Sajak-Sajak Kurniawan Yunianto

MATA SIAPA

seperti awan makin pekat
makin gelap makin padat
kian berpetir kian berkilat

seolah kacakaca yang rapuh
tetes pertama nyaris runtuh

rindu yang kini punya mata
berbekal selembar tisue
memandang jalan pulang

24.03.2010

DI AKHIR MALAM

mata pejam hitam bercahaya
s e n t o s a

03.04.2010

SAAT MENEMU BETAH

dinding beratap
berpintu berjendela
beberapa ruang
dengan kursi meja
dan tilam di atas ranjang

menyimpan keluh lenguh tubuh
keringat tawa juga airmata
lalu nyaris segala rasa
segera akan menjadi usang
lesap pada lantainya
yang dingin

yang kadang kita lebih memilihnya
ketimbang ranjang basah
sebagai tempat rebah
tempat istirah dan tetirah
saat malam menciumi diri kita
dengan gelap dan heningnya

bikin hasrat
segera menanak nasi
menjerang air membuat wedang kopi
sebagai bekal pagi
untuk membawa pulang matahari

yang kini kian renta
tapi masih saja setia
menyalakan lampu beranda
menjadikannya isyarat kembali
bagi para pencari

masihkah pengin pergi ke siang
yang kau sangka selalu benderang

01.04.2010

IBU DALAM TIDUR ANAK LELAKI

dari balik selimut
tidur yang membatu
yang selalu bungkam
dari kenyataan dari hidup
menunggu kematian

bertahun memandangmu
senyap ! penyap !

perempuan tua
bersimbah darah wajahnya
bersimpuh di tepi liang kubur
yang entah milik siapa

tak ada suara
hanya airmata merah muda
terlihat samar mengalir
pada keriput yang terukir

begitu memelas begitu memeras

musim berganti cuaca
sang suami entah ke mana
barangkali ditelan kota
yang melahirkan anak lelakimu
menjadi biadab sekarat

yang menyala matanya
menggenapkan umur
di tiap tidur
sembari tak henti memanggil

namamu namanya
dan namanya sendiri

29.03.2010

KE RUMAH

jika kau memang rumah
pasti tak kan ke manamana
sekian jarak hanya butuh arah
jalan pulang tak akan lupa

barangkali rumput ilalang
kini rimbun di pelataran
setapak batu menuju pintu
masihkah licin di musim hujan

biarlah di sudut tiap ruang
labalaba membangun sarang
sekian waktu tebal oleh debu
kau tampak kusam begitu kelabu

sendirian di atas bukit
melewati nyaris semua rasa sakit

purnama ke tujuhpuluh
kau makin renta kian rapuh
dan perjalananku baru separuh tempuh

bertahanlah sayang
sepetak lubang di halaman belakang
masih cukup lebar dan dalam
tubuh ini hanya butuh rebah
tertanam di tanah

aku akan segera menjemputmu
kali ini benarbenar Pulang

28.03.2010

MEMINTA UDARA

udara yang terhirup itu sayang
yang katanya membuat kita hidup
bukankah telah kita curi
sejak kita lahir hingga saat ini
lalu dengan bahagia kita menari
berloncatan ke sana kemari
seperti tak pernah terjadi sesuatu
yang bikin jengah ataupun tersipu
masih saja kita terus berlari
terengahengah tak pernah henti

lalu ada yang bilang sayang
itu pemberian tuhan kepada kita

aha ada yang masih punya tuhan

heiii boleh aku minta
s a t u s a j a

27.03.2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *