Tirani (dan) Tafsir

Damanhuri*
http://www.lampungpost.com/

“Jika Islam menguasai semua tradisi masa lalu dan menundukkannya dengan mekanisme khas baik lewat penolakan atau penerimaan, melalui penegasian maupun interpretasi-ulang,” demikian tulis Nasr Hamid Abu Zayd dalam buku Al-Nash, al-Sulthah, al-Haqiqah, “kaum muslim pun mampu menguasai tradisi umat-umat lain lewat cara yang efektif dan mengubahnya menjadi salah satu bagian dari pintalan nalar Islam.”

Kendati ada yang tak boleh dialpakan, demikian lanjut Abu Zayd, “bahwa nalar Islam tersebut bukanlah sebuah bangungan pemikiran yang homogen–seperti diilusikan sebagian orang–tapi sehimpunan pemikiran majemuk dalam gagasan maupun orientasinya; dan menunjukkan kemajemukan secara sosial, ras, dan kultur dari struktur berbagai masyarakat yang disatukan Islam” (1995, 1997: 13-14).

‘Heterophobia’

Saya kutip panjang-lebar pendapat pemikir muslim asal Mesir yang kini mengajar di universitas Utrecht dan Leiden itu sekadar untuk menunjukkan sesuatu yang mungkin sudah jadi klise karena begitu kerapnya diulang-ulang: watak kosmopolitanisme Islam dan sikap terbuka kaum muslim-awal dalam menerima dan menyambut kehadiran “yang lain”, the others. Sikap yang, aneh bin ajaib, akhir-akhir ini seolah raib dari kesadaran umat Islam dan berganti dengan sikap selalu curiga, tak suka, bahkan memusuhi (si)apa pun yang berbeda dari “kita”: heterophobia. Simptom yang dalam bahasa sedikit berbeda diistilah sastrawan-pemikir Suriah Ali Ahmad “Adonis” Said sebagai “masa-lalu-isme”: penolakan dan ketakutan akan setiap hal yang baru, beda, dan tak-umum.

Padahal, dengan sedikit saja memunculkan kesadaran sejarah, sebagaimana Barat modern “belajar” dan karena itu memiliki “utang makna” yang begitu besar kepada umat Islam, kemajuan masa lalu Islam pun bukan tak memiliki “utang makna” serupa kepada peradaban Yunani, Persia, dan India. Sebukit kajian sejarah peradaban Islam, yang mustahil diungkap lengkap di sini, dengan gamblang menunjukkan kesalingbergantungan tersebut.

Bagi kita yang hidup di dunia yang, kata Thomas L. Friedman, kian hari kian rata dan datar ini, pengalaman masa lalu Islam dan masa modern Barat itu juga mustahil bisa kita tampik. Sehingga benar jualah kata-kata Oscar Wilde yang dikutip Amartya Sen dalam Identity and Violence: the Illusion of Destiny (2006: xv). “Kebanyakan orang adalah orang lain,” kata Wilde. Sebab, lanjutnya, “pikiran mereka adalah pendapat orang lain, kehidupan mereka merupakan mimikri, dan hasrat mereka pun sekadar kutipan”.

Dengan bertolak secara salah kaprah dari studi Edward Said, kata “orientalis(me)” memang kerap dijadikan pintu masuk paling gampang untuk melekatkan stigma atas pemikiran (si)apa pun yang dianggap dipengaruhi Barat. Seolah tak pernah ada setitik pun kebajikan yang bisa muncul dari Barat. Padahal, jika buku Edward Said yang melontarkan kritik epistemologis atas bangunan dasar tradisi orientalisme itu dibaca dengan lebih jeli, di bagian-bagian paling ujung karyanya yang kerap disalahpahami umat Islam itu Said pun tak alpa membubuhkan caveat: “Tentu saja saya sama sekali tak mempercayai sedikit pun proposisi bahwa cuma orang berkulit hitam yang mampu menulis tentang orang-orang berkulit hitam, hanya seorang muslim yang bisa menulis tentang kaum muslim, dan demikian seterusnya” (Orientalism, 1978: 322).

Orientalisme Sungsang

Hidup di tengah zaman ketika agama belum kehabisan pesona di hadapan para pemeluknya tapi dalam satu helaan napas yang sama begitu banyak kemungkaran yang justru lahir dari kesalahpahaman dalam menangkap pesan mulianya, tafsir mau tak mau memang harus kembali memerankan tugas agungnya.

Dengan tafsir, tentu saja, tak ada jaminan hidup jadi kian lengang dari rasa waswas dan tuntunan serta janji-janji kitab suci jadi lebih gampang terbukti. Tapi tanpa tafsir, sudah pasti paras kehidupan akan kian pasi; dan kitab suci, tempat kita memungut suaka spiritual dari kejaran dan sergapan nafsu zaman yang kian buas, juga pasti mati. Sebab Kitab Suci, seperti suatu ketika pernah diucapkan Ali ibn Abi Thalib, sejatinya tak akan “berbicara apa-apa” tanpa hadirnya upaya kita mengajaknya berbicara.

Begitulah, betapa pentingnya tafsir; tapi begitu gentingnya perkara tafsir hari ini. Atas nama (umat) Islam, begitu biasanya dalih yang paling kerap muncul, tafsir jadi (di)sinonim(kan) dengan kekafiran. Atas nama agama, suatu pemahaman dominan yang diandaikan pasti benar–padahal tak lain tafsir juga, dengan tingkat kebenaran yang juga nisbi–dengan semena-mena menghilangkan hak hidup tafsir lain. Khutbah-khutbah berisi cercaan dan pengafiran terhadap (pemikiran-pemikiran) tokoh-tokoh muslim tertentu adalah contohnya yang paling mudah kita temui akhir-akhirnya.

Tapi inilah barangkali wajah keagamaan kita yang hidup di zaman ketika batas tirani dengan tafsir tak lebih lebar dari jarak buku-buku jemari tangan. Beginilah paras pucat pemikiran keagamaan di hadapan budaya pengafiran seperti digambarkan salah sebuah judul buku Abu Zayd: al-Tafkir fi Zaman al-Takfir (1995), pemikiran di era pengafiran. Selalu terjadi kontestasi dan tensi antara hasrat kepada pengetahuan sejati (iradah al-ma’rifah) dan nafsu melakukan hegemoni (iradah al-haimanah) di hadapan pintalan ruwet teks-otoritas-kebenaran (al-nash, al-sulthah, al-haqiqah) yang ironisnya selalu dimenangkan yang kedua (hegemoni).

Yang bersimaharajalela, karena itu, tak lain dari apa yang pernah diistilahkan seorang pemikir Arab sebagai syahwat al-iftiras, “nafsu untuk menaklukkan” yang lain.

Ada saatnya, memang, ketika keterpurukan di berbagai sisi kehidupan acap menyalakan nafsu manusia untuk membenci siapa pun yang tak sepaham, semazhab, sesuku, sebangsa, seakidah, dengan dirinya. Siapa pun yang mengenakan ajektif lain dalam pelbagai identitas yang dimilikinya seolah pasti musuh umat, musuh agama, atau musuh bangsa yang absah direnggut hak hidupnya. Abu Zayd, Arkoun, Cak Nur, Gus Dur, serta semua orang yang (dituding) menerima Barat sebagai teladan, adalah “mereka”, yang harus “di-oranglain-kan”, dan seolah haram “kita” muliakan.

Bagi para demagog yang selalu tak mampu menyimpan dengki dan sikap memusuhi “yang lain”, hidup yang ideal, autentik, religius, dan islami, seakan hanya mungkin terwujud ketika pelbagai anasir yang kebetulan tak sejalan dengan garis keinginan yang diguratkannya benar-benar lenyap. Sebagai salah satu upaya mewujudkan angan-angan ilusif tersebut, disusupkanlah hasutan dan umpatan dalam pelbagai selebaran atau buletin keagamaan yang hanya merayakan sempitnya cara berpikir, melecehkan nalar segar, dan tak menyuguhkan apa-apa selain sekadar menangkarkan kebodohan.

Begitulah, sembari mengutuk para orientalis yang kerap mengkaji Islam dengan melulu bermodalkan prasangka budaya dan penjelasan reduksionis, sebagian kaum muslim pun mengulangi kekeliruan yang sama saat melihat “yang lain”, Barat, atau bahkan saudara muslimnya sendiri yang kebetulan memiliki pemikiran berbeda. Simptom yang disebut cendekiawan Suriah, Sadik Jalal al-A’zam (1984), sebagai “orientalisme sungsang” (al-istisyraq al-ma’kus).

Islam yang Terbuka

Dihadapkan pada bentangan kanvas yang melukiskan wajah umat Islam yang begitu buram itu, kita memang layak masygul. Meskipun, tentu saja, tak harus ikut-ikutan latah melakukan persekusi yang sama atas siapa pun yang melakukan persekusi atas pikiran yang tak disetujui. Tak mengoranglainkan (othering) siapa pun yang berbeda. Sebab, toh akhirnya hanya Tuhan yang tahu benar-tidaknya Islam yang dipeluk seseorang.

Sebab itu, siapa pun yang mengingkari kosmopolitanisme dan keterbukaan sikap yang diusung Islam, seperti menggejala akhir-akhir ini, ada baiknya membaca (kembali) sejarah Islam dan tak terlalu gegabah membawa-bawa kata “Islam” apalagi mengatasnamakan diri sebagai pembawa kepentingan umatnya.

*) Kerani di Jurusan Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Tarbiyah, IAIN Raden Intan Lampung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *