PULANG KAMPUNG KE RUMAH DUNIA

Halim HD*)

http://rumahdunia.net/

Baru-baru ini aku balik ke kampung halaman, Serang, Banten, diundang untuk sarasehan teater rakyat dalam acara lintas propinsi. Pada acara teater rakyat itu datang sebanyak 14 grup dari 9 propinsi di Indonesia. acaranya di alun-alun kota Serang dari tanggal 18-20 juli 2005. Kondisi alun-alun Serang sudah nggak kayak dulu, waktu saya masih sekolah rakyat Mardi Yuwana, taon 1960-an, jaman Bung Karno. Alun-alun sudah rusak, pepohonan sudah banyak yang ditumbangkan. Diganti pembangunan, namun kualitasnya buruk. Banyak orang yang menonton. Setiap malam disajikan 4-5 grup. sekitar serebuan orang datang menyaksikan khasanah yang pernah moncer di daerah pedesaan en kampung-kampung. Namun ada juga grup yang datang bukan dengan pelaku riil, namun pelaku rekonstruktif.

Sarasehan berjalan sengit. banyak usulan, namun banyak juga yang kurang logis. Yang pasti, semuanya prihatin tentang kondisi en posisi teater rakyat yang makin di/ter-gusur oleh media massa elektronis maupun oleh politik kebudayaan pemerintah yang tidak memiliki keperdulian lagi kepada khasanah senibudaya itu. Mereka cuma jadi pelengkap penderita en cuma jadi lip service pada waktu acara setaon sekali.

Teater rakyat makin ter/di-gusur juga oleh karena makin tiadanya ruang-publik. Public space digusur oleh kepentingan politik ekonomi en itu berkaitan dengan kepentingan kekuasaan en pemegang kapital. Maka ketika alun-alun Serang dipenuhi oleh sekitar serebuan orang yang menyaksikan tontonan itu, saya beranggapan bahwa benar sinyalemen saya selama belasan taon, bahwa ruang publik itu adalah wilayah dimana hal-hal yang berbau kerakyatan senantiasa berada ditengah-tengah publik, en ruang publik adalah wilayah dimana mereka melakukan pengingatan kembali kepada sesuatu yang pernah mereka miliki. Jadi, peristiwa itu sebagai usaha menggali kembali memori sosial.

PUSTAKA RUMAH DUNIA (PRD):
Naah, waktu balik kampung itulah aku dengan niat sekalian pulang kampung aku ingion bertemu dengan Gola Gong en beberapa teman yang sangat aktif dengan dunia tulis menulis. Pagi hari aku sampai di Serang, lalu jalan sekitar sekilo setengah menyusuri jalan-jalan yang pernah aku lalui ketika kecil en remaja, serta mencari warung-warung yang buka pagi hari yang aku kenal, seperti warung ketupat sayur lodeh dengan lauk pepes teri serta goreng tempe, tahu en ikan asin di jalan Tirtayasa dekat bioskop Royal yang sekarang sudah ambrug. Tapi semuanya sudah tiada. lalu aku cari yang jualan ketupat krupuk di etmpat laen. Langgananku juga sudah tiada. Ada penjual laennya. Aku nongkrong. En pesan sepeiring. Cuma 2 rebu rupiyah. Dengan surungan segelas teh tawar hangat, aku akhiri santapan pagi itu. aku lanjutkan jalan menyusuri kampung tetangga. Sampai di rumah keluarga yang dihuni oleh adek en kakaku, kebon sayur, mangga dua, kelurahan kota baru. Aku cuci tangan, cuci muka. Aku aku ke meja altar, perabuan keluarga yang sudah bertaon-taon ritual itu tak pernah aku jalankan. setelah itu aku istirahat barang 2-3 jam. Mandi. nelpon Gola Gong. Janjian. Dia akan menjemput di jalan tirtayasa, didepan toko Sanjaya. Menunggu barang 15-20 menit. Jalan itu macet oleh angkota. Tidak seperti dulu, banyak pohon yang rindang en banyak warung yang enak. Sekarang penuh oleh pedagang kaki lima en kendaraan yang berjubel.

Gola Gong nongol. Aku dibonceng. Perjalanan dari tempat golagong menjemputku ke rumahnya sekitar 15-20 menit. Agak luar kota. sejak pagi aku sudah sumpeg dengan kondisi kota yang dulu di jalan kolonail sebagai kota pendidikan en penuh dengan pepohonan en lengang, kini semuanya dipenuhi oleh bangunan tanpa selera. en aku meerasa lega ketika memasuki desa golagong, waloupun jalannya amburadul lantaran truk-truk besar sering berlalu lalang di sana. tapi, semua kesum,pegan itu hilang sirna ketika aku emmasuki halaman rumah golagong yang asri en sejuk, sederhana. apalagi di san ada beberapa remaja yang sedang menyampul buku dengan plastik, agar buku bisa tahan en terjaga dari kotoran en keringat.

golagong mengenalkan aku kepada beberapa remaja itu yang sedang asyik en tekun bekerja. lalu aku diajak ke bagian dalam, rumah pribadinya. dikenalkan kepada isterinya yang sedang mengasuh anak kedua mereka. hatiku makin ayem tentrem. apalagi sudah disuguh untuk makan siang, daun pepaya en sambal kelapa serta goreng ikan mujair. golangong memanggil firman, salah seorang aktivis en voluntir PRD. dia mahasiswa s-2 di ui, en juga musisi, disamping penyair.

kami makan bersama. Rasanya nikmat. alhamdulillah, rezeki selalu saja ditemui ditempat yang ramah. setelah itu kami nongkrong di ruang tamu, di depan perpustakaan. kongko soal grup musik-sastera yang dikelola oleh firman. grupnya bagus sekali. saya menyaksikan melalui vcd. beberapa orang berdatangan en saling berkenalan. semuanya anak-anak muda en remaja, laki-laki en perempuan. sejam kemudian wowok hesti prabowo datang, ketua dewan kesenian tangerang, bersama temannya, penyair juga. ngobrol. kami pindah tempat ke halaman sebelah utara, seluas beberapa ratus meter. disitu ada ruang baca, perustakaan, ruang pertunjukan, halaman yang luas, en juga toko buku sederhana. kongko en diskusi santai.

menjelang jam 2 siang berdatangan satu-persatu remaja en kaum muda. mereka mau woksyop penulisan yang akan doberikan oleh golagong. itulah program PRD yang setiap minggu menyelenggarakan woksyo penulisan berita, cerpen, novel, puisi. pada acara itu ada sekitar 20-an orang. disamping itu di PRd juga diselenggarakan acara diskusi buklu, pembacaan puisi, woskyop teater en pertunjuukan musik-sastera en kegiatan seni budaya laennya. yang sangat menarik, warga disekitar juga terlibat. golagong meminta saya mengenalkan diri kepada peserta woksyop. kami kongko sebentar. saya sampaikan kepada rekan-rekan muda itu bahwa menulis en membaca adalah jembatan emas untuk ke depan. dengan menulis setiap orang melakukan suatu tabungan tentang masakini yang akan dibaca oleh siapa saja pada waktu yang akan datang.

saya tekankan kepada rekan-rekan muda itu bahwa ada kaitan kuat antara menulis dengan membaca. membaca bukan hanya membaca buku tapi juga membaca lingkungan sekitarnya, masalah-masalah sosial en problematika dari ruang tamu sampai dengan keputusan politik yang bisa dibaca en didengar lewat obrolan di warung maupun siara radio. semuanya perlu dicatat en ditulis setelah direnungkan. en disitu pula betapa pentingnya melakukan riset dalam pengertian sesungguhnya: penggalian kembali sumber-sumber bertulisan maupun yang bersifat oral, seperti sejarah en cerita lisan yang ada disekitar kita. bukankah kekuatan pak pramoedya dalam menulis novel adalah karena riset (re-search) yang kuat, mendalam, seperti juga octapio paz atau siapa saja pengarang yang melahirkan karya besar bagi masyarakatnya? di dalam riset pula kita melakukan suatu komprasi perspektif pemikiran, memperbandingkan data, fakta serta aliran-aliran pemikiran yang ada secara lisan maupun bertulisan pernah ada.

hal seperti ini jugalah yang pernah kusampaikan secara bertulisan en lisan kepada YUSRIZAL KW, di padang, yang bersama teman-temannya mengelola SANGGAR PELANGI (SP), yang mengkhususkan diri ke dalam kegiatan penulisan berita, cerpen, puisi, novel maupun lakon/drama. di PRd sudah ratusan remaja en kaum meuda terlibat dalam woksyo itu, seperti juga SP yang berkeliling dikota-kota di propinsi sumbar.

beberapa jam berada di selingkungan rumah golagong yang sekaligus juga dijadikan wilayah publik yang dengan cerdas, bijak en strategis itu, aku merasakan bagian dalam dadaku menjompak. aku bersyukur bisa sempat singgah, mampir untuk bertemu dengan puluhan rekan-rekan kaum muda en juga beberapa teman yang sudah kukenal. en dilingkungan itu pula aku merasakan suatu buaian impian yang kini justeru diwujudkan oleh golagong bersama teman-temannya: dunia menulis yang akan terus mengalir bagaikan sungai yang tak pernah surut yang akan merembesi lahan-lahan yang kini kerontang en akan jadi hijau oleh pikiran en sejarah serta biografi dari mereka yang kini tekun menggoreskan penanya.

dalam konteks wilayah banten, betapa aku merasakan suatu getaran historis yang strategis seperti yang dilontarkan oleh rekan-rekan PRD: asah penamu simpan golokmu!! sebab, aku tahu benar sebagai anak yang dilahirkan en empat generasi lahir di serang-banten, bagaimana karakter kekerasan en machoisme serta watak jawara yang dimanipulir dengan cara bilah golok yang selalu dipamerkan en selalu dijadikan alat untuk menakut-nakuti warga, en bagaimana penguasa menggunakan para jagoan en jawara sebagai alat untuk melenggengkan kekuasaannya en memenangkan tender-tender proyek pembangunan.

sejak rejim orba berkuasa, nilai atou khasanmah senibudaya serta karakter banten dimanipulasi oleh kekuasaan politik yang hanya berpihak kepada elite yang tak pernah berpikir tentang ruang publik serta kepentingan warga. en menyaksikan kegiatan PRD di serang seperti juga kegiatan SP di padang, aku punya optimisme yang bangkit en merasa segar kembali seperti selalu ketika aku bertemu dengan rekan-rekan yang lebih muda namun dengan ketekunan menulis en melakukan riset untuk kembali mempertanyakan sejarah en memebrikan perspektif lain melalui cerpen, puisi, novel maupun lakon drama.

Yaaa, tulis, tulis, tulis en tulis, en semuanya punya makna! salam:
Halim HD.
Networker Kebudayyaan asal Kebon Sayur, Serang,kini mukim di Solo.
Sumber tulisan dari:

http://rumahdunia.net/wmview.php?ArtID=407

http://rumahdunia.net/wmview.php?ArtID=407&page=2

http://rumahdunia.net/wmview.php?ArtID=407&page=3

Leave a Reply