Legenda yang Selalu Hidup

Judul Buku : Stanza dan Blues
Penulis : W.S. Rendra
Penyunting : Edi Haryono
Penerbit : Bentang Pustaka Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Mei 2010
Tebal Buku : vii + 125 Halaman
Peresensi : Satmoko Budi Santoso*
http://www.lampungpost.com/

BULAN Agustus adalah bulan penyair W.S. Rendra. Demikian seloroh yang bisa saja dimunculkan. Setahun yang silam, di bulan Agustus pula, penyair Rendra menjemput kematian. Kiranya penerbitan buku antologi puisi Stanza dan Blues ini pun menemukan momentumnya sekarang, yang juga sama di bulan Agustus.

Ikhtiar memunculkan antologi puisi ini memang lebih pada merekonstruksi ingatan sebagian proses kreatif Rendra. Ternyata, sepanjang karier kepenyairannya ada dua hal yang cukup menyolok, yang menjadi semacam penanda penting bagi tonggak kepenyairannya. Yang pertama adalah buku kumpulan puisi Malam Stanza yang terbit pada 1961, sedangkan yang kedua buku kumpulan puisi Blues untuk Bonnie yang terbit pada 1971.

Kenapa dua buku tersebut dianggap penting? Karena pada dua buku itulah terlihat kontras perjalanan proses kreatif kepenyairan Rendra. Pada buku yang pertama, Malam Stanza, lebih pekat dengan tema cinta yang universal, sedangkan pada buku kedua, yakni Blues untuk Bonnie sudah lebih menyuruk masuk tema sosial. Maka, adanya penerbitan buku ini dimaksudkan untuk membaca dua kutub kontras yang amat berseberangan tersebut, sekaligus membaca jejak-jejak penyelaman pemilihan komitmen terhadap pengembangan estetika berpuisi yang diimani Rendra.

Oleh sebab itu, adanya buku ini jelas memberikan pengayaan informasi yang menarik, yang mungkin belum dimiliki oleh para penyair yang hidup pada era sekarang. Betapa Rendra di dalam proses kreatif kepenyairannya pun terjadi lompatan keberpihakan estetika berpuisi. Meskipun hal semacam ini merupakan kewajaran di dalam proses kreatif tapi toh harus tetap ditandai sebagai bagian catatan perjalanan yang bernilai urgen.

Kita tahu, banyak puisi Rendra yang cukup monumental dan bahkan diajarkan di sekolah maupun perguruan tinggi sebagai bagian kurikulum. Bahkan ditelaah menjadi bahan kajian skripsi, tesis, atau disertasi. Buku ini pun mengingatkan kembali pada puisi-puisi Rendra yang monumental, yang masuk di dalam kurikulum pengajaran sekolah dan perguruan tinggi. Misalnya, Nyanyian Suto untuk Fatima, Nyanyian Fatima untuk Suto, Blues untuk Bonnie, Rick dari Corona, Kesaksian Tahun 1967, Nyanyian Angsa, dan Khotbah.

Melalui puisi-puisi itu pula, setidaknya, publik menjadi mengenal tradisi estetika balada. Ciri khas yang melekat erat pada Rendra ini memang begitu berhasil secara kukuh karena secara personal penyairnya sendiri mampu membawakan secara baik jika berada di atas panggung. Bandingkan dengan banyak penyair lain, misalnya, yang mempunyai karakter puisi tertentu, tapi ketika ia membawakan sendiri puisinya di atas panggung, karakter di dalam puisinya justru menghilang. Tentu, hal itu diakibatkan karena kegagalan si penyair dalam mengomunikasikan puisinya sendiri di atas panggung.

Memang, ada persoalan sosiologis yang membedakan antara era kini dan sekarang. Dulu jumlah penyair yang visioner (baca: berani melawan kebijakan negara dan sejenisnya) boleh dikata hanya sedikit. Tentu, kemunculan Rendra pun bagai tak ada saingan. Itulah yang membuatnya “tak bisa dikalahkan”. Tak pelak, sebagaimana telah dicatat penyair Binhad Nurohmat di dalam pengantar buku ini, kemunculan Rendra pada masanya dulu memang mengundang takjub, terutama dari para pengamat sastra yang kemudian memberikan pernyataan. Kritikus sastra dari Australia Harry Aveling, misalnya, menyatakan bahwa puisi-puisi Rendra yang merupakan “periode sosial” sebenarnya jumlahnya sedikit. “Tetapi puisi-puisi itu sungguh mengherankan, banyak variasinya dan ada yang luar biasa baiknya,” demikian pernyataan Harry Aveling. Atau, dalam versi lain, penyair Binhad Nurrohmat sendiri merumuskan bahwa puisi Rendra menjelma aksi dan peristiwa yang penting. Kepenyairannya tak hanya berbekal fakta personal yang subjektif, tapi juga fakta sosial yang objektif. Rendra telah memasuki ruang-ruang sosial yang nyata yang sebelumnya tabu bagi citra romantisme kepenyairan.

Bagi saya sendiri, puisi-puisi Rendra yang memang berkomitmen kuat pada persoalan sosial tetap saja tak dapat menghindar dari verbalitas. Terutama pada periode Blues untuk Bonnie. Atau, barangkali, pada masa itu, memang tak perlu mengekspresikan dengan cara yang lebih metaforis? Entah mengapa, setidaknya bagi saya, Rendra justru berhasil dengan puisi-puisinya pada era Malam Stanza. Puisi-puisi yang pendek, ringkas, metaforis, cenderung berpantun, yang justru merangkum kompleksitas maksud. Atau memang, kita harus percaya pada verbalitas untuk sebuah keutuhan maksud dan di situlah esensi nilai pemberontakan di dalam puisi dalam konstelasi respons masalah sosial telah terwujud?

Terlepas dari segala kemungkinan kontroversi persepsi dan pendapat, karya Rendra tetaplah harus diakui sebagai spirit jiwa zaman pada kurun waktu tertentu sehingga menjadikannya legenda yang selalu hidup. Ini yang sulit dihindari dari keberadaan puisi-puisinya yang sekaligus membuatnya bernilai abadi. Baiklah, untuk menutup tulisan ini, saya kutipkan sebagian puisi Rendra guna mengingatkan totalitas perjalanan kepenyairannya. Berikut ini adalah puisi Rendra yang berjudul Batu Hitam. Batu hitam di kali berdiri tanpa mimpi/ arus merintih oleh anak tak berhati/ Betapa tegar tanpa rindu dan damba./ Betapa sukar hancur anak tak berbunda./ Angin Agustus tiba dan bulan senyum padanya/ tapi anak tak berhati tak berjantung pula./ Angkuh dan dingin si batu hitam./ Beku dan lumutan dendamnya terpendam.//

*) Penikmat sastra, tinggal di Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *