ENSIKLOPEDI SASTRA INDONESIA: TEBAL DAN GAGAH?

Maman S. Mahayana *

Hasanuddin WS, dkk. Ensiklopedi Sastra Indonesia (Bandung: Titian Ilmu, 2004, xiii + 889 halaman)

Dibandingkan kamus yang penjelasan tentang entrinya lazim dalam bentuk sinonim atau keterangan ringkas, ensiklopedi menguraikannya secara luas. Malahan, sering kali penjelasannya itu cenderung lebih rinci dan mendalam. Itulah yang membedakan kamus dengan ensiklopedi. Demikian juga dengan Ensiklopedi Sastra Indonesia ini. Penjelasan setiap entrinya hampir mendekati itu. Bahkan, beberapa novel yang masuk sebagai entri ensiklopedi ini, dibuat ringkasannya, dan disertakan pula gambar jilidnya. Dengan cara itu, kita tidak hanya akan mengetahui gambar jilid dan data publikasi tentang sebuah novel, tetapi juga mengetahui isi ringkas novel bersangkutan. Cukup menarik memang, meski tak ada penjelasan, mengapa hanya beberapa novel saja yang dibuat ringkasannya. Atas dasar apa, hanya beberapa novel saja yang dibuat ringkasannya. Sebuah masalah yang sebenarnya tidak perlu terjadi jika penyusun ensiklopedi ini menyampaikan pertanggungjawaban sebagaimana yang seharusnya dilakukan.

Di dalam pengantar, Redaksi (penyusun) mengatakan, bahwa “Entri yang dihimpun dan dijelaskan secara keseluruhan berkaitan dengan kesusastraan Indonesia yang dapat dikategorikan pada tiga kelompok, yaitu (1) istilah sastra, (2) tokoh sastrawan dan ahli sastra, dan (3) karya sastra” (hlm. ix). Ternyata, di dalamnya, termuat juga nama-nama lembaga –termasuk penerbit, dan surat-surat kabar atau majalah yang dianggap penting atau memberi kontribusi bagi perkembangan sastra Indonesia. Jadi, secara keseluruhan, ensiklopedi ini menghimpun berbagai hal yang berkaitan dengan dunia sastra. Dalam sistem sastra, wilayah ini mencakupi pengarang, teks sastra, lembaga penerbitan –termasuk media massa, dan pembaca (kritikus).

Dibandingkan buku sejenis yang terbit sebelumnya, Ensiklopedi Sastra Indonesia (ESI), memang paling tebal. Dengan jumlah 2820 entri pokok yang beberapa di antaranya dilengkapi dengan entri turunan, maka dapat dipastikan, ESI melampaui jumlah entri yang terdapat dalam buku leksikon atau kamus sastra Indonesia. Dilihat dari sudut ini, tentu saja ESI menempati kedudukan penting. Mengingat ketebalan dan jumlah entrinya itu, buku ini tampak begitu gagah, dan sepertinya juga berwibawa. Ternyata ketebalan dan penambahan jumlah entri itu dimungkinkan dengan masuknya istilah drama dan teater –yang boleh jadi bersumberkan Istilah Drama dan Teater yang disusun Riris K. Sarumpaet (1977)—serta istilah filologi dan sastra tradisional. Maka, dalam ESI kita akan menemukan beberapa ringkasan hikayat dan contoh-contoh pantun.

Hal yang juga penting disampaikan buku ini adalah penyusunannya yang alfabetis itu termasuk nama-nama sastrawan. Dalam hal ini, urut abjad nama sastrawan, kritikus atau peneliti sastra, tidak diawali dengan nama marga atau nama belakang. Entri Merari Siregar (hlm. 507), misalnya, tidak ditempatkan dalam entri yang dimulai dengan huruf S (Siregar), melainkan huruf M (Merari). Begitulah urutan penulisan entri nama-nama orang, secara konsisten dimulai dengan nama depan, dan bukan nama marga, nama suami, atau nama belakang, seperti yang lazim digunakan secara internasional dalam konvensi penulisan nama. Sebuah cara yang menurut penyusunnya dapat memudahkan pencarian entri yang menyangkut nama orang.

Sementara itu, sejumlah istilah atau konsep sastra yang dimasukkan sebagai entri ESI, dijelaskan berikut contohnya dalam karya sastra Indonesia. Tujuannya, agar pembaca Indonesia dapat mengkaitkannya dengan karya Indonesia sendiri. Dengan demikian, istilah atau konsep yang berasal dari khazanah sastra asing itu, dapat lebih dipahami lantaran adanya cantelan yang jelas bersumberkan khazanah sastra Indonesia. Mengenai hal ini, dalam beberapa kasus, tampak juga penyusun kesulitan menyertakan contoh kasus yang berasal dari khazanah sastra Indonesia. Untuk entri yang seperti itu, terpaksa kita menerima begitu saja penjelasannya, meski kadangkala, agak kabur juga penjelasannya.

Dibandingkan Buku Pintar Sastra Indonesia yang disusun Pamusuk Eneste (Jakarta: Kompas, 2001; xx + 290 halaman) yang memuat 1105 entri atau Leksikon Sastra Indonesia yang disusun Korrie Layun Rampan (Jakarta: Balai Pustaka, 2000; xv + 576 halaman) yang memuat 1382 entri, ESI dilihat dari bentuk fisik dan jumlah entrinya (2820 entri), tentu saja tampil lebih memukau. Secara sepintas, kesan itulah yang segera muncul saat memandang kehadiran ESI. Meskipun demikian, tentu saja kita tidak perlu terburu-buru silau pada jumlah entri dan bentuk fisiknya. Ada konvensi yang berlaku dalam penyusunan ensiklopedi. Ada ketentuan-ketentuan yang idealnya patut diperhatikan oleh para penyusun ensiklopedi. Konvensi atau ketentuan itu, tidak hanya berkaitan dengan teknis penulisan, melainkan juga kriteria dan dasar pertimbangan masuk-tidaknya kata atau istilah tertentu sebagai entri. Maka, ketika konvensi dilanggar, seketika itulah eksiklopedi itu seperti sengaja mengundang masalah. ESI, tak pelak lagi adalah contoh yang baik, bagaimana pelanggaran terhadap konvensi, justru dapat melahirkan banyak masalah.

Masalah pertama menyangkut pertanggungjawaban. Dalam banyak kamus atau ensiklopedi modern, pertanggungjawaban adalah hal yang sangat penting. Dari sanalah penyusun mempunyai dasar, kriteria, atau pertimbangan tentang apapun yang akan menjadi entrinya. Pertanggungjawaban adalah titik berangkat redaksi mempertimbangkan, memilih, dan menyusun segala hal yang akan menjadi entri. Di sinilah, argumen harus dimunculkan. Dalam kasus ESI, patut kita mempertanyakan, mengapa sejumlah entri yang sebenarnya tidak ada hubungan langsung dengan kesusastraan, mesti ada di sana. Sebutlah, misalnya, kata doa, dogma, doktrin (hlm. 222—3), gambang, gamelan (272) atau generalisasi (279). Apa alasannya kata-kata itu dijadikan entri, adakah kaitan langsung dengan bidang sastra?

Masih berkaitan dengan soal pertanggungjawaban, mengapa begitu banyak istilah drama masuk sebagai entri, sementara dramawannya sendiri tak lebih banyak dari apa yang dicatat Pamusuk Eneste dan Korrie Layun Rampan. Mengapa pula ringkasan novel Kasih tak Terlarai (hlm. 397—400) yang tipis itu (61 halaman), jauh lebih panjang dibandingkan ringkasan Keluarga Gerilya (hlm. 408) yang tebalnya 300 halaman atau beberapa novel lain yang dijadikan entri ESI. Sesungguhnya, penyusun punya hak penuh untuk memasukkan hal apapun. Tetapi hak itu berkaitan pula dengan bidang yang dipilihnya. Di situlah secara langsung melekat pertanggungjawaban.

Masalah kedua menyangkut sumber yang digunakan. Dapat dipastikan, tak ada satu pun ensiklopedi yang penyusunannya tidak menggunakan sumber rujukan. Ensiklopedi Sunda (Jakarta: Pustaka Jaya, 2000, xv + 719 halaman) yang disusun Ajip Rosidi, dkk., misalnya, menggunakan sumber rujukannya dengan memanfaatkan 10 buah naskah lama berbahasa Sunda, 12 majalah, suratkabar, dan almanak, dan 190 buku. Hasilnya, hampir 4000 entri tercatat di sana. Sementara itu, Ensiklopedia Sastra Indonesia Modern (Jakarta: Pusat Bahasa, 2003, xii + 271 halaman) yang disusun Tim Pusat Bahasa, meskipun hanya memuat 151 entri, mereka mendasari penyusunannya dengan menggunakan 14 artikel dari suratkabar dan majalah, dan 51 buku sebagai sumber rujukannya. Bandingkanlah dengan buku Buku Pintar Sastra Indonesia, Pamusuk Eneste yang menggunakan 35 sumber dan buku Leksikon Sastra Indonesia, Korrie Layun Rampan yang menggunakan 83 sumber.

Lalu berapa sumber yang digunakan penyusun ESI ini? Sungguh mengagetkan! Buku yang tebalnya 889 halaman yang memuat 2820 buah entri, hanya menggunakan 13 sumber rujukan (5 kamus, 3 antologi, 2 buku teks, dan masing-masing satu buku leksikon, ringkasan roman, dan sejarah sastra). Satu langkah yang sulit dipahami. Masalahnya, ESI disusun seorang gurubesar (Prof. Dr. Hasanuddin WS., M.Hum.) dengan empat gurubesar (Mursal Esten, Yus Rusyana, Suminto A. Sayuti, dan Riris K. Toha-Sarumpaet) bertindak sebagai Redaktur Ahli Penyelia. Bagaimana sesungguhnya peran keempat gurubesar itu?

Dalam tradisi penyusunan ensiklopedia di Amerika atau Eropa, Ketua Tim Penyusun atau Pemimpin Redaksi (Managing Editor), kerap bertindak sebagai “manajer” dan sekaligus editor. Ia mengumpulkan para ahli, memintanya menulis mengenai biografi seseorang atau bidang tertentu, pengumpul bahan yang ditulis para ahli itu, dan menyusun kembali semua bahan, mengurutkannya secara alfabetis atau berdasarkan periode jika berpretensi menyusun sejarah nengenai satu bidang tertentu. Maka, satu entri atau satu bidang ilmu, bisa saja disusun oleh satu orang dengan sumber rujukan yang bertumpuk. Periksa saja, delapan jilid buku British Writers (1979), sebuah buku yang memuat biografi dan pembahasan karya-karya sastrawan Inggris. Untuk biografi William Shakespeare (I: 295—330), misalnya, Stanley Wells, penyusunnya, menggunakan lebih dari 150 sumber rujukan. Demikian juga, biografi Rudyard Kipling (VI: 165—206), A.G. Sandison memerlukan sekitar 100 sumber rujukan.

Hal yang sama sesungguhnya pernah dilakukan Prof. Dr. Mr. T.S.G. Mulia (Jakarta) dan Prof. Dr. K.A.H. Hidding (Leiden) atas tiga jilid Ensiklopedia Indonesia (Bandung: NV W. Van Hoeve, ?). Untuk bidang yang berkaitan dengan agama Islam, meskipun itu ditulis para ahli (Indonesia), Mulia dan Hidding meminta M. Natsir bertindak sebagai penanggung jawabnya. Sejumlah entri lain diserahkan penyusunannya kepada ahlinya di bidang itu. Demikian, mengingat ensiklopedia disiapkan sebagai buku rujukan yang dapat diandalkan, maka otoritas penyumbang tulisan (kontributor) sangat menentukan kewibawaan ensiklopedia yang bersangkutan.

Bagaimanapun juga sumber rujukan bagi penyusunan kamus atau ensiklopedi merupakan hal yang mutlak penting. Dengan cara itu, penyusun tidak hanya ikut menambahkan dan melengkapi apa yang telah dilakukan orang sebelumnya, tetapi juga memperbaiki, merevisi, dan menyempurnakannya jika di dalamnya terdapat kesalahan atau kekeliruan yang tak perlu. Sebagai contoh, periksa saja apa yang dilakukan Pamusuk Eneste atas bukunya, Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern (Gramedia, 1982: I; 1983: II) yang memuat 309 entri. Pada cetakan berikutnya (Djambatan, 1990), terjadi tambahan entri menjadi 582 entri, dan pada edisi keempat (Kompas, 2001) yang judulnya berganti menjadi Buku Pintar Sastra Indonesia, Pamusuk melakukan revisi di sana-sini dengan penambahan entri menjadi 1105 entri.

Korrie Layun Rampan yang menyusun Leksikon Susastra Indonesia (Balai Pustaka, 2000) memperlakukan buku Pamusuk sebagai rujukan utamanya. Dengan dasar itu, ia melakukan semacam perbaikan dan penambahan entri berikut penjelasannya. Maka, entri dalam buku Korrie berjumlah 1382 dengan perincian 1231 entri nama orang (sastrawan, kritikus, peneliti dan penerjemah) dan 151 istilah. Demikianlah, setiap buku sejenis yang terbit kemudian, mutlak perlu tidak mengabaikan buku yang terbit sebelumnya. Dengan cara itu, ia akan dapat melakukan revisi, perbaikan, dan penambahan, termasuk di dalamnya melengkapi data dan keterangan mutakhir.

Yang dilakukan Ahmadun Y. Herfanda, dkk. dalam menyusun Leksikon Sastra Jakarta (Yogyakarta: Bentang Budaya dan Dewan Kesenian Jakarta, 2003, xi + 258 halaman) juga seperti itu. Meski tak menyebutkan buku Pamusuk Eneste dan Korrie Layun Rampan sebagai rujukan utamanya, Ahmadun Y. Herfanda, dkk. mendasari penyusunannya atas kedua buku itu. Maka, terhimpunlah nama-nama sastrawan, kritikus, peneliti, dan penerjemah yang lahir atau berkarier di Jakarta dan sekitarnya sebanyak 489 nama, ditambah dengan 13 komunitas sastra, tanpa menyertakan penerbit, suratkabar dan lembaga tertentu. Dengan demikian, jelas bahwa sumber rujukan sangat penting dalam penyusunan buku sejenis itu. Jika ESI tidak mengabaikan sumber-sumber penting seperti buku-buku antologi, kamus, sampai ke buku yang disusun E.U. Kratz, Bibliografi Karya Sastra Indonesia dalam Majalah: Drama, Prosa, Puisi (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1988: x + 903 halaman), niscayalah jumlah halanan dan entrinya akan membengkak jauh lebih besar, dan niscaya pula menjadi lebih berwibawa.

Masalah ketiga menyangkut konsistensi. Jika masalahnya sekadar salah ketik, tentu kita dapat memakluminya sebagai kelalaian manusiawi, meski dalam ESI kelalaian seperti ini cukup menonjol. Periksa misalnya, entri Taufiq Ismail (hlm. 793—5). Secara konsisten kita akan menjumpai satu nama dengan dua penulisan berbeda, yaitu Taufiq Ismail dan Taufik Ismail. Ini hal sepele, tetapi penting mengingat penulisan Taufiq (dengan q) dan Taufik (dengan k) sama banyaknya. Sebagai buku yang diharapkan menjadi rujukan, tentu saja cara penulisan yang seperti itu akan membingungkan pembaca.

Persoalan konsistensi itu juga berkaitan apa yang disebut sebagai rujuk silang. Satu entri yang sama yang menggunakan rujuk silang, mestinya tidak diberi keterangan yang berbeda. Dan itu terjadi cukup banyak. Periksa misalnya, entri alinea (hlm. 41) yang di akhir penjelasannya dikatakan, bahwa nama lain alinea adalah paragraf dan perenggan. Tetapi lihatlah entri paragraf (hlm. 587—9). Ternyata keterangannya berbeda dengan keterangan yang diberikan pada entri alinea. Bahkan, dalam entri paragraf, disertakan pula 14 entri turunannya, mulai dari Paragraf Argumentasi sampai Paragraf Sebab-Akibat. Lalu carilah entri perenggan, dan kita akan menjumpai kesia-siaan belaka. Hal yang sama juga terjadi pada entri dulce et utile (hlm. 236) yang keterangannya agak berbeda dengan utile et dulce (hlm. 826). Untuk dua kasus entri alinea dan dulce et utile, sesungguhnya penyusun akan lebih aman jika menggunakan rujuk silang dengan mengatakan, lihat ….

Kelalaian seperti ini terjadi pula pada entri point of view ( 626—7) dan pusat pengisahan (hlm. 645) yang keterangannya agak menyesatkan. Perhatikanlah keterangan mengenai point of view berikut: “Istilah dari teori cerita atau naratologi yang menunjukkan kedudukan atau tempat berpijak juru cerita terhadap ceritanya. …” (hlm. 626). Bandingkan dengan keterangan mengenai pusat pengisahan berikut ini: “Dari istilah Inggris point of view dan istilah Perancis point of vue. Posisi pengarang di dalam cerita; dari sudut mana si pengarang melihatperistiwa yang terdapat di dalam ceritanya. …” (hlm. 645).

Cukup banyak kekeliruan seperti itu terjadi dalam sejumlah entri lain. Termasuk di dalamnya penjelasan mengenai entri yang bersangkutan. Entri feministis yang dikatakan sebagai “sastra dan studi sastra yang mengarahkan fokus kepada wanita dan hal-hal yang berhubungan dengan persoalan wanita. Aliran ini berkembang sejak tahun 60-an yang lahir sebagai protes terhadap dominasi pria, dan mencari identitas khusus seorang wanita. Di Indonesia boleh disebut nama-nama Marianne Katoppo, Nh Dini, Tuti Heraty, dan lain-lain.” (hlm. 261).

Selain terjadinya cukup banyak keterangan yang mengaburkan, beberapa kesalahan teknis terjadi pada penempatan foto, yaitu foto A.A. Bunggu yang tertukar dengan foto A.D. Donggo, dan foto Asep Sambodja yang tertukar dengan foto entah siapa.
***

Bahwa ESI menghadirkan cukup banyak kelalaian, tentu saja mesti disikapi secara sewajarnya. Beberapa nama penting yang tak dimasukkan ke dalam ESI, seperti Ida Sundari Husen dan Talha Bachmid (penerjemah), Iyut Fitra (penyair), Asma Nadya dan Lilimunir C (novelis), Linda Christanty (cerpenis), dan deretan sastrawan Riau serta para peneliti sastra Indonesia dari Malaysia, anggap saja itu pun sebagai kelalaian manusiawi. Kelaian yang juga terjadi pada nama Yus Rusyana, yang justru menjadi Redaktur Ahli Penyelia ESI ini. Oleh karena itu, bagaimanapun juga, patut kita berpikir positif dan menempatkan kehadiran ESI sebagai hal yang penting dan tentu saja memberi kontribusi yang tidak kecil bagi pencatatan dan pendokumentasian sastrawan Indonesia. Paling tidak, ESI telah cukup banyak memasukkan entri istilah drama, meski juga lalai mencatat nama Ratna Sarumpaet sebagai dramawan dan penulis drama. Niscaya, kelak kita akan melihat, ESI edisi revisi akan tampil lebih tebal, gagah, dan berwibawa.

Satu hal yang harus kita jadikan sebagai bahan sangat penting dari kehadiran ESI ini adalah sebuah pelajaran sangat berharga, bahwa ketergopohan dengan ambisi membuat monumen, cenderung menyisakan cacat yang tak perlu. Mencantumkan tokoh-tokoh penting, termasuk menteri sekalipun, bukanlah sekadar papan nama. Ada tanggung jawab moral dan tanggung jawab profesional di sana. Dalam konteks itu, kita seyogianya masih percaya, bahwa ESI edisi revisi akan segera terbit secara meyakinkan. Ia akan menjadi rujukan terpercaya bagi dunia sastra Indonesia di masa mendatang. Kita lihat saja nanti!
***

_____________________
*) Maman S. Mahayana, lahir di Cirebon, Jawa Barat, 18 Agustus 1957. Dia salah satu penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya dari Presiden Republik Indonesia, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono (2005). Menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FS UI) tahun 1986, dan sejak itu mengajar di almamaternya yang kini menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI). Tahun 1997 selesai Program Pascasarjana Universitas Indonesia. Pernah tinggal lama di Seoul, dan menjadi pengajar di Department of Malay-Indonesian Studies, Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan. Selain mengajar, banyak melakukan penelitian. Beberapa hasil penelitiannya antara lain, “Inventarisasi Ungkapan-Ungkapan Bahasa Indonesia” (LPUI, 1993), “Pencatatan dan Inventarisasi Naskah-Naskah Cirebon” (Anggota Tim Peneliti, LPUI, 1994), dan “Majalah Wanita Awal Abad XX (1908-1928)” (LPUI, 2000).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *