Susan

Isbedy Stiawan Z.S.
http://www.lampungpost.com/

PADA hari kesembilan dari pertemuanku yang pertama dengan Susan, sehabis isya kami berjumpa lagi di tempat sama–perjumpaan tanpa sengaja. Kutegaskan tidak sengaja, sebab tanpa didahului dengan perjanjian karena aku tak pernah menghubunginya melalui telepon selular sekadar helo. Apalagi sampai saling mengirim pesan pendek. Bahkan aku hampir saja sudah lupa dengannya, lupa dengan pertemuan kami pertama kali, Rabu malam lalu.

Kini Jumat malam. Aku ingin mencari-cari suasana lain, setelah seharian bekerja dan rasanya membosankan hanya menghabisi waktu malam ini sebelum ke peraduan. Lalu kupilih tempat itu, sebuah taman kota yang setiap malam selalu banyak dikunjungi warga kota. Taman ini, pada 18 Agustus 1945, pernah dijadikan tempat apel akbar para pejuang untuk membacakan teks proklamasi kemerdekaan. Teks proklamasi yang dibacakan Soekarno-Hatta ditulis ulang secara kilat dari mendengar di radio pemerintah.

Inilah taman kota yang dipertahankan dan dilindungi oleh seluruh warga tatkala pemerintah hendak menyulapnya jadi pasar modern terbesar dan termegah. Warga yang didukung oleh kelompok swadaya mandiri, pemerhati lingkungan hidup, pecinta taman kota menyatukan visi untuk menentang rencana pemerintah provinsi untuk “meremajakan” kawasan itu, dengan cara menukar guling dengan lahan di pinggiran kota. Alasan menentang kebijakan pemerintah itu, disebabkan kawasan itu sudah menjadi icon daerah ini. Selain itu, jika kawasan itu disulap menjadi area pasar modern, lalu di mana lagi ruang hijau terbuka bagi warga kota?

Salah seorang pelukis asal dari daerah ini dan kini sudah terkenal di Jakarta, pernah menyatakan di media lokal agar pemerintah menjadikan kawasan ini sebagai ruang kontemplatif. Pemerintah harus menjaga agar nilai-nilai sejarah perjuangan masyarakat di daerah ini tetap abadi. “Jangan sampai demi kemajuan kota, lapangan yang sudah menyimpan sejarang bagi perjuangan kemerdekaan ditumpas habis,” kata pelukis itu yang pernah kubaca di media lokal.

Taman kota. Bukan saja jadi sebuah ruang hijau terbuka bagi warga, juga dimanfaatkan untuk mencari nafkah bagi para pedagang sekoteng, jagung bakar, rokok, dan minuman–baik minuman biasa ataupun beralkohol. Warung-warung yang berjajar di sepanjang jalan pinggir taman, siapa pun tahu, adalah rendezvous bagi penjaja berahi dan para hidung belang. Kawasan ini kerap dirazia, dan ternyata paling banyak menggaruk prostitusi dan pengunjung yang abai membawa kartu tanda penduduk (KTP). Dan aku selalu berulang mengecek dompetku apakah tertinggal sebelum berangkat, karena di dalam dompetku bersemayam KTP, SIM, ATM, dan surat-surat lain.

Dia duduk di penjual jagung bakar manis. Di meja di depannya sudah tersaji beberapa buah jagung bakar dan minuman botol. Mas Agus, pedagang jagung, menyambutku dengan senyuman. Kemudian matanya berkedip ke arah Susan. Aku mengangguk. Memesan dua buah jagung bakar dan minuman kaleng. Meletakkan sebungkus rokok beserta korek gas kesayanganku di meja, persis di dekat tangan Susan. Aku berharap ia terusik, lalu melirik.

Ternyata tidak. Dia asyik menikmati sebuah jagung bakar yang belum habis. Tak ada rokok yang terjepit di antara jari telunjuk dan tengah tangan kirinya. Ia juga masih belum melihatku. Dingin.

Aku mendehem. Ia tak acuh. Aku sengaja menyenggol meja agar bergeser dan dia kuharap terganggu atau kaget, lalu melihatku dan tersenyum, kemudian menyapa: “Malam….”

Tak juga. Aku sabar. Jagung bakar pesananku disorongkan pedagang ke depanku. Sengaja kubesarkan suaraku, ketika mengucapkan: “Terima kasih, Mas. “Akan tetapi, Susan tak juga terusik. Jangan-jangan dia sudah tak mengenalku. Mungkin saja dia lupa dengan wajahku. Boleh jadi, sejak pertemuan pertama delapan hari lalu, karena sudah banyak yang ia jumpai sehingga wajahku tak lagi mengekal di benaknya? Boleh jadi.

Di sebuah tempat keramaian seperti ini, di mana orang-orang bisa lalu-lalang, datang dan pulang, serta berganti-ganti orang. Maka setiap orang bisa saja tak mengenal atau tak dikenal. Bahkan sesama pengunjung yang mungkin tiap malam ke tempat ini, sulit menghafal atau mengingatnya. Kalaupun ada tegur sapa atau obrolan, itu tak lebih cuma basa-basi. Lebih baik basa-basi ketimbang sumpah seranah. Pikirku.

Karena itu, tatkala perempuan yang pernah kukenal delapan malam lalu dan kami sempat mengobrol cukup lama, seraya diselingi banyolan, kritikan terhadap pemerintah, kasus Century yang kini nyaris tak lagi digubris, sampai pula bicarakan soal impian lelaki-perempuan ideal di mata masing-masing.

“Juga…. itu sebabnya, kau masih sendiri?” tanyaku kemudian waktu itu.

Susan mengangguk.

“Karena itu pula kamu hati-hati mencari perempuan untuk pasangan hidup?” dia balik bertanya, setelah terdiam beberapa detik.

Aku mengiyakan.

“Seandainya dua orang yang lain jenis bertemu, dan keduanya belum punya teman intim…. lalu apakah keduanya bisa saling mengerti untuk mencintai?”

“Saya tak bisa mengandai-andai. Aku orangnya realistis…” sergah dia.

“Baik, kalau tak mau berandai-andai. Bagaimana menurutmu, jika suatu pertemuan lelaki dan perempuan lalu keduanya saling mengetahui bahwa masing-masing masih belum punya kekasih. Apakah keduanya bisa memulai untuk mengenal lebih dalam?” aku berucap dengan memilih cara ucap yang lain.

“Maaf saya tak berani komentar, apalagi hanya pakai ukuran menurut. Menurut siapa? Menurutku, menurutmu? Itu masih tidak pasti. Saya inginnya realistis. Hidup ini adalah kenyataan, penuh dengan realitas-realitas….”

“Tapi jangan lupa, hidup ini juga dipenuhi kemungkinan-kemungkinan. Lalu, bukankah ini sama artinya prasangka, berandai, menduga, dan menurut ini itu?”

Dia diam. Menarik napas lalu mengempaskan ke udara.

“Boleh saya ambil rokokmu? Untuk menghapus rasa dingin….”

Aku mempersilakan. Dia mengambil sebatang rokok. Kusorong korek yang sudah kuhidupkan apinya. Susan mendekatkan rokoknya yang terselip di bibirnya. Aku sangat hati-hati menyalakan rokoknya. Hati-hati agar tak terpecik api lalu mengenai bibirnya yang mungil, yang dihiasi pewarna bibir. Ah, sekiranya aku bisa… Gila! Aku tak boleh berkhayal, apalagi hal-hal yang merusak pikiranku.

“Kuamat-amati kamu seperti orang yang biasa merokok, ya?”

“Ah, apakah cara merokok harus ada keahlian. Biasa dan berpengalaman?”

Aku menggeleng. Rasanya aku jadi si bodoh di depan perempuan ini.

Dan, itulah kebodohanku yang kesekian: aku lupa menanyakan alamat rumahnya. Aku juga tak berani menawarkan untuk mengantarnya pulang. Sebagai lelaki, seharusnya kutunjukkan kejantananku dengan menawarkan diri mengantar. Seakan-akan aku mampu melindunginya…

YA. Kini aku jumpa lagi. Susan mulai menggeserkan bangkunya. Aku sengaja bergerak, menggeser sedikit. Agar dia melihatku, karena aku seolah-olah khawatir terkena tubuhnya. Benar. Dia melihatku. Hanya senyum.

“Malam,” aku memulai.

Dia tersenyum. Mengangguk.

“Bukankah kau Susan?”

“Benar. Kenapa? Mungkin aku mirip dengan temanmu?”

“O tidak… maaf, aku mau tanya: Apakah kita pernah bertemu delapan malam silam?”

Susan mulai mengerutkan dahinya.

“Mungkin ya. Tapi di mana?”

“Di sini juga,” kataku cepat. Kupanggil penjual jagung bakar, untuk memastikan.

“Mas pekan lalu saya ke sini kan? Mengobrol dengan Mbak ini, kan?”

Pedagang jagung itu mengangguk.

“Benar kan?”

“Mungkin ya.”

“Bukan mungkin, tapi kita benar-benar pernah bertemu. Di sini. Kita bahkan sempat ngobrol…”

“Ah, maaf. Bagaimana anggap saja kita baru jumpa malam ini? Aku malas mengingat-ingat sesuatu yang sudah lalu.”

“Baiklah….”

Tetapi aku benar-benar penasaran. Susan benar-benar menghapus kenangan, bahkan boleh jadi setiap yang pernah ingin mengekal di benaknya. Dia selalu ingin membuka lembaran baru. Halaman yang pertama, kemudian dirobek. Dia buka lagi buku dan dibuka halaman pertamanya, namun bukan untuk ditulis setiap kenangan yang mampir. Hanya dibiarkan tanpa noktah tinta.

Aku jadi benar-benar ingin tahu. Sayangnya ketika aku ingin lebih dekat, dengan menawarkan diri untuk mengantarnya, dengan santun dia menolak.

“Tak usah, saya tak ingin merepotkan orang…”

“Aku rasa aku tak repot. Aku juga tak lagi diburu-buru waktu. Boleh aku antar?”

Dia menggeleng.

“Besok malam kita jumpa lagi kan?” tanyanya. “Aku suka ngobrol, aku menyukaimu karena mau menemaniku…”

“Hanya itu?”

“Untuk saat ini kujawab ya. Kuharap kau tak kecewa,” ujar Susan.

Aku menggeleng. Inilah gelengan kepala yang pertama dariku selama dua kali bersama Susan. Karena selalu aku mengangguk atau mengatakan “ya” di hadapannya. Sepertinya aku sangat khawatir dia tersinggung jika aku menggeleng.

Ah….

SUDAH tiga jam aku menanti. Sudah lima jagung bakar kusantap dan dua kaleng minuman kureguk. Susan tak juga datang.

“Mungkin dia lupa, Bang…. Atau jangan-jangan…”

“Jangan ngomong yang tak pasti ah! Hanya kira-kitra, mungkin, atau jangan-jangan. Itu pernyataan dari orang yang bimbang. Kita harus opitimis, Mas…”

“Tapi, buktinya Mbak itu tidak datang?”

Ya buktinya Susan memang benar-benar tidak datang. Kutinggalkan pedagang jagung bakar itu, kuhidupkan mobil tuaku. Di depan gerbang taman kota itu, kulihat samar-samat Susan berada di dalam mobil sedan putih yang berpapasan denganku: menuju penjual jagung bakar.

Tadinya aku berniat ingin membalikkan mobilku. Setidaknya dari jauh akan kuamati Susan dengan teman lelakinya itu. Cuma hatiku yang lain menolak: “Untuk apa kau buru perempuan yang tak menepati janji? Lalu datang bersama lelaki lain? Hanya ibumu akan tetap ibumu, meskipun dia pernah mendustaimu.”

Aku pun memacu mobilku. Pulang.

Sebelum kubuka baju, handphone-ku bergetar. Deretan angka yang belum kukenal terpajang di layar handphoneku. Kutekan tombol OK.

“Kenapa cepat-cepat pulang? Kan aku kemarin janji pasti datang, kita bertemu. Kata abang tukang jagung ini kau baru saja pulang, karena bosan menunggu kedatanganku. Untung saja kau meninggalkan nomor kontakmu dengan penjual jagung. Mau ke sini lagi?”

“Wah, aku sudah di rumah. Sudah ganti pakaian. Mau istirahat…”

“Masak iya secepat itu sudah ganti pakaian? Bagaimana kalau kutunggu? Enggak lama kan?” dia bertanya, seperti berharap. Atau setidaknya menggoda…

“Maaf, besok malam saja,” aku berdusta.

Kupikir untuk apa kutemui dia lagi, kalau ia datang bersama lelaki lain? Paling tidak, ia sudah tak menepati janji. Cukup lama aku menunggu.

Sampai beberapa minggu aku tak datang ke taman kota itu. Aku sudah melupakan Susan. Pada bulan ketiga aku kembali datang. Ingin mencari suasana lain saja. Sekadar cari angin, cuci pandangan, ganti sesuatu yang selama ini kurasa itu-itu saja.

Aku baru tahu dari pedagang jagung bakar, kalau Susan masih sering datang. Juga ditemani seorang lelaki yang kulihat membawanya dulu. Cuma, entah benar atau dusta, kata penjual jagung bakar itu bahwa lelaki yang menemaninya adalah adik kandung Susan.

“Kemarin Mbak itu datang ditemani adiknya. Dia pamit mau pindah ke Makassar, karena tugas kerja. Dia titip salam untuk Abang…”

“Surat?”

“Cuma titip salam…”

Kuhubungi nomor yang pernah meneleponku. Hanya terdengar: “Telepon yang Anda hubungi berada di luar area, atau sudah tidak aktif lagi.”

Aku mendesah. Panjang.

10042010: 01.01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *