Randu Rekah

Kurnia Effendi
suarakarya-online.com

“AKU akan melamarmu di musim randu rekah. Saat itu langit di atas kampung kita dikelilingi kapuk yang melayang-layang seperti burung putih yang larut oleh hembusan angin,” kata Sanusi pada suatu senja di tepi sungai. Sepasang kakinya terjulur ke tebing yang memiliki undakan batu. Sesekali air memercik dingin. Melepaskan serpih lumpur yang mengering di atas matakaki.

“Aku tak ingin mendengar janji apa pun.” Tami memandang langit yang mulai dijalari warna kesumba. Ia mulai membayangkan gumpalan kapuk yang melepaskan diri dari kulit buah randu, bukan terjun merendah, melainkan terbang semakin jauh. Dan Tami sungguh takut jika cinta Sanusi suatu saat menjauh.

“Aku serius, Tami. Coba pandang mataku.” Wajahnya mendekat. Tami tahu dari hembusan nafasnya yang menyapu pipi.

“Sudah kubilang, aku tak ingin mendengar janji apa pun.” Tami bertahan tidak menoleh. Reranting randu di atas kepala mereka nampak seperti coretan tangan seorang arsitek. Batang kehijauan menjulang, meraih gumpalan awan.

“Janjiku tidak berlebihan. Kukira, itu tak sampai tahun depan.” Selanjutnya Tami merasakan hidung Sanusi menyentuh lingir dagunya. Rambutnya berkibar oleh angin yang berhembus sepanjang sungai. Suara kericik air yang membentur batu memperdengarkan komposisi musik.

Dan Sanusi menciumnya. Memagut kelopak bibirnya begitu dalam. Sedikit terengah oleh nafsu. Dalam percakapan, Sanusi menyebutnya sebagai hasrat dari cinta. Tami tahu. Tami sangat paham karena ia pun memiliki rasa cinta pada lelaki itu. Kangen akan memenuhi rongga dadanya setiap kali Sanusi tidak berada di depannya ketika sedang dibutuhkan. Misalnya ketika Tami ingin menyampaikan perkembangan perasaan ibunya terhadap Sanusi, sementara lelaki itu sedang berada di pos penampungan getah karet. Dan baru sore hari dapat ia berikan kabar itu, tetapi tentu dengan letupan perasaan yang mulai layu.

Sanusi masih menciumnya. Lidahnya kadang-kadang menerobos ke dalam celah bibir Tami. Ia suka tersengal, tapi sedikit disembunyikan. Tami ingin memeluk erat tubuh Sanusi dengan kedua tangan lalu rebahan atau bergulingan di atas rumput. Jika sesekali kehilangan kendali, mungkin akan merosot di tubir tebing hingga tubuh mereka tercelup bersama-sama ke dalam sungai. Mungkin menjadi adegan yang sangat menarik: bercinta sekaligus berenang melawan arus air.

Tapi tidak. Sanusi telah menyelesaikan ciuman panjang itu. Memandang wajah perempuan pujaannya itu dengan mata yang berbinar. Tami sungguh terharu melihat api semangat menyala di sana. Pasti tekadmu untuk melamarku begitu tinggi, pikir Tami. Seraya membayangkan sebuah pelaminan, sebuah ranjang, dan sebuah percintaan yang bebas. Sayangnya, mengapa Sanusi menjanjikan waktunya? Padahal Tami ingin semuanya mengalir dan terjadi begitu saja. Seperti sungai di depannya. Tami tidak ingin kecewa jika sewaktu-waktu janji itu meleset.

“Bagaimana?” Sanusi masih mengharap jawaban Tami.
“Terserah kamu,” Tami hanya tersenyum. Selalu tidak tega membuat perasaan lelaki itu patah.

“Apa maksudmu dengan terserah?” kejar Sanusi. “Tidak bermaksud meragukan janjiku, bukan?”

“Aku percaya. Bukankah selama ini aku percaya padamu?” Tami memandangi mata Sanusi. Ingin menangkap sesuatu yang mungkin tersembunyi.

“Ya,” akhirnya Sanusi menghela nafas seperti melepaskan beban. Ia kembali duduk di samping gadis itu. Matanya memandang langit, seperti ingin menyambung pemandangan berhias reranting pohon randu yang tadi terputus oleh peristiwa ciuman.

“Mari kita pulang,” ajak Tami. Sebentar lagi senja berakhir.
***

DAN kini, senja yang cantik di tepi sungai itu, tidak lagi ditemui Tami. Ia memang bisa mengunjungi tempat yang sama, seperti sekarang ini, tapi tidak dengan kehadiran Sanusi. Tidak dengan hembusan nafasnya di sekitar pipi. Tidak dengan ucapannya yang mengandung banyak harapan.

Sungai itu masih juga mengalir ke arah yang sama. Bening dan mempertontonkan samar-samar kontur di dasarnya. Kadang-kadang Tami dapat berkaca jika membungkukkan badan sambil berpegangan pada batang petai cina yang tumbuh di tebing sungai. Kadang-kadang dapat dilihatnya buah-buah randu yang bergelatungan seperti kantung tidur berwarna hijau, dan awan-awan berserak sebagai latar.

Tapi, seperti ucapan seorang filosof, sungai hari ini berbeda dengan sungai kemarin dan esok pagi. Air itu tidak diam. Mereka terus mengalir dari hulu ke hilir. Yang ditemui Tami sekarang, andaikan bisa bicara, tak mungkin menjadi saksi janji Sanusi senja itu. Kini dia hanya sanggup mengenang sendiri. Entah kenapa, merasa sangat bahagia jika yang dikenangnya adalah peristiwa manis sebelum Sanusi menghilang. Tami akan menyebutnya sebagai nostalgia bersama bekas kekasih.

“Aku akan mengirim surat setiap pekan. Aku punya waktu pada setiap Sabtu malam atau Minggu pagi. Pada hari Senin, saat istirahat, aku akan pergi ke kantor pos yang tak jauh dari proyek.”

Hari Jumat pada pekan yang sama, biasanya Tami menerima surat Sanusi. Perasaannya bahagia, karena tulisan Sanusi mengandung cinta. Mengandung rasa kangen yang dalam. Tami sanggup mengulang baca beberapa kali dan tak ingin jauh-jauh menyimpannya. Tami juga bersemangat membalasnya. Meskipun kemudian harus naik sepeda ke arah kecamatan sepanjang lima kilometer. Di samping kantor Camat ada sebuah kubus kecil – Tami menyebutnya demikian karena sebagai sebuah kantor tampak terlalu mungil – dengan pintu dan lisplank berwarna oranye. Di situlah Tami menyerahkan surat yang sudah dimasukkan ke dalam amplop. Dibelinya prangko dan benar-benar menunggu sampai petugas pos yang ramah itu memalu tera ke atas prangko dan memasukkan surat itu ke semacam keranjang. Tentu, petugas pos itu tidak akan alpa membawa karung kecil berisi kiriman surat dan paket ke pusat kabupaten pada sore harinya. Tentu.

Sebelum surat itu benar-benar tiba di tangan Sanusi, ia selalu membayangkan lelaki pujaannya menerima dan membacanya dengan perasaan tak sabar. Sampai-sampai tidak menunggu keringatnya kering atau bahkan mandi terlebih dulu. Ah, pasti kertas surat yang semula bersih menjadi ternoda karena tangannya tidak sempat dicuci sepulang kerja.

“Mungkin saat Lebaran nanti aku tidak bisa pulang, karena gedung yang kami bangun harus segera selesai. Aku akan nitip paket saja kepada saudaraku yang pulang kampung. Ya, sekedar hadiah Lebaran. Mudah-mudahan setelah bulan Syawal, aku benar-benar memiliki libur panjang.”

Tami membaca surat Sanusi di awal Ramadhan itu dengan rasa sedih. Seperti ada yang tercerabut. Di saat semua orang berbahagia karena berkumpul dengan handai-tolan, kekasihnya tidak muncul. Seolah Sanusi telah merencanakan untuk tidak muncul. Meskipun itu bukan kehendakmu, batin Tami, tapi aku menganggapnya seperti itu. Kau telah merencanakan untuk tidak muncul! Mudah-mudahan suratmu kali ini mengandung canda.

Sebenarnya Tami dulu ingin menghalang-halangi kepergian Sanusi. Sebagai bekas mahasiswa Fakultas Pertanian yang drop-out karena lebih banyak menghabiskan waktunya di luar kampus sehingga menyia-nyiakan batas toleransi perkuliahan itu, ia lebih dibutuhkan di desanya ini. Sebuah wilayah di pinggang gunung yang sangat cocok untuk bertanam cengkeh dan kopi, selain pohon karet dan pinus. Toh Sanusi tidak terlampau bodoh. Bahkan dalam berbicara tampak luas perbendaharaan katanya. Terlihat kaya dengan gagasan meskipun kadang-kadang terasa aneh. Namun Tami yakin, Sanusi mampu mengumpulkan para petani dan pemilik kebun untuk sedikit belajar mengenai cara menanam bibit yang baik. Atau tentang bagaimana cara menyiasati musim yang sering tidak teratur.

Entah mengapa, lelaki itu justru tertarik dengan suasana pembangunan di kota. Di Jakarta pula. Katanya, ia ingin mempersembahkan tarikan ototnya dengan turut membangun gedung berlantai puluhan, yang tingginya tidak kepalang. Ketinggian yang akan membuat orang singunen, gemetar dan berkunang-kunang.

“Aku senang membaca suratmu, Tami. Kamu banyak memiliki cerita lucu, yang ketika aku di dusun tak pernah muncul. Aku jadi sering merasa kangen. Tapi perjuangan memang tidak ringan, tidak sederhana, dan untuk mencapai keinginan selalu diperlukan semacam pengorbanan.”

Tami suka menyeka airmata setiap perasaannya tersentuh haru. Begitu besar hasrat Sanusi untuk menjadi seorang yang akan dihormati karena memiliki banyak uang. Tapi dia tak pernah bertanya kepadaku, bisik Tami, apakah yang sesungguhnya aku butuhkan? Dia tak pernah tahu, bahwa aku lebih bangga ketika dia bersedia mengembangkan desanya sendiri. Menggarap hutan atau kebun yang pasti membuatnya lebih sehat. Tanpa gelar insinyur bukan berarti tidak memiliki kecakapan setingkat insinyur.

Ternyata benar, segala janji Sanusi segera menjadi serpih ditiup angin. Setelah Lebaran tiada kabar dia akan pulang menjenguk Tami. Acap kali ibunya menanyakan kepastian lelaki itu akan melamar, atau setidaknya pulang menunjukkan diri bahwa masih setia terhadap kekasihnya. Diam-diam, di sudut malam, ketika hawa dingin meresap ke sela anyaman dinding rumah, disaksikan bulan yang sedang purnama, Tami menangis. Dia merasa lelah dengan keadaan seperti itu. Kesepian seorang diri selama berbulan-bulan. Ia menyesal telah mendengar janji Sanusi. Karena yang terjadi kemudian adalah yang selama ini ditakutkan.

“Sanusi berangkat ke Malaysia,” kata Sucipto beberapa hari yang lalu. “Kebetulan aku bertemu di Tebet.”
Mata Tami terbelalak, namun bibirnya terkatup gemetar.
“Apakah tidak meminta ijinmu?” tanya Sucipto kemudian.

Jangankan meminta ijin atau pendapat, bahkan memberi kabar pun tidak. Mata Tami terasa panas. Tapi tak mungkin seketika itu juga mencurahkan perasaan sedihnya kepada Sucipto.

Memang, awalnya, Sanusi tinggal beberapa minggu di rumah Sucipto sebelum mendapatkan dan mampu membayar kontrakan sendiri. Sebagai pedagang Batik Pekalongan, Sucipto telah memiliki banyak pelanggan di Jakarta. Alamatnya yang cukup dikenal di ‘pedalaman’ Warung Buncit sering menjadi tujuan surat yang datang dari desa di pinggang gunung ini.
Termasuk surat Tami untuk Sanusi!

Barangkali surat Tami yang terakhir, yang mengabarkan bahwa orangtuanya telah berulangkali menanyakan niat Sanusi untuk melamarnya, tidak sempat diterimanya.

Tami menggeleng karena Sucipto masih memandangnya. “Aku menunggu suratnya, Kang. Lama tak kunjung tiba.”

“Boleh jadi, surat kamu yang terakhir itu tak pernah sampai ke tangannya.” Sucipto ikut cemas. “Aku suruh Bilung untuk mengantarkan ke kontrakannya. Tapi sehari kemudian aku justru bertemu dengannya sudah siap-siap berangkat bersama rombongan yang aku kurang mengenalnya.”
***

RANDU telah rekah. Angin semilir membuat kelopak kapuk itu berayun, sebelum menebarkan serpih putih. Sudah saatnya dipetik, dikupas, dan dipisahkan antara kapuk dengan biji kelentengnya. Lalu dihimpun dalam karung-karung.

Tami selalu menutup hidungnya yang indah setiap kali menangani kapuk-kapuk itu. Tidak seperti Nurimah atau Titi, yang tak pernah menjadi bersin-bersin oleh hembusan serat kapuk yang beterbangan.

Ayahnya sedang membaca koran yang terlambat dua hari tiba di desa ini. Konflik antara Malaysia dan Indonesia tampil sebagai berita utama, berkaitan dengan tenaga kerja ilegal yang harus pulang segera ke tanah air. Tidak secara baik-baik, melainkan terusir!

Tami pura-pura tak mendengar suara ayahnya yang sengaja membaca dengan keras. Ia hanya heran kepada Sanusi yang terpikat kebun kelapa sawit di negeri orang, sementara di desa ini masih ada hamparan tanah berbukit yang ditumbuhi pohon karet, damar, pinus, cengkeh, kopi, dan berbagai buah-buahan. Apa yang telah membuat mata lelaki itu nanar dan perasaannya kepincut? Sedangkan di sini ada seorang kekasih setia yang boleh dicium di tepi sungai, sambil memandangi langit senja dengan kapuk randu yang melayang-layang.

Perasaan nyeri itulah yang kemudian membawa kaki Tami berlari ke arah kebun di belakang rumah. Menerobos pagar yang terbuat dari batang-batang berduri pohon salak, menyusuri jalan setapak yang semakin menurun. Rerimbun petai cina, pohon durian, dan perdu dilalui dengan serabutan. Sampailah Tami di tempat landai tepi sungai, tempat dia biasa duduk-duduk bersama Sanusi lebih dua tahun yang lalu.

Dan Tami teringat janji Sanusi. Janji yang sesungguhnya tak ingin didengarnya. Karena saat ini, sambil berbaring ia bisa memandang buah-buah randu pecah merekah, memamerkan gumpalan kapuk. Sementara seseorang yang berjanji akan melamarnya justru tak terdengar kabar-beritanya. Kecuali tentang nasib buruk tenaga kerja Indonesia tak resmi yang sedang kalang-kabut berkemas dan harus pulang. Adakah Sanusi termasuk di antara mereka?

Tami menggeleng seraya tersenyum pahit. Mungkin akan terasa nyaman jika perlahan-lahan kakinya yang menggantung di lereng sungai itu dicelupkan ke dalam air yang mengalir gemericik. Dingin arus bening itu akan meresap ke kulit. Lalu perlahan-lahan pula ia pejamkan mata, agar tak tampak pemandangan yang membuatnya selalu teringat masa-masa indah dulu. Kemudian, siapa tahu dasar sungai itu berminat menarik tubuhnya untuk hanyut. Ya, siapa tahu?
***

* Jakarta, 2005

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *