Sajak-Sajak M. Aan Mansyur

http://www.lampungpost.com/
Masalah Masa Lalu: Catatan dari Masa Depan Ayahku
: kepada Safinah, ibuku

lantai tidur kedinginan. kau lihat itu dari mata
seekor burung yang termenung di ranting
yang tangannya memegang terali jendela
maka kau hamparkan selimutmu ke tubuh
lantai. kau tidak ingin burung itu murung
dan mati. kau merindukan sayapnya
masih mengepak-ngepak besok pagi
sementara tubuhmu yang telanjang
telentang di ranjang yang menyudut
di kamar sangat berwarna abu-abu itu
kau percaya dari dalam mimpi akan ada
tangan menjulurkan doa sehangat pelukan
tanganku?
bagian lain dari tubuhmu hanya menumpang
di senyummu. senyum itulah yang menampung
hidup. seluruh angin yang melintas menghirup
nyawa mereka dari situ. begitu pula setiap harap
yang nyaris putus milik pejalan kaki yang melihat
kau duduk menghadap jendela
lihatlah, anak panahku yang menancap di dadamu
kecewa. ia cuma mengotori dirinya dengan darah,
padahal ia menghendaki kejernihan airmata.
dan tangga-tangga yang mendaki tubuhmu
telah menjatuhkan setiap kaki yang membawa
pemburu. siapa sesungguhnya yang kau tunggu?
aku sudah mati berkali-kali namun senyummu
selalu bisa membongkar petiku?meskipun
aku telah menguncinya dari dalam
di samping jendela kau duduk membiarkan
kepalamu mengepul-ngepulkan asap dari dapur
di dadamu yang selalu sibuk memasak rahasia
sore itu langit baik-baik saja.
ada banyak layang-layang yang sedang
bermain di udara. satu layang-layang
menjulurkan ekornya meminta gunting
kau malu-malu dan malah mengelus-elusnya
seolah itu rambut dan kau jatuh cinta
kepada pemiliknya
sejumlah batu di atas meja, teman-temanmu,
yang kau ajak bercakap sejak pagi terharu
tapi mereka merasa bersalah tak tahu menangis
apakah kau tak pernah mengajari mereka?
kau selalu terbuka seperti stasiun.
di tubuhmu tumbuh semua jenis pelukan:
selamat jalan atau selamat datang
sebab aku meninggalkan diriku
sebanyak aku mengunjunginya
kau selalu robek seperti sehelai karcis
demi mengantar aku pergi ke mana pun
kemudian kembali sekali lagi
dan kemudian tidak lagi
angin yang datang dari jauh itu membawa sehelai
saputangan lusuh: helai angan yang pernah kau lepaskan
mencari masa lalu yang dulu mencuri hidupmu
saputangan itu dipenuhi kupu-kupu dan ajal
mengerubungi sayap-sayap mereka yang rapuh
kupu-kupu itu menjatuhkan telur-telur bening
ke perawan payudaramu, sepasang bukit
mata air sungai susu surga
ini terakhir kali, katamu, kau tabahkan tubuhmu
menjadi kepompong. setelahnya kau ingin mati
kupu-kupu baru akan kau biarkan terbang
sejauh-jauhnya dan angin tak akan mampu
menemui dan mengembalikan mereka lagi
ke bunga-bunga yang tumbuh di makammu
apa yang paling menyentuh
yang mampu dimimpikan kepalamu?
“kepalaku memiliki ribuan mata lampu
jalan yang sudah berkali-kali mati tapi
tak seorangpun tega mengubur mereka.”
aku tahu. cahaya yang aku lihat bangun
saban petang itu adalah hantu-hantu,
memata-matai tungkai tiap pejalan
yang melintasi sepi mereka sendiri.
hantu-hantu itu kau kendalikan
untuk menyeret jalanku kembali
ke sisa usiamu yang menunggu
mata pisau atau tali mencintai lehermu. semua
yang mampu melukai jatuh cinta pada lehermu.
aku juga. tapi putih lehermu tak pernah pucat.
cinta tidak akan bisa membuatnya patah
kau percaya: cinta adalah mata air air mata.
tapi aku tak pernah melihat ada yang jatuh
dari matamu kecuali cahaya. sementara
di sini alangkah sakit aku menyakitimu
di dalam mimpi segelap apapun di sana
selalu ada sebatang pulpen yang mampu
mencatat setiap nama atau kehidupan
bahkan kehidupan yang sudah mati
tetapi di dalam mimpimu tinta pulpen itu
hanya jatuh cinta kepada satu nama,
nama yang melukaimu: aku
akan kau apakan catatan-catatan
dengan huruf selalu dalam urutan
yang sama? bagiku itu hanya bebiji obat
yang tak akan habis dan rutin harus ditelan
sementara aku tak akan sembuh, aku sudah
terkubur di masa depan dengan rasa sakit
menahun setelah menyakitimu berkali-kali
bertahan sendiri bertahun-tahun di masa lalu
telah mengubahmu menjadi seorang peramal
“pada akhirnya burung-burung akan memilih
disangkarkan daripada dilepaskan ke udara.
dari beranda, di kepala atau di manapun kau
gantungkan, kicaunya akan memintal benang
yang bening untuk menambal luka di dada.”
“pada akhirnya setelah hamil berbulan-bulan
telur hanya akan melahirkan mesin-mesin
berkarat yang akan tumbuh jadi anak-anak
yang tak tahu apa-apa kecuali menyakiti.”
tetapi jari-jarimu hanya mampu menjangkau
jarak yang tak seberapa?tidak akan sampai
ke masa depan yang menyimpan aku

10
ada tiga sangkar yang selama ini kau rawat
seperti anak-anak yang menamaimu ibu
satu sangkar berisi sebatang pohon mandul
(padahal kau merindukan buah yang mampu
mengembalikanmu ke surga) dan burung-burung
yang sering menatapmu di rantingnya sekarang
senang hidup di dalam bingkai kaca di dinding
sangkar kedua berisi segumpal awan yang tidak
pernah menangis, yang melarikan diri dari langit.
dia tidak suka berada di ketinggian sejak kau
selalu menunggu ada sesuatu yang jatuh
sementara sangkar lainnya, tubuhmu,
berisi aku dan perihal lain yang tak bertemu
secelah jendela untuk kembali ke masa lalu

11
kau semakin tua, kau semakin tua
namun masa lalu di kepalamu semakin muda
umpama remaja baru terluka oleh cinta pertama
masa lalu tidak membutuhkan vitamin
untuk sehat dan kosmetik untuk cantik
aku tahu untuk itulah kau membangun kincir
di kepalamu untuk menghalau masa depan
yang akan datang menghancurkannya
antara masa lalu yang kau pelihara
dan masa depan yang menyesatkan aku
ada seutas tali yang tak bisa dilalui apapun
setiap kabar atau rindu yang meniti di situ
akan jatuh dan tak sampai?tetapi mengapa
kau tak juga mengguntingnya?

12
kau sudah meluruhkan seluruh pakaian
berwarna putih pengantin yang kau kenakan
di masa lalu. sepasang bibirmu hari ini hitam
sewarna kain yang menutup mata dan tubuhmu
kau ragu menopang dadamu yang berat
seolah ada benda-benda yang akan jatuh
dari situ tetapi kau ingin menyentuhnya
sekali lagi sebelum pecah membentur lantai
tak ada, tak ada yang bergetar sama sekali.
bayanganmu melekat di dinding seperti lukisan.
angin telah berada di luar jendela sejak pagi.
tempat tidur, meja dan kursi, sangkar-sangkar
dan mahkotamu yang membentuk rupa-rupa
mimpi sudah rela menjadi penghuni museum.
tapi kau hendak ke mana dengan mata
tertutup sesungguhnya?

————–
M. Aan Mansyur, lahir di Bone, 14 Januari 1982. Sehari-hari bekerja sebagai pustakawan di Kafe Baca Biblioholic di Makassar. Kumpulan puisinya Hujan Rintih-Rintih (2005), Aku Hendak Pindah Rumah(2008), dan Cinta yang Marah (2009).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *