Dari Peluncuran ?Garis Langit? Karya Matdon

Penyair Matang Ditempa Waktu
Antonius SP
http://www.sinarharapan.co.id/

BANDUNG ? Eksistensi seorang penyair ditentukan oleh proses yang dilaluinya seiring dengan perjalanan waktu. Dalam hal ini, Matdon?penyair muda asal Bandung?boleh dibilang telah menjalani proses panjang itu dan berhasil menarik perhatian sejumlah penikmat sastra. Sebagai bukti, ketika ia meluncurkan buku puisi kedua, berjudul Garis Langit, di gedung kesenian Baranangsiang, yang terletak di Jl. Baranangsiang, Achmad Yani Bandung, Kamis pekan lalu, antusiasme para undangan?kebanyakan juga seniman?tampak begitu besar.

Malam itu menjadi malam surga bagi Matdon, persis seperti yang tersirat dalam puisinya berjudul ?Surga?.

Malam surga, siang surga, bintang surga, rembulan surga, matahati surga, terang surga, gelap surga, gerak surga, diam surga ruang surga, waktu surga, andin surga, air surga, api surga, miskin surga, kaya surga, mata surga, kaki surga, istri surga, anak surga, sahabat surga, Tuhan surga, kalau neraka? ya surga juga bagi iblis.

Lantunan syair inilah yang ditempatkan sebagai pembuka acara malam peluncuran buku Matdon. Sayang, sesepuh seniman Bandung yang juga penyair Saini KM yang dijadwalkan hadir untuk menerima buku untuk menandai peluncuran kumpulan puisi tersebut tidak hadir. Sebagai gantinya, buku tersebut diserahkan Matdon kepada putri sulungnya, Arina Annisa Wardah. Munculnya gadis kecil berusia empat tahun yang mengenakan jilbab ke atas panggung kemudian menerima buku dari uluran tangan sang ayah, sungguh sangat mengharukan semua pengunjung. Saking ibanya, sebagian pengunjung ikut hanyut dalam suasana haru dan trenyuh.

Maka tepuk tangan berbasah-basah air mata pun tak mampu terelakkan. Panggung berskala besar yang hanya disinari lampu remang-remang, membuat suasana tambah hidup. Selembar kain putih yang menggelantung persis di tengah -tengah panggung, membuat suasana makin seram. Kemudian di sisi lain, hampir semua sudut pandang panggung dibalut warna hitam, sehingga terkesan serem juga. Seperangkat alat kesenian khas tatar Sunda seperti kendang, seruling, siter, rebab, gong dan yang lain menggerombol dibagian depan kanan panggung. Kemudian, dari dua sudut atas panggung juga menggelantung dua buah kaos warna hitam yang diikat erat-erat dengan seutas tali. Entah apa makna di balik simbol-simbol tersebut. Namun, yang pasti apa pun yang diletakkan di atas panggung, semua membuat suasana makin hidup dan semarak. Sehingga membuat betah penonton untuk menyaksikan pertunjukkan Matdon dan kawan-kawannya hingga tuntas.

Dari 69 buah judul pusi karya Matdon yang diterbitkan dalam bentuk buku, intinya cermin dari sikap mental, moral, mental para pejabat dan bagi orang-orang yang pernah dan sedang dicintainya. Seperti yang tersirat dalam pusi berjudul ?Dongeng Dari Negeri Priangan?, ?Kepada Para Pengkhianat? dan lain sebagainya. Satu demi satu panyair tampil membawakan karya-karya puisi Matdon sesuai dengan kata hati atau ekspresi para penyairnya. Ada yang hanya dengan tutur kata, gerak. Namun, ada yang diiringi dengan petikan gitar, tabuh kendang, dan jeritan, isak tangis air mata. Pokoknya, sesuai penghayatan bagi yang pelakon, sehingga suasana makin syahdu dan penuh khidmat.

Serentetan pembacaan puisi oleh penyair Sunda ini mendapat sambutan luar biasa dari para pengunjung. Apalagi, ketika sang penyair senior, Deddy Coral mencoba mengusung seperangkat gitar, dua anaknya yang masih kecil mendampingi dan dipercaya membaca sebuah puisi berjudul ?Emak?, maka suasana malam itu bagai hujan air mata. Ucapan polos, dan ekspresi wajah yang pas dengan nada suara bocah kecil saat memanggil mamanya (emak-Sunda-red), sungguh membuat pengunjung terpana.

Sebagai penutup acara, disuguhkan Opera yang dilakonkan para ?Laskar Panggung? dengan menampilkan puluhan pria dan wanita cantik dengan penuh ekpresi. Kolaborasi antara orasi, gerak, tari, musik begitu mengalir serba apik dan serasi. Sesekali diselingi dengan penekanan kata-kata pedas. Seperti kritikan di Era Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto.

Tanpa dibalut apa pun, para penari dengan sangat bagus secara bersahut-sahutan, bahwa ?Soeharto? makan keringat rakyat. Sekarang, di era reformasi dengan transparansi dan segala euforia yang ada, negara menjadi carut- marut, tercobak-cabik dan sakit. Itu semua diekspresikan dengan tampilan semua pelakon operet Laskar Panggung yang seakan-akan sakit ?ayahan? dan tuna wicara. Sembari berjalan sempoyongan tanpa tujuan yang jelas dan pasti. Ya, itulah realitas dari situasi dan kondisi bangsa dan negara Indonesia masa sekarang ini. Penyakit kemiskinan, kebodohan dan penyakit sosial masyarakat yang lain terus bermunculan, sehingga membuat bangsa dan negara ini tanpa daya.

Itulah sepenggal karya yang ingin disuarakan dari penyair Matdon dan kawan-kawan seniman lain yang sangat komit dan interest dengan kondisi bangsa dan negara Indonesia agar tidak lebih parah. Realitas hidup keseharian di masyarakat dari strata mana pun yang ditemui, dilihat, dijumpai Matdon dalam rentang waktu sekian lama, akhirnya mengilhami Matdon untuk berkarya cukup sempurna. Kendati hanya sebatas kalimat, tetapi makna dari kalimat itulah yang ingin disampaikan bagi mereka yang menjalaninya. Itulah Matdon yang matang ditempa waktu.

PuJa

http://sayap-sembrani.blogspot.com/

Leave a Reply