“Play-Boy” Chairil Anwar, WS Rendra, dan Linda Djalil

Berthy B Rahawarin
umum.kompasiana.com

Apakah Chairil Anwar dan WS Rendra dapat dipandang sebagai pria jenis “play-boy” pada masanya? Dalam rangka mengenang 40 hari meninggalnya sastrawan Wahyu Surendra Rendra atau Mas Willy, figur tokoh sastrawan muda nan ajaib Chairil Anwar disanding bersama, tidak untuk membahas dan membandingkan karakteristik syair dan sajak mereka, tapi malahan sekedar menghantar masyarakat penulis dan pembaca Public Blog Kompasiana untuk memotivasi dan mengilhamkan masyarakat kita untuk tetap perduli pada kehidupan meditatif-refleksif-heroik lewat sajak-sajak penuh makna yang pernah kita miliki di Nusantara.

Padahal, mudah untuk sebagian masyarakat mengenal kisah Romeo dan Juliet, tapi tidak begitu saja mengenal puisi “Senja Di Pelabuhan Kecil” atau “Ceritera Buat Dien Tamaela” karangan Chairil Anwar? Atau, “Perempuan-Perempuan Perkasa”, karya Hartoyo Andangjaya, dan demikian banyaknya tokoh sastra dan karyanya yang tidak atau belum menjadi pendukung permenungan humaniora kita? Terinsprasi kepergian kekal Si Burung Merak Rendra, nota teramat kecil ini dibuat untuk karena paus sastra kita HB Jassin atau para pegiat karya sastra modern ketakutan kehilangan identitas diri. Setelah kurang dari lima pekan berada bersama Public Blog Kompasiana, saya ikut prihatin dengan perjuangan mas Pepih Nugraha untuk tetap mengingatkan penulis Blog sekedar menjaga kata-kata terpilih di inter dan antar penulis-pembaca.

Masyarakat penulis dan pengunjung Public Blog Kompasiana adalah sebuah dunia miniatur pembaca Indonesia. Terhadap minat, selera dan pilihan bobot judul/bacaan dalam blog, boleh dibuat penelitian tersendiri. Tetapi, dunia membaca, seperti halnya dunia audio-visual radio-televisi, sangat tidak sulit untuk mendapati, bahwa masyarakat igin mendapat “kesenangan/hiburan” dari suatu karya. Entah karena keingin-tahuannya terpenuhi, atau bahwa kisah-kisah remaja ala “Tittanic” menyuguhkan drama melankolik-heroik. Ceritera Kekaisaran Arab atau Romawi dapat menjadi tontonan bukan pilihan, dibanding kisah-kisah melankolik drama beseri TV kita menyedot perhatian, berisi atau tidak, urusan yang lain. ?Semakin ruwet dan tak logis jalan ceritera drama TV kita, makin digandrungi?, komentar seorang pengamat.

Memang, minat atas karya sastra tak sepenuhnya menjadi dibebankan dan divoniskan pada minat masyarakat. Bagai sebuah produk bermutu yang membutuhkan promosi dan pemasaran yang menarik, demikian juga ?produk sastra?. Kegiatan Sastra tidak sekedar menjadi hobi dan kerja urun-rembug segelintir orang dalam ruang perpustakaan dengan jendela tertutup. Karya sastra bermutu, sambil tetap menjaga ?keseriusan dan kedalamannya?, pemanis dan bungkusnya menarik perhatian orang untuk mendekati dan menemukan isi dan dibedakan dari kulitnya. Para kritikus sastra seperti Christine Cholet dan Bruno Doucey mengingatkan pekerja sastra akan situasi ini.

Chairil Anwar dan WS Rendra hidup dalam dua zaman berbeda. Tetapi, kedalaman reflesi-meditasinya, boleh juga menggoda kita untuk mendalami humanisme-religiusitas dalam nilai universal bersama. Kita tidak dapat bertemu Chairil Anwar dan WS Rendra dalam ruang privat Kitab-Kitab Suci dan mungkin tafsir-tafsirnya. Tapi, pesan kemanusiaan dalam karya sastra mereka, melampaui tembok-tembok pemisah. Mereka tidak mengagungkan tulisan mereka sebagai karya kitab-kitab suci.

Lewat maknanya yang terdalam, karya-karya itu terwahyukan kedalam tingkatan tak terbagi dalam nubari kepelbagaian kita. Karena itu, Chairil Anwar, Putera kelahiran Medan, menuangkan puisinya, kepada beberapa wanita. “Senja di Pelabuhan Kecil”, konon ditulis untuk Sri Ayati, yang tak membalas cintanya. Dan, puisi perjuangan kemerdekaan, dalam kedalamannya, dituliskan untuk Dien Tamaela, meski ada multi interpretasi. Chairil Anwar dan WS Rendra, sama-sama banyak terinspirasi dengan kehadiran para wanita yang dihormati dan disegani. Chairil tidak memaksakan kehendaknya ketika Sri Ayati tidak menanggapi cintanya. Chairil hanya “melampiaskan” cinta bertepuk-sebelah-tangannya dalam puisi “Senja di Pelabuhan Kecil”.

Lalu, di mana tempat Linda Djalil? Seperti Charil Anwar menulis dengan tujuan anonim “Senja di Pelabuhan Kecil” kepada Ayu Ayati, demikian juga WS Rendra menulis metaforis penghargaannya kepada Linda Djalil, yang mengidentifikasikan dirinya sebagai yang dimaksud Si Burung Merak dalam “Pamflet Cinta”. Sharing Linda Djalil dalam Buka Puasa Bersama Publik Blog Kompasiana kemarin.

Saya berkenalan dengan mbak Linda Djalil. Menyadari mengapa WS Rendra mengaguminya ketika Linda adalah wartawati utusan Goenawan Mohammad, usia 18 tahun di majalah TEMPO ketika itu tahun 1978. Saya memperkenalkan diri kepada Linda sebentar kalau saya sering pula berada di tengah Fikri Juffry, Sjahrir, Rocky Gerung yang menghargai dan mencintai sastra. Sambil minum kopi atau makan sop kaki kambing. HB Jassin dan Pamusuk Eneste adalah orang-orang lain bersama kami lebih dari satu dekade lalu.

Sambil berharap, Public Blog Kompasiana tidak tergoda mengejar ?rating? pembaca, seperti mbak Linda Djalil kemarin membawakan puisi karya Pepih Nugraha (maaf, mas Peppih kalau salah tangkap), dan seperti almarhum DR. Sjahrir menutup pidato pentingnya dengan puisi, saya menutup ?Catatan Play-Boy? ini dengan puiri (untuk dibaca sendiri), dengan harapan kita kembali membaca puisi dan memahami maknanya, meski Puisi tidak menggantikan Kitab Suci di ruang privat. Tetapi Di Ruang PUBLIK, universalitas nilai sastra seperti pernah ditunjukkan para sastrawan hingga kini lebih menyatukan kita. Ini kumandang cinta nilai universal sastra dan budaya. Sastra lebih dari sekedar menarik, membawa keindahan bathiniah, daripada berita pengganyangan atas nama bela budaya.

CERITA BUAT DIEN TAMAELA
Chairil Anwar

Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu

Beta Pattirajawane
Kikisan laut
Berdarah laut

Beta Pattirajawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan

Beta Pattirajawane, menjaga hutan pala.
Beta api di pantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebyut beta punya nama.

Dalam sunyi malam ganggang menari
Menurut beta punya tifa,
Pohon pala, badan perawan jadi
Hidup sampai pagi tiba.

Mari menari!
mari beria!
mari berlupa!

Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati, gadis kaku
Beta kirim datu-datu!

Beta ada di malam, ada di siang
Irama ganggang dan api membakar pulau?.

Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*