Biang Agung: Padma Sastra Yantra

Putra-putri Tradisi Utama Bali (13)
I Made Prabaswara
http://www.balipost.co.id/

TAHUN 1911, Abendanon menerbitkan surat-surat RA Kartini, Door Duis-ternist Tot Lich (Habis Gelap Terbitlah Terang). Buku ini tidak hanya terkenal, dijadikan rujukan klasik dan utama dalam penulisan sejarah pergerakan perempuan di Tanah Air hingga kini, tetapi juga menginspirasi kemajuan pendidikan perempuan Indonesia.

Dua tahun sebelum buku Kartini ini diterbitkan pada 1909, nun di ujung timur Bali, di Puri Madura, Karangasem, lahir bayi perempuan. Sang ayah, Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem, menemani putri sulungnya itu, Anak Agung Ayu Muter. Nama muter (memutar) seakan menandai tugas utama sang ayah yang saat itu memang memutar roda pemerintahan (amuter jagat), sebagai Raja Karangasem. Saat itu, seluruh tanah Bali sudah takluk ke dalam jajahan Belanda, menyusul puputan Klungkung, 28 April 1908.

Ayu Muter kelak memang tidak melesat ke sektor publik, modern, sebagaimana dicita-citakan Kartini. Dia tetap berbalut tradisi Bali, sebagai putri puri. Namun, sejatinya dia justru “mendobrak” tradisi, tumbuh sebagai wanita cendikiawan, wanita pemikir, penekun yoga. Tidak perihal nasionalisme dan pergerakan kesamaan hak Kartini, memang, namun lebih spesifik pada masalah keagamaan, filsafat kerohanian (tutur), maupun mistik (kadiatmikan). Tidak dengan menulis surat kepada sahabat Belanda, tetapi dengan menyurat karya sastra puisi bertembang, dinamakan geguritan buat masyarakat. Ayu Muter sesungguhnyalah perempuan cerdas mengolah pikir, olah rasa, sekaligus olah raga dan olah rohani. Kelak perempuan Bali yang menikah dengan saudara sepupunya, Anak Agung Gde Oka, 30 Oktober 1922 ini, dikenal bernama Anak Agung Istri Biang Agung. Sebelum sakit dan meninggal 8 April 1979, ia adalah satu di antara sedikit sastrawan wanita Bali yang produktif, piawai menenun songket, lambe (tepi kampuh), menguasai pekerjaan keputrian, seperti sulam menyulam. Keterampilan ini dikuasai lewat belajar khusus di Keraton Mangkunegaraan Solo, 1939-1940. Motif-motif sulamannya khas Bali, terkhusus lagi bernuansa keagamaan, seperti senjata dewata nawasanga, burung merak dan kasuari bercitra agung dan anggun.

Putri puri ini bahkan menguasai sangat baik keterampilam mengolah sutra dari kepompong sampai menjadi benang sutra, lalu mengolah benang sutra hingga menjadi busana siap pakai. Sebagai putri yang dibesarkan penuh dalam atmosfer cita rasa seni puri unggul, Biang Agung terang juga menguasai sangat baik keterampilan anyam menganyam tas, topi, tudung saji, termasuk meramu kosmetika kecantikan tradisonal. Pada babakan hidupnya belakangan, dia menjalankan kemahiran sebagai dukun membantu wanita melahirkan. Kepiawaian khusus ini diperoleh dari sang kakek, Anak Agung Made Barayangwangsa, di Puri Pamotan Lombok.

Paling menarik dari sosok Biang Agung tentulah buah cipta sastranya. Karya-karyanya yang sudah diidentifikasi pasti berbentuk geguritan (puisi Bali Klasik), di antaranya: Candrabanu, Damayanti, Manusa Yajnya, Mlancaran ka Jakarta, Kunti Yajnya, Predana Purusa Ngarang, Drona Parwa, Pangawi Katur ring Pedanda Made Sidemen, Tetuptupan Panglila Pakayunan, Lelunganan Matamba ka Jawi, Wana Parwa. Geguritan Kunti Yajnya dan Wana Parwa digubah bersama-sama dengan sang suami yang memang juga dikenal sebagai sastrawan produktif dan seniman Bali andal pada zamannya.

Biang Agung memang tak lepas dari radius getaran sastrawi. Sang ayah juga dikenal sebagai sastrawan dan seniman serba bisa. Ibu tiri Biang Agung, Anak Agung Istri Agung, juga dikenal sebagai sastrawan wanita Bali yang mengubah karya sastra puisi bertembang saat diasingkan Belanda ke Jembrana 12 tahun, bersama sang suami. Sang ayah kerap mengajak Biang Agung mawirama (melantunkan bait-bait kekawin, puisi berbahasa Jawa Kuno) ke Puri Klungkung, Bangli, Badung, hingga ke Lombok.

Bali, rupanya punya tradisi mabebasan bersama sesama penekun sastra di suatu tempat, puri atau geria. Pesertanya diundang khusus dari berbagai tempat berjauhan di Bali. Karya-karya susatra agama yang dinyanyikan, dikupas-kupas maknanya itu pun terpilih. Dalam tradisi itulah Ida Pedanda Made Sidemen, dari Geria Intaran, Sanur kerap diundang, mabebasan bersama Biang Agung di Puri Madura. Pedanda Made rupanya memberikan kenangan karya gubahannya kepada Biang Agung sehingga sejumlah karya pengarang besar Bali abad ke-20 ini juga tersimpan di Puri Madura, Karangasem, misalnya, Kekawin Tiga Murti.

Adalah amat menarik ketika Biang Agung pun membuat karya khusus buat Ida Pedanda Made. Karya itu belakangan diberi judul Pangawi Katur ring Pedanda Made Sidemen.

Mungkinkah karya tersebut belum sempat terkirimkan kepada Pedande Made, atau itu merupakan turunan/salinan atas naskah yang sudah terkirim? Dengan adanya “kelaziman” bertukar karya seperti itu, sangat mungkin karya Biang Agung juga tersimpan dan menjadi koleksi Pedanda Made di Sanur.

Kepengarangan Biang Agung menonjol, terutama dalam membahasa-Bali-kan karya-karya susastra berbahasa Jawa Kuno, tetap dalam bentuk puitis. Layaknya strategi kebudayaan unggul membahasa-Jawa Kuno-kan karya-karya Sansekerta semasa pemerintahan Darmawangsa Teguh di Jawa Timur, abad ke-10. Lebih istimewa lagi, Biang Agung menciptakan sastra-puitik dalam bentuk sangat langka: Berupa gambar-gambar disertai aksara, sehingga memerlukan “rumus” khusus agar bisa membacanya. Ida Wayan Oka Granoka (1989) saat meneliti karya sastra tersebut memberi nama “Sastra Yantra”.

Dengan membaca Sastra Yantra ini, seseorang sesungguhnyalah sedang diajak memutar kesadaran rohani, layaknya dalam yoga-Tantris. Dengan begitu, menulis puisi bagi Biang Agung adalah juga sebagai sadana yoga, sarana memusatkan pemujaan kepada Dia Yang Mahaindah, Mahahalus, Mahagaib di padma hati. Sastra Yantra, karenanya jauh melampaui eksperimen “puisi konkret” yang pernah dicoba penyair Indonesia dasawarsa 1970-an lampau. Manakala orang bersembahyang di hadapan padmasana, Biang Agung justru menyurat rajah-gambar berupa bunga padma berhelai 6-10 berlapis/bersusun 1-3. Aksara juga disuratkan dalam gambar burung punggung (tadahasih), cenderawasih (merak, kasuari). Dada burung merak disurati aksara pusat, ekornya mengembang (11-12 helai), masing-masing bersuratkan aksara. Lalu, burung tadahasih memagut setangkai bunga bersurat aksara di paruhnya, ekornya terjuntai dalam jumlah tertentu (5, 6, 10), masing-masing disurati aksara pula. Terakhir dipilih gambar bunga pudak 16 helai, mengingatkan penekun yoga-sastra pada bunga penyimpan gubahan karya sastra yang diciptakan sang pujangga. Tentu saja itu gambar-gambar terpilih, sarat makna konsepsional dalam ranah kerohanian dan keagamaan Bali. Kristalisasi konsepsi itu dituangkan dalam gambar pembuka, berwujud dewi jelita berdiri di atas bunga padma sedang mekar dengan 12 helai (sisi dalam), bersusun dua (sisi luar 11 helai). Tanaga kiri sang dewi mendekap bunga pudak 12 helai di dada. Lalu dilanjutkan dengan bulan berbingkai padma mekar 8 helai. Dalam lingkaran bulan disuratkan aksara bait pembuka yang amat puitis.

Adanya aksara pusat sebagai titik awal “keberangkatan” dalam membaca baris-baris penyusun bait Sastra Yantra itu, tak pelak menjadikan musikalitas maupun korespondensi bunyi amat kuat. Iramanya anggun. Ini menunjukkan Biang Agung adalah wanita berpengetahuan sastra Jawa Kuno luas, menguasai sangat baik filsafat kerohaniaan (tutur), mistik (kadiatmikan) sekaligus penghayat dan pelakon yoga tekun.

Di Bali dan Idnonesia (mungkinkah di dunia?) baru Biang Agung-lah kiranya sastrawan wanita menyurat Sastra Yantra. Gedong Kirtya di Singaraja dan Perpustakaan Lontar Fakultas Sastra Unud pun hanya menyimpan karya satu orang lain. Bali, bahkan Indonesia, sepatutnya penuh syukur punya sastrawan wanita berpencapaian kepeloporan seperti Biang Agung itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *