Lemari Buku Ayah

Rilda A. Oe. Taneko
http://www.lampungpost.com/

AYAH sibuk sekali sore itu. Berkali-kali ia keluar masuk rumah, mengambil peralatan yang ia butuhkan: gergaji, palu, paku, dan kayu. Lalu ia duduk di sebuah bangku kayu kecil yang biasa mbak pakai saat menggilas pakaian. Dengan bersemangat ayah menggergaji batang kayu dan berlembar tripleks, membiarkan serbuk kayu berhamburan di udara dan membuatku terbersin-bersin. Lalu ayah menyuruhku menjauh.

Aku beringsut dari rimbunan pokok-pokok pisang dan bersandar pada dinding sumur. Dinding itu dingin, ditumbuhi jamur dan tanaman suplir. Membuat baju putih yang aku kenakan menjadi kotor kehitam-hitaman. Nyamuk berdenging di telingaku.

Ayah mulai mengeluarkan palu dan paku. Sambil bersiul ia mulai merangkai kayu-kayu dan tripleks yang telah ia potong menjadi sebuah lemari. Ayah terlihat berkeringat, kaus dalam yang ia pakai tampak basah di bagian punggung. Wajahnya pun berkilap dihiasi titik keringat dan sisa serbuk kayu yang menempel di alis dan kumis.

Lemari itu sangat sederhana, berbentuk kubus bertingkat tiga. Sebagai penutupnya, ayah memaku dua ujung sebuah tirai jendela pada bagian teratas. Tirai itu berwarna krem dengan garis-garis vertikal cokelat. Tirai yang sudah lama dilepas oleh bunda sejak tirai yang baru akan dipasang memenuhi rumah.

Dengan bangga ayah memanggil bunda dari dalam rumah. Mengajaknya keluar dan memamerkan hasil karyanya.

?Kayunya bukan kayu bagus, Yah. Sayang sekali, tidak akan tahan lama,? komentar bunda yang muncul dengan daster batiknya.

Dan ternyata bunda benar. Tak sampai satu tahun dari sore yang sibuk itu, lemari buku ayah sudah keropos dimakani oleh rayap-rayap yang bersarang di dalamnya.

Menghasilkan banyak serbuk kayu di lantai dan membuat mbak harus membersihkannya tiap pagi dan petang. Semprotan Baygon-pun tak banyak membantu.

Akhirnya ayah membiarkan bunda menggantikan lemari bukunya dengan sebuah lemari buku yang dibeli bunda di sebuah toko furnitur di kawasan Enggal. Lemari itu sangat besar, terbuat dari kayu jati, dua kaca besar berbingkai kayu menjadi pintu gesernya dan empat buah pintu geser kayu berada di bagian bawah.

Lemari buku yang ayah buat diletakkan bunda di luar rumah. Di dekat rimbunan pokok-pokok pisang, menunggu tukang sokli yang akan mengangkutnya esok pagi.

Awalnya ayah tidak bersemangat menyambut lemari bukunya yang baru. Dibiarkannya bunda dengan bantuan mbak menyusun buku-bukunya di lemari itu. Namun, karena kepandaian bunda menyusun buku?saat itu bunda menjabat sebagai ketua di sebuah perpustakaan kampus?ayah jadi mulai melirik lemari bukunya. Bunda meletakkan buku-buku di bidang hukum pada susunan teratas, buku-buku sosiologi di bagian tengah, dan buku-buku bebas di bagian rak bawah. Semua buku-buku ayah tersusun rapi, buku-buku yang awalnya tidak mendapat tempat berdiri dan terpaksa bertumpuk-tumpuk di lemari yang lama sekarang seolah bernapas lega. Tempat yang kosong bunda isi dengan hiasan bunga plastik dan boneka kucing. Hanya satu tumpuk buku yang mengisi lemari bagian bawah yang berpintu kayu, sisa ruangnya yang luas membuatnya menjadi salah satu tempat kesukaanku bersembunyi saat main petak umpet dengan abang.

Bunda meletakkan lemari itu di ruang yang paling banyak mendapat cahaya matahari di rumah kami: ruangan yang berada di antara ruang tamu dan lorong menuju ruang makan. Dengan bantuan mbak diangkatnya pula meja kerja Ayah. Dulu ruangan itu dipakai sebagai ruang tamu ke dua, namun sejak hari itu, kami menyebutnya ruang kerja ayah.

Ketika aku sudah pandai membaca, hiasan bunga dan boneka kucing yang bunda pajang sudah lama dikeluarkan. Buku ayah bertambah banyak dan tak ada lagi tempat kosong yang tersisa. Lemari bawah pun sudah dipenuhi oleh kliping-kliping penelitian milik ayah. Aku mulai membaca buku paling tipis yang aku temukan di tumpukan buku di lemari bawah: sebuah buku bergambar tangan perempuan yang dirantai dan memegang sepucuk bunga mawar. Lalu, dari tumpukan yang sama, aku mencoba mengambil buku tebal yang berjudul Bumi Manusia.

“Jangan baca buku-buku itu, Atu. Sudah berdebu dan berkuman, bisa merusak matamu,” kata Bunda.

“Tapi buku ini bagus,” sanggahku.

Bunda terdiam lalu perlahan ia menjawab, “Bolehlah kau baca buku itu, asalkan kau mau menggosok setiap halamannya.”

Kali ini aku yang ganti terdiam. Kupegang buku yang sedang kubaca. Halamannya ratusan. Tapi aku mengangguk dan segera beranjak ke ruang gosok, menggosoki satu per satu halaman agar aku diizinkan bunda membacanya.

Karena tugas menggosok halaman buku sangat melelahkan, aku tak pernah berani untuk membaca sebuah buku yang amat tebal. Buku itu berjudul Di Bawah Bendera Revolusi.

Saat aku hampir selesai sekolah menengah, ayah dipromosikan untuk menjabat sebuah jabatan penting di kampusnya. Sejak itu aku tahu bahwa meraih jabatan itu tidak semudah yang aku pernah duga. Kadang sampai malam ayah melayani mahasiswa-mahasiswa yang datang untuk berdiskusi. Kadang juga harus pergi memberi ceramah di kegiatan-kegiatan mahasiswa. Pernah juga suatu malam, ketika aku sedang bermain di komputer ayah, beberapa orang mahasiswa datang dan meminta ayah mundur dari pencalonan.

“Sepertinya tidak bijak kalau Bapak terus maju,” kata mereka.

“Kenapa?” tanya Ayah.

“Kami tahu Bapak tidak bersih lingkungan.”

Ruang tamu menjadi senyap. Aku tetap asik bermain tetris. Tak mengerti apa artinya itu bersih lingkungan.

“Siapa kasih tahu kalian hal seperti itu?” tanya Ayah lagi.

“Kami punya sumber yang bisa dipercaya, Pak,” jawab seorang mahasiswa.

Lalu ruang tamu kembali senyap. Tak lama, mahasiswa-mahasiswa itu berpamitan pulang.

Ayah masuk ke ruang kerja dan memintaku menyudahi permainanku. Wajahnya terlihat gundah.

Tanpa sedikit pun menyanggah, aku pun berlalu dari hadapannya.

AYAH tidak pernah maju dalam pencalonan pejabat kampusnya. Ia lebih banyak belajar di rumah. Berkutat hingga subuh hari dengan tulisan-tulisannya. Lemari buku ayah pun makin padat isinya. Ada perubahan yang aku lihat, jika dulu buku-buku yang masuk banyak dari sosiologi dan hukum, tapi sekarang lebih pada agama. Buku-buku Ali Syari’ati dan Murtada Mutahhari yang banyak menemani keseharian ayah.

Dua tahun kemudian, ketika aku akan merayakan ulang tahun ke tujuh belas, ayah meninggal dunia.

Sejak itu bunda sibuk sekali. Mengajar dari pagi hari hingga malam hari, menggantikan kelas-kelas yang dulu ayah ajar dan menggantikan nafkah yang dulu ayah cari. Bersama mbak dan abanglah, aku banyak menghabiskan hari.

Aku masuk ke dunia kampus tepat di saat terjadinya reformasi. Beserta kawan-kawan yang lain, aku pun terseret arus demonstrasi dan diskusi yang selalu selesai jika malam telah tiba. Menginap dari pekon ke pekon untuk pengorganisiran basis. Kegiatanku ini bukannya tidak membuat bunda khawatir. Seringkali bunda meminta untuk aku tidak ikut dalam aksi. “Kuliah saja,” pinta bunda, “lalu pulang. Jangan pergi demo ataupun turun ke rakyat. Itu akan sangat berbahaya.”

Bunda tahu bahwa aku tidak akan mengabulkan permintaannya dan ini kerap membuat bunda terlihat sangat sedih. Seperti di meja makan siang itu.

“Bunda tidak mengerti,” kataku angkuh. Menyuapkan nasi terakhir ke mulutku.

“Bunda mengerti, Atu. Tapi Bunda tidak mau kehilangan kamu.”

“Untuk sebuah perubahan tentu butuh korban, Bunda,” kataku lagi, menggurui.

Bunda terdiam dan bangkit berdiri. Mengangkati piring-piring makanan dan juga piring yang kami pakai makan tadi. Ia beranjak pergi, menuju tempat cuci piring di samping rumah. Dari sela-sela suara air yang mengucur aku dapat mendengar isak tangis bunda.

“Ah, Bunda tak akan mengerti,” pikirku, “Jika saja ayah ada, pastilah ia mendukung perjuanganku ini.”

“Organisasi apa yang dulu ayah ikuti?” tanyaku pada paman, ketika kami bertemu di Hotel Garuda, kota Medan. Pamanku, adik ayah, adalah seorang politisi. Di Medan kami bertemu di sebuah forum yang dibiayai Partnership for Good Governance untuk menyambut pemilu.

“P-sebelas lalu Muhammadiyah.”

“Tidak mungkin,” sanggahku.

“Kenapa?” tanya paman.

Aku ceritakan pada paman tentang malam hari saat mahasiswa ayah datang dan memintanya mundur dari pencalonan pejabat. Tentang ucapan mereka bahwa ayah tidak bersih lingkungan. Aku bertanya pada paman, “Bukankah itu berarti bahwa ayah dari organisasi kiri? Dan karena itulah aku pun sekarang di sini. Ingin mengikuti dan membaui seluruh jejak perjuangan ayah.”

Paman tersenyum, dielusnya rambutku dan berkata pelan, “Bukan. Bukan ayahmu itu, Atu.”

“Lalu siapa?” tanyaku, hampir menutup telinga. Tak sanggup rasanya mendengar kenyataan yang berbeda dengan apa yang aku yakini selama ini. Karena kenanganku akan ayah yang berjuang di organisasi kiri-lah yang selalu menjadi api di hatiku.

Sesampai di rumah aku langsung ke ruang kerja ayah. Menuju lemari buku dan membuka pintu geser kayu. Mencari apa-apa yang mungkin selama ini aku lewati. Kembali aku buka satu per satu buku-buku yang sejak kecil dulu aku kunyah dan aku cerna. Sampai akhirnya tanganku menemukan buku Di Bawah Bendera Revolusi, buku yang selama ini selalu aku jauhi karena tebalnya. Perlahan aku buka sampulnya. Di lembar pertama buku itu tertulis sebuah nama.

Dan itu bukan nama ayah.

Kubaca berulang kali nama yang telah melamur itu.

Di atas nama itu meliuk indah tulisan tangan bunda: Untuk bapak dan ibu/ yang mati ditembak/ di hadapanku.

Newcastle upon Tyne, July 2010.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*