Rupa-Rupa Celeng Seni Rupa

Muhidin M. Dahlan*
http://www.jawapos.co.id/

JUNI bukan hanya bulan hujan seperti dalam puisi liris Sapardi Djoko Damono, tapi juga bulan celeng. Dua kali politik nasional menjadikan celeng sebagai pusaran kontroversi. Celeng pertama terkait dengan usul Partai Golkar ihwal dana aspirasi setiap anggota DPR Rp 15 miliar untuk daerah pemilihannya. Di Amerika Serikat dana itu dinamakan ”gentong babi”. Di Congressional Pig Book biasanya diurutkan daftar proyek gentong babi, nama legislator dan partai pengusulnya, serta nilainya.

Celeng kedua saat polisi marah-marah pada sampul majalah Tempo edisi 28 Juni-4 Juli 2010: Rekening Gendut Perwira Polisi. Di sampul itu tampak seorang perwira sedang menggiring celengan babi. Lihat, sudah celeng, babi pula. Babi = celeng.

Di dunia seni rupa, ada dua perupa yang menjadikan celeng-yang-sama-dengan-babi itu sebagai medan eksplorasi kreatifnya. Perupa pertama Djoko Pekik. Perupa kedua Putu Adi Gunawan. Yang satu sudah uzur, yang satunya lagi masih muda. Tapi, celeng dua-duanya gempal dan bulat seperti dua watak celeng novelis Inggris George Orwell dalam Animal Farm.

Sama dengan Orwell, Djoko Pekik melabeli celeng sebagai makhluk licik, kotor, serakah, mau kenyang sendiri, dan hidup dalam komplotan. Alkisah, saat memperingati sewindu jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono X pada 10-16 Desember 1996, perupa-perupa Jogjakarta diminta melukis tema Tahkta untuk Rakyat. Djoko Pekik pun datang dengan lukisan Susu Celeng. Dalam lukisan itu, tampak seekor celeng betina raksasa tengah ngodhog walau perutnya sudah menggendut dan menggelembung, sementara susunya sudah menetes-netes. Walaupun demikian, kepalanya masih menyeruduk-seruduk seperti belum kenyang. Tanah di bawahnya penuh darah. Sementara di seberang sana, ada ribuan manusia berbaris. Maunya mengepung, tapi ada jarak yang terlalu jauh. Mungkin takut.

Alasan Pekik waktu itu, seperti dikatakannya kepada esais Sindhunata, memberikan contoh dengan contoh yang jelek. Kalau mau jadi raja, jadilah celeng, dan akan tahu akibatnya. Jika tak bertanggung jawab, dia akan menjadi raja celeng.

Dalam mitologi masyarakat Jawa dan Sunda, celeng menjadi makhluk mistis dengan citra buruk. Namanya babi ngepet atau bagong liyer. Di kampung Pekik, desa Karangrejo, Purwodadi, celeng jadi-jadian itu dinamakan celeng gontheng. Celeng tersebut sangat besar, menakutkan, berbau roh jahat, berkeliaran pada waktu malam.

Sindhunata ketika mengantarkan katalog pameran tunggal Djoko Pekik di Bentara Budaya Jogjakarta, 16-17 Agustus 1998, menggambarkan celeng gontheng itu begini: rakus, bisa makan apa saja (ketela atau padi), lalu membawanya pulang ke rumah untuk dijadikan makanannya sendiri dan keluarganya. Si celeng gontheng itu juga bisa menyedot uang orang lain habis-habisan untuk memperkaya diri sendiri. Suka sekali celeng ini mendatangi hajatan karena di sana banyak uang atau barang hasil sumbangan.

Masyarakat desa benci sungguh mati kepada celeng itu. Pekik juga. Meski susah ditangkap, walau badannya kelewat bulat dan tambun karena keserakahan yang menahun, masyarakat tak boleh putus asa. Toh celeng itu jadi-jadian. Celeng itu manusia yang bisa digotong dengan mudah.

Karena itu, hanya dua tahun setelah mengeluarkan lukisan Susu Celeng, dia menghadirkan Indonesia 1998 Berburu Celeng. Lukisan itu tidak hanya menjadi fenomenal karena harganya (Rp 1 miliar), tapi juga penggambarannya saat celeng besar dan raksasa itu dapat ditangkap dan ditandu rakyat dengan sebatang bambu. Kakinya diikat terbalik. Mulutnya dicencang dengan tali. Celeng tersebut sungguh terhina dan nista.

Tapi, celeng menjadi lain dalam belasan patung perunggu Putu Adi Gunawan (PAG) yang pernah dipamerkan di Syang Art Space, Magelang, 12 Desember 2009-5 Januari 2010 atau lebih satu dekade dari pameran celeng Pekik. Pekik lahir tatkala otoritarianisme tumbang, sedangkan PAG berada di periode emas liberalisme politik yang dilahirkan reformasi.

Celeng-celeng PAG bersahabat, seperti dalam salah satu karyanya: Friendly Hugging. Seorang figur manusia pendek, tambun, berambut bulat, sedang menggendong celeng yang juga tak kalah bunteknya. Tak ada kesan kotor dan gahar. Tubuhnya memang tambun, tapi sangat dekat, menggemaskan. Celeng itu bisa diajak sebagai teman tidur yang menghangatkan (Di Tepi Mimpi). Sama sekali celeng PAG tak mengancam dan bisa menjadi teman bermain yang mesra bagi anak-anak (Babi tapi Mesra). Bisa juga menjadi teman saat jalan-jalan memutari kompleks perumahan, sebagaimana anjing (Carrying A Living Bank).

PAG membawa tafsir budaya lain tentang celeng. Bagi budaya Pekik, celeng adalah metafora kerakusan, tapi bagi PAG yang memang sejak kecil hidup dari peternakan celeng di Parigi, Sulawesi Tengah, celeng adalah simbol kemakmuran.

Sudah jadi pemandangan sehari-harinya melihat celeng dikandangkan, celeng kawin, celeng bertarung, celeng dinaikkan di atas truk untuk diangkut ke Manado. Ekonomi perdagangan celeng itu juga yang mengantarkan perupa tersebut belajar seni di Jogjakarta.

Memang, sewaktu Biennale Jogja X, 10 Desember 2009-10 Januari 2010, di Sangkring Art Space, PAG menampilkan empat orang manusia berjas hitam bertopeng celeng sedang menggotong seekor celeng putih tak berdaya dengan sepotong bambu kuning. Tampak berbahagia sekali. Mungkin sedang ke pasar jagal. Atau bisa jadi ini jawaban atas celeng sangar dan rakus milik Pekik. Mereka membawa celeng itu sebagaimana membawa domba ke pasar untuk transaksi biasa, dan tidak untuk dihakimi massa beramai-ramai.

Kita tak tahu. Tapi, dua wajah celeng itulah yang kerap muncul dalam masyarakat. Yang baik dan buruk. Dua-duanya pun sekaligus dimunculkan oleh George Orwell dalam sebuah drama politik yang satire bertitel Animal Farm.

Fabel tipis itu adalah satire yang pedas atas humanisme babi tua bernama Mayor Tua yang kasih sayangnya diselewengkan oleh generasi penggantinya yang dipimpin commandante Napoleon. Mayor Tua, walaupun taringnya panjang, tetaplah seekor babi berparas agung, baik, dan bijaksana, serta meninggalkan nilai-nilai hidup yang kemudian dikenal dengan Binatangisme. Tapi, dia tewas tertembus peluru di malam jahanam saat memimpin kuda, angsa, ayam, bebek, sapi, gagak, kambing, melakukan pemberontakan kepada manusia pemilik peternakan.

Namun, pemberontakan itu berhasil gemilang. Sebuah korpus, sebuah masyarakat baru terbentuk: ”Pertanian Binatang”. Tampillah Napoleon menggantikan Mayor Tua sebagai pimpinan. Hal yang pertama dilakukannya adalah membuat traktat -semacam undang-undang dasar. Atau barangkali sumpah binatang. Tapi, masyarakat binatang ini menamainya ”Tujuh Perintah”: (1) apa pun yang berjalan dengan kaki adalah musuh; (2) yang berjalan dengan empat kaki atau bersayap adalah kawan; (3) binatang tak boleh berpakaian; (4) tak boleh tidur di atas tempat tidur; (5) tak boleh minum alkohol; (6) tak boleh membunuh sesama binatang; dan (7) semua binatang sederajat.

Karena wataknya yang rakus dan licik, justru sumpah itu dimanipulasi Napoleon untuk kepentingan diri sendiri. Perintah itu hanya berlaku kepada warganya, bukan dirinya.

Yang pertama dilakukannya adalah menciptakan represi wacana lewat peribahasa yang mesti dipatuhi semua binatang: ”Aku akan bekerja lebih keras dan Napoleon selalu benar.” Agar langgeng, semua binatang dibiarkan buta huruf, kecuali sesama babi yang bisa membaca sempurna. Si kambing Muriel lebih baik. Si kuda pekerja Boxer tak lebih sampai huruf D. Ayam dan bebek tak pernah melewati abjad B.

Dengan dalih macam-macam, Napoleon membangun kerja sama rahasia dengan manusia dari peternakan yang lain saat melakukan transaksi kayu sisa pembangunan. Ketika binatang lain tidur di atas rumput kering, celeng Napoleon bersama ajudan-ajudannya tidur di atas kasur dan berselimut hangat. Juga, sesekali pesta minuman beralkohol dan menimbun susu perahan dari sapi yang mestinya dibagikan kepada pekerja yang siang-malam mengerjakan proyek mercusuarnya: Kincir Angin.

Di tangan Napoleon, kesetaraan derajat hanya utopia sebelum revolusi subuh meletus. Setelahnya, Napoleon membungkam pengkritiknya. Rapat hari Minggu yang dipenuhi perdebatan dihentikan dan sekadar upacara ikrar sembah-sumpah. Yang melawan akan disingkirkan. Tak peduli dia babi atau bukan. Beberapa kawan sesama korps revolusi subuh diusir dan bahkan si kuda pekerja Boxer dijual ke penjagalan dengan dalih diobati di rumah sakit hewan.

George Orwell pada akhirnya memenangkan Napoleon sebagai penguasa baru yang gemuk, sebagai model baru bagi kepemimpinan celeng di Pertanian Binatang. Djoko Pekik dalam Berburu Celeng memang tak memperlihatkan celeng itu dibunuh beramai-ramai. Hanya ditangkap dan diarak. Putu Adi Gunawan apalagi.

Celeng-celeng itu adalah manusia dan perwatakannya. Barangkali saja celeng gontheng Pekik itu sudah terlepas bebas dan berkeliaran di era liberalisme politik ini. Atau mungkin saja anak-anak yang disusuinya sudah besar dan pintar-pintar sebagaimana kita dikagetkan tiba-tiba masyarakat kita digegerkan dengan munculnya wacana celeng pada bulan Juni. (*)

*) Pemimpin riset Gelaran Almanak Seni Rupa Jogja 1999-2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *