Centhini Menunggu di Depan Pintu

Andi Dewanto
http://www.tempointeraktif.com/

Pembantu itu setia menunggu di depan pintu. Di dalam kamar, sepasang pengantin baru telah 44 hari dan 44 malam tak banyak berbuat apa pun, apalagi berlaku layaknya suami-istri. Tapi sang pembantu itu, Chentini, tetap setia menunggu untuk mendengar kabar pasangan pengantin baru itu memadu cinta.

Centhini memang mengemban tugas dari orang tua Tembangraras untuk membawa kabar gembira bahwa sang putri telah terpetik madunya, melakukan upacara senggama yang suci. Ketika malam keempat puluh empat (……….) tiba, di haluan ranjang, Tembangraras telanjang. Ia berkata, “Oh, Apiku! Tuturi daku tentang setubuh.”

Ini penggalan serat Centhini dalam Tembang 105 yang dibawakan Landung Simatupang dengan cara membacanya dalam acara Lampion Sastra III Dewan Kesenian Jakarta dengan tema “Sastra Erotis”, Jumat lalu.

Serat yang sejatinya berjudul Suluk Tembangraras-Amongraga itu karya Raden Ngabehi Yasadipura II, Raden Ngabehi Ranggasutrasna, dan Raden Ngabehi Sastradipura. Atas perintah Mangkunegara III, karya ini ditulis pada sekitar 1815. “Serat ini biasanya ditembangkan secara pocung,” kata Landung.

Selain serat Centhini, Landung membacakan beberapa karya sastrawan Goenawan Mohamad, seperti Kata-kata Seperti Dencing Gobang, Menjelang Pembakaran Sita, Persetubuhan Kunthi, dan Sang Minotaur. “Goenawan menggarap mitos dengan penuh erotis,” ujar Landung.

Karya lain, petikan roman Isteri-isteri Orang Lain karya Motinggo Busye, dibacakan Ruth Uthe Marini. Ruth juga membacakan petikan novel Dinar Rahayu berjudul Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch. Ada pula cerita Inlander in Motel dan cerita kedua yang berjudul Jarah Dusta karya sastrawan asal Palembang, Ari Pahala Hutabarat, yang dibacakan sendiri oleh pengarangnya.

Ketua panitia, Zen Hae dari Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, mengatakan pihaknya merasa perlu menyinggung sebuah tema sastra yang selama ini kerap disalahpahami. Kendati tema erotisme ini telah lama menjadi bagian dari sastra Tanah Air, pembicaraan tentangnya tidaklah leluasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *