Sajak-Sajak Indrian Koto

http://www.riaupos.info/
Kepada yang Sudah

akan ada waktunya aku pulang
tergagap mengenangmu
meraba jalan yang menyimpan sisa kenangan.
setiap yang menua, dilapisi aspal baru.
di mana lagi bisa kutemukan
riwayat kita?

aku tak pernah mampu untuk biasa.
keluar rumah tanpa menemukan bibirmu yang manisnya lekat
sampai kini di ujung lidah. aku kelewat gamang
duduk bersama kawan-kawan yang
menggunjingkan cinta yang gagal
dan menatapku penuh kutukan.

aku tak pernah mencelakaimu, bukan?

akan ada saatnya rinduku begitu penuh
mengutuk diri dan sepenuhnya menyesali.
mestinya kau masih di sini, memberi lebih banyak
manis dalam hidupku yang terlampau galau.

ada kalanya lelaki memiliki rahasia kecil
yang dijaga kelewat hati-hati (dan tentu juga
dilakukan para wanita). orang-orang memanjat gunung
merenangi laut, menyuruk di dalam semak.

tapi aku tak sepenuhnya meninggalkanmu,
bukan?

aku tak ingin pulang membawa kekalahan
tersudut dan dibiarkan sia-sia.
kau mestinya tahu, tak banyak yang kita harapkan
dari sawah-ladang. tak banyak pula yang mampu diberikan negara.
kita sepenuhnya bertarung dan berperang,
tak ada yang ingin terus-terusan dikalahkan.

selalu saja ada yang dirindu sehabis bertempur
setiap orang ingin rumah untuk pulang. aku merasa begitu memerlukanmu.

ketika harus pulang, aku hanya akan menjumpai dirimu
yang membeku
mengabaikan hal-hal yang pernah ada
belajar terbiasa dan membiarkan aku
gugup menjalani kisah baru.

orang-orang akan memandangku penuh kutukan
melewati jalan yang menimbun banyak kenangan
membiarkan hati penuh oleh hujan.

hatimu mungkin masih yang dulu
tapi tubuhmu terus dimiliki sepanjang waktu.

2010

Mengubur Nenek

bagaimana aku,
dengan kedua tangan ini
yang pernah memijat letih punggungmu
akan menimbun dirimu dan meninggalkan sendirian.
aku merindukan kedua tanganmu
menyisik rambutku dengan hatimu.

aku mengenang semuanya
sebagai peristiwa yang tidak akan pernah ada.

bagaimana aku
dengan banyak dongeng-dongengmu
terus hidup di kepalaku,
mampu melenyapkan dirimu
dengan kedua tanganku.

——–
Indrian Koto lahir di Lansano, Pesisir Selatan (Sumatera Barat). Sajak-sajaknya dimuat di KoranTempo, Kompas, Media Indonesia, Riau Pos, dll.
Studi di UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *