Naya

Zurnila Emhar Ch
http://www.riaupos.com/

Naya kembali merapatkan jaketnya. Angin malam begitu tajam menusuk kulitnya. Dingin! Tapi ini bukan alasan agar ia segera menenggelamkan dirinya dalam selimut. Pekerjaan ini harus selesai malam ini. Ia tidak ingin kehilangan langganan hanya karena ia tidak bisa menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.

Setiap malam selalu begitu. Naya harus berjuang melawan dingin dan kantuk yang menyerangnya. Sudah berkali-kali ia mendesis karena jarinya tertusuk jarum; menandakan ia telah lelah. Tapi Naya tidak mau menyerah. Satu baju lagi. Payet-payet ini harus terpasang dengan rapi.

?Naya! Kamu belum tidur??

Naya mengangkat kepalanya. Ibu berdiri di pintu kamar. ?Sebentar lagi, Bu.?

?Sudah jam dua belas, Ya. Jangan memaksakan diri.?

?Tanggung, Bu. Satu lagi.? Dalam hati Naya berharap semoga ibu tidak ikut duduk dengannya agar ia bisa menyelesaikan pekerjaannya.

?Besok kamu harus bangun pagi-pagi, Nak. Kamu harus menyiapkan gorengan yang akan dijual adikmu,? kali ini bapak yang bersuara dari dalam kamar.

?Iya. Naya sebentar lagi tidur, Pak.?

Naya meluruskan kakinya. Kepalanya terasa berat karena kantuk yang menyerang tapi tangannya masih sibuk dengan jarum dan manik-manik itu.

?Sini, Ibu bantu,? tiba-tiba ibu sudah duduk di sampingnya. ?Kamu jahit dadanya dan Ibu jahit lengannya.?

?Eh … eh … Ibu tidur aja. Ibu kan masih sakit. Biar Naya saja.? Naya meraih jarum dari tangan ibu dan menyisipkan ke kumparan. Kalau sudah seperti ini ia harus mengalah. Daripada ibu ikut begadang bersamanya lebih baik ia segera tidur.

?Ya sudah. Yuk kita tidur, Bu. Naya juga sudah ngantuk nih,? Naya langsung memasukkan baju-baju yang sudah selesai dijahit ke dalam kantong plastik.

?Uhuk … uhuk … ? ibu memegangi dadanya.

Makin hari batuk ibu makin parah. Dia nampak tersiksa sekali dengan batuknya. Tapi dia menolak ketika Naya mengajak berobat ke Puskesmas. Ia percaya batuknya akan sembuh dengan sendirinya.

?Nah, tuh kan batuk Ibu makin parah. Ibu harus banyak istirahat.? Naya memegangi bahu ibu untuk membantunya berdiri.

?Kamu juga harus banyak beristirahat. Kamu mau nanti jatuh sakit seperti Ibu?? kata ibu sambil berdiri dengan susah payah.

?Naya baik-baik saja kok, Bu. Ibu gak usah khawatir.?

?Penyakit datangnya tidak pernah minta izin terlebih dahulu, Naya. Kamu tidak bisa memastikan kalau di tubuh kamu itu memang gak ada penyakit.?

?Iya, Bu. Naya akan jaga kesehatan kok.?

?Kalau kamu yang jatuh sakit siapa nanti yang akan menjaga bapak dan adik-adikmu.?

?Ibu ngomong apa sih?! Ya kita semualah, Bu.?

?Ibu ini gak bisa kamu harapkan. Mungkin saja Ibu tak akan lama lagi. Kamu lihat kan penyakit ibu makin parah.?

?Ah Ibu,? Naya langsung mematikan lampu ruang tamu karena ibu juga sudah masuk ke dalam kamarnya.

Ruang tamu? Entahlah. Naya tidak tahu apakah ruangan ini pantas disebut ruang tamu. Yang ia tahu semua kegiatan dilakukan di sini. Menerima tamu, makan, kerja, belajar, bikin penganan untuk dijual adik-adiknya bahkan Syukri sama Heri juga tidur di sini.
Tapi mereka tidak pernah mempermasalahkannya. Bagi mereka inilah istana mereka. Rumah papan berukuran lima kali empat meter dengan dua kamar yang kecil. Satu kamar untuk bapak dan ibu. Satu lagi untuk Naya, Eli dan si bungsu Tata. Sebuah kamar tidur yang lebih tepat dikatakan ruang ganti pakaian.
***

Naya bergegas melipat mukenanya. Kemudian membangunkan Eli untuk membantunya membuat gorengan. Makanan ini nanti akan ditaruh di kedai Bu Mini dan sebagian lagi dibawa Eli ke sekolah.

Seperti biasa ketika matahari merangkak dari peraduannya, semua anggota keluarga pun sudah siap dengan aktivitas masing-masing. Yang pertama kali turun adalah bapak. Hari ini bapak dapat pekerjaan memanen padi pak Sobri. Lalu ibu. Ketika melihat ibu hendak pergi Naya menegur, ?Ibu tak usah pergi. Ibu di rumah saja. Ibu kan masih sakit.?

?Ibu sudah merasa baikan kok,? ibu sibuk merapikan dasternya.

?Bagaimana kalau nanti Ibu pusing terus jatuh?? sambung Syukri dengan nada khawatir.

?Ah kalian terlalu mencemaskan Ibu.?

Naya hanya bisa menatap punggung ibu yang makin menjauh. Ibu betul-betul hebat. Ia boleh dibilang wanita perkasa. Kesulitan?kesulitan yang dihadapi dalam menjalani hidup membuatnya tidak pernah mengeluh. Ia tidak bisa berdiam diri walau dalam keadaan sakit sekalipun. Ibu, Naya sayang ibu.

?Tak makan dulu, Ii?? Naya mengalihkan perhatian pada Syukri yang bersiap hendak berangkat.

?Belum lapar, Kak,? Syukri yang biasa dipanggil Ii memasang resleting jaketnya tanpa menoleh pada Naya.

?Kamu bawa nasi bungkus saja ya, biar Eli bungkuskan.?

?Ya tak apa-apa. Cepat Li! Kalau terlambat aku bisa dipecat.?

Naya menghirup napas dalam-dalam. Ia kasihan pada Syukri. Anak laki-laki pertama itu harus rela putus sekolah dan harus menjalani hari-harinya sebagai buruh bangunan untuk membantu perekonomian keluarga.

Bagi Naya orang-orang yang dicintainya tersebut adalah pahlawan. Bapak dan ibu yang tak pernah mengeluh. Syukri yang tidak pernah menyesali keadaan. Eli dan Heri yang tidak pernah minta macam-macam. Cuma Tata yang sering rewel dalam lima hari ini selalu minta mainan pesawat seperti milik temannya. Mereka semua adalah bara api di hati Naya yang selalu mengobarkan semangat untuk kuat menjalani hidup yang keras.

Setelah semuanya berangkat Naya membereskan peralatan rumah tangga yang berserakan. Ia pun bersiap-siap untuk berangkat.

?Nanti pesawatnya jadi dibeli kan, Kak?? Tata memandang Naya penuh harap.

Matanya yang bening bagai bintang yang berkerlip-kerlip. Andai ia tahu bahwa Naya juga sangat ingin membelikan mainan itu untuknya. Tapi Naya belum punya uang. Apalagi pesawat mainan yang diminta Tata adalah yang berukuran besar.

?Sabar ya, Dik. Kalau uang Kakak sudah cukup pasti Kakak belikan,? Naya meraih kepala adiknya dan merapikan poninya.

?Kapan uangnya cukup, Kak? Atau Tata minta belikan sama Bang Aris, ya? Dia kan baik.?
Glek! Kerongkongan Naya terasa tercekat. Aris? Sejak kapan Tata kenal Aris? Keponakan Bu Titi itu nampaknya memang ramah dan belakangan ini kehadirannya telah mengusik ketenangan hati Naya. Pemuda itu selalu menyapanya setiap kali ia lewat depan rumah itu. Dan Naya pun akan tersenyum sebelum buru-buru berpaling. Ia akan mencoba untuk berjalan dengan cepat walau kakinya terasa berat. Dan ia tahu dadanya selalu berdebar setiap kali lewat depan rumah itu.

?Boleh kan, Kak? Nanti Tata bilang sama Bang Aris.? Seperti kebanyakan anak kecil Tata pun menggoyang-goyangkan tangan Naya.

?Tata, Kakak kan sudah bilang, Tata tak boleh minta-minta selain pada bapak, ibu, Kakak, Bang Ii, Kak Eli dan Bang Heri. Artinya Tata juga tak boleh minta sama Bang Aris walau dia baik.?

?Tapi Kak…?

?Maafkan Kakak ya, Dik. Kalau nanti uang Kakak cukup pasti Kakak belikan. Sekarang Tata main dulu. Kakak mau berangkat,? kecupan Naya pun mendarat di dahi gadis kecil itu.
?Tapi Kakak janji kan??

Naya mengangguk dan sedetik kemudian gadis kecil itu sudah berlari.

Setelah menutup pintu, Naya berjalan tergesa-gesa. Di depan rumah Bu Titi ia terpaksa mengangkat roknya sedikit biar langkahnya lebar-lebar. Walaupun udah tergesa-gesa seperti itu tetap saja Naya merasa ada seseorang yang memperhatikannya dari dalam rumah besar tersebut.

?Aduh!? hampir saja Naya jatuh. Sebuah batu menyandungnya.

?Ojek??

Naya mengangkat tangannya. Dan sepeda motor itu melaju ke arahnya.

?Ke pasar lagi, Naya??

?Iya, Pak, ke pasar dulu.?

?Kenapa tidak langsung saja ke tempat kerja? Kok lewat pasar dulu? Kan pasarnya tetap di situ?? laki-laki separoh baya itu tersenyum tipis.

?Naya ingin memastikan kalau pasarnya tak diangkat orang semalam, Pak??

?Ha … ha … ha … ? tawa laki-laki itu pecah. Cuma sebentar. ?Ibu kamu sudah sehat kan??

?Sudah lebih baik, Pak.?

?Entah kenapa semalam bapak semalam mimpi sama ibu kamu. Bapak melihatnya pergi tapi entah kemana. Bapak panggil-panggil, eh dia malah makin jauh,? laki-laki itu seperti bingung.

Naya diam saja mendengar laki-laki itu. Ia tengah bermain dengan angan dan degup jantungnya.

?Sudah sampai!?

Naya langsung turun. Setelah membayar ongkos ojeknya ia langsung ke tempat biasa ia mengantar baju-baju yang selesai dipayetnya. Tidak sampai lima menit Naya pun sampai di tempat yang ditujunya.

?Wah cepat sekali selesainya, Nay. Padahal kan baru dua hari.? Uni Meli mengambil satu-persatu baju yang sudah selesai dipayet Naya.

?Tapi masih kurang satu, Ni.?

Naya lalu memasukkan baju-baju baru yang akan dipayetnya ke dalam kantong plastik yang dari tadi dibawanya. Setelah menerima uang, ia segera berlalu.

Mula-mula ia membeli lauk-pauk seadanya. Lauk-pauk itu nanti akan dibawa ke tempat kerja. Setelah pulang sekolah Eli akan menjemputnya. Naya terus menyusuri pasar. Tak dihiraukannya hiruk-pikuk di sekelilingnya. Tujuannya sekarang adalah toko mainan. Ia akan carikan pesawat mainan untuk Tata. Baru setelah itu ia ke tempatnya bekerja.
***

?Potnya bagus sekali, Naya. Kamu memiliki bakat seni juga. Ini pasti laku seperti yang kemarin.?

Naya hanya tersenyum. Ia terus bekerja. Entah kenapa sejak Eli pulang tadi siang ia juga sangat ingin pulang. Tapi ia harus menyelesaikan pekerjaannya. Pot-pot dari tanah liat itu harus selesai hari ini. Kemudian ia juga harus melukis motif-motif pada pot yang sudah selesai dicat.

?Naya!? itu suara bosnya.

Naya berpaling. Dugh! Darah Naya terkesiap. Ada Aris di samping bosnya. Setelah mencuci tangan ia mendatangi keduanya. Ia berusaha bersikap sewajar mungkin agar tidak kelihatan gugup.

Naya bingung. Ia harus pulang? Padahal baru jam tiga sore. Apa yang terjadi di rumahnya? Kenapa Aris ke sini? Bingung, takut dan suatu perasaan yang lain pelan-pelan menyusup ke dalam hatinya. Semua bercampur menjadi satu. Ketika bosnya mempersilakan pulang Naya hanya mengikuti langkah Aris.

?Helmnya, Naya!?

Dalam keadaan gugup dan tetap menunduk Naya menerima helm itu. Ada apa?

Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir mereka selama dalam perjalanan. Naya cuma menerka-nerka apa yang terjadi di rumahnya karena Aris cuma mengatakan, ?Sebaiknya Naya pulang dulu.? Naya merasa bodoh karena tidak mengetahui alasan dia pulang tapi ia memang ingin pulang. Ketakutan pun makin kuat mencengkramnya.

Aris parkir di halaman yang kecil. Dada Naya berdebar makin kencang. Takut! Jantungnya seakan mau copot. Banyak sekali orang yang berkumpul di halaman rumahnya. Rumahnya juga sesak. Dengan bingung Naya membiarkan Bu Titi mengandengnya tapi sebelum ia masuk ke dalam rumah Tata sudah berteriak nyaring, ?Kak Naya, kita tidak punya ibu lagi! Ibu ditemukan di kebun sudah tidak bergerak!?***

Zurnila Emhar Ch memenangkan beberapa lomba menulis cerpen di Riau. Cepennya pernah dimuat di Singgalang dan Padang Ekspres. Sedang belajar menulis di Sekolah Menulis Paragraf. Tinggal di Pekanbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *