Apalagi yang Tersisa untuk Diceritakan

Sunaryono Basuki Ks
http://www.sinarharapan.co.id/

Orang bijak pernah bilang, tidak ada yang baru di bawah matahari. Apakah dia Sulaiman? Atau tokoh lain? Tidak penting benar mengingatnya. Benarkah yang dikatakannya? Bukankah dari dulu sampai sekarang, sampai waktu yang akan datang, matahari selalu terbit dari arah timur dan tenggelam di ufuk barat? Pernahkah berubah? Matahari memberikan panasnya ke atas bumi tanpa pilih kasih sebagaimana kasih Sang Penciptanya yang tak pernah pilih-pilih.

Sejarah berulang, manusia membawa buah perbuatannya dan siapa yang harus memetiknya. Kadang bukan dia sendiri yang harus menanggungnya sebab usia terlanjur lari dari tubuhnya, hingga anak dan cucu yang tak turut terlibat harus membayar hutang perbuatan. Bila kau layangkan pandang ke sekitar dan kau pahami sejarah, maka dengan mudah akan dapat kau lihat alir dari buah perbuatan itu. Kau akan dapat melihat anak-anak yang tak berdosa harus mengunyah buah perbuatan orang tuanya.

Sekarang akan kuceritakan kembali kutipan-kutipan peristiwa yang datang silih berganti yang memberi bukti bahwa hukum alam tidak pernah pilih kasih, bahkan karma harus dibayar lengkap dengan bunganya.

Di masa lalu ada seorang lelaki yang sudah beristri dan beranak perempuan seorang. Lelaki itu sehari-hari bekerja sebagai seorang penjual barang-barang keperluan rumah tangga. Dia mendatangi rumah demi rumah menjajakan setrika listrik, hair dryer, kompor listrik mini, blender, sampai alat pijat yang dijalankan dengan baterai. Dia juga membawa barang-barang keperluan sehari-hari seperti sabun, shampo, pasta gigi. Karena pekerjaannya ini, dia kenal dan dikenal oleh banyak ibu rumah tangga yang menjadi pelanggannya. Suaranya empuk, tubuhnya tegap sehingga ibu-ibu pun tahan berlama-lama bicara dengan lelaki itu sambil memilih-milih barang yang akan dibonnya.

Di antara pelanggannya ada seorang ibu rumah tangga dengan dua orang anak, istri dari seorang penguasa bengkel yang kaya. Karena itu mereka punya mobil sampai dua buah, satu untuk suami dan satu untuk istri yang sering bepergian ke pasar, ke toko, atau berkunjung ke rumah teman sendirian. Perempuan cantik yang tinggi semampai itu rambutnya lurus, pandangan matanya teduh dan senyumnya sangat menawan. Karena itu banyak orang yang heran kenapa dia dapat menikah dengan seorang pengusaha bengkel yang tubuhnya agak pendek, perutnya sedikit buncit. Apakah karena kekayaan atau kejantanan perempuan itu menerima lelaki itu sebagai suami, tak seorang pun yang tahu. Mungkin karena yang pertama, atau mungkin karena kedua-duanya.

Seperti dapat kau duga, perempuan itu jatuh hati kepada lelaki yang secara rutin berkunjung ke rumahnya, mungkin karena penampilannya, mungkin karena suaranya, atau mungkin karena keinginan untuk mencari selingan. Bukankah manusia selalu mencari selingan untuk menyegarkan kehidupan mereka? Makan sate sebagai selingan makan tahu dan tempe setiap hari? Nonton film sebagai selingan kejenuhan hidup di rumah hanya dengan menonton TV. Pergi ke pergelaran baca puisi sekadar saingan hidup yang dirasa kering. Dan punya pacar simpanan karena bosan dengan penampilan istri atau suami yang begitu-begitu saja.

Maka dari sentuhan tangan yang tak disengaja dilanjutkan dengan kecupan di bibir yang sangat disengaja. Dan dengan berprinsip jangan sekali-kali meninggalkan noda di tempat tidur sendiri, maka dengan mudah mereka berjanji temu di suatu tempat. Perempuan itu menjemputnya di suatu tempat dan mereka berdua melaju dalam mobil menuju ke arah timur kota, ke suatu hotel kecil yang memang sering disewakan untuk keberluan sesaat. Hotel itu terletak di pantai, di dekat sebuah kolam pemandian air tawar yang sering dikunjungi orang kota di kala hari libur. Di hari-hari biasa, tempat itu sepi dan mereka dapat leluasa menjelajah seluruh celah tubuh mereka dengan bebas merdeka, tak takut mata alam mengawasi mereka yang asyik bergumul dan mencatat karma mereka. Karena nikmat juga mereka berulang-ulang melakukannya.

Dua puluh tahun berlalu, dan gadis kecil anak lelaki itu pun sudah mempunyai adik, dan gadis kecil itu telah tumbuh menjadi gadis dewasa, punya pacar, putus pacar, punya pacar lagi, putus pacar lagi, dan akhirnya jatuh di tangan lelaki yang seolah menyihirnya untuk menuruti semua kehendaknya. Hukum alam sudah berjalan, dan hamillah dia, namun kehamilan itu berhasil digugurkan. Aib dapat ditutup di mata orang banyak, tetapi mata alam selalu terbuka.

Kutipan kedua berasal dari kehidupan sehari-hari pula, tidak lagi menyangkut kehidupan seks dan perselingkuhan seksual, namun justru perselingkuhan ekonomis. Siapa bilang bahwa bapak maling tidak menurunkan anak maling? Orang tua bilang ?air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan jua?, lalu apakah yang dapat kita petik dari kata-kata bijak itu? Orang Jawa percaya pada ?bibit, bebet, bobot? sebelum menyetujui sebuah perkawinan.

Ada seorang lelaki yang sangat aktif dalam sejumlah kegiatan sosial, dari kepramukaan sampai yayasan pendidikan, dan yayasan ini itu yang ada uangnya. Kepada semua orang dikatakannya bahwa semua itu dilakukannya demi pengabdian, menabung untuk akhirat. Dia benar dalam kata-kata tetapi tidak benar dalam tindakan.

Sebagai warga yayasan yang paling senior dia dipercaya untuk mengelola sekolah, mula-mula sebagai wakil kepala sekolah karena ada guru yang lebih senior yang dipasang oleh yayasan menjadi kepala sekolah untuk berhadapan dalam urusan bisnis dengan Kandep Dikbud (sekarang Diknas).

Dengan halus mereka berdua mencopoti pilar-pilar emas sekolah mereka demi ?tabungan akhirat? mereka. Tentu bukan deposito tetapi justru hutang yang harus dibayar oleh hidupnya. Bung Karno pernah berpidato bahwa kemerdekaan kita ibarat jembatan emas, dan karena ia jembatan emas, maka banyak orang berebut untuk mempretelinya. Akibatnya sudah dapat dilihat sekarang.

Sekolah yang dapat meraup cukup banyak uang dari SPP siswa toh tetap kekurangan dana, konon untuk beli bangku baru, untuk beli ini itu. Walaupun SPP dibayar di bank, pengelolaannya tetap dilakukan oleh tangan-tangan yang terampil menggeser-geser dana dari satu pos ke pos lain, dari satu saku ke saku lain.

Di dalam suatu rapat yayasan, lelaki yang pengurus yayasan dan juga wakil kepala sekolah yang akhirnya menjadi kepala sekolah itu menuntut yayasan untuk mencari uang sebanyak-banyaknya demi kemajuan sekolah. Akhirnya sekolah itu hancur lebur, entah ke mana dibawa almari dan peralatan kantor, entah ke mana pula uang hasil penjualan gedung sekolahnya, hanya mata alam yang memandangnya dan yang punya kantong yang menikmatinya.

Dan anak pertama lelaki itu bukan lagi gadis kecil, tetapi sudah menjadi sarjana dan juga ikut mengelola sebuah lembaga pendidikan di bawah sebuah yayasan yang mereka dirikan bersama. Anak perempuan itu berkembang menjadi ibu muda yang sangat percaya diri, semua kata-katanya dapat meyakinkan orang untuk mengikutinya.

Dengan cerdasnya di tempat kerja dia berhasil naik menjadi pimpinan, dan sewaktu menyerahkan jabatan kepada pimpinan yang baru, uang kas yang puluhan juga bersisa nol besar dengan nota pertanggungjawaban yang tak jelas.

Dalam sebuah rapat yayasan, seorang anggota yayasan bertanya soal uang kontribusi anggota yayasan untuk membangun gedung milik mereka. Dia hanya bertanya, apakah dia dapat memperoleh kembali uangnya itu. Dengan sengit perempuan itu menyahut:

?Bapak kan anggota yayasan. Tugas bapak mencari uang untuk kelangsungan lembaga pendidikan kita.?

Sejarah berulang kembali, bukan dalam kata-kata, tetapi dalam inti perbuatan. Kalau semua tetap berlangsung sebagaimana yang sudah berlangsung, tinggal tunggu waktu kapan gedung yang mereka bangun itu digadaikan atau dijual.

Alir yang hitam tetap mengalir ke urat darah anak cucu kita, dan kita takkan mampu memotongnya bilamana kita tidak memang bersungguh-sungguh berniat memotongnya. Ke mana alir hitam mengalir, ke muara yang hitam legam yang akan menenggelamkan kita.

Apakah aku harus meneruskan kisah ini? Di manakah ujungnya?***

Singaraja, 8 Januari 2004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *