Antropologi dalam Dunia Koreographer

Restoe Prawironegoro Ibrahim
http://www.suarakarya-online.com/

Kini seni telah mengalami demistifikasi. Seni tidak lagi sebagai sesuatu yang adiluhung, ia mengalami pembedaan dan larut dalam kehidupan keseharian juga. Daya transendensinya terserap habis oleh kenyataan-kenyataan diluar dirinya. Setelah zaman romantik, seni harus terus menerus mengubah prinsip-prinsip dan substansinya untuk menahan dan menyesuaikan diri dengan berbagai kemungkinan yang lahir bersamaan perkembangan zaman ini, termasuk kekuatan-kekuatan yang progresif, yakni kekuatan tekhno-ekonomi.

Untuk itu pendekatan-pendekatan yang estetis semata dalam menganalisa karya-karya seni, seringkali terjebak pada asumsi bahwa karya seni begitu saja diterima sebagai lahir dari tangan seorang seniman. Walau sebetulnya keberadaan seni, terutama seni tradisonal (baca: seni pertunjukan rakyat maupun seni pertunjukan tradisonal) sama sekali jauh dari asumsi tersebut.

Seni tradisi adalah produk dari interaksi sosial-politik dari sebuah masyarakat. Oleh karena itu, ketika kita melihat seni tradisi diletakkan dalam frame – gedung pertunjukan – sebagai karya performing arts, akan muncul satu persoalan yang tidak mudah dipecahkan, yaitu dimanakah posisi seniman modern yang berada dalam klaim “penciptaan-individual” dengan struktur proses seni yang menopang keberadaannya, ketika ia berkeinginan mengangkat seni tradisi ke dalam daerah pentasnya.

Akhir-akhir ini banyak koreographer kita yang berlandaskan menengok tradisi, melestarikan dan mengembangkan tradisi, meletakkan berbagai fenoma seni tradisi sebagai ilham maupun lahan garapannya. Melihat gejala tersebut maka kasus yang pertama sekali muncul sebagai gejala permukaan: sang koreographer tidak lagi sebagai “sang pencipta”, akan tetapi sebenarnya ia tidak lebih sebagai seorang tekhnisi yang menyiasati seni tradisi secara tekhnologis melalui kemampuan, manajemen dan peralatan panggungnya. Atau sang koreographer hanya sekadar melakukan modifikasi kembali terhadap seni tradisi tersebut atas kebutuhannya sendiri sebagai seorang koreographer.

Ada dua pilihan sikap untuk berhadapan dengan seni tradisi, di mana kesemuanya itu berhadapan dengan problem besar. Antara sekap kesenian yang jauh berbeda dalam seni tradisi dengan seni modern walaupun seringkali kita mencoba menyelesaikannya dengan alasan menggali, melestarikan dan mengembangkan peninggalan yang sudah turun temurun.

Bagaimanapun juga seorang koreographer yang melakukan modifikasi terhadap seni tradisi demi kepentingan ekspresi individualnya mengandung asumsi menciptakan versi baru atau seni tradisi tersebut. Dan dalam seni tradisi, modifikasi atau kerja seorang koreographer seharusnya tidak pernah lepas dari masalah-masalah keberadaan sebuah masyarakat dalam mencari legitimasi eksistensinya.

Secara generasi, seni tradisi merupakan produk dan simbol budaya dari keberadaan masyarakatnya. Suatu keberadaan yang begitu kuat yang turut berkembang bersamaan dengan perkembangan sosial politik di mana masyarakat itu berada dan meluas melampaui batas wilayah kultural masyarakat pendukung seni itu sendiri. Di sinilah kesenian telah memasuki perhitungan budaya. Maka berhadapan dengan seni tradisi terasa pentingnya koreographer menjadi seorang antropolog.

Fenomena

Antropologi adalah studi tentang keseluruhan atas fenomena insani (human phonomena) yang terdapat di manapun dan kapanpun di muka planet ini dan diluarnya. Lebih dari itu, antropologi menurut Margareth Mead; adalah salah satu dari ilmu “humanities” yang mempelajari tingkah laku manusia sebagai anggota kelompok sosial, mempelajari kesenian, folklore, tradisi lisan dan berbagai perangkat yang ada didalamnya.

Menghadapi dan mendalami seni tradisi dengan berbagai kompleksitasnya, maka pendekatan dengan ilmu antropologi akan dapat kita jadikan “pisau analisis” guna menguak sampai kedalam seni tradisi, tidak semata-mata melihat bentuknya saja.

Dengan kata lain, pendekatan antropologis mengandung pengertian: pentingnya seorang koreographer sekaligus menjadi seorang antropologi dalam dunia seni tari, supaya tidak begitu saja menangkap fenomena seni tradisi dari satu sisi yang sempit, yaitu aspek bentuk semata.

Seperti yang sering kita jumpai, dengan dalih menggali, melestarikan dan mengembangkan kekayaan seni tradisional, membuat banyak para seniman tari kita berduyun-duyun ke pedalaman. Apalagi komitmen pariwisata sebagai komoditi non-migas yang dikumandangkan secara nasional diharapkan mampu menampilkan bagian terbesar kekayaan alam budaya kita, termasuk kekayaan seni tradisi kita.

Kenyataan itulah yang akhirnya membuat sebagian besar para koreographer kita melakukan “kegenitan” atau “distorsi intelektual”. Mengumpulkan berbagai referen atas seni tradisional yang terbatas melihat seni tradisional tersebut hanya sebagai “tarian”. Yang mana referen tersebut akhirnya hanya mampu menampilkan modifikasi-modifikasi yang dilakukan terhadap seni tradisional tersebut atas kebutuhan sebuah “versilisasi”. Kenyataan ini yang perlu kita waspadai.

Ekologi

Tanpa mengecilkan arti dan peranan para koreographer kita yang semakin hari semakin menjamur keberadaannya, mari kita amati apa yang telah dilakukan oleh Sardono W. Kusomo sebagai studi perbandingan.

Ketika Sardono W. Kusomo mementaskan karyanya berjudul Meta Ekologi, Hutan Plastik, Kerudung Asap di Kalimantan dan Tekhnophobia; dengan salah satu medianya; membuka ladang lumpur, onggokan plastik dan planetarium sebagai medan keseniannya. Terlepas dari alasan metafisika maupun filosofis yang menghantar pementasan tersebut, yang terjadi sebenarnya: Sardono W. Kusomo, telah merobek-robek estetika tari.

Estetika tari yang berpijak dari “pemerasan transendental” terhadap dimensi keseharian manusia menjadi suatu penciptaan gerak yang mengacu pada ide-ide keindahan semata-mata, telah diguncang oleh pertunjukan Sardono W. Kusomo tersebut menjadi manusia yang secara antropologis tidak bisa dilepaskan dari ekologinya.

Peranan seniman tari (baca: koreographer) dalam hubungan di atas telah mendapatkan makna baru, sebagai seorang antropolog yang meletakkan pihakkan tari tidak lagi pada kepatuhan terhadap konvensi-konvensi, tetapi bagaimana seorang seniman tari mampu mengaktualisasikan penemuannya terhadap manusia kembali dengan persoalan-persoalan yang dihadapinya kini. Dengan kata lain, ketika Sardono W. Kusomo membuat pertunjukan lagi dengan karya Hutan Plastik dan Kerudung Asap di Kalimantan.

Ia tidak berbicara soal kesenian tradisonal suku Dayak semata-mata, namun soal ekosistem masyarakat Dayak dalam hubungannya dengan kasus penebangan dan pembakaran hutan. Sekalipun yang terlahir dalam bentuk pementasannya, koreografinya tetap menyiratkan bentuk-bentuk tari tradisional suku Dayak, yang “konon” perlu digali dan dilestarikan sebagai potensi kultural masyarakat Indonesia.

Sardono W. Kusomo tidak berangkat dari kesenian semata-mata, lebih dari itu berangkat dari sebuah persoalan. Identik dengan salah satu ideologi koreographer Doris Humprey dalam bukunya Seni Menata Tari, bahwa sebuah konsep koreografi tidaklah harus berbicara tentang ruang, waktu, tenaga dan terjebak dalam exshibisionis movement semata-mata, namun lebih dari itu, harus berpijak pada sebuah subject matter atau pokok persoalan.

Dunia tari pada dasarnya memiliki dimensi multi media pada dirinya sendiri yang berpijak pada gerak sebagai substanse. Dan dengan pendekatan multi media tersebut, tari berarti dapat dipecah dan dianalisa menjadi; media musik, media teater, media sinema, media seni rupa, media sastra dan media gerak itu sendiri, yang memiliki kekuatan dan kekhasan sendiri-sendiri dalam sebuah bingkai pertunjukan.

Pemecahan atau pemisahan itu juga bermakna, bahwa kesenian adalah suatu pengucapan total, tidak hanya berarti; seni tari, seni teater, seni musik, seni rupa, seni sastra atau seni sinematografi. Dengan kata lain, pada perkembangannya kini, seni dikembalikan kepada keseluruhannya atau totalitasnya.

Dengan perjalanan tarinya yang penuh dengan terobosan alternatif itu, Sardono W. Kusomo telah memperlihatkan kepada kita, tentang kompleksitas kesenian kotemporer kita yang sudah berada ditengah-tengah arus lalu lintas komunikasi dan transportasi. Pada akhirnya substanse kesenian Sardono W. Kusomo telah melampaui bidangnya sendiri sebagai seorang koreographer.

Ia kini lebih tepat disebut sebagai seorang koreographer plus. Dan apa yang dilakukannya dapat kita jadikan alternatif pemikiran tentang pendekatan koreografi. ***

* Penulis adalah cerpenis, penyair, dan penikmat budaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *