Cenayang

Aliman Syahrani
http://www.radarbanjarmasin.co.id/

?ANAK Anda akan jadi bupati!?

Kata-kata dokter Asnal mendengung seperti suara vuvuzela di telingaku, tidak memekakkan tapi begitu mengejutkan. Bagaimana tidak? Anak kami diramal oleh seorang dokter psikologi anak akan menjadi seorang bupati! Bagaimana bisa seorang dokter psikologi anak mendiagnosis masa depan pasiennya dengan ramalan? Mana mungkin seorang dokter Asnal, yang terkenal sangat agamis dan religius bisa percaya terhadap ramalan? Apakah dokter Asnal sedang mengikuti jejak Si Gurita Paul, yang lihai meramal saat Piala Dunia Sepakbola 2010 di Afrika Selatan? Aku benar-benar tak mengerti.

Pagi itu, Minggu pertama bulan Juli, hari masih pukul delapan tiga puluh genap, tapi ruang utama pendopo Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang terletak di Jl. Pangeran Antasari, Kandangan, sudah dibanjiri peserta. Hari ini ada acara Fingerprint Analysis, sebuah deteksi potensi lewat sidik jari yang dilaksanakan oleh sebuah PAUD di Kandangan.

Aku sengaja berangkat pagi-pagi sekali dari rumah di Tibung Raya supaya bisa sampai tepat waktu. Aku datang bersama istri dan anak laki-laki kami, Merdeka, 5 tahun.

?Kami ingin tahu potensi dan bakat anak kami sebenarnya, biar nanti tepat mengarahkannya,? jawabku ketika ditanya Muchei Rifai, wartawan Radar Banjarmasin yang meliput kegiatan hari itu, mengenai alasaanku mengikuti kegiatan tersebut.

Sekitar 400-an peserta terus berdatangan meski di luar sana kota Kandangan sedang ditikam hujan dengan tajamnya. Jumlah peserta memang dibatasi karena keterbatasan tempat, meski yang masuk daftar tunggu masih sangat banyak.

Setelah melakukan daftar ulang, sepuluh-sepuluh peserta dipanggil; berdasar nomor urut untuk diambil sampel sidik jarinya. Masing-masing anak hanya butuh waktu sekitar 5 menit.

Beberapa anak merasa biasa saja waktu satu per satu sidik jari mereka ditempelkan ke scanner. Berbeda dengan Merdeka, anak kami, yang tampak sedikit takut-takut, sehingga beberapa kali tangannya yang berkeringat harus dilap supaya sidik jarinya terbaca.

Sementara mengantre nomor anak-anak dipanggil, kami pergi mengajak Merdeka ke taman bermain anak yang hanya bersebelahan dengan Pendopo, yang juga diadakan berbagai kegiatan untuk anak. Merdeka sangat gembira ketika mengikuti beragam aktivitas seperti melukis kaos, membuat tato temporer, mengayam ketupat, mendengarkan dongeng, menonton film Walt Disney, Ipin dan Upin, Tom and Jerry, Barny, bermain di playground, atau sarapan nasi kuning dan ketupat Kandangan.

* * *

SATU jam setelah sidik jari anak-anak diambil, para peserta bisa mengambil hasil analisis sekaligus sertifikasi. Tapi rangkaian acara belum selesai. Tepat pada pukul sebelas, pembahasan dan penjelasan oleh dokter Asnal dimulai.

Memulai penjelasannya, dokter Asnal berkata, ?Metode Fingerprint Analysis atau FPA ini sebenarnya adalah untuk mengetahui pemetaan kerja otak pada anak. Jadi bukan bersifat ramalan berdasarkan pembacaan pola-pola tertentu yang selama ini dikenal dalam ilmu palmistry atau ramalan, namun lebih bersifat eksakta karena yang dilakukan adalah proses penghitungan garis-garis epidermal kulit seseorang,? kata dr Asnal menjeleskan panjang lebar.

Aku berkonsentrasi penuh untuk mencerna kata-kata dokter Asnal. Maklum, aku bukan seorang dokter apalagi seorang ahli psikologi anak. Berbeda dengan istriku, meski juga bukan seorang dokter atau psikolog, tapi ia adalah seorang guru di salah satu PAUD di Kandangan. Istriku tampak bersemangat menyimak.

Tapi aku sudah mendapat gambaran tentang kegiatan hari ini. Dalam undangan yang kuterima beberapa hari lalu dijelaskan, bahwa FPA bisa dilakukan oleh siapa saja di berbagai usia, dari kecil hingga dewasa, selama masih memiliki sidik jari lengkap pada 10 jarinya dan dalam kondisi kulit sehat.
?FPA tidak bisa dilakukan pada mereka yang mengalami kecelakaan dan luka bakar pada jari-jarinya,? terang dokter Asnal lagi membuyarkan lamunanku.

Suara dokter Asnal kembali menggema. ?Usia terbaik adalah dua sampai enam tahun,? katanya melalui pengeras suara. ?Karena inilah masa the golden years, di mana perkembangan sensorik-motorik sangat berpengaruh pada pertumbuhan sel saraf otaknya. Semakin dini usia anak maka akan semakin baik, karena orangtua bisa memberikan stimulasi yang paling sesuai dengan proses perkembangan anak secara optimal.?

Setengah jam setelah penjelasan dokter Asnal berlalu, tibalah pada sesi yang ditunggu-tunggu para peserta, yaitu penjelasan hasil tes setiap sidik jadi anak yang sudah discanner. Selanjutnya dokter Asnal menjelaskan tentang masing-masing kecerdasar yang tertera dalam hasil tes setiap anak.

Di depan ruangan, dokter Asnal dibantu sejumlah asistennya tampak sibuk memilah-milah dan mengelompokkan sejumlah lembaran kertas hasil print dari tes semua peserta. File-file semua hasil tes tersebut juga ditampilkan di layar lebar di tengah ruangan melalui LCD.

Sambil memindai hasil tes sejumlah anak yang memiliki karakteristik serupa dengan pointer mouse laptopnya, dokter Asnal berkata, ?Anak-anak yang nilai kecerdasar visual spasialnya tinggi biasanya terlihat suka mengamati gambar, lebih suka belajar dengan cara membaca grafik atau menggunakan alat peraga, menggambar detail dan sebagainya.?

Berikutnya, secara berurutan dokter Asnal menjelaskan semua karakteristik hasil tes semua peserta yang sudah diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok. ?Anak-anak yang nilai kecerdasan logika matematikanya tinggi mudah terstimulasi dengan angka, kemampuan logikanya berkembang dengan baik sejak kecil. Anak-anak yang nilai kecerdasan kinestetiknya tinggi biasanya senang belajar di arena outdoor, gesit, menguasai gerakan olahraga, senam, baris-berbaris dan seterusnya. Anak-anak yang memiliki kecerdasan interpersonal umumnya suka bertemu orang, kemampuan komunikasi-sosialnya baik, gampang diatur, mudah bekerja sama dalam kelompok, tapi negatifnya tidak enakan, tidak bisa menolak permintaan orang lain bahkan beberapa ada yang jadi penakut.?

Dokter Asnal menghentikan penjelasannya beberapa detik. Tampaknya ia ingin memastikan bahwa kata-katanya bisa dipahami oleh semua orangtua peserta yang berada dalam ruangan itu. Setelah ia yakin bahwa semua orangtua anak tampak sungguh-sungguh menyimak, dokter Asnal kembali melanjutkan, ?Anak-anak dengan kecerdasan naturalis biasanya peka dengan hal-hal yang terkait gejala alam, senang dengan tanaman dan hewan. Anak-anak yang memiliki kecerdasan linguistik suka menulis, memiliki rasa bahasa yang baik, mudah menyerap kata-kata yang diucapkan orangtua laiknya spon yang menyerap air. Anak-anak dengan kecerdasan musikal suka mendengar lagu, mudah mengikutinya dengan ketukan atau nada yang benar. Anak-anak dengan kecerdasan intrapersonal bisa memahami diri sendiri dengan baik, ia tahu kapan mood-nya sedang baik atau sebaliknya.?

Ketika dibuka sesi tanya jawab, peserta berebut tunjuk tangan. Aku dan istriku adalah yang paling antusias bertanya. Istriku yang mendapat giliran pertama, menanyakan hasil tes anak kami menunjukkan kecerdasan kinestetiknya tinggi, padahal anak kami tidak suka melakukan aktivitas fisik seperti bermain di outdoor.

Dokter Asnal menjelaskan, ?Bisa jadi motorik kasar anak Ibu tidak sebagus motorik halusnya,? jawab dokter Asnal. ?Mungkin saja perabaannya bagus, atau ia tekun membuat kerajinan tangan.? Dokter Asnal kemudian menambahkan, ?Area yang diukur adalah area genetis, tidak secara faktual. Bisa jadi potensi anak Ibu tersebut saat ini sedang muncul atau tidak, tergantung pada stimulasi lingkungan dan faktor lainnya.?

Saat aku mendapat giliran, dengan bersemangat aku bertanya, lebih tepatnya memberitahukan, bahwa dari semua penjelasan dokter Asnal hari itu tak satu pun yang sesuai dengan ukuran kecerdasan dan kebiasaan yang dimiliki anak kami.

Dokter Asnal tampak heran saat mengatakan, ?Ini memang bukan hal baru dalam penelitian saya. Tapi saya ingin tahu lebih jauh bagaimana persisnya kebiasaan anak Anda.?

Aku sudah kembali bangkit untuk meraih mikrofon. Tapi dokter Asnal tiba-tiba mencegah, ?Anda tidak usah menceritakan semuanya di sini. Saya mengundang Anda untuk membicarakan secara pribadi setelah acara ini.?
Aku bersedia. Acara selesai. Semua peserta yang bertanya mendapat hadiah buku.

* * *

Dalam pembicaraan enam mata antara aku, istriku dan dokter Asnal, secara bergantian aku dan istriku menceritakan kebiasan dan perilaku yang dimiliki Merdeka, anak kami.

?Merdeka punya kebiasaan tidak wajar dibanding anak-anak seusianya, Dok,? kataku memulai pembicaraan. ?Kami menilai itu tidak normal dan kami mempunyai alasan untuk merasa khawatir, Dok.?
Istriku kemudian melanjutkan dengan menceritakan secara detil dan naratif apa dan bagaimana kebiasan dan aktivitas yang suka dilakukan Merdeka.

Dengan penuh perhatian dokter Asnal menyimak seluruh cerita kami. Di ujung pembicaraan, dengan bersemangat dokter Asnal berkata, ?Anak Anda tidak hanya punya potensi untuk menjadi seorang bupati,? suara dokter Asnal terdengar sangat yakin. ?Tapi juga berbakat jadi anggota DPR bahkan jadi seorang gubernur!?

Aku dan istriku demikian terkejut mendengar penjelasan dokter Asnal. Belum sempat kami bertanya atau memberi tanggapan, dokter Asnal melanjutkan kata-katanya, ?Sebenarnya tidak sulit mengenal bakat dan potensi seorang anak, bahkan bisa dilakukan oleh siapa pun, tidak harus oleh seorang dokter psikologi anak. Hal terpenting yang harus dilakukan para orangtua adalah bagaimana mengarahkan dan memberi stimulasi yang tepat terhadap bakat dan potensi seorang anak?

Aku sudah hampir memotong perkataan dokter Asnal ketika dokter itu meneruskan, ?Jika seorang anak suka bermain-main dengan alat tulis, coret-mencoret atau menggambar, bisa ditebak ia punya potensi untuk menjadi seorang pelukis atau seniman. Jika anak suka bongkar pasang mainan atau menggunakan perkakas tukang-tukangan, anak dengan kegemaran seperti ini bisa dipastikan memiliki bakat untuk menjadi arsitek atau montir. Sedangkan anak dengan kebiasaan seperti yang dimiliki Merdeka, saya pastikan Anda berdua tidak perlu merasa khawatir. Karena sesungguhnya Merdeka memiliki bakat yang sangat istemewa, yang bila diarahkan dan diberi stimulasi secara tepat dan terarah, anak Anda tidak hanya sekadar akan menjadi seorang seniman atau arsitek.?

Ketidakmengertian demi ketidakmengertian kembali menyergapku. Dan lagi-lagi aku tak sempat memberi tanggapan karena dokter Asnal kembali berbicara, ?Saya merekomendasikan agar Merdeka diberi stimulasi tepat dan terarah sejak dini,? saran dokter Asnal. Dokter Asnal juga memberitahukan teknik-teknik dan bentuk-bentuk stimulasi yang tepat dan terarah. ?Ajarkan dan doronglah anak Anda supaya aktif berinteraksi dengan orang banyak. Stimulasilah ia dengan permainan-permainan berkelompok atau melakukan aktivitas belajar secara bersama-sama. Intinya, anak Anda harus sesering mungkin dilibatkan dalam aktivitas bermain atau berlajar yang milibatkan banyak orang.?

Meski terus diserimpung oleh ketidakmengertian pada isi pembicaraan dokter Asnal, aku berusaha sungguh-sungguh menyimak. Selanjutnya aku mendengar dokter Asnal berkata. ?Satu hal lagi yang perlu saya sampaikan kepada Anda berdua. Jika anak Anda sudah beranjak dewasa nanti, arahkan dan motivasilah dia supaya aktif berorganisasi. Yang paling tepat dan efektif adalah menjadi aktivis atau pengurus partai politik.?

?Kenapa harus menjadi aktivis dan pengurus partai politik, Dok?? Meloncat juga pertanyaanku karena didorong oleh rasa ingin yang begitu membuncah. Ditambah lagi, aku belum juga bisa memahami ke mana arah pembicaraan itu.

Sebelum menjawab, dokter Asnal menegakkan punggungnya dari sandaran kursi. Dengan posisi tubuh yang condong ke arahku, ia berkata, ?Sebenarnya ini merupakan kebenaran umum dari psikologi anak dalam dunia kedokteran.? Kini kedua lengan dokter Asnal dilipat di atas meja. ?Sebab melalui sekian banyak penelitian ilmiah yang sudah dilakukan, membuktikan bahwa orang-orang yang sedari kecilnya mempunyai bakat istemewa seperti yang dimiliki anak Anda, mereka semua adalah pribadi-pribadi yang sangat potensial dan punya kans besar menjadi bupati, anggota DPR, bahkan jadi gubernur!!!?

Kini aku yang menegakkan punggung secara tiba-tiba dari sandaran kursi lantaran terkejut. Kini aku mulai mengerti, mengapa dokter Asnal ingin membicarakan masalah ini secara pribadi dengan kami. Kini bahkan aku juga lebih mengerti, kenapa sejumlah penelitian dan pemberitaan media massa menyebutkan bahwa mayoritas para bupati, anggota DPR, dan gubernur selama ini suka berperilaku manipulatif, hedonis dan cenderung korup. Dan dari penjelasan dokter Asnal itu pulalah aku memperoleh sebagian jawabannya: bahwa semua itu adalah aktualisasi dari tabiat di masa kecil para bupati, anggota DPR dan gubernur itu. Mereka di masa kecilnya ternyata memang sudah punya kebiasaan mencuri, mengutil, berdusta, menipu, bahkan membodohi ? persis seperti bakat istemewa yang dimiliki Merdeka saat ini!

Kini, apakah aku akan mengarahkan dan menstimulasi Merdeka untuk menjadi bupati, anggota DPR, atau gubernur?
Hm?.

Kandangan, 16 Juli 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *