhur, pertentangan dan gugatan sangat jelas terlihat. Kemampuan mereka menggambarkan hal-hal di sekeliling mereka sungguh mencengangkan.

Di era ini, gaya penulisan yang berbunga-bunga, liris, dan detil menjadi ciri khas mereka. Arundhati Roy masuk dalam era ini. Pernah menjajal kemampuan sebagai artis, menulis skenario, hingga akhirnya terdampar di dunia novel, Arundhati?perempuan kelahiran Bengali 1961 yang tumbuh di Kerala ini?memikat jutaan pembaca lewat The God of Small Things.

Roy mempertanyakan nasib di tengah nilai patrilineal, praktik budaya dalam bentuk yang sangat tradisional di lingkungan etnik dan religius. Kepiawaian para penulis ini tidak jarang membuat mereka beroleh penghargaan di dunia penulisan. Roy, misalnya memenangi penghargaan bergengsi Booker Prize. Ia satu-satunya perempuan Asia Selatan yang pernah menerima hadiah mentereng ini.

Setelah masa ini, lahir pula generasi ketiga yang dimulai sejak era 2000-an. Isu yang mereka angkat lebih unik. ?Mereka mengalami semacam sindroma transnasionalisme,? kata Hai. ?Ini lebih jauh ketimbang sekadar geger budaya saja.? Mereka ini umumnya penulis yang lahir di Eropa dan Amerika. Jhumpa Lahiri masuk ke dalam kelompok ini. Lahir di London pada 1967 dan tumbuh di Rhode Island, Amerika Serikat, karya Lahiri kental akan unsur peralihan rasa kebangsaan.

Keraguan dimana akar mereka sebenarnya. Namanya melejit setelah menelurkan kumpulan cerpen The Interpreter of Maladies (1999). Sebelumnya, karya Lahiri kerap muncul di The New Yorker pada 1998. Debut Lahiri langsung dihargai lewat Pulitzer Award untuk kategori fiksi pada 2000. Setelah suksesperdananya itu, Lahiri melahirkan novel pertamanya The Namesake (2003), kisah satir tentang orang India yang ?salah nama?. Lahir dengan nama Gogol, sang tokoh harus menanggung masalah sepanjang hidupnya.

Belakangan berturut-turut nama Kiran Desai (Video), Monica Ali (yang masuk daftar Man?s Booker Prize pada 2004 lewat novel The Brick Lane) dan Khamila Shamsie memenuhi rak toko-toko buku Amerika dan Eropa. Shamsie boleh dibilang fenomenal. Lahir pada 1973, perempuan Pakistan ini memikat lewat novel perdananya In The City By The Sea. Dalam waktu dua bulan, novel ini diambilalih percetakan dan peredarannya oleh Oxford University Press.

Sarjana penulisan kreatif di University of Massachusetts ini mengajar bidang yang sama di Hamilton College, New York. Novel keduanya Broken Verses yang terbit tahun silam, kini berada di urutan 10 besar novel non-Amerika di New York. Yang menarik, di antara namanama perempuan itu, ada seorang penulis pria yang mencorong. Nadeem Aslam, penulis muda Pakistan kelahiran 1966 ini memikat pembaca lewat Maps For Lost Lovers(2004) yang diambilalih penerbitannya oleh Knopf pada Mei 2005.

Keunikan Aslam terletak pada hilangnya unsur kedaerahan pada novelnya. ?Saya mengagumi Ondaatje yang mampu menulis tentang sebuah negeri asing dari sudut pandang seorang imigran,? katanya. ?Seperti menulis New Orleans bersama jazz-nya.?

ANGELA DEWI/pelbagai sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *