Potret Pemain Sepak Bola sebagai si Malin Kundang

Sunlie Thomas Alexander **
lampungpost.com

APA artinya sebuah bangsa, juga Tanah Air? Sedalam apa pula makna darah yang mengalir dalam tubuh?

Di Provence, Agustus 1944, Said Otmari berjongkok dan meraup segenggam rumput kering. Diendusnya bau rumput itu, lalu mendekatkan ke hidung Messaoud. “Tidak seperti kampung halaman,” kata dia sambil menatap rekan seperjuangannya. Tak jelas ekspresi wajah Messaoud tatkala menjawab, “Tidak. Tanah Prancis memang lebih baik.”

Itulah salah satu adegan dalam Indigenes (versi Inggris: Days of Glory)– sebuah film nominasi Oscar dan pemenang Festival Cannes arahan Rachid Bouchared yang diangkat dari kisah nyata Perang Dunia II.

Said, serdadu bertubuh pendek itu berkukuh memenuhi seruan bergabung dengan 7th Algerian Tirailleur Regiment, kendati ibunya tak mengizinkan. Sebelumnya, kakeknya juga pergi mengikuti panggilan serupa dan tak pernah kembali. Untuk menghadapi Nazi-Jerman, tercatat lebih dari 130 ribu orang direkrut Prancis menjadi prajurit dan 90 persennya muslim. Mereka berasal dari berbagai tanah jajahan Prancis di Afrika: Aljazair, Tunisia, Maroko, Chad, Afrika Tengah, Gabon, dan Kongo.

Seperti apa sebetulnya perasaan mereka yang harus mati untuk sebuah negeri asing yang tak mereka kenal? Apa yang dipikirkan para serdadu dari Afrika itu ketika berbaris melantunkan lagu kebangsaan Prancis dengan penuh gelora? Entahlah, kita tak tahu.

Toh, lebih dari 60 tahun setelah Said dan rekan-rekannya gugur demi “tanah Prancis tercinta”, dalam Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan hari-hari ini, kita pun kembali disergap pertanyaan serupa tatkala menyaksikan Franck Ribery dan kawan-kawan berbaris di lapangan hijau menyanyikan lagu yang sama. Ya, setelah enam dasawarsa, sejarah seolah berulang dalam bentuk yang berbeda, di “medan pertempuran” yang berlainan.

Jika semasa Perang Dunia II, Prancis–yang jadi bulan-bulanan Jerman dan dicaplok wilayahnya dalam sekejap–mau tak mau harus merekrut prajurit dari negeri-negeri jajahannya di benua Afrika lantaran tak punya armada militer cukup besar menghadapi Nazi dan malu cuma berharap bantuan sekutu, apakah kini mereka juga tak memiliki pemain asli cukup mumpuni sehingga mesti memakai begitu banyak pemain naturalisasi yang kebanyakan berasal dari tanah Afrika?

Dari 32 kontestan peserta Piala Dunia 2010, Timnas Prancis memang negara terbanyak menggunakan tenaga naturalisasi. Paling tidak tercatat sekitar 13 pemain naturalisasi memperkuat Les Bleus di Afrika Selatan. Hal ini notabene merupakan ulangan empat tahun silam di Jerman.

Nasionalisme Malin Kundang

TENTU siapa pun bebas memilih menjadi warga negara manapun atas nama kebebasan, hak asasi, penghidupan layak, dan olahraga di era globalisasi ini. Toh, naturalisasi legal dan sah di mata hukum. Sebab itu, kendati mereka adalah para Malin Kundang yang memilih melupakan ibu pertiwi, mereka takkan dikutuk sebagai pengkhianat. Di sinilah, walau patriotisme senantiasa diuji di lapangan, sepak bola adalah soal profesionalitas yang membuat nasionalisme ternyata bisa begitu lentur. Tengok saja, bagaimana keprofesionalan seorang pelatih seperti Guus Hidink–meski tak berganti warga negara–membawa Rusia hingga ke semifinal Piala Eropa 2008 tanpa canggung menjungkalkan timnas negaranya di babak perempat final.

“Saya takkan menyerah meski sadar Brasil adalah tanah kelahiran kami. Kami adalah pemain profesional dan akan bersikap seperti itu saat menghadapi Brasil,” demikian ujar Deco pemain Portugal berdarah Negeri Samba. Bahkan Jerman, biang rasisme dalam Perang Dunia II, kini tak segan menaturalisasi pemain-pemain berbakat dari bangsa lain semata-mata demi kepentingan sepak bola. Di Tim Panzer itu sekarang minimal ada delapan pemain naturalisasi, termasuk pemain kulit hitam Jerome Boateng dari Ghana. Miroslav Klose contohnya, mengaku memilih jadi pasukan Der Panzer lantaran Jerman memiliki reputasi lebih baik, meskipun Timnas Polandia (negeri kelahirannya) ingin menggaetnya.

Sekarang, adakah sepak bola telah sungguh-sungguh melenyapkan rasisme, superioritas, dan eksklusivisme sempit tersebut?

Mungkin belum. Pada Piala Dunia 1998, konon para politikus fanatik sempat menyerang Aime Jacquet karena dianggap memberi tempat terlalu luas kepada pemain imigran di Timnas Prancis. Menurut mereka, orang Prancis asli lebih berhak memperkuat Les Bleus karena hanya merekalah yang mengerti apa itu membela tanah air. Kendati kemudian terbukti berkat jasa dan prestasi para pemain keturunan imigran dan naturalisasi, Prancis bisa menjuarai Piala Dunia 1998, Piala Eropa 2000 dan runner up Piala Dunia 2006. Dan tentu saja semua tahu, Zinedine Zidane, bintang besar andalan Prancis, pemain terbaik 2006, adalah keturunan Aljazair.

Said, Kopral Abdelkadir, Yassir, Messaoud jelas punya cita-cita ketika berjuang di bawah bendera Prancis. Mulai dari harapan bisa beranjak dari jurang kemiskinan, meniti karier dalam kemiliteran, sampai menikah dengan gadis Marseille. ?Tanah Prancis memang lebih baik,? kata Messaoud, lelaki Aljazair yang gugur di perbatasan Jerman itu.

Untuk ini, seperti kata Adonis–yang dikutip Goenawan Mohamad–pengertian tanah air bukan lagi dalam scope geografis, melainkan dalam kaitannya dengan hakikat kemanusiaan: sebuah tanah air adalah tempat menumbuhkan kehormatan. Meminjam Ali bin Abu Thalib, Adonis menyatakan: “Tak ada negeri yang lebih patut bagimu ketimbang negeri lain. Tanah utama adalah yang melahirkan kamu dengan baik.” Dengan demikian, bagi legiun asing itu sebuah tanah air adalah sebuah masa depan yang dicitakan.

Maka Abdelkadir pun mencoba percaya pada perwira tinggi yang mengatakan kepadanya bahwa seluruh Prancis akan menyaksikan dan menghargai mereka. “Ada apa dengan kalian? Tidakkah kalian mengerti? Apa yang kita lakukan hari ini, menentukan pandangan orang-orang Prancis terhadap kita!” katanya ketika kawan-kawannya yang tersisa menolak maju saat empat orang tewas dan Sersan Roger Martinez terluka parah oleh ranjau darat di sebuah kawasan hutan bersalju Alsace. Ia juga menolak selebaran Nazi dalam bahasa Arab yang berisi ajakan menyeberang.

Ah, di kala negara-negara dengan akar rasisme panjang seperti Jerman, Prancis, Italia berlomba-lomba menaturalisasi pemain asing dan meletakkan harapan di bahu para keturunan imigran, tiba-tiba saya menjadi teringat pada nasib Hendrawan, Alan Budikusuma, dan Susi Susanti yang mengharumkan nama bangsa Indonesia di berbagai turnamen bulu tangkis kancah internasional. Tetapi saat mengurus paspor, mereka masih saja diminta menunjukkan SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia) yang notabene telah dicabut lewat Keppres No. 56/ 1996. Padahal ketika itu Alan dan Susi harus mewakili Indonesia menjadi pembawa obor Olimpiade Athena Yunani?

Ada apa dengan negeri ini? Lebih rasiskah dari negara-negara Eropa bekas imperialis? Entahlah.

* Judul tulisan ini terinspirasi judul buku kumpulan puisi Goenawan Mohamad, Potret Seorang Penyair Muda sebagai Si Malin Kundang (1972).

**) Cerpenis dan Periset Parikesit Institute Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *