A.D. Pirous, Zikir Visual Pelukis Tak Berbakat

Dipo Handoko, Ida Farida
http://www.gatra.com/

SETELAH 17 tahun absen berpameran tunggal, Abdul Djalil Pirous, pelukis yang banyak menekuni kaligrafi, kembali menggelar pameran serial bertajuk Restrosepktif 2. Perhelatan yang dihadiri 300 tamu itu diselenggarakan di Galeri Nasional, Jakarta, Senin pekan lalu. Forum ini sekaligus menandai usia ke-70 tahun lelaki kelahiran Meulaboh, Aceh, itu. Acara juga diisi dengan peluncuran buku perjalanan berkeseniannya berjudul A.D. Pirous: Vision, Faith and a Journey in Indonesian Art, 1955-2002.

Cukup meriah. Selain seremoni pembukaan oleh Fuad Hassan, yang juga membuka pameran Retrospektif (1985), ada ”parade” penyair. Sahabatnya, Abdul Hadi W.M. dan Taufiq Ismail, memarakkan acara dengan pembacaan puisi bertema sufistik karya Hamzah Fansuri, dan karya mereka sendiri. Ajang kali ini, yang dilaksanakan hingga 31 Maret 2002, menjadi parade lengkap karya Pirous pada kurun 1960-2002.

Ada 152 karya berupa lukisan, grafis, dan studi eksperimental. Namun, hanya seperempatnya yang dijual. Selebihnya merupakan koleksinya di Serambi Pirous, galeri miliknya di Jalan Sangkuriang, Bandung. Selain karya berupa kaligrafi Islam, pameran ini juga memajang lukisan abstrak, lanskap, dan beragam tema lainnya. Karyanya pada periode awal kepelukisannya, yang diangkat dalam Restrospektif (1985), kembali dimunculkan. Tengoklah sosok manusia, hewan, dan alam, seperti pada Pasar Pagi (1960), Anjing dengan Anak (1965), dan lukisan bertema politis, Mentari Setelah September 1965 (1965).

Pada dekade awal itu, Pirous getol mengangkat tema sosial dan politik. Ia suka bermain dengan aneka warna, bergaya campuran antara seni rupa lokal –yang mengadopsi bentuk pahatan di batu nisan ranah kelahirannya, Aceh– dan seni lukis modern. Almarhum Sanento Yuliman, pengamat seni rupa, menyebut gaya modernis yang diusung Pirous menggoreskan ”tegangan” antara warna lokal dan Barat. Studinya di Jurusan Desain Grafis, Rochester Institute of Technology, New York, Amerika Serikat, 1969, dan pengembaraannya di beberapa negeri Timur Tengah, berpengaruh besar pada karya-karya selanjutnya.

Garis, warna, dan komposisi ruang di atas kanvas menyiratkan pengembaraan Pirous. Namun, ia tak meninggalkan nuansa lokal. Simaklah perubahan karya itu mulai Wadjah III (1970), Pengembaraan Petruk dan Semar (1970), hingga Allah yang Menguasai Langit dan Bumi (1978). Menurut Mamannoor, pengamat seni rupa, Pirous telah menemukan format bahasa seni rupa dan tema kaligrafi modern Islam sejak awal 1970-an. ”Pirous adalah satu di antara perintis seni lukis kaligrafi Islam di Tanah Air,” kata Mamannoor, yang juga penulis buku A.D. Pirous, bersama Kenneth M. George, antroplog asal Amerika.

Bandingkan karya di atas itu dengan lukisan Pirous bertarikh 1980-an. Menurut Mamannoor, pada karya Pirous era 1980-an tercermin penjelajahan dalam pembacaan teks-teks spritualitas, baik yang bersumber pada Al-Quran, hadis, syair, hikayat, maupun sekadar kata mutiara. Kekhusyukannya menggarap teks spiritualitas itu juga ditandai dengan ”hilangnya” karya-karya berobjek alam benda. Barulah pada akhir 1990-an, Pirous kembali mengangkat figur manusia. Ketika itu, perasaan Pirous terusik oleh kondisi di Aceh yang bergolak panas, seiring dengan kejatuhan rezim Orde Baru.

A.D. PIROUS Muncullah lukisan bermedia campuran, kanvas dan kertas, perpaduan kaligrafi dan sosok Teuku Umar, dengan judul naratif yang amat panjang: Suatu Ketika Ada Perang Suci di Aceh: Penghormatan kepada Pahlawan yang Gagah Berani, Teuku Umar 1854-1859, (1998). Ada belasan karya dalam pameran kali ini tentang serial hikayat ”perang sabil” di Aceh. Pergulatannya di seni kaligrafi modern Islam, selama lebih dari 30 tahun, juga menampakkan sikap Pirous yang tak mau terpaku pada gaya atau khat kaligrafi yang standar.

Awalnya, Pirous lebih “tergoda” pada khat kaligrafi Arab masa lampau, sekitar 200-500 Masehi. Selanjutnya, ia bergeser ke kaligrafi gaya Andalusia (dinasti Islam di Spanyol), hingga khat Maghribi, yang belakangan muncul pada abad ke-11. Di usia senjanya, Pirous, yang fisiknya tampak segar, masih terus mengeksplorasi teks lama karya penyair Persia, Melayu, dan Indonesia. Syair karya cendekiawan Aceh, seperti Hamzah Fansuri, Abdul Rauf, dan Syech Mushlihuddin Sa’adi, jadi inspirasinya.

Misalnya cuplikan Syair Perahu karya Hamzah Fansuri, yang divisualkan dalam Tamsil Perahu Mengarungi Kehidupan (2002). Dan Pirous masih terus berkarya. Seakan tak mau melanggar nasihat yang kerap disampaikan pada sejawatnya: ”Bekerjalah sampai batas (kekuatan), tetapi jangan melampauinya,” katanya.

Jadi Pelukis Atau Guru

SUATU ketika, awal 1960-an, A.D. Pirous bertemu Srihadi Soedarsono dan But Mochtar, yang baru pulang dari pameran di Amerika. Pirous sendiri sedang mengikuti pameran bersama sejumlah pelukis Bandung di Balai Wartawan, Bandung. Waktu itu, kebetulan ada seorang asing yang ingin membeli sebuah karya Pirous. Tapi, Pirous tak tahu mesti menghargai berapa lukisan bertema anak-anak itu.

Srihadi bilang, ”Jual saja Rp 6.500.” Di mata Pirous, jumlah itu terlalu tinggi. Maka, ia bilang ke sang pembeli dari Amerika itu, harganya cuma Rp 5.500. Eh, langsung dibeli. Pirous tak percaya lukisannya terjual dengan harga tinggi. Ia lalu bertanya ke Srihadi: ”Mas, saya ini lebih cocok sebagai pelukis atau sebagai guru?” Srihadi hanya menyahut pendek, menyarankan Pirous menjadi guru saja. Akhirnya, lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB), 1964, itu menjadi pengajar di almamaternya.

Ia sempat menimba ilmu desain grafis di Rochester Institute of Technology, Rochester, New York, pada 1969. Kariernya di ITB terus menanjak, hingga menjabat Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain (1972-1991) dan mengajar Program S-2 Seni Rupa dan Desain ITB. Pada usia 62 tahun, Pirous meraih gelar profesor dari almamaternya itu. Toh, meski waktunya tersita untuk mengajar, Pirous tak berhenti berkarya. Sejak pameran pertamanya pada 1960 itu, karyanya selalu hadir di berbagai pameran.

A.D. PIROUS Ia rajin menyertakan lukisannya di belasan pameran bersama di Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta. Di ajang internasional, puluhan pameran pernah diikutinya sepanjang kurun 1960-2001. Ratusan karyanya dikoleksi penggemarnya di mancanegara. Prestasi itu tak membuat Pirous besar kepala. Ia lebih meyakini, keberhasilannya itu karena terus belajar tiada henti. ”Sembilan puluh lima persen kerja keras, sisanya adalah bakat,” katanya.

Kesimpulan itu seperti berusaha “menohok” petuah Srihadi, yang dulu menyatakan bahwa dia tak berbakat jadi pelukis. Bakat seninya yang cuma lima persen itu, kata Pirous, mengalir dari ibunya, Hamidah, yang berprofesi sebagai penyulam benang emas. Karena itulah, Pirous emoh terjebak dalam ”selera” pasar. Ia tetap khusyuk dengan jalurnya: lukisan kaligrafis. Perasaannya memang sempat tergelitik, menjumput objek kemalangan anak-anak jalanan, di awal periode kepelukisannya (1960-1970). Kemudian, ”Saya tak tega menjual penderitaan orang,” kata ayah tiga anak dan kakek seorang cucu itu.

Maka, lukisannya tak lagi menampilkan elemen manusia. Ia lebih puas dengan garis, warna, dan tekstur. Dan, tentunya teks yang diambil dari Al-Quran, hadis, syair, dan petuah yang sarat ajaran tentang hubungan manusia dengan Tuhannya, sesama dan alam sekitar. ”Dengan melukis kaligrafi, saya melakukan zikir visual,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *